
Membuat Jhon menyadari sesuatu.
Bahwa wanita yang bernama dokter Viona itu mengetahui sesuatu tentang Firman.
Tapi Jhon tidak bisa menanyakannya langsung, karna ia harus membawa Kaisar terlebih dahulu, ini lah yang terpenting dari segalanya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
"Cepat! Tidurkan dia di sini, dan ambil obat-obatan."
Beberapa orang tengah sibuk mengobati Firman di rumah tengah hutan yang dulu pernah Lisa dan Kaisar singgahi.
"Dia kenapa?" Tanya nenek tua yang tinggal di rumah itu.
"Sudah jangan banyak tanya, lebih baik ambil beberapa obat yang bisa menghentikan pendarahan. Cepat!" Bentak, salah satu dari mereka pada nenek tua itu.
Nenek mengangguk, dan segera berlalu menuju ruangan di mana ia selalu menyimpan obat-obatan.
Rekan mereka masuk keruang tempat mereka mengobati Firman.
"Sial! Benar saja dua tawanan kita tidak ada di ruang bawah tanah, dua orang yang berada di aula itu benar-benar orang yang kita sekap dulu."
"Siapa yang berani melepaskan mereka, hingga membuat semua kekacauan ini, nyonya Julia pasti marah besar pada kita." Sahut yang lain.
"Siapa lagi kalau bukan Kaisar."
"Kita akan membalasnya nanti."
"Ya sudah, kita pikirkan nanti bagaimana cara menjelaskan pada nyonya Julia, yang terpenting obati saja dulu dia, kalau dia mati Nyonya Julia pasti akan lebih murka pada kita."
"Kau benar."
Dan beberapa percakapan lainnya di rumah tengah hutan itu, mengiringi pengobatan yang tengah mereka lakukan.
Mereka mengobati Firman dengan teliti dan ala kadarnya, karna tidak mungkin di situasi seperti ini mereka membawa Firman ke rumah sakit.
"Luka dia cukup parah, sangat sulit untuk menyembuhkannya. Apa dia bisa bertahan dengan kondisi yang seperti ini!" Gumam mereka.
"Entah lah."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Beberapa hari setelah kejadian itu.
Firman masih di nyatakan hilang oleh warga, dan menjadi buronan polisi.
Atas informasi yang di dapat dari Jhon.
Polisi dan para warga menggeledah rumah tengah hutan itu, tapi hasilnya nihil, tidak ada siapapun di sana. Rumah itu sudah kosong tidak berpenghuni, bahkan nenek tua yang tinggal di sana pun sudah tidak ada.
Hanya tersisa barang-barang usang peninggalan nenek itu.
Kemana perginya Firman? Apa dia sudah meninggal karna luka yang tidak bisa di sembuhkan atau dia masih hidup dan menghilang begitu saja.
Viona pun ikut menghilang, padahal dialah satu-satunya kunci bagi Jhon, untuk mengetahui siapa sebenarnya Firman.
Namun semuanya seperti di telan bumi.
Apa ini semua ulah Julia?
Tentu saja bukan, karna Julia pun tengah ketar-ketir mencari keberadaan Firman, Julia marah pada lelaki itu karena sudah membuat cucu kesayangannya terluka separah itu dan hampir membuat nyawanya melayang.
🍁
🍁
Saat ini keadaan Kaisar sudah mulai membaik, tapi ia masih harus di rawat untuk beberapa hari ke depan karna masih ada beberapa luka yang harus benar-benar dalam pengawasan dokter.
Kaisar masih belum puas atas pertarungannya dengan Firman, karna ia belum bisa memastikan kematian Firman dengan tangannya sendiri.
Meskipun Jhon mengatakan, jika kemungkinan besar Firman meninggal tapi tentu Kaisar tidak mempercayainya sebelum ia melihat sendiri jasad pria itu.
__ADS_1
Kaisar akan terus memburu Firman, sampai ia Benar-benar memastikan jika sudah mengirim Firman ke akhirat.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Mas makan dulu ya, ini sudah malam kamu harus meminum obatnya,"ucap Lisa Seraya menyerahkan mangkok berisi bubur pada Kaisar.
Selama beberapa hari ini Lisa dengan setia merawat dan menemani Kaisar di rumah sakit, ia meladeni semua kemauan dan permintaan aneh-aneh dari suaminya itu.
"Suapin." Rengek Kaisar dengan manja, yang kadang-kadang membuat Lisa jengkel.
Arga saja yang masih se
Kecil itu tidak pernah semanja ini jika sedang sakit.
"Dokter bilang, tangan mas baik-baik saja hanya bagian mata mas saja yang masih bermasalah, jadi mas bisa kan makan sendiri." Sahut Lisa.
"Mas, tidak bisa melihat bubur ini dengan jelas, bagaimana kalau mas salah makan karna tidak bisa membedakan."
Memangnya apa yang mesti di beda kan! dalam mangkok ini semua berisi bubur.
"Baiklah." Dan akhirnya untuk kesekian kalinya Lisa mengalah.
Iya menyuapi serigala yang sedang mengcosplay menjadi seekor anak kucing yang manis dan manja.
Satu sendok.
Dua sendok.
Tiga sendok.
Berhasil masuk kedalam mulut Kaisar dengan penuh drama, karna permintaan Kaisar yang aneh-aneh.
