Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 103. Fakta untuk Kaisar


__ADS_3

Di siang hari, Kaisar membawa Lisa dan Arga pulang ke Mansion.


Mereka mencoba melupakan kejadian pagi tadi di kediaman Marwan.


🍁🍁


Sampai di Mansion.


Lisa menidurkan Arga yang terlihat sudah sangat mengantuk.


Sedangkan Kaisar langsung menuju kamar mandi.


"Mas! Kau mau kemana?" Tanya Lisa, yang melihat Kaisar, keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang rapih.


"Keluar sebentar, ada kerjaan, yang hari ini harus segera mas selesaikan."


"Inikan hari Minggu mas!"


"Iya, hari apapun mas selalu di butuhkan di kantor, sayang." Sahut Kaisar, yang berjalan mendekati Lisa.


"Kenapa, apa ada sesuatu?" Tanya Kaisar yang melihat Lisa seperti tak mengijinkan nya keluar.


"Tidak ada apa-apa mas."


"Yasudah, kalau begitu mas pergi dulu ya,"ucap Kaisar seraya mencium kening Lisa.


Setelah berpamitan pada istrinya, Kaisar dan Jhon segera menuju lokasi yang cukup jauh dari Mansion.


Selepas kepergian Kaisar, Lisa segera menggeledah kamar Kaisar, ia mencari obat yang sering Kaisar konsumsi atas permintaan Julia.


Lisa mengetahui semua itu dari Larasati, tapi Larasati tidak bisa berbuat apa-apa karena Julia mengancam akan memberikan Kaisar obat yang lebih keras lagi jika dia mengatakan pada orang lain, terkadang, secara diam-diam Larasati menyusup ke kamar Kaisar untuk mengganti obat yang di berikan Julia, tapi semenjak Kaisar tinggal di Mansion hal itu sangat sulit di lakukan Larasati, dan ia benar-benar tidak menceritakan pada siapapun, begitupun dengan Kaisar ia juga merahasiakan itu dari Marwan maupun Jhon .


Hingga tangan Lisa sampai ke tempat terakhir penggeledahannya.


"Apa ini obat yang di maksud mamah Larasati!" Gumam Lisa, yang menatap butiran pil, yang di kemas di botol kaca transparan berukuran kecil.


Lisa segera meraih botol itu, dan menukarnya dengan botol obat yang di berikan Larasati.


"Aku harus segera mendapatkan hasil dari kandungan yang terdapat di obat ini." Gumam Lisa, dan dengan cepat ia mengirimkan pesan pada Sintia dan Farel untuk datang ke Mansionnya, hanya mereka berdua yang bisa Lisa andalan di saat seperti ini.


🍁🍁


Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, Kaisar dan Jhon sampai di tujuan.


"Apa tempat ini, dia yang memilihnya?" Kaisar bertanya sambil mengedarkan pandangannya, pada tempat yang sangat sepi itu.


"Benar tuan." Sahut Jhon.


Seseorang yang berpakaian hitam datang menghampiri mereka.


"Akhirnya kalian datang juga, tuan kami sudah menunggu kalian, mari ikut saya."


Jhon dan Kaisar pun mengikuti langkah pria itu.


Pria itu membawa Jhon dan Kaisar ke sebuah bangunan tua, yang sepertinya sudah lama tidak terpakai


Dan itu satu-satunya bangunan yang ada di sana.


Kaisar dan Jhon melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu.


Sudah ada Rafi yang tengah terduduk di sebuah kursi kayu, di tengah-tengah ruangan kosong yang nampak luas itu.


Kaisar mendengus, melihat Rafi di sana.

__ADS_1


"Ternyata kau cukup kuat, hingga masih bisa hidup." Ketus Kaisar.


Rafi bangkit dari duduknya, dan berjalan perlahan mendekati Kaisar.


"Bagaimana dengan kabar mu Kaisar Airlangga Wijaya!" Sapa Rafi, tapi dengan nada yang penuh dengan ejekan.


"Tentu kabarku sangat baik, semakin baik lagi karena hari ini aku bisa bertemu kembali dengan mu, dan sudah bisa aku pastikan ini adalah pertemuan terakhir kita." Sahut Kaisar, yang juga memajukan langkahnya.


"Tapi, aku mengundang mu bukan untuk bertarung Kai."


Kaisar mendelik.


"Apa kau takut?"


"Hahaha. Aku takut pada mu? Sama sekali tidak!"


Rafi kembali mendudukkan dirinya di bangku kayu itu.


"Aku ingin bernegosiasi dengan mu Kai!" Ucapnya dengan santai.


"Aku tidak Sudi bernegosiasi dengan pengecut seperti mu."


"Seharusnya kau berterimakasih pada ku Kai, aku masih berbaik hati menawarkan ini pada mu, dari pada aku melenyapkan mu dari muka bumi ini dan kau tidak akan mendapatkan keduanya."


"Sebelum kau melakukannya, aku yang akan terlebih dahulu mencabut nyawa mu."


"Kau sombong sekali Kai, jika bukan karena Lisa, mungkin dari dulu aku sudah membunuh mu." Ketus Rafi.


