Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 76. Kedatangan Julia di mansion


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju balai desa, tawa ria masih mengiringi perjalanan mereka.


Tentu saja Jhon yang menjadi bahan ledekan mereka.


Hingga beberapa menit kemudian!


Hening.....


Suara gelak tawa berubah menjadi suara rintihan yang tertahan.


Tap.


Tap.


Tap.


Suara deru langkah lebih mendominasi dari suara rintihan itu.


Jhon! Itu langkah kakinya. Ia berjalan dengan santai di atas jalanan beraspal kasar, sambil mengusap-usap punggung tangannya yang ber bercak cairan merah kental.


"Merepotkan saja." Gumamnya.


Yang kembali melirik ke arah belakang, di mana beberapa warga bertumpuk, tengah merintih menahan sakit di tubuh dan wajahnya yang di penuhi luka dan lebam.


Tak perduli.


Jhon kembali melanjutkan langkahnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Julia tiba di mansion Kaisar.


Ia di sambut dengan bi Lilis yang berdiri di ambang pintu.


"Selamat datang nyonya Julia."


Julia tidak menjawab, dengan langkah angkuh ia masuk ke dalam mansion itu.


"Di mana Kaisar," tanya nya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Di kamar nyonya."


"Panggil dia." Titahnya.


Namun bi Lilis diam tidak bergeming, entah apa yang di pikirannya.


"Tunggu apa lagi! Cepat panggil Kaisar, suruh turun." Bentak Julia.


"Ba .... Baik nyonya."


Bi Lilis,dengan langkah cepat menaiki tangga.


Jangan sampai membuat nenek kesayangan tuanya itu menunggu lama.


Tok ... Tok ....


"Tuan!"


Tok .... Tok ....


Pintu terbuka, dan kebetulan Kaisar yang muncul dari balik pintu itu.


"Ada apa?"


"Maaf tuan, nyonya Julia, ingin bertemu dengan anda sekarang beliau ada di bawah."


"Apa! Nenek kesini." Kejut Kaisar,


Bi Lilis mengangguk.


"Baiklah, aku akan segera turu."


Setelah mengatakan itu Kaisar kembali masuk ke dalam kamar.


Sementara Bi Lilis, dengan cepat kembali ke bawah untuk membuat minum sang nyonya Marwan Wijaya.


Kaisar turun bersama Lisa serta Arga yang berada dalam gendongannya.


Mata Julia membelalak sempurna, menatap bocah kecil yang tengah di gendongan Kaisar.


Apa itu putra Kaisar, sial! aku kecolongan. Kaisar benar-benar memiliki seorang putra, semua karna si bo*d* itu bukannya menghabisi Lisa dia malah memeliharanya. Aku harus bermain cantik untuk menyingkirkan anak itu


"Nenek." Sapa Kaisar, yang melihat Julia malah bengong menatapnya.


"Eh ... Kai, sayang bagaimana dengan kabar mu. Nenek sangat mencemaskan mu yang berada di desa terpencil itu,"ucap Julia, seraya berhambur memeluk Kaisar.


"Aku baik nek, ada apa nenek datang kesini?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu Kai, tentu saja nenek merindukan dan mencemaskan mu, oleh karena itu nenek datang ke Mansion mu ingin memastikan ka adaan mu ."


Julia masih sibuk dengan Kaisar tanpa memperdulikan Lisa dan Arga di sana.


"Papah, itu siapa?" Pertanyaan Arga, menyadarkan Julia kalau ia harus cepat bersandiwara.


"Kai, anak ini! Pasti putra mu kan?" Raut wajah bahagia di tunjukkan Julia, meski hanya berpura-pura.


"Iya nek, dia Arga, putra ku dn Lisa."


"Arga, ini eyang Julia, beri salam pada eyang." Titah Kaisar, dan Arga pun dengan patuh melakukannya.

__ADS_1


"Ya ampun Kai, putra mu manis sekali dia sangat tampan persis seperti mu."


Kaisar tersenyum mendengarnya.


"Nenek, silahkan duduk." Akhirnya Lisa membuka suara.


Julia menatap Lisa, dengan tatapan tidak suka, itu sudah pasti karna dari dulu Julia tidak menyukai Lisa.


Tapi ia harus tetep mengukir senyum terbaiknya, meskipun itu palsu.


"Lisa, bagaimana dengan kabar mu nak? Nenek sangat mengkhawatirkan mu selama beberapa tahun ini,"ucapanya seraya memeluk Lisa.


