Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 35. Farel bertemu Yuna.


__ADS_3

Dini hari Farel baru sampai di desa.


"Silahkan tuan Farel." Supir membuka pintu mobil untuk Farel.


"Tuan Farel, bisa tinggal di sini, ini rumah terbaik yang ada di desa ini dan posisi nya juga jauh dari para penduduk desa." Ucap asisten Farel.


"Lalu di mana kantornya."


"Kantornya ada di sebelah balai desa tuan."


****


Pagi hari, Farel mulai melakukan pekerjaannya.


"Tuan Farel ada yang ingin bertemu dengan anda?" Ucap asistennya yang bernama Rijal.


"Siapa?"


"Seorang dokter, yang bertugas di klinik desa ini tuan."


"Suruh dia masuk."


"Baik tuan."


Tak lama.


"Selamat pagi tuan?" Sapannya.


"Selamat pagi."


"Perkenalkan, saya Firman dokter yang bertugas di klinik, desa suka damai." Firman mengulurkan tangannya pada Farel. Dan Farel pun menyambutnya.


"Silahkan duduk."


"Baik, terimakasih tuan Farel."


Firman duduk di kursi, yang berhadapan langsung dengan Farel. Dan mengutarakan maksud dan tujuan ia datang ke kantor Farel, yang berada persis di sebelah balai desa.


"Jadi begitu tuan Farel. Saya sangat berharap perusahaan anda dapat mempertimbangkannya lagi untuk membangun pabrik di desa ini." Ucap Firman, di akhir penjelasannya.


Farel tak menjawab, ia hanya menggoyang-goyangkan pulpen yang ada di tangannya.


"Baik tuan Farel kalau begitu, saya permisi dulu. Semoga hari anda menyenangkan di desa kami." Ucap Firman, dan segera pergi dari kantor Farel.


Sepertinya Farel sama sekali tidak mendengar Firman.


"Rizal!"


"Iya tuan?"


"Cepat! Suruh para pekerja, untuk bekerja hari ini juga." Titahnya.


"Tapi tuan, apa tuan Farel tidak melakukan pendekatan dulu dengan para warga, agar mereka mau di evakuasi."


"Tidak usah, hanya membuang-buang waktu saja. Biarkan saja jika mereka tidak mau di evakuasi."


********


β€ŒPara pekerja mulai turun di lahan yang sangat luas milik keluarga Airlangga Wijaya. Mereka mulai mengatur rencana pembangunan, dan beberapa material di turunkan, membuat para warga desa mulai cemas.


β€Œ


"Bagaimana ini?" Ucap salah satu warga desa, yang melihat aktivitas mulai di lakukan di lahan kosong itu.


"Saya juga tidak tau, tapi tadi pagi saya lihat dokter Firman ke kantor orang-orang itu untuk memberi pemahaman, tapi sepertinya mereka tidak mau mendengarkan dokter Firman."


"Kalau begitu kita turun tangan saja. Jika pak kepala desa dan dokter Firman tidak mereka dengarkan, kitalah yang harus turun tangan untuk menjaga desa ini." Ucap warga desa yang lainnya.


" Kau benar." Sambung, salah satu warga lainnya.


Dan mereka pun berbondong-bondong, menuju lokasi pembangunan pabrik kimia tersebut.


Karena warga desa yang sedang tersulut emosi, mereka mengacak-acak semua benda yang ada di sana, perlawanan dari para pekerja pun di lakukan, hingga pertikaian tidak bisa di cegah. Mereka saling pukul dan saling hantam.


Baku hantam dari kedua belah pihak semakin memanas. Rizal asisten Farel, hany bisa mematung menyaksikan pemandangan itu. Mau melerai pun tak mungkin, karena ia juga takut jadi bulan-bulanan warga. Akhirnya Rizal mengambil langkah seribu.


~~


" Tuaaan .... Tuan ..... Tuan Farel ....!" Rizal menerobos ruangan Farel, dengan tergesa-gesa dan nafas yang memburu.


Farel yang melihat Rizal bagai di kejar-kejar hantu, tetap duduk santai sambil memainkan ponselnya. Dan berkata.


"Ada apa?"


"Tuan ... Ada masalah di lapangan, para warga menyerang pekerjaan tuan." Ucap Rizal, yang masih mengatur nafasnya.


"Lalu?"


"Lalu? ... Terjadi keributan di sana tuan."


"Kalian menangani warga desa saja tidak becus."


" Mereka berjumlah banyak tuan. Dan para pekerja kita sepertinya kualahan menghadapi mereka tuan."

__ADS_1


"Sial." Umpat Farel, dan segera bangkit dari duduknya.


"Ayo kita kelapangan." Ajaknya pada Rizal.


Dengan cepat mereka menuju lapangan pembangunan. Keadaan di sana sangat kacau, banyak para pekerja yang terluka. Untung kepala desa bisa menenangkan para warga, hingga perkelahian pun bisa di hentikan.


"Cepat! Bawa yang terluka ke klinik. Mereka harus segera di tangani." Ucap kepala desa.


Di klinik.


