
Selepas pesta usai, semua pulang ke Rumah masing-masing dengan perasaan bahagia karena dapat berkumpul dengan keluarga.
Begitupun dengan Jhon dan Luna, mereka kembali ke Apartemen dengan perasaan bahagia.
"Luna, sejak kapan kau mengenal adik laki-laki Nona Lisa?" Jhon yang berada di belakang kemudi, membuka suaranya dengan sebuah pertanyaan untuk Luna.
"Eeeem...!"Luna tengah mengingat,"aku lupa waktu pastinya aku mengenal Raka, tapi dia sering sekali datang ke Restoran ku untuk makan, dan kak Jhon tau! Dia bilang, masakan yang ada di Resto ku adalah masakan yang paling enak di antara Restoran yang lainnya, dia itu sungguh baik hati sama seperti kakak ipar Lisa."Sahut Luna, dengan panjang lebar.
Mendengar Luna memuji Raka, dengan wajah yang berbinar seperti itu membuat Jhon menjadi kesal.
"Apa jika dia datang ke Resto kamu menemuinya?" Jhon kembali melontarkan pertanyaan.
Dan di balas cepat oleh Luna.
"Tentu saja! Aku harus menyapa pelanggan setia ku itu kak."
Luna belum menyadari jika Ekspresi wajah suaminya itu sudah mengcosplay bara api, yang merah dan panas!
"Jika dia datang lagi ke Restoran, untuk alasan makan atau apapun itu, kau harus tetep di dalam, tidak boleh menemuinya."
"Kenapa?"
Apa kak Jhon cemburu? katakan jika cemburu.
"Karna....!"
"Karna apa kak?"
"Ya karena, kau pemilik Resto itu, kau Bos di sana, jadi biarkan saja para Karyawan mu yang melayani lelaki itu, kau tidak harus repot-repot."
Ternyata bukan karena cemburu.
"Tapi aku tidak melayaninya kak, aku hanya menyapa saja, dan Raka juga sekarang menjadi keluarga kita, dia adik kakak ipar Lisa, jadi aku harus tetap menyapanya Ketika ia datang ke Resto."Sahut Luna, yang bertujuan untuk memancing Jhon.
"Aku bilang tidak boleh ya tidak boleh."
"Beri aku alasan yang jelas dong kak, kenapa aku tidak boleh menyapa Raka?"
"Luna, kau tengah hamil, dan kau tidak boleh merasa lelah dan capek, jika kau masih menemui lelaki itu, aku tidak akan mengijinkan mu untuk pergi ke Resto."
"Jangan ka!"
Dia selau menggunakan senjata itu.
"Kau pilih yang mana?"
"Baik, aku pilih yang pertama."
"Apa?" Tanya Jhon memastikan.
"Tidak menemui Raka, jika dia datang ke Restoran."
Jhon tersenyum puas.
"Bagus!"
Sepertinya Jhon sudah menyadari jika Raka menaruh hati pada Luna.
Bagaimana tidak menyadari, karna sepanjang pesta Raka sama sekali tidak melepaskan pandangannya pada Luna.
Dan Jhon pun terus memperhatikan Raka, yang selalu menatap penuh cinta istrinya.
Jika saja saat itu tidak sedang berada di pesta Arga.
Dan jika saja Raka itu bukan adik Nona Lisa.
Sudah pasti Jhon akan menghajar habis-habisan, bahkan mungkin dia juga akan mencongkel mata Raka yang selalu memandang Luna.
Jhon cemburu, sangat cemburu.
Di tambah lagi, ternyata Raka sering mengunjungi Luna di Restoran dengan beralaskan makan.
Memangnya tidak ada Resto lain, kenapa dia harus makan di Resto Luna,batin Jhon.
Di balik kecemburuannya.
Ternyata Jhon menyimpan kecemasan dan ketakutan di hatinya.
Raka memiliki wajah yang tampan ramah, sepertinya lelaki itu juga sangat baik dan pandai berbicara dan memikat hati wanita, tidak seperti Jhon yang kaku dan dingin.
Karakter yang berlawanan inilah yang membuat Jhon takut.
Jika Soal ketampanan, pasti Jhon tidak akan kalah, karna diapun sama tampannya dengan Raka, dan Jhon sudah cukup percaya diri untuk itu.
Jhon takut jika Luna membalas perasaan Raka, lalu berpaling dari nya karna lebih memilih Raka dari pada dirinya.
Percayalah Jhon, Luna bukan wanita seperti itu.
Ini tidak bisa di biarkan, aku harus melakukan sesuatu sebelum itu semua terjadi, sebelum Luna membalas rasa suka dan cinta lelaki yang bernama Raka itu,batin Jhon.
