
Dengan kesal Lisa berlalu menuju ruang ganti.
"Papah, kenapa mata Alga di tutup?" Tanya Arga pada Kaisar. Tapi anak itu tidak berani menyingkirkan tangan Kaisar dari matanya.
Dan Kaisar segera menarik tangannya dari mata Arga.
"Aah itu sayang, tadi ada pemandangan, yang hanya boleh di lihat orang yang sudah dewasa, seperti papah."
"Pemandangan apa? Kenapa aku tidak boleh melihatnya." Protes Arga.
"Karena Arga belum dewasa." Ucap Kaisar, seraya mencubit hidung Arga.
"Belalti kalau aku sudah sebesal papah, aku boleh melihatnya?"
Kaisar diam ia bingung mau menjawab apa lagi.
"Aah.... Bagaimana kalau sekarang kita mandi!" Ucap Kaisar, mengalikan pertanyaan Arga. Dan Kaisar langsung menggendong Arga menuju kamar mandi.
Tapi langkahnya terhenti, ia melihat ponsel Lisa yang berkedip-kedip di atas nakas.
Kaisar meraih ponsel itu.
(Dokter Firman memanggil)
inilah yang ada di layar ponsel milk Lisa.
Kaisar meremas ponsel itu dengan kuat.
"Kurang ajar! Berani sekali dia menghubungi istriku di pagi hari seperti ini. Sepertinya si brengsek ini memang harus segera di singkirkan." Gumam Kaisar.
"Papah ... Ayo kita mandi!" Ucap Arga yang menggoyang-goyangkan pundak Kaisar.
"Baiklah jagoan papah, ayo kita mandi!" Kaisar meletakkan kembali ponsel Lisa, dan ia melangkah kakinya memasuki kamar mandi.
Tidak lama, Lisa keluar dari ruang ganti.
"Aku harus ke rumah bude Darmi untuk mengambil barang-barang ku dan beberapa pakaian ku." Gumamnya.
Lisa meraih ponselnya.
"Astaga! aku lupa kalau ponsel ku dalam mode hening."
Lisa mengusap layar ponselnya.
Beberapa pesan, dan panggilan tidak terjawab tertera di layar ponsel itu.
Lisa membuka satu pesan dari Sintia.
(Kau sudah bangun? Jika sudah selesai mengurus Arga, cepat ke hutan, DARURAT.) isi pesan yang di kirim Sintia.
Dengan cepat Lisa mengambil tasnya, dan memasukkan ponsel dan beberapa barang yang ia perlukan.
Di dalam kamar mandi.
"Papah! Apa benal papah ini papahnya Alga?" Tanya Arga pada Kaisar, yang tengah memijit kepala anak itu menggunakan shampo.
"Tentu saja benar, papah yang membuat mu bersama mamah." Jawabnya dengan enteng.
"Membuat? bagaimana calanya?"
Kaisar kembali terdiam, memikirkan jawaban apa yang pas untuk Arga.
"Eem .... Arga tanya saja pada mamah, karena mamah lebih tau dari pada papah."
"Lalu bagaimana dengan om Filman? Om Filman bilang akan jadi papahnya Alga juga, apa nanti Alga akan punya papah dua." Tanyanya kembali sambil menunjukan jarinya, membentuk simbol dua.
"Tentu saja tidak, papah Arga cuma satu, hanya papah Kaisar, dan om Firman itu bukan siapa-siapa Arga, om Firman itu orang yang jahat mau merebut mamah dari papah. Jadi kalau om Firman bilang mau jadi papah Arga, Arga harus memberikan pukulan pada om Firman." Ujar Kaisar, yang di bumbui dengan hasutan.
"Tapi om Filman baik ko, seling ajak Alga jalan-jalan dan beli es krim."
"Papah juga bisa ajak Arga jalan-jalan kemanapun Arga mau, dan soal es krim papah akan membelikan berikut pabriknya untuk Arga."
Arga bengong menatap Kaisar, mungkin anak itu sedang mencerna perkataan Kaisar.
"Arga tau, cerita tentang papah tiri yang jahat?" Kaisar kembali menghasut putra kecilnya.
"Papah tili itu apa?"
"Papah tiri itu jahat, kejam. Jika Arga punya papah tiri, dia akan mengurung Arga di tempat yang gelap dan banyak tikusnya."
__ADS_1
"Tidak! Alga tidak mau punya papah tili."
"Tentu saja tidak, karena Arga sudah punya papah Kaisar, kalau om Firman ingin jadi papah Arga dia akan menjadi papah tiri Arga."
Arga menggelengkan kepalanya.
"Alga tidak mau punya papah tili."
"Bagus! Arga harus bisa menghajar om Firman jika mendekati Mamah."
"Tapi Alga tidak bisa belkelahi, kata mamah kita tidak boleh belkelahi."
"Untuk orang yang jahat kita boleh berkelahi, dan Arga tenang saja, papah dan om Jhon akan mengajari Arga agar jago berkelahi untuk melawan orang jahat."
Arga mengangguk tanda setuju, sepertinya anak itu mulai terhasut oleh ucapan Kaisar.
Lisa yang masih berada di dalam kamar mendengar samar-samar suara Kaisar dan Arga di dalam kamar mandi.
Mereka terdengar akrab sekali.
"Apa mas Kaisar bisa menjaga Arga untuk hari ini, sepertinya Arga betah jika bersama papahnya." Gumam Lisa.
Tok ..... Tok .... Tok .....
Lisa mengetuk pintu kamar mandi.
"Mas!"
CEKLEEK ....
Pintu terbuka.
"Ada apa sayang! Apa kau ingin ikut mandi juga?" Tanya Kaisar yang berdiri di depan pintu dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju di badannya.
