
"Biarkan wanita ular itu, dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu."
"Pah, bukan seperti ini cara menghukum seseorang, apa salahnya jika kita mendengarkan penjelasan mamah Julia." Bela Larasati.
"Jangan pernah menyebutnya mamah atau ibu, sungguh wanita ini tidak pantas menyandang gelar terhormat seorang ibu."
Julia tertunduk, ia tak mampu berkata apapun selain menjerit dan menangis dalam hati. Ia merasa takdir telah mempermainkan hidupnya.
"Pengawal!" Teriak Marwan.
"Iya tuan!"
"Cepat! Seret wanita jahanam ini, bawa dia jauh-jauh dari hadapan ku, dan jangan biarkan dia menampakkan wajahnya di sini." Titah Marwan dengan mata yang menyalang.
"Baik tuan."
Dua pengawal itu, dengan cepat mengangkat kedua lengan Julia, dan membawanya.
Larasati tidak bisa berbuat apa-apa, karna Yuda pun menahannya.
Julia di usir dengan cara tidak hormat dari kediaman Marwan, dia sudah seperti pendosa besar hingga harus di perlakukan seperti itu.
Apakah ini adil untuk Julia? Mungkin sebagian orang akan berkata, Iya, tapi, bukankah setiap manusia mempunyai hak untuk bersuara.
Setelah sampai di gerbang rumah besar itu, dua pengawal menghempaskan Julia di jalanan, seperti sebuah sampah yang tak berharga, bahkan sampah pun masih mempunyai tempatnya, tidak di lempar sembarangan seperti itu.
Julia terkulai di jalan, sudah tidak ada air mata yang mengalir.
Ia hanya menatap ke arah Marwan, dari balik gerbang yang perlahan di tutup.
Sementara di ujung jalan, sepasang mata tengah memperhatikan Julia.
Ia Rafi.
Dengan dada yang panas, amarah yang menggebu sampai ke puncak ubun-ubun Rafi mengepalkan tangan dengan kuat.
Tapi di balik marahnya, ada bulir bening yang terbendung di sudut matanya.
Rafi tidak terima Julia di perlakukan seperti itu oleh Marwan.
"Tuan!" Asisten Rafi mendekat.
"Bawa dia." Hanya dua kata, yang menjadi titah untuk asistennya.
"Baik tuan."
Anak buah Rafi, membawa Julia memasuki mobil, tidak ada penolakan dari Julia, wanita itu hanya terdiam dengan tatapan yang kosong.
Saat ia terbuang, Rafi lah yang menampungnya.
.
Entah, sudah berapa banyak luka yang Julia torehkan pada putranya itu, Rafi tetep akan menerimanya sebagai seorang ibu, karna hubungan darah jauh lebih kental dari pada air.
🍁🍁🍁🍁
Sampai di Rumahnya.
Rafi membawa Julia ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan Julia.
"Bawakan aku kotak obat!"
"Baik tuan!"
Setelah ia dapatkan kotak obat itu, Rafi mulai mengobati Luka di pelipis mata Julia.
🍁
Beberapa hari kemudian.
Rafi masih dengan telaten merawat Julia, yang terlihat depresi .
"Kau jauh terlihat lebih buruk dari sebelum mengenal keluarga Airlangga Bu,"ucap Rafi yang kini tengah membersihkan telapak kaki Julia.
"Kaisar, sudah tidak menyayangi ku lagi." Gumam Julia, tiba-tiba dengan tatapan kosongnya.
Pergerakan tangan Rafi terhenti mendengar gumaman Julia, yang menyebut nama Kaisar.
PRANG ...
Rafi, membanting wadah berisi air yang ia gunakan untuk membersihkan kaki Julia.
"Kaisar!" Geramnya.
Lalu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar Julia.
"Cepat, bawa lelaki tua itu ke gudang!" Titah Rafi, pada salah satu anak buahnya.
"Maksud anda Marwan? Untuk apa tuan?"
"Jangan banyak tanya, lakukan saja tugas mu!" Bentak Rafi.
🍁🍁🍁🍁🍁
Marwan yang tengah menuju kantor bersama Sanusi, di hadang oleh orang-orang yang menggunakan penutup wajah, tentu mereka anak buah Rafi, Marwan tidak bisa melakukan perlawanan karena mereka membawa senjata tajam, dan Sanusi pun berhasil di lumpuhkan.
Marwan di bawa di sebuah bangunan tempat ia bertemu Kaisar beberapa Minggu yang lalu.
Ada Rafi di sana.
Marwan di ikat di sebuh tiang.
"Apa kabar tuan Marwan?"
"Cih ...! Dasar pengecut, kau hanya berani pada orang setua ku." Cemooh Marwan.
