
" Cepat katakan apa yang kau butuhkan, dan segera enyah dari hadapan ku."
"Ok, jika kau tidak mau ber basa-basi dengan ku. Berikan aku tempat tinggal yang layak di desa kumuh ini dan bantu aku untuk mendekati Kaisar."
Firman menggerakkan tangannya.
Sejurus kemudian dua orang masuk ke ruangan itu. Dan menundukkan kepalanya.
"Antarkan wanita ini kerumah yang tidak jauh dari rumah Kaisar." Titahnya.
"Baik tuan."
"Nona mari ikuti kami."
Anggel mengikuti langkah dua orang yang berpenampilan biasa-biasa saja, tidak seperti anak buah bos pada umumnya yang lebih sering menggunakan pakaian serba hitam dan berbadan kekar. Mereka terlihat seperti warga biasa.
🍁🍁
Tak lama Anggel pun tiba di rumah yang bersebrangan langsung dengan rumah Kaisar.
"Nona, anda bisa tinggal di sini. Dan itu adalah rumah Kaisar." Tunjuknya pada rumah ber cat putih itu.
Anggel mengangguk.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Sayang, biarkan aku saja yang melakukannya!" Kaisar mencoba meraih pakaian Arga yang berada di tangan Lisa.
Tapi Lisa menepisnya.
Saat ini mereka sedang berada dalam kamar, sudah beberapa jam mereka berdebat dan berebut untuk memandikan Arga dan saat ini tengah berebut untuk memakaikan baju pada anak itu.
"Kenapa sejak tadi kau hanya cemberut pada ku?" Tanya Kaisar.
Lisa tidak menjawabnya ia tetep fokus memakaikan baju pada Arga.
Sepertinya Lisa masih kesal dengan Kaisar pasca kejadian di balai desa.
"Mamah kenapa cembelut sama papah? Kasian papah." Ucap anak itu, yang memeng sedari tadi melihat mamahnya hanya cemberut pada Kaisar.
"Tidak sayang, mamah tidak cemberut."
"Tapi mamah tidak Meu tersenyum pada papah!"
"Nanti mamah akan tersenyum. Selesai sekarang Arga jadi tampan bersih dan wangi kan!"
"Sepelti papah ya mah?"
Lisa menekuk kembali wajahnya yang tadi sudah ceria melihat penampilan Arga.
"Tentu saja Arga akan seperti papah." Sahut Kaisar dengan bangga.
"Tapi! Arga tidak boleh menjadi lelaki yang egois ya," Ucap Lisa, diselubungi sindiran.
Apa ucapanya itu di tunjukkan pada ku.
"Baik mamah!" Arga mencium pipi Lisa.
"Mamah Alga mau belmain sama om Falel."
"Om Farel sedang sibuk bekerja sayang."
"Tidak mah, om Falel ada di kamarnya, itu belalti om Falel sedang tidak bekerja."
Tanpa menunggu jawaban dari mamahnya, Arga segera turun dari kursi dan berlari kecil menuju pintu keluar.
"Pelan-pelan sayang!" Ucap Lisa yang khawatir melihat Arga berlarian hampir membentur meja.
"Ok mah!" Jawab anak itu sambil menunjukan jempol tangannya yang kecil. Dan langsung keluar dari kamar.
Setelah Arga keluar dari kamar itu. Tinggallah dua manusia yang tengah perang dingin setelah tadi berdebat.
Lisa tetap cuek pada Kaisar, sekali pun lelaki itu memancingnya untuk berbicara.
__ADS_1
Keduanya diam tidak ada yang memulai pembicaraan, tidak juga dengan Kaisar mungkin ia jengah karena sejak tadi ia bicara pun Lisa tidak menanggapinya.
Lisa masuk keruang ganti yang bersebelahan dengan kamar mandi.
15 menit kemudian dia keluar dengan berpakaian rapih dan meraih tasnya yang tergantung di balik pintu.
Kaisar yang sedang mengerjakan pekerjaannya memandang Lisa lekat.
"Kau mau kemana?" Akhirnya Kaisar kembali bersuara.
"Bekerja." Jawabnya singkat.
"Bekerja!"
Lisa berlalu melewati Kaisar untuk mengambil ponselnya yang berada di nakas tidak jauh dari meja kerja Kaisar.
Sebelum Lisa kembali melangkah, Kaisar mencekal lengan Lisa.
"Aku tidak mengijinkan mu kembali bekerja di klinik itu."
"Mas, sudah ku bilang jangan pernah membatasi kegiatan tu." Lisa menepis tangan Kaisar.
"Membatasi! Aku akan mengijinkan jika bukan di klinik itu."
"Kenapa? apa alasannya adalah Firman?" Tanya Lisa.
Kaisar diam.
"Mas! Sebelum kau datang, aku sudah berada di klinik itu, itulah tempat ku menggantungkan hidup bersama Arga selama 4 tahun ini. Dan Firman, selama ini dialah yang selalu membela ku dan Arga ketika kami mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari warga desa ini. Dan kamu seenaknya menyuruh ku meninggalkannya. Kamu tidak berhak melarang ku mas. Karena selama ini kau pun tidak perduli pada ku kan? Apa pernah kau mencari ku? Memikirkan bagaimana ke adaan ku dan anak kita, bahkan setelah kita bertemu pun kamu tidak pernah menanyakan keadaan ku. Kesulitan apa yang sudah aku lewati bersama Arga selama bertahun-tahun, Kau tidak pernah tau dan tidak mau tau kan mas, yang kau inginkan hanya aku dan Arga kembali pada mu. Kau terlalu egois mas."