Pengen Di Cium dulu lah. Di belai dulu lah, Santu sendok berdua, dan beberapa permintaan aneh lainnya.
"Sayang, mas di rawat di mansion saja!" Ini adalah permintaan Kaisar yang kesekian kali pada Lisa.
"Tidak mas, kau belum benar-benar pulih masih sangat membutuhkan pengawasan dari dokter." Dan kata-kata ini juga lah, yang selalu Lisa jadikan alasan.
Jika bukan karena Lisa tentu dengan semau jidatnya Kaisar akan keluar dari rumah sakit. Dan tentu dia juga tidak bisa menolak dan membantah apa yang Lisa katakan.
"Tidak mas, pokonya mas baru boleh keluar rumah sakit jika mas, sudah benar-benar sehat." Tegas Lisa.
Dan Kaisar pun tentunya harus mengangguk setuju.
"Baiklah." Ucapnya dengan lesu.
"Mas, boleh aku bertanya sesuatu?"
Kaisar menatap Lisa.
"Katakan!"
"Mas, apa sebelumnya kau mengenal Firman?"
Pertanyaan Lisa membuat Kaisar cembokur, karna lagi-lagi Lisa menyebut nama musuhnya itu.
"Tidak!" Jawab Kaisar dengan ketus.
"Tapi kenapa Firman bisa menyimpan dendam dengan mu mas, jika tanpa sebab?"
Kaisar mengedikan bahunya.
"Mana mas tau, sudah jangan bicara apapun tentang lelaki itu, dan jangan pernah menyebut namanya di depan mas." Tegas Kaisar.
Lisa diam tidak menjawab atau membalasnya, ia hanya menggerutu dalam hati saja.
Entah mengapa Lisa sangat yakin jika Firman, mempunyai alasan tersendiri mengapa ia melakukan semua itu. Dan Lisa juga seperti tidak asing dengan Firman.
Dia baik pada Lisa dan Arga, tapi dia juga tega telah memanfaatkan Arga demi tujuannya hingga membuat Arga hampir di korbankan oleh warga.
Pikiran Lisa melayang kemana-mana. Hingga ia baru tersadar jika saat ini ia tengah bersama suaminya.
__ADS_1
"Mas, minum obatnya." Lisa menyerahkan beberapa butir obat, dan air minum di gelas transparan.
Dengan patuh Kaisar meminum obat itu.
"Di mana Arga?" Tanya Kaisar, setelah ia menelan obat itu.
"Di mansion mas, Sintia yang menjaga Arga, Arga masih kecil tidak baik jika berada di lingkungan rumah sakit." Sahut Lisa.
"Ini alasan mas ingin cepat pulang ke mansion."
"Sabar mas."
Lisa merapihkan bekas makan dan obat Kaisar.
"Mas tidur lah, mas harus banyak istirahat supaya cepat sehat ."
Lisa membantu membaringkan tubuh Kaisar di atas kasur dan menyelimuti nya.
"Ayo pejamkan matamu mas,"ucap Lisa seraya mengusap wajah Kaisar, yang masih lebam dan membiru itu.
"Temani mas." Pinta Kaisar.
"Aku mau keluar dulu sebentar mas."
"Mau kemana?"
Nada suara Kaisar sudah mulai berubah.
"Hanya sebentar saja, aku ingin menghubungi Sintia, menanyakan Arga."
"Bisa di sini saja jika ingin menghubungi temanmu itu, tidak perlu harus keluar, mas juga ingin bicara pada Arga."
Tidak bisa di bantah dan di tolak.
Lisa pun menghubungi Sintia di dalam kamar rawat Kaisar.
Padahal niat Lisa ingin menghubungi seseorang, tapi bukan Sintia tapi Lisa harus menunda niatnya itu.
Dan mereka melakukan panggilan video bersama Arga yang berada di mansion. Ternyata bukan hanya Sintia yang menemaninya Farel juga ada di sana.
Setelah puas berbicara dengan putranya. Kaisar memutuskan panggilannya.
"Tidur di sini,"ucap Kaisar, seraya menepuk-nepuk sisi kasur yang ada di sebelahnya.
"Mas, ini rumah sakit jangan macam-macam."
"Siapa yang macam-macam! Mas hanya menyuruh mu tidur, apa kau yang tengah berfantasi kita akan melakukan sesuatu di atas ranjang ini." Ucap Kaisar, di iringi dengan nada yang menggoda .
Wajah Lisa memerah dan salah tingkah.
"Aku tidur di sofa saja."
"Di sini saja sayang." Kaisar mengedipkan sebelah matanya.
Lisa menggeleng.
"Tidak mas, ranjang itu sempit tidak cukup untuk berdua."
"Bahkan kita pernah melakukannya di sofa yang jauh lebih sempit dari ini."
Mata Lisa membelalak mendengar ucapan Kaisar. Iya mengingat kejadian mengulang malam pertamanya.
"Kenap kau terkejut sayang! kau pasti merindukan malam itu kan?" Goda Kaisar, seolah tau apa yang tengah di pikirkan Lisa.
"Tidak!" Jawab Lisa cepat.
"Kau yakin tidak mau mengulanginya lagi?"
"Sudah mas, ini sudah malam cepat lah tidur." Lisa semakin gugup, dengan pertanyaan-pertanyaan yang Kaisar katakan.
Kaisar tersenyum penuh arti.
__ADS_1
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