"Hahaha... Aku hanya ingin, mempersembahkan sebuah pertunjukan pada mu Tuan!" Sahut Rafi santai.
.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
Kondisi Kaisar sudah membaik.
Jhon menyampaikan kabar padanya, jika Marwan di Sandra oleh Rafi dan menginginkan Kaisar yang menjemputnya.
"Brengsek! Mau apalagi dia, padahal aku sudah berbaik hati tidak melakukan apapun padanya!" Geram Kaisar.
🍁
Kaisar dan Jhon, segera menuju tempat di mana Marwan di Sandra.
Lisa yang mengetahui Kaisar pergi menemui Rafi, segera menyusulnya bersama Sintia dan Farel.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sesampainya di gudang tua.
"RAFI!" Teriak Kaisar, yang menggema di tempat sepi itu.
"Kau sudah datang Kai, masuklah Kakek mu sudah menunggu untuk kau jemput." Rafi muncul dari sebuah ruangan.
"Brengsek!" Kaisar mengepal kerah baju Rafi dengan kuat. "Jika sampai ku temukan lecet sedikit saja di tubuh kakek ku, aku akan mengelupas semua kulit yang menempel di tubuhmu ini."
Rafi menghempaskan tangan Kaisar.
"Dasar pengecut, kau hanya bisa mengancam saja Kai!"
"Aku sudah memberikan ibumu, jadi lepaskan Kakek ku!"
"Hahaha...! Tidak semudah itu Kai, kau pikir aku akan melepaskan kalian begitu saja, kau sungguh tidak tau diri Kai, wanita itu sudah merawat mu bertahun-tahun, tapi kau membuangnya begitu saja."
"Tutup mulut mu Rafi!" Bentak Kaisar.
Rafi tidak memperdulikannya.
Ia meminta anak buahnya membawa Marwan, ke hadapan Kaisar.
Dengan tangan yang masih terikat, wajah Marwan sudah terlihat babak belur.
"Berani sekali kau melakukan itu pada Kakek ku!" Kaisar dengan geram, mendekat, ia benar-benar ingin menguliti Rafi saat itu juga.
Tapi Rafi menodongkan Pistol tepat di kepala Marwan.
"Satu kali melangkah, satu tembakan bersarang di kepalanya." Ancam Rafi.
"Sial!" Gerutu Kaisar.
Bersamaan dengan itu, Asisten Rafi membawa serta Julia memasuki gudang.
Mata Kaisar, terbelalak melihat Julia yang juga ada di sana, entah pertunjukan apa yang di maksud Rafi hingga ia mengumpulkan semua orang di sana.
Mata Julia berkaca-kaca menatap Kaisar.
"Kai!" Lirihnya.
Perlahan Julia melangkah mendekati Kaisar, ia memeluk Kaisar dengan erat dan tangis yang pecah.
"Cukup!" Bentak Rafi.
Dan Asistennya meraih Julia dari pelukan Kaisar.
Lalu mendudukan Julia di Kursi yang bagai seorang ratu.
"Apa yang kau inginkan Rafi?" Tanya Kaisar.
"Tidak banyak, antara nyawa mu atau si tua bangka ini!" Sahutnya.
Beberapa orang bertubuh besar memasuki gudang itu.
Mereka mengepalkan tangannya, bertanda siap untuk bertugas.
"Serang!" Titah Rafi.
Hanya dengan hitungan detik, para pria bertubuh besar itu menyerang Kaisar dan Jhon.
BAG .. BUG ...
BAG.. BUG..
Pertempuran sengit terjadi di sana, Kaisar dan Jhon terlihat mulai kewalahan menghadapi orang-orang, yang tidak bisa di remehkan kemampuannya itu.
Marwan menyaksikan cucu kesayangannya menerima beberapa pukulan.
Dan Julia, ia berusaha untuk lari menolong Kaisar, tapi Rafi dengan kuat mencekal lengan Julia agar tetep duduk di kursinya.
"Kalian berdua nikmati saja pertunjukan, yang hanya baru pemanasan ini." Ucap Rafi.
Melihat lebih dari sebagai anak buahnya terkapar, Rafi kembali menambah jumblahnya, orang-orang yang lebih kuat masuk dan mulai menyerang Kaisar.
Kaisar dan Jhon, mulai terkuras tenaganya dan sudah banyak luka dan lebam di wajah dua lelaki itu.
Rafi tersenyum puas, menyaksikan itu semua.
"Rendi!" Panggil Rafi, pada Asistennya.
"Iya tuan."
"Jaga wanita ini, dan tetep pastikan ia melihat semuanya."
"Baik tuan."
Rafi turun ke arena pertempuran, dengan sigap para anak buahnya memberi ruang untuk Rafi, mereka beralih hanya menyerang Jhon, sedang Kaisar menjadi urusan Rafi, karena itulah yang di inginkan Tuannya.