"Ada apa ini?" Tanya Yuna. Yang melihat ke riuhan, dan di susul dengan para warga dan pekerjaan proyek yang datang dengan terluka.


"Terjadi keributan di lapangan pembangunan pabrik. Banyak yang terluka di sana." Ucap salah seorang warga.


"Astaga! Cepat bawa mereka. Saya akan panggil dokter Firman dan viona."


Dokter dan perawat mulai sibuk menangani para korban luka.



Dan Farel datang ke klinik.


Ia harus memastikan bahwa para pekerjanya dalam ke adaan baik-baik saja. Jika tidak, sudah bisa di pastikan Yuda dan Marwan akan marah besar padanya.



Farel menyusuri klinik. Ia mencari di mana ruangan yang di gunakan untuk merawat para pekerjanya, ketika ia melewati sebuah ruangan yang terdengar cukup riuh, Farel menghentikan langkahnya.


Farel melihat ke dalam ruangan itu. Pandangannya menyapu, dan tiba-tiba terfokus pada seorang wanita yang tengah membantu dokter.



"Kakak ipar?" Farel lebih fokus lagi memperhatikan sosok wanita yang ber kemeja putih itu.



"Iya, tidak salah lagi, Dia kakak ipar. Selama bertahun-tahun si berengsek itu mencari mu, rupanya kau bersembunyi di sini kakak ipar," gumam Farel di iringi dengan senyum licik di sudut bibirnya. Entah apa yang Farel fikirkan, hanya dia dan tuhan yang tau.



Keadaan sudah mulai kondusif.


Semua korban, bentrok antara warga dan para pekerja sudah mendapatkan perawatan.


"Pak Dadang. Kepala pimpinan pembangunan ingin berdiskusi dengan pihak kita." Ucap salah satu warga yang mendapatkan pesan dari Rizal asisten Farel.


"Baik, saya akan segera ke kantornya, masalah ini memang harus segera di selesaikan."


"Maaf pak, tapi pimpinan itu ingin bertemu dengan tim medis yang ada di klinik."


"Yuna, pak. Beliau ingin bertemu dengan Yuna."




"Apa, saya? Kenapa harus saya pak?" Tanya Yuna bingung. Kenapa harus dia yang menemui pimpinan pembangunan pabrik kimia itu.



"Saya juga tidak tau, tapi apa salahnya jika kau temui dulu. Siapa tau dengan kamu berbicara pada pimpinan itu, mereka membatalkan pembangunan pabrik."



"Baiklah saya akan mencobanya." Jawab Yuna, pasrah.



Dan Yuna pun segera pergi, ke kantor pimpinan yang ada di balai desa.



"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan pimpinan ka .... !"



"Oh iya .... Tuan sudah menunggu anda, silahkan masuk." Ucap Rizal yang memotong perkataan Yuna.



"Baik, terimakasih."



Yuna melangkah kakinya, menuju ruangan di mana Farel berada.



Tok ..... Tok .... Tok ....



"Masuk!" Suara dari dalam, menghentikan ketukan pintu yang Yuna lakukan.

__ADS_1



Cklek .....



Yuna mendorong pintu itu. Terlihat seorang pria yang sedang duduk membelakangi pintu.



"Selamat siang tuan, saya dari tim medis klinik suka damai."



Farel membalikkan badannya.



Dan.



BUG.



Yuna menjatuhkan map yang ia pegang tepat di telapak kakinya, sakit! Tentu tidak ia rasakan, karna kini semua Rasanya sudah habis, dengan rasa keterkejutannya melihat Farel.



"Selamat siang kakak ipar!" Sapa Farel dengan senyum liciknya.



Yuna diam. Sungguh benar kata pepatah kalau dunia memang selebar daun kelor.



Melihat tak ada respon dari Yuna.


Farel pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Yuna.



"Apa kabar kakak ipar?" Tanya Farel.



"Saya bukan kakak ipar mu." Jawab Yuna ketus.



"Ha ha ... Ada apa dengan mu kakak ipar?"



"Jangan panggil saya, dengan sebutan itu. Saya bukan kakak ipar mu lagi "



"Baiklah, kau bukan kakak ipar ku lagi, tapi aku tetep adik ipar mu kan?" Jawab Farel di sela-sela tawanya.



"Jadi ini alasan mu ingin bertemu dengan ku?" Tanya Yuna sambil menatap Farel, dengan tatapan ekstrimnya.



"Kakak ipar memelototi ku? Jangan galak-galak dengan adik ipar mu ini ka."



Yuna membuang wajahnya, karna kesal.



"Bagaimana kabar mu Kakak ipar? Aku perhatikan kau lebih bahagia lepas dari si berengsek Kaisar itu."



"Tantu saja kabar saya sangat baik, dan saya juga sangat bahagia di sini. Jadi tolong jangan ganggu kehidupan saya di sini."



"Apa kakak ipar, tidak ingin menanyakan kabar suami kakak ipar." Ucap Farel.



"Dia bukan suamiku lagi, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Tegas Yuna.



🌹🌹🌹🌹

__ADS_1



Terimakasih sudah membaca cerita saya πŸ€—πŸ€— minta dukungannya yaπŸ™πŸ™


__ADS_2