Lisa bicara dengan nafasnya yang memburu membuat dadanya menjadi sesak. Sepertinya ia tengah mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam selama bertahun-tahun.
Memang benar Kaisar tidak pernah mengetahui apa yang telah di lalui Lisa selama 4 tahun ini.
Dan sepertinya Kaisar pun tidak pernah mengetahui bahwa sebelum Lisa pergi ia sempat mengirimkan pesan pada Kaisar lewat ponselnya.
Tapi pesan itu hanya di bacanya saja tanpa di balas.
Apa yang sebenarnya terjadi!
Kaisar diam.
Dan apa? Kenapa dia mengatakan kalau aku egois. Bahkan dia pun tidak pernah tau seperti apa keadaan ku setelah dia pergi, setiap hari aku habiskan hanya untuk merindukan dan memikirkannya, aku menolak berbagai wanita yang mendekati ku karena aku merasa bersalah padanya. Bahkan aku sampai hampir menjadi gila, dengan menghajar dan menghukum orang-orang yang tidak bersalah.
Itulah beberapa pertanyaan yang ada di benak Kaisar.
Tapi dia tidak mampu untuk
Mengatakannya pada Lisa.
Kaisar menatap mata Lisa yang hampir menjatuhkan bulir air mata. Sungguh membuat hati Kaisar hancur.
Ia menggerakkan tangannya untuk menghapus sesuatu yang Kaisar benci akan jatuh di pipi Lisa.
PLAK ....
Dengan kuat Lisa menepis tangan Kaisar. Dan segera berlalu menjauh dari jangkauannya.
Lisa membuka pintu kamarnya.
Tapi sebelum Lisa keluar dari kamar.
BRAK ....
Kaisar kembali menutup pintu itu dengan sangat keras.
"Mas, kau selalu seperti itu, ini tidak akan menyelesaikan masalah mas." Lisa kembali membuka pintu itu.
Namun Kaisar menarik tangannya dengan kuat. Ia mencekram kedua lengan Lisa.
"Apa kau lebih memilih menemui lelaki itu dari pada di sini bersama ku!" Mata Kaisar memerah.
"Lepaskan! Sakit mas." Ringis Lisa.
__ADS_1
Kaisar mengendurkan cengkeraman tapi tidak melepaskannya.
"Jawab!"
Lisa menatap mata Kaisar yang memerah. Entah kenap lelaki itu cepat sekali berubah-ubah.
"Mas, kau selalu berpikir buruk tentang Firman!"
"JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMANYA DI DEPAN KU." Teriaknya.
"Mas!" Lisa mulai ciut.
Perubahan air muka Kaisar begitu mengerikan tidak hanya matanya saja yang memerah, tapi rahangnya mengeras dan otot-otot yang ada di leher dan tangannya pun ikut menampakkan diri. Membuat Lisa takut.
Melihat wajah Lisa yang ketakutan, membuat Kaisar tersadar kalau dia hampir terlepas kendali.
Ia mengatur nafasnya.
Dan melepaskan cengkeramannya beralih memeluk Lisa.
"Maafkan kan mas, maafkan semua kesalahanku."
Dan itulah kata yang akhirnya keluar dari bibir Kaisar.
Ia mempererat pelukannya, tenang yang ia rasakan dan emosinya pun cepat mereda,
Sepertinya Lisa menjadi obat untuk Kaisar.
"Maaf!"
"Maaf."
Kata-kata itu sudah berulangkali Kaisar ucapkan. Membuat Lisa semakin menangis dalam diam di pelukan Kaisar.
Cukup lama dalam posisi seperti ini, hingga keduanya sudah bisa mengontrol diri.
"Mas, tolong lepaskan! Aku sulit bernafas."
Kaisar tidak melepaskan hanya mengendur kannya saja.
"Apa seperti ini sudah bisa bernafas!" Tanyanya yang masih memeluk Lisa.
Lisa hanya mengangguk.
Dan keduanya masih berlanjut berpelukan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Tuan apa kita, kembali melakukan malam ini?" Tanya seorang pria.
"Tentu saja, lakukan sampai saya menyuruh mu berhenti."
"Baik tuan."
Jadi seseorang yang di sebut tuan selam ini adalah Firman. Entah apa maksudnya dan tujuannya melakukan itu semua itu pada Kaisar.
Ia sudah mengatur semuanya dari awal.
Bahkan dia jugalah yang dengan senaja membawa Lisa ke desa ini dan menutup semua aksesnya.
Jadi pertemuannya dengan Lisa waktu di Klinik 4 tahun lalu, bukanlah sebuah kebetulan. Firman dengan senaja menahan Lisa untuk dirinya sendiri, dari dulu ia sangat terobsesi dengan Lisa.
Hingga begitu ada kesempatan, ia merencanakan semuanya.
Dia sangat nyaman hidup seperti ini bersama Lisa, meskipun Lisa tidak pernah membalas perasaannya Firman tetap menunggu.
Tapi dia mulai gusar ketika Kaisar tiba-tiba datang ke desa ini.
Dia menyimpan dendam selama 20 tahun pada keluarga Airlangga dan Kaisar lah yang menjadi fokus utamanya.
Dan sekarang seseorang yang ada di sana kembali mengirim Anggel untuk membantunya, sungguh sebenarnya dia tidak membutuhkan bantuan dari Anggel. Malah dia berfikir Anggel hanya akan menyulitkannya saja.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