Dan beberapa basa-basi yang isinya hanya pujian palsu ia lontarkan, untuk menambah kesan sayang di hadapan Kaisar.


"Aku baik nek." Sahut Lisa, dengan senyum lembutnya.


Dan mereka duduk di ruang keluarga, bersama dengan itu bi Lilis datang dengan nampan yang berisi minuman di tangannya.


"Terimakasih bi." Lisa menyambut nampan itu.


"Mamah, Alga mau buah!"


"Arga mau buah? Biar mamah ambilkan." Lisa beranjak dari duduknya.


"Biar Bibi saja yang mengambilnya non."


"Tidak bi, biar aku saja " Lisa segera berlalu menuju dapur di ikuti bi Lilis di belakangnya.


Setelah Lisa pergi dari ruang keluarga itu.


Julia sudah tidak bisa ber pura-pura lagi.


Dia sungguh tidak bisa bersikap manis pada Lisa, meskipun hanya berpura-pura.


"Kai, nenek ingin bicara serius pada mu?"


"Katakan, aku mendengarkannya," ucap Kaisar tanpa melihat Julia karna ia tengah bermain-main dengan Arga.


"Kai, apa kau benar-benar mencintai Lisa?"


Pertanyaannya Julia, mengalihkan perhatian Kaisar dan menatapnya.


"Kenapa nenek bicara seperti itu, tentu saja aku mencintai Lisa, dia istri ku dan juga ibu dari anak ku." Jawab Kaisar yakin.


"Tapi Kai!"


"Cukup nek! Nenek harus bisa menerima Lisa, karna dia istri ku ." Tegas Kaisar.


Julia diam tidak bisa berkutik. Sepertinya Kaisar memang sudah terikat pada Lisa, ini bahaya, kedudukannya sebagai wanita kesayangannya Kaisar akan ter sisi.


Ia harus cepat melenyapkan Lisa dan putranya.


Bersamaan dengan itu Lisa datang dengan buah yang di minta Arga.


"Ini buahnya sayang, mau makan sendiri atau di suapin?"


"Makan sendiri." Semangat Arga, yang langsung meraih garpu yang ada di piring ber isi potong buah.


"Bagaimana kalau eyang saja yang menyuapi Arga," ucap Julia yang langsung merubah posisi duduknya dengan berpindah ke samping Arga.


Arga menggelengkan kepalanya.


Tapi Julia memaksa.


Ia mulai menyuapkan satu potongan buah naga pada Arga, sambil mengelus-elus rambut anak itu.


"Alga sendiri saja," ucapanya, yang langsung mengambil alih garpu dari tangan Julia.


"Kau, manis sekali sayang."


Julia terus saja mengusap-usap rambut Arga, tapi usapan yang seharusnya di lakukan dengan lembut pada anak sekecil itu. Julia justru melakukannya dengan berbeda.


Julia malah terkesan kasar, dengan tarikan tertahan di ujung usapannya.


Ia terus-menerus melakukan itu. Julia semakin nekad melakukannya Ketika Kaisar dan Lisa tidak memperhatikannya.


Ia menekan dengan kuat tengkuk Arga dari belakang.


Julia tersenyum senang, sambil memelototi Arga, yang mendongak ke arahnya.


Ia tersenyum manis di hadap Kaisar, tapi tangan jahatnya kembali bermain di belakang punggung Arga.


Sungguh dia ingin berlawanan dengan anak kecil.


Julia sudah sangat-sangat geram pada anak yang akan menggagalkan rencananya itu, keturunan keluarga Airlangga yang sama sekali tidak ia inginkan.


Tangan Julia sudah siap, hendak mencubit dengan kuat punggung Arga, berharap anak itu akan berkaca-kaca takut padanya dan meminta Lisa membawanya kembali ke desa.


Tentu semudah itukan untuk mengintimidasi anak-anak.


"Aaaakkkkhhhh....!"


Suara teriakan yang cukup nyaring, mengejutkan Lisa dan Kaisar.


"Nenek, kenapa?"


Yang berteriak adalah Julia.


Karna sebuah garpu menancap di lengannya yang sudah mulai mengendur.

__ADS_1


"Astaga!" Lisa sangat terkejut melihat itu.


"Kai, sakit Kai." Rengek Julia.


"Nenek, tahan sebentar."


