Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 44. Jangan macam-macam dengan Kaisar


__ADS_3

"Jhon apa kau sudah melihat foto yang aku kirimkan?"


"Sudah tuan."


"Jadi bagaimana?"


"Hari ini juga kita akan mengetahui siapa orang itu tuan, karna sebentar lagi kepala desa akan mengumpulkan semua warga, saya yakin peneror itu ada di antara mereka."


"Bagus."



Sambil menunggu semua warga berkumpul, Kaisar masuk kedalam, tentu untuk menemui Lisa dan Arga. Sampai di ruangan tengah, samar-samar Kaisar mendengar suara Lisa di dalam kamar.



"Aku dan Arga baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir."



Suara yang begitu merdu dan lembut terdengar di telinga Kaisar, Lisa tidak pernah bicara selembut itu padanya. Tentu hal ini membuat Kaisar menjadi gusar.



"Lisa sedang bicara dengan siapa, kenapa suaranya semanis itu." Gumam Kaisar.



Kaisar, dengan langkah panjangnya menuju kamar Lisa.



Pintu terbuka, sehingga Kaisar bisa melihat langsung siapa yang sedang bicara dengan Lisa.



Kaisar menatap dengan tatapan membunuh, bukan hanya sekedar berbicara dengan seseorang Kaisar pun melihat Firman sedang menggenggam tangan Lisa.



"LEPASKAN! TANGAN MU DARI ISTRI KU BRENGSEK!" Suara Kaisar, begitu menggelegar.



Semua mata tertuju padanya. Lisa segera menarik tangannya yang di genggaman Firman, tapi Firman menahannya.


Firman tak mengindahkan bentakan dari Kaisar, ia malah semakin erat menggenggam tangan Lisa. Seolah sedang menantangnya.



"Apa kau tuli?" Kini Kaisar sudah tepat berada di hadapan mereka.



"Maaf, anda tidak berhak melarang saya ataupun Yuna. Karena anda bukan lagi suami dari Yunalisa."



"Kurang ajar!" Kaisar menepis tangan Firman yang masih menggenggam tangan Lisa.



"Cukup mas. Firman benar, kita sudah tidak memiliki hubungan apapun."



Ucapan Lisa semakin membuat api kemarahan Kaisar berkobar.



"Jadi tolong jangan mengganggu ku lagi, pulanglah mas tempat mu bukan di sini, jangan khawatir aku tidak akan menghalangi mu jika ingin bertemu Arga." Sambung Lisa.



"Lisa." Geram Kaisar.



"Apa anda mendengarnya tuan? Jadi cepat-cepatlah anda pergi dari desa ini, kehadiran anda hanya menyusahkan saja. Dan anda tau teror ini terjadi karna anda."



Percayalah sudah seperti apa amarah Kaisar sekarang, mungkin sudah seperti lava panas yang siap \*\*\*\*\*\*\* habis tubuh Firman. Tapi tahan Kaisar, Jangan di depan Lisa lakukan di tempat lain! Inilah bisikan hati Kaisar.


__ADS_1


Kaisar tak menjawab apapun dari perkataan Firman. Ia malah melangkah kan kakinya keluar dari kamar itu dalam diam seribu bahasa. Tidak ada yang bisa mengartikan dari diamnya Kaisar, apakah mungkin lelaki itu menyerah? Hanya dia dan tuhan yang tau.



Kaisar kembali ke depan untuk menemui kepala desa dan warga yang lainnya, mereka semua sudah berkumpul. Lisa pun ikut perkumpulan itu dengan di temani Firman di sisinya.



Kaisar sama sekali tidak melirik ke arah Lisa, padahal ada di sampingnya yang hanya terhalang dengan Sintia.



Kepala desa mulai berdiskusi dengan para warga mengenai teror yang terjadi di rumah bude Darmi.



Sementara itu Kaisar dan Jhon sama sekali tidak menyimak apa yang tengah mereka bicarakan, tidak penting baginya apa isi pembicaraan itu, yang terpenting sekarang adalah dia harus fokus untuk memperhatikan satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya ini supaya ia bisa mencocokannya dengan si pelaku teror, karena teror itulah yang membuatnya gagal dalam memiliki Lisa kembali.



Kaisar menyapukan pandangannya pada tiap wajah-wajah yang sedang tegang karena diskusi itu. Tapi hanya ada satu wajah yang nampak biasa saja bahkan tanpa ekspresi.



"Jhon!"



"Iya tuan."



"Kau, perhatian wanita paruh baya yang ada di ujung sana." Bisik Kaisar pada Jhon.



Tak perlu waktu lama Jhon langsung tau siapa yang di maksud Kaisar. Mata Jhon pun tertuju pada seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju putih bercorakkan bunga-bunga berwarna biru.



"Bagaimana?" Tanya Kaisar.



"Cocok tuan, tidak salah lagi."




"Tentu saja tuan."



~~


"Jadi bagaimana ini pak?" Tanya salah seorang warga.



"Kalian jangan khawatir, untuk pembangunan pabrik kimia itu, pak Kaisar dan pak Farel sudah berjanji tidak akan meneruskannya."



"Apa itu benar?"