"Brengsek! Berani sekali kau menyebut nama istri."


"Tuan, tahan sebentar!" Jhon, menahan Kaisar yang ingin meraih Rafi.


"Jangan halangi aku Jhon!" Bentak Kaisar.


"Tuan, sebaiknya kita dengarkan dulu apa yang ingin dia katakan." Ucap Jhon.


"Kurang ajar!" Umpat Kaisar, namun kali ini ia mendengarkan apa yang Jhon sarankan. Dan mulai menenangkan dirinya.


"Tuan Firman sa...!"


Rafi mengangkat tangannya, mengisyaratkan Jhon menghentikan ucapannya.


"Panggil saya Rafi!"


"Ternyata si berengsek ini mempunyai nama!" Gerutu Kaisar.


"Tuan Rafi, cepat katakan apa yang anda inginkan?" Jhon kembali melanjutkan ucapannya.


"Serahkan Lisa pada ku, dan aku akan merelakan ibuku untuk mu!"


Ucapan yang terlontar dari bibir Rafi, sontak membuat Kaisar dan Jhon terperangah.


"Apa maksudmu, berengsek!" Bentak Kaisar.


"Kau ingat Kai, beberapa tahun yang lalu ada seorang anak laki-laki yang setiap hari mendatangi rumah mu, dan menyaksikan hangatnya kebersamaan mu dan wanita yang kau sebut nenek itu."


Kaisar terdiam, ingatnya mulai merambah ke beberapa tahun silam.


Dan ia berhasil mengingat kenangan itu.


Seorang anak laki-laki yang Julia klaim anak yang tengah tersesat, lantas apa hubungannya! Pikir Kaisar.


"Apa kau sudah mengingatnya Kai?" Tanya Rafi, dengan tatapan yang tajam pada Kaisar.

__ADS_1


"Lalu, jika aku mengingatnya apa yang ingin kau lakukan." Sahut Kaisar, dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.


Rafi kembali berdiri dari duduknya.


Dengan wajah yang memerah dan nafas yang tertahan, karna dadanya mulai terasa sesak , Rafi tengah menahan marah dan sedih yang datang secara bersamaan ketika kenangan itu kembali melintas di benaknya.


"Anak lelaki itu adalah aku Kai, dan wanita yang selalu kau sebut Nenek itu adalah ibu kandung ku." Suara tegas dan lantang Rafi ucapkan, tepat di hadapan Kaisar.


Pernyataan itu sungguh membuat Jhon terkejut.


Jhon sudah menduga jika Rafi dan Julia memiliki suatu hubungan, tapi Jhon tidak menyangka jika Rafi adalah anak Julia.


Berbeda dengan Kaisar, ia malah tersenyum kecut. Ketika mendengar penuturan Rafi.


"Sepertinya kau tidak mempercayai ku Kai, Tak apa, aku sudah menyiapkan sebuah fakta yang akan membuatmu sangat terkejut."


Prok.


Prok.


Prok.


Rafi menepuk tangannya, dan datanglah pria yang tadi mengantar Kaisar, di temani dengan asisten Rafi.


"Tunjukkan padanya." Ucap Rafi, pada kedua anak buahnya itu.


"Baik tuan."


Mereka menarik tirai hitam yang membentang di belakang Rafi.


Sreeeet....


Setelah penutup itu di buka, mata Kaisar membelalak sempurna melihat apa yang ada di balik tirai itu.


"Mendekat lah Kai, agar kau bisa lebih jelas melihatnya." Ujar Rafi.


Dengan refleks Kaisar melangkahkan kakinya menuju ruangan itu.


Ia menatap, banyaknya foto-foto yang tergantung di ruangan itu.


Tangan Kaisar meraih satu foto, seorang wanita yang tengah menggendong seorang bayi mungil.


"Itu nenek mu bukan? Dan yang ia gendong itu adalah aku." Ujar Rafi.


Bukan hanya ada foto Julia dan Rafi kecil yang tengah bersama di sana, tapi juga ada foto Lisa, Marwan dan Melissa, entah apa maksud dan tujuan Rafi, dengan foto-foto itu.


"Nenek Julia mu itu, adalah ibu ku Kai, dan kau sudah merebutnya dari ku selama bertahun-tahun lamanya." Rafi kembali mengatakan Fakta itu.


"Brengsek, jangan pernah mengatakan kalau dia ibu mu!" Bentak Kaisar.


"Kenapa Kai? Apa kau tidak menerimanya, ini adalah Fakta yang sebenarnya Kaisar, dan mau tidak mau kau harus mengakui jika ibuku yang merawat dan menemani mu selama Ini."


Breeet..


Breeet....


Kaisar merobek foto yang ada di tangannya.


Dan ia segera melangkah kakinya keluar dari bangunan itu.


Aku yang akan memastikan sendiri, aku harus menemui nenek Julia.


"Tuan anda mau kemana." Panggil Jhon, dan tidak di hiraukan sama sekali oleh Kaisar.

__ADS_1


🍁🍁🍁🌹🌹🍁🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏


__ADS_2