Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 61. Menyelidiki Julia


__ADS_3

Sintia menganggukan kepalanya.


Kini mereka berdua melanjutkan perjalanannya, tapi bukan untuk mencari Kaisar dan Lisa, melainkan untuk kembali ke rumah.


"Kau pulang ke rumah ku saja, bude Darmi pun ada di sana, apa kau mau pulang ke rumah bude Darmi dan hanya sendiri di sana." Tawar Farel.


"Baik, Arga pasti akan mencari mamahnya, jadi aku harus menemaninya."


🍁


Lama mereka terdiam .


Hingga Farel kembali membuka pembicaraan dengan Sintia.


"Apa kau mengenal Firman sudah lama?" Tanya Farel, tanpa mengalihkan pandangannya, karna ia tengah fokus pada kemudinya.


"Cukup lama, sebelum aku datang ke desa ini dokter Firman sudah ada di desa ini bersama dokter Viona." Sahutnya.


"Siapa itu Viona?"


"Dia dokter di klinik, sekaligus sahabat dokter Firman."


"Kau tahu dari mana Firman berasal?" Farel kembali bertanya, sepertinya ia ingin mencari informasi tentang Firman melalui Sintia.


"Dokter Firman berasal dari kota xxx dia dokter terbaik di salah satu rumah sakit di kota itu. Tapi karena jiwa malaikatnya yang luar bisa, dokter Firman rela meninggalkan karirnya demi mengabdi di desa ini, sampai ia rela berjauhan dari keluarganya, oleh karena itu warga sini menganggapnya sebagai dewa penolong yang berhati malaikat." Ucap Sintia dengan penuh kebanggaan.


Dan tanpa sadar Sintia menceritakan tentang Firman begitu saja pada Farel.


"Apa kau tau nama rumah sakit tempat dulu Firman bekerja?"


Sintia menggeleng.


"Dia tidak pernah menceritakannya padaku, mungkin dengan Yuna dia sudah menceritakannya, karna Yuna dan Firman sangat dekat, Firman dari dulu menyukai Yuna, tapi sayang Yuna tidak pernah membalas perasaan lelaki baik itu." Ucap Sintia, kini dengan wajah yang mengiba.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"APA! Kaisar membatalkan pembangunan pabrik itu?"


"Benar tuan, saya datang ke sini, untuk menyampaikan pesan dari tuan Kaisar secara langsung pada anda."


"Jhon, apa kau tau berapa kerugian yang akan di alami perusahaan ini jika pembangunan itu di batalkan?"


"Tuan Yuda tidak perlu khawatir, tuan Kaisar akan mengganti semua kerugian yang di alami perusahaan anda."


Yuda menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Anak itu benar-benar." Gumamnya menahan geram, seraya memijit pelipisnya yang mungkin terasa pusing.


"Apa dia mengatakan alasannya?"


"Maaf tuan, saya tidak di ijinkan untuk mengatakan apapun pada anda selain soal pembatalan itu."


"Lalu di mana anak itu, kenapa tidak segera kembali!"


Jhon diam.


"Kenapa? Apa Kaisar juga melarang mu untuk mengatakannya pada ku?"


Jhon mengangguk. Mengiyakan yang di katakan Yuda.


"Tuan Yuda, saya permisi karna ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan di kantor tuan Kaisar."


Jhon pun melangkah kakinya.


Tapi Yuda menghentikan langkahnya.


"Jhon, apa selama di desa itu Kaisar dan Farel baik-baik saja, maksud ku apa mereka lebih sering bertengkar?"


Jhon menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya keputusan anda mengirim tuan Kaisar dan Farel ke desa itu adalah keputusan yang sangat tepat, karena di sana tuan Kai dan Farel terlihat layaknya sepasang kakak adik yang saling menyayangi."


"Benarkah!" Wajah Yuda begitu terlihat berbinar.


"Benar tuan!" Jhon kembali meyakinkannya.


"Ternyata papah memeng benar jika Farel dan Kaisar di satukan di sana pasti mereka akan saling menghargai satu sama lain." Ucap Yuda.


"Jadi memeng benar kakek Marwan yang mengirim Tuan Kaisar dan Farel?" Sahut Jhon.


"Mamah Julia yang mengusulkannya."


"Nyonya Julia!"

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu tuan."


Jhon melangkahkan kaki keluar dari ruangan Yuda.


Sepertinya Jhon sudah menemui titik terang dari masalah ini, namun ia harus memastikannya kembali.


Setelah ke ruangan Yuda, Jhon menghampiri salah satu karyawan di kantor itu.


"Maaf tuan Jhon, beberapa waktu yang lalu Nyonya Julia meminta beberapa kartu pengenal Airlangga Wijaya. Kami tidak bisa menolaknya karna beliau mengatasnamakan tuan besar Marwan."


"Baiklah, sekarang kau boleh pergi, lanjutkan pekerjaan mu." Titahnya setelah mendapat informasi tambahan.


" Baik terimakasih tuan."


🍁


🍁


🍁


Jhon kembali melanjutkan perjalanan, kali ini ia menuju kediaman Kakek Marwan.