BUG.
BUG..
Rafi menghajar Kaisar habis-habisan.
__ADS_1
Begitupun Kaisar, dengan tenaga yang tersisa, ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menghajar Rafi.
Farel, Lisa dan Sintia datang di waktu yang tepat.
Dengan cepat Farel membantu Jhon yang kewalahan menghadapi puluhan orang.
Lisa mencoba menghentikan perkelahian, yang sudah di kuasai oleh Rafi.
"Ka Rafi, tolong jangan lakukan itu!" Pinta Lisa, yang melihat Rafi ingin menghantam Kaisar dengan sebuah balok besar.
"Lisa!"
"Aku mohon ka, jangan lakukan itu pada Kaisar, tenangkan diri mu, kita bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik, tolong dengarkan aku."
Rafi yang tengah gamang, di manfaatkan Kaisar.
Kaisar menendang, dengan kuat pria itu sampai terjungkal.
Dengan membabi-buta Kaisar menendang dan memukuli Rafi.
Farel dan Jhon berhasil melumpuhkan semua anak buahnya Rafi begitupun dengan Asisten Rafi, dengan cepat Sintia melepaskan ikatan Marwan.
"Mas! Stop mas, jangan pukul lagi!" Dan kini Lisa, menghentikan kegilaan Kaisar.
"Biarkan saja dia Kakak ipar!" Sahut Farel.
"Tidak! Ini tidak bisa di biarkan Farel."
Lisa berlari untuk menghentikan Kaisar.
Namun Farel mencegah dengan memegangi tangan Lisa dengan kuat.
"Lepaskan Farel!"
"Maaf kakak ipar, aku tidak bisa."
"MAS, hentikan mas! Jangan siksa Ka Rafi seperti itu!" Teriak Lisa dengan kuat, agar lelaki itu bisa mendengarnya.
Bukannya berhenti, Kaisar malah semakin gila, karna lagi-lagi Lisa membela Rafi.
Kaisar berjalan, merai pistol yang tergeletak di lantai.
Rafi yang terkulai tidak berdaya di lantai, mencoba untuk bangkit kembali.
Ia tersenyum kecut saat Kaisar menodongkan pistol ke arahnya.
"Jangan buang-buang waktu Kai, cepat tembak dia." Teriak Marwan.
"TIDAK MAS, JANGAN!"
Sekuat tenaga Lisa mencoba melepaskan pegangan tangan Farel, yang semakin kuat.
"Sintia, tolong aku untuk menghentikan semua ini." Pinta Lisa dengan memelas.
Namun Sintia menuduk.
"Maafkan aku, aku tidak bisa."
Lisa beralih pada Jhon.
"Jhon, tolong, kau pasti bisa menghentikan mas Kaisar."
Jhon pun menggeleng.
"Biarkan saja Kaisar, menghabisi pria jahat ini Lisa, jangan melindunginya." Bentak Marwan pada Lisa.
"Kakek, aku pastikan Anda akan menyesal seumur hidup anda jika sampai mas Kaisar membunuh Rafi." Sahut Lisa.
Semua mata menatap Lisa, mereka mencerna apa maksud dari ucapan Lisa.
Namun karena kekesalan dan kemarahannya pada Rafi, mereka tidak memperdulikan itu.
Mereka tetap membiarkan Kaisar.
Lisa sudah Frustasi harus bagaimana.
"Mas, aku mohon jangan lakukan itu." Lisa memohon pada Kaisar.
Kaisar menatap marah pada Lisa.
"Kenapa kau selalu membelanya."
"Ka Rafi tidak salah mas, ini hanya salah paham."
"Biarkan saja jika dia ingin membunuh ku Lisa, aku sudah siap mati di hadapan ibu ku oleh anak kesayangannya." Sahut Rafi , tanpa takut, dan menantang Kaisar.
"Brengsek! Kau masih mempunyai keberanian berbicara dengan Lisa!"
Kaisar semakin memajukan diri, ia berniat menembak Rafi dari jarak terdekat.
"Mas! Jangan mas, kamu akan menyesal seumur hidup mu jika membunuh ka Rafi."
"KENAPA AKU HARUS MENYESAL MEBUNUH DIA!" Teriak Kaisar.
Lisa mengumpulkan suaranya yang sudah hampir habis.
Ia menatap Rafi, yang di balas gelengan kepala dari pria itu.
"Kau akan menyesal mas, karna ka Rafi anak kandung dari kakek Marwan!"
JLEGEEER.....
Bagai petir yang tiba-tiba menyambar semua mahkluk yang ada di gudang itu
DEG.
Marwan, ia yang paling terkejut dengan penuturan Lisa.
🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🤗