Lisa mengalihkan pandangannya.
"Kenapa kau membuang wajah mu seperti itu?" Kesal Kaisar.
"Tidak seharusnya kau tanpa baju seperti itu mas!"
"Kenapa? Bukankah dulu kau sering melihatnya bahkan lebih dari ini pun kau sudah melihatnya, dan kau sangat menyukainya bukan!"
"Mas, aku mau bekerja, bisakah kau menjaga Arga untuk hari ini?" Tanya Lisa.
"Tentu saja bisa, tanpa kau minta pun aku akan menjaga Arga dengan baik." Jawabnya.
"Tapi .... Siapa yang mengijinkan mu untuk pergi bekerja." Sambungnya.
Lisa membulatkan matanya menatap Kaisar.
"Apa maksud mu mas?"
"Maksudnya? Mas tidak mengijinkan mu untuk pergi bekerja. Uang ku terlalu banyak untuk di habiskan, kau mau memakainya berapa pun, bahkan untuk membeli satu pulau, dua pulau, bahkan tiga pulau sekali pun tidak akan membuat uang ku berkurang sedikitpun. Jadi untuk apa kau bekerja!" Ucap Kaisar, dengan panjang kali lebar.
Aku tau uang mu banyak mas. tapi tidak perlu di jabarkan dengan penjelasan sepanjang itu.
"Tapi ini bukan hanya sekedar pekerjaan mas, ak ....!"
"Tidak!" Potong Kaisar.
"Sekali mas bilang tidak tetap tidak!" Sambungnya.
"Mas, kau ....!"
"Papah...!"
Teriakan Arga dari kamar mandi, menghentikan Lisa yang ingin memaki Kaisar.
"Arga! Astaga! Kau terlalu lama memandikannya mas. Arga bisa masuk angin di cuaca dingin seperti ini." Lisa langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi, di ikuti oleh Kaisar di belakangnya.
Lisa langsung meraih handuk putih yang tergantung di sana dan segera membungkus tubuh Arga. Dan membawanya ke luar.
Dengan lembut Lisa menurunkan Arga di atas kasur, dan ia mulai membalurkan minyak telon di badan Arga. Lalu memakaikan pakaian dan terakhir kaos kaki.
Sementara Kaisar hanya memperhatikannya saja.
"Sudah selesai!" Ucap Lisa seraya mencium pipi Arga.
Dia begitu pandai melakukannya.
__ADS_1
"Apa kau melakukannya setiap hari?" Tanya Kaisar.
"Iya, tapi hanya di pagi hari saja. Jika sore hari bude Darmi yang mengurus Arga." Jawab Lisa.
"Mulai sekarang, aku yang akan mengurus Arga." Ucap Kaisar dengan mantap.
Lisa menatap mata Kaisar, lalu ia hanya mengangguk. Dan beralih kembali pada Arga.
"Arga hari ini sama papah dulu ya?" Ucapnya pada Arga.
"Kau mau kemana?" Dan Kaisar yang menjawabnya.
"Ada keadaan darurat di hutan mas, aku harus segera pergi kesana."
"Apa dokter itu yang menyuruh mu?"
"Sintia yang menginginkan ku pesan."
"Tapi mas tidak mengijinkannya."
"Mas tidak bisa melarang ku , dan jika mas memaksa ku, aku dan Arga akan kembali ke rumah bude Darmi." Tegas Lisa.
Kaisar mengacak rambutnya, frustasi.
"Baiklah, mas mengijinkannya." Dan akhirnya Kaisar harus mengalah.
"Tapi mas yang akan mengantarkan mu." Tanpa menunggu jawaban lagi dari Lisa, kaisar segera menuju ruang ganti. Dan mengambil kemeja berwarna biru muda di sana, dengan cepat ia mengenakannya.
Setelah semuanya siap. Kaisar menitipkan Arga pada Jhon.
"Apa tuan dan nona tidak ingin saya antarkan?"
"Tidak perlu, kau temani dan jaga Arga dengan baik." Ucap Kaisar.
"Baik tuan, tentu saya akan menjaga tuan kecil lebih dari menjaga nyawa saya sendiri."
Terdengar sangat menakutkan. batin Lisa.
Kaisar dan Lisa mencium pipi Arga sebelum mereka keluar dari rumah.
"Dadah sayang!"
"Dadah mamah!"
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Lisa dan Kaisar. Ke hutan menggunakan mobil yang semalam sudah di ganti bannya oleh Jhon dan Rizal.
Kaisar melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Hingga Dua puluh menit kemudian mereka sampai di hutan yang di maksud Sintia.
Terlihat ramai sekali di sana, sepertinya para warga turun langsung untuk menyaksikan evakuasi mayat yang ada di hutan itu.
"Ada apa sebenarnya!" Lisa yang belum mengetahui tentang penemuan mayat itu sedikit terlihat sangat khawatir, ia segera turun dari mobilnya dan di ikuti dengan Kaisar.
"Yuna kenapa kau baru datang?" Ucap Sintia yang menghampiri Lisa.
"Maafkan aku, aku terlambat membuka pesan mu."
"Ini ada apa?" Tanya Lisa.
"Warga menemukan mayat di hutan."
"Apa! Mayat?"
"Iya, sepertinya itu korban pembunuhan, tapi kita masih menunggu polisi datang untuk mengevakuasi korban."
"Pembunuhan!"
Kaisar pun sama terkejutnya.
ia kembali mengikuti langkah Lisa yang berlalu menuju kerumunan warga.
TAK .....
Tapi langkah Kaisar terhenti karena ia menginjak sesuatu.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗 🤗
__ADS_1