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁
Di Mansion.
Setelah pesta Usai.
Kaisar tengah di sibukkan dengan membantu Arga, yang tengah membuka kado-kado yang Arga terima dari keluarganya.
Layaknya anak-anak, pada umumnya.
Arga sangat bahagia dengan beberapa mainan yang menjadi hadiah untuknya.
Di bantu oleh sang papah, Arga membuka kado yang berukuran paling besar di antara yang lainnya, yang Arga dapatkan dari papih Farel dan mamih Sintia.
"Waaaah.... Besar sekali pah!" Seru Arga, yang melihat isi kado itu, yang ternyata mainan berkarakter Robot, yang sering muncul di salah satu film anak-anak.
"Kenapa papih mu memberikan mainan seperti ini." Cetus Kaisar.
"Tapi aku suka pah, ini besar sekali."
"Baiklah, jika Arga suka."
Dan keseruan pun terjadi antara kedua lelaki ini ketika membuka kotak hadiah berikutnya.
Sementara Lisa, ia tengah duduk di tepi ranjangnya sambil menemani Clara yang hendak tidur.
Tapi pikiran Lisa kembali tertuju pada Raka, adik lelaki kesayangannya, adik yang dulu selalu membelanya ketika Mona memarahinya, adik yang selalu pasang badan ketika Mona memakinya.
Adik yang merelakan uang jajannya, untuk sang kakak, agar bisa pergi bersekolah, karna saat itu Lisa di hukum oleh Mona, dengan tidak mendapatkan sarapan pagi, dan bekal jajan atau ongkos angkot untuk pergi ke sekolah.
Lisa harus berjalan kaki tanpa sarapan untuk menuju ke sekolah tanpa bekal sedikitpun.
Tapi Raka yang selalu memperhatikan kakaknya itu. Dengan membawa beberapa makanan dari rumah yang ia simpan di Tas nya tanpa sepengetahuan Mona, lalu bersepeda menuju sekolah Lisa dan memberikan itu semua untuk kakaknya, agar kakaknya tidak merasa lapar, meskipun saat itu usia Raka masih kecil tapi dia sudah sangat pandai.
Dia juga selalu menyisihkan dan mengumpulkan uang jajannya, agar kakaknya bisa membeli buku di sekolah.
Selain Rafi, Raka lah yang selalu membantu dan melindungi Lisa kala itu.
Tapi saat ini Lisa, tengah bersedih untuk adiknya, yang telah salah mencintai seseorang.
Kenapa harus Luna?
Kenapa bukan gadis Lain?
Itu hanya akan menyulitkan hidup Raka.
Aku harus bicara pada Raka, agar dia melupakan Luna, jangan sampai dia lebih dalam mencintai Luna, karna itu akan sangat berbahaya untuk Raka.
Clara sudah tertidur, tapi Lisa masih diam mematung di sana, ia sungguh mencemaskan adiknya.
Kaisar yang melihat ada yang berbeda dari istrinya, segera menghampiri dan duduk di sisi Lisa.
"Sayang, ada apa? Sejak tadi kau terlihat murung?" Tanya Kaisar dengan lembut.
"Tidak apa-apa Mas."Sahut Lisa.
"Tidak apa-apa bagaimana? Dari tadi Mas perhatikan kau murung dan nampak sedih, katakan ada apa, apa ada sesuatu yang menggangu mu?"
"Tidak mas! Aku juga tidak sedang bersedih, aku bahagia, mungkin karena aku lelah jadi terlihat tidak bersemangat." Elak Lisa.
Lalu Lisa beralih pada Arga, untuk menghindari Kaisar.
"Sayang! Ini sudah malam, ayo tidur."
"Sebentar lagi ya mah, aku rapihkan mainan ini dulu."
"Baik, setelah itu langsung tidur ya."
"Iya Mah!"
Lisa hendak Bangun dari duduknya, tapi Kaisar menahan.
"Katakan ada apa?" Rupanya Kaisar masih belum puas, karna alasan dari Lisa tidak meyakinkannya.
Kaisar sangat tau jika ada yang di sembunyikan dan menggangu pikiran istrinya itu.
Meskipun 10 kali Lisa mengatakan Tidak ada apa-apa.
Sungguh Kaisar tidak akan mempercayainya, Karna tidak ada yang bisa Lisa sembunyikan dari sang Kaisar.
Bahkan! Sesuatu yang sebesar biji wijen pun, dengan mudah kaisar akan mengetahuinya jika itu menyangkut soal Lisa.
Lisa yang tak mau bercerita dengan kaisar karna takut, tetep diam dan tidak mengatakan apapun.
Jika dia bercerita, sama saja dia memberikan umpan, karna sudah pasti Kaisar akan memberi tahu Jhon jika Raka mencintai Luna, istrinya.