"Aaakkhhhh." Teriakan kembali Julia raungkan, ketika Kaisar mencabut garpu dari lengannya.


Dan darah mulai menetes dari sana.


"Biiii .... Bi Lilis, tolong bawakan kotak obat." Teriak Kaisar, yang panik.


Dengan terpogoh-pogoh bi Lilis pergi menuju tempat penyimpanan obat.


"Lihat Kai, ini semua ulah putra mu itu, dia liar sekali," ucap Julia, sambil meringis menahan sakit.


"Nenek, kenapa bicara seperti itu pada Arga!" Bela Kaisar.


"Itu memeng kenyataannya Kai, dia sudah berani melukai nenek separah ini padahal usianya masih kecil bagaimana jika besar nanti."


"Cukup nek, jangan bicara apapun tentang Arga."


"Arga, kenapa kamu melakukan itu pada eyang Julia nak?" Lisa menengahinya, karna ia juga merasa bersalah atas perbuatan Arga.


Arga takut dan menundukkan kepalanya, ketika Lisa menatapnya, sedikit marah.


"Maaf mah, tapi Olang itu, tadi menjelek-jelekkan mamah, Alga tidak suka," ucap anak itu seraya menggulung-gulung ujung bajunya.


Rupanya Arga kesal karena Julia menjelek-jelekkan Lisa, bukan karena mengganggunya.


Lisa melirik Julia, dan di balas dengan tatapan tajam dari Julia.


"Tapi kamu tidak boleh melakukan itu sayang, karena itu sangat berbahaya. bagaimana jika lengan eyang Julia terkena infeksi dan harus di amputasi kan kasian jika eyang Julia tidak punya tangan."


"Kurang ajar! kau menyumpahi ku." Kesal Julia.


"Sudah nek, nenek jangan membentak Lisa, seperti itu. Apa yang di katakan Lisa benar, bagaimana jika luka ini terinfeksi." Sahut Kaisar.


Sial! Lisa benar-benar sudah mencuci otak Kaisar. Aku harus cepat bertindak sebelum semuanya terlambat.


"Ini tuan, kotak obatnya." Bi Lilis datang di waktu yang tepat.


Kaisar segera meraihnya.


"Biar aku yang mengobati nenek." Kaisar mulai membuka kotak besar yang berisi obat-obatan itu.


KRIIING.....


KRIIING.....


Namun pergerakannya terhenti, Karna suara dering ponsel, yang meminta di sentuh.


"Jhon." Kaisar mengerutkan keningnya.


Aku lupa mempunyai janji dengannya.


Tapi Kaisar tidak menjawabnya, malah meletakan ponsel itu di meja.


Ia lebih memilih mengobati Luka Julia.


Lisa memperhatikan itu dengan seksama.


Kenapa mas Kaisar terlihat sangat menyayangi nenek Julia. Bukankan nenek Julia itu bukan nenek kandungannya. Malah nenek Julia terlihat seperti memanfaatkan mas Kai.


Ya, Lisa bisa menebak itu meskipun tidak ada yang menceritakan padanya tentang Julia, karna usia Julia tidak jauh berbeda dengan Yuda dan Larasati. Tentu tidak mungkin jika dia nenek kandung Kaisar.


KRIIING.....


KRIIING......


Baru Kaisar memulai mengobati Julia, ponselnya kembali berdering.


"Mas, angkat teleponnya, itu pasti sangat penting."


"Nanti saja, mas mau mengobati nenek dulu." Tolak Kaisar.


Julia tersenyum puas, Karna Kaisar lebih memilihnya dari pada mendengarkan Lisa.


Tidak bisa di biarkan. Batin Lisa.


"Biar aku yang mengobati nenek Julia mas, mas angkatlah panggilan dari Jhon."


Kaisar terdiam sejenak.


"Tidak! Kai, kamu saja yang mengobati Luka nenek." Cegah Julia.


"Aku perawatan mas, tau bagaimana cara mengobatinya. Jangan sampai salah nanti bisa terinfeksi, mas mau jika tangan nenek kesayangan mas di amputasi."


"Tidak!" Jawab Kaisar cepat.


"Baiklah, tolong obati nenek."


"Pasti mas." Lisa tersenyum penuh arti.


Dan Kaisar segera berlalu dari ruangan itu.


Karna pembicaraannya dengan Jhon selalu mejadi rahasia. Jangan sampai ada yang mendengar.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🤗😘


__ADS_2