"Tentu saja benar. Karna ucapan tuan saya sangat mutlak dan bisa di percaya." Kali ini Jhon yang menjawabnya.



"Baiklah kalau begitu, kami percaya pada anda pak Kaisar."



"Jadi masalah teror ini biar kita selidiki bersama-sama. Nanti malam akan di adakan ronda untuk keamanan desa kita."



Kepala desa membubarkan perkumpulan itu, dan warga desa pun pulang ke rumah mereka masing-masing, Kaisar kembali ke rumah yang sudah di sediakan Yuda untuknya dan Farel selama mengurus proyek di desa itu.


Ia pergi begitu saja tanpa berpamitan pada Lisa terlebih dahulu. Ia hanya berbicara pada Arga dan mencium anak itu.


"Papah pergi dulu ya. Nanti papah kembali lagi." Ucapanya dan langsung meninggalkan rumah bude Darmi, di ikuti dengan Jhon di belakangnya.

__ADS_1


Lisa menatap kepergian Kaisar yang pergi begitu saja, tanpa sepatah katapun yang Kaisar ucapkan padanya, membuat hatinya berdenyut merasakan sesuatu yang tidak nyaman.


************


Sampai di rumah.


BUUG......


Tiba-tiba Farel melayangkan pukulan pada wajah Kaisar, yang baru saja masuk kedalam rumah.


"Dasar bodoh, apa kau tidak memikirkan berapa kerugian perusahaan kita jika pembangunan pabrik itu di batalkan!" Ucap Farel dengan tangannya yang mencekram kerah kemeja Kaisar.


Farel baru saja mendapatkan kabar dari Rizal, bahwa Kaisar membatalkan pembangunan pabrik itu. Membuatnya menjadi geram pada kakaknya itu.


"Kurang ajar! Berani kau menyentuh ku." Murka Kaisar, yang langsung menepis tangan Farel.


"Dengar brengsek, aku tidak perduli berapa kerugian perusahaan papah mu itu." Sambungnya Kaisar.


"Kai, jika kau melakukan pembatalan ini karena Lisa .... Ak ...!"


"Jangan pernah menyebut namanya brengsek!" Potong Kaisar.


"Dasar pengecut." Sungut Farel.


"Farel." Kaisar berbalik mencekram kerja baju Farel.


"Jika bukan karena kakek Marwan, mungkin dari dulu kau sudah ku habisi." Ucap Kaisar.


"Ha.. ha... Kau kira aku takut dengan ancaman mu itu!"


"FAREL!"


"Cukup tuan!" Jhon menghentikan perdebatan otot antara Kaisar dan Farel.


"Hentikan dulu pertempuran anda, karna ada sesuatu yang jauh lebih penting dari itu tuan." Sambung Jhoh.


"Apa maksud mu Jhon. Sangat penting bagi ku untuk menghajar wajah si gila ini." Ucap Farel dengan amarahnya.


Kaisar menatap tajam Farel, ingin rasanya ia merobek mulut lancang adiknya itu. Tapi ia lebih memilih pergi bersama Jhon, karna jika Jhon mengucapkan penting, sudah pasti itu sangat penting baginya.


********


"Yuna! kenapa kau melamun di sini?" Sintia menghampiri Lisa yang tengah terduduk di halaman belakang rumah.


"Melamun? aku tidak sedang melamun."


" Lalu?"


"Aku hanya sedang memikirkan Arga."


"Yuna, sepertinya kamu bukan hanya memikirkan Arga, pasti kau juga memikirkan Kaisar kan?"


"Aku sudah memilih untuk melupakannya sejak 4 tahun yang lalu. Jadi untuk apa aku memikirkannya."


"Bagus. Setidaknya kau harus menjaga perasaan dokter Firman."


******


Kembali ke Kaisar.


Jhon membawanya ke sebuah tempat yang berada, di belakang rumah yang ia tinggali.


"Ini yang anda inginkan tuan." Ucap Jhon, seraya mengarahkan pandangannya pada seseorang yang tengah terikat di kedua tangannya dan mulut yang di sumpal.


Kaisar menyunggingkan senyum di bibirnya, bertanda bahwa dia sangat puas dengan apa yang di sediakan Jhon saat ini.


"Di mana yang satu lagi?" Tanya Kaisar?


"Dia sedang tidak sadarkan diri tuan, saat anggota kita ingin menangkapnya, pria itu membrontak jadi terpaksa mereka melumpuhkannya untuk sementara waktu."


Kaisar berjalan mendekati sosok yang kini sedang terikat itu. Ia membuka sumpalan yang ada di mulutnya.


"Anda mau apa tuan? jika anda mengharapkan sesuatu dari saya, tentu jawabannya tidak bisa. Karena saya tidak memiliki apapun tuan." Ucap seorang wanita paruh baya yang kini menjadi tawanan Kaisar.


"Tentu saja, saya tau itu." Balas Kaisar.


" Jhon, berikan sesuatu pada ku untuk menyambut wanita ini."


"Tunggu sebentar tuan."


Benar saja, tak lama Jhon datang dengan membawa sebilah pisau di tangannya.


"Ini tuan." Dan Jhon pun menyerahkan senjata itu pada Kaisar.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗


__ADS_2