Dan hal itu sudah pasti akan membuat Jhon murka pada Raka, Lisa sangat tau betul jika Jhon dan Kaisar murka sudah seperti apa.
Mungkin bisa di samakan dengan letusan gunung berapi atau mungkin bisa lebih parah dari itu.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa Mas, aku hanya lelah ingin tidur, apa mas tidak percaya pada ku?" Lisa memasang wajah kesal, agar Kaisar berhenti bertanya padanya.
"Iya sayang, Mas percaya, baiklah jika kau lelah beristirahatlah. Besok kita akan pergi mengajak anak-anak untuk liburan."
"Liburan?"
"Iya, sudah lama mas ingin kita pergi berlibur, dan mas pun sudah berjanji pada Arga, tapi karena waktu yang selalu saja tidak mendukung membuat itu semua selalu tertunda, dan besok, apapun yang terjadi kita tetep akan pergi sekalian untuk merayakan kembali ulang tahun Arga, dan di situ hanya ada kita ber 4 saja."
"Baik mas, aku akan mempersiapkan semuanya."
Kaisar kembali menarik tangan Lisa yang hendak beranjak.
"Kenapa kau harus repot-repot, bi Lilis dan yang lain, akan menyiapkan semuanya kau temani saja Mas di sini."
"Tapi aku harus menemani Arga tidur dulu mas, ini sudah hampir larut."
"Arga bisa tidur sendiri sayang, dia sudah besar dan bersekolah, dan dia juga akan menjadi lelaki hebat seperti suamimu ini, jadi kau sudah tidak perlu menemaninya tidur lagi,"ucap Kaisar sambil memeluk Lisa,"lalu ia beralih memanggil Arga.
"Arga!"
"Iya pah!"
"Kau sudah bisa tidur sendiri bukan, mamah mu ini masih ingin menemanimu tidur?"
"Bisa, aku sudah bisa tidur sendiri jadi mamah tidak perlu menemani ku lagi, aku sudah besar dan menjaga diri, jadi mamah tidak perlu menghawatirkan aku lagi,"sahutnya dengan semangat, di akhiri dengan senyum manisnya.
Lisa tersenyum, melihat semangat anaknya.
Tapi bagi orangtua, sebesar apapun dan sepandai apapun anaknya dalam menjaga diri.
Mereka akan tetapi menganggap dan memperlakukan anak-anak seperti bayi yang baru lahir.
"Tapi nak...!"
"Sayang!"Kaisar menghentikan ucapan Lisa,"biarkan anak kita belajar mandiri, agar kelak ia bisa menjadi hebat dalam segala hal, dan bisa menjaga adiknya, jika dia di manjakan terus anak kita akan menjadi seperti Farel."
"Kenapa harus menyebut Farel?"Lisa bingung.
"Karna, jangan sampai Arga menjadi seperti Farel, penakut dan tidak pandai menjaga diri, dia sungguh bukan lelaki tangguh, itu semua karena sejak kecil ia selalu di manjakan oleh mamah Larasati Bisik Kaisar."Bisik Kaisar.
"Mas, Farel itu adikmu, kau tidak boleh terus-terusan mencela adikmu seperti itu."
"Iya-iya, kau selalu membelanya."keluh Kaisar.
"Bukan membela mas, tapi....!"
"Aku sudah selesai merapikannya mah!" Seru Arga, yang menghentikan perkataan Lisa.
"Pintar, kalau begitu Arga harus segera tidur."
"Baik mah,"Arga beranjak mendekati Adiknya lalu mencium pipi chubby bayi itu.
Dan beralih pada mamah dan papah nya.
"Selamat! Tidur mah, pah!"
"Selamat tidur sayang!"
Sahut Lisa dan Kaisar secara bersamaan.
Arga pun berlalu dari kamar orangtuanya dan menuju kamarnya yang persis berada di sebelah kamar Lisa dan Kaisar.
"Sayang."Suara yang lebih terdengar seperti ******* itu, masuk di Indra pendengaran Lisa.
"Iya Mas."
"Kenapa kau wangi sekali sayang,"Kaisar menempelkan hidung dan bibirnya di tengkuk Lisa, lalu ia menggesek-gesekkan hidungnya. Membuat si pemilik tengkuk jadi merinding.
"Mas, jangan begini."
"Kenapa?"
"Mas hentikan mas!"
"Tidak bisa sayang."
Dan suara-suara lainnya memenuhi kamar itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat Lain.
Di tengah malam buta.
Karna pikirannya terganggu.
Dan hati yang tidak tenang karena cemas, Jhon bertekad menemui Raka, di malam itu juga.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️😘