"Sepertinya dugaan tuan Farel benar, kalau nyonya Julia terlibat dalam masalah ini tapi apa motifnya? ini yang harus aku cari tau."


Ya, beberapa waktu lalu Farel mengatakan kecurigaannya tentang Julia pada Jhon, karna beberapa kali ia memergoki Julia tengah menelfon seseorang dengan isi pembicaraan (rencana menyingkirkannya) tapi entah siapa yang Julia hubungi Farel hanya mendengar dari sisi Julia saja.


Tentu Farel hanya mengatakan kecurigaannya pada Jhon, jika pada Kaisar tentu saja lelaki itu tidak akan mempercayainya bahkan akan menghajar Farel karna telah mencurigai nenek kesayangannya.


"Aku harus mengumpulkan banyak bukti dulu jika memang benar Nyonya Julia terlibat. Tentu tuan Kaisar tidak akan mempercayai ku jika aku mengatakannya langsung."


Dan Jhon pun harus, terpaksa merahasiakan ini untuk sementara waktu pada Kaisar, Julia adalah salah satu orang yang Kaisar sayangi dan percayai, ia bukan hanya menganggap Julia seperti neneknya sendiri tapi juga seperti pengganti Melisa.


Jadi tidak akan mungkin Kaisar mempercayainya.


"Sepertinya seseorang yang sering di hubungi nyonya Julia adalah dokter itu, dan sepertinya Nyonya Julia memang mengutus dokter itu untuk memuluskan rencananya."


🍁


🍁


🍁


Tak lama Jhon sampai di kediaman Kakek Marwan ia di sambut oleh beberapa pelayan di sana.


"Lalu di mana Ka Kaisar dan ka Farel?" Ucapnya sambil celingukan mencari sosok yang sudah lama ia rindukan.


"Jhon kau sudah kembali!"


Belum sempat Jhon menjawab pertanyaan Luna, Larasati datang menghampirinya.


"Selamat siang nyonya Larasati!" Sapa Jhon seraya menundukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan kabar mu Jhon?"


"Saya baik nyonya, terimakasih sudah memperhatikan saya."


"Ka, di mana Ka Kaisar dan Farel?" Luna kembali bertanya.


"Iya, di mana mereka Jhon apa mereka tidak ikut pulang bersama mu?"


"Maaf nyonya, tuan Kaisar dan tuan Farel masih berada di desa, karna masih ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan."


Larasati mengangguk mengerti.


"Padahal aku sangat merindukan kakak-kakak ku itu." Ucap Luna dengan wajah lesunya.


"Sabar sayang!" Larasati mengusap rambut Luna.


"Nyonya saya ingin bertemu Kakek Marwan."


"Silahkan Jhon, kakek Marwan sedang berada di kamar, akhir-akhir ini kesehatan beliau menurun."


Jhon melangkahkan kakinya menuju tangga di mana kamar Marwan berada.


"Saya tidak mengijinkan mu, untuk melihat suami saya!" Tiba-tiba Julia muncul dari lantai atas, yang menghentikan langkah Jhon.


"Nenek ka Jhon ingin melihat kakek, kenapa tidak boleh!" Protes Luna.


"Diam kau anak kecil!" Bentaknya.


"Tapi nek..!"


"Sudah sayang." Larasati menghentikan Luna yang ingin kembali melayangkan protes pada Julia.

__ADS_1


Dan akhirnya Jhon pun angkat bicara.


"Maaf nyonya Julia, saya bekerja hanya pada tuan Kaisar. Dan saya hanya akan mengikuti semua perintah yang tuan Kaisar berikan."


"Heh apa maksud mu! Aku ini neneknya, aku tidak mengijinkan mu melihat suami ku."


"Tuan Kaisar memerintahkan saya untuk memastikan keadaan kakek Marwan dengan mata saya sendiri, jadi! sekalipun anda melarang, saya tetep akan memastikan keadaan kakek Marwan."


"Jhon! kamu jangan kurang ajar pada saya!"


Tapi Jhon tidak perduli, ia tetep melangkahkan kakinya dan menepis tubuh Julia yang menghalanginya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Setelah memastikan keadaan Marwan. Jhon ke Mansion, ia memerintahkan anggotanya untuk menyelidiki Julia secara diam-diam bahkan tanpa sepengetahuan Kaisar.


"Baik tuan, anda akan mendapatkan hasil penyelidikan kami dengan cepat!" Ucap salah satu dari anggotanya.


"Bagus! Lakukan, tanpa di curigai siapa pun. Karena sepertinya Nyonya Julia mempunyai beberapa orang yang hebat di belakangnya."


Setelah memastikan semuanya baik-baik saja, Jhon kembali ke desa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas! Apa yang kau lakukan. Jangan seperti ini mas, sakit!" Pekik Lisa.


"Suuutt .... Pelankan suara mu, bagaimana kalau nenek itu mendengar ******* mu."


"*******! Aku tidak sedang mendesah mas, kau mengigit leherku itu sakit mas."


"Kalau begitu, kau balas saja kembali menggigit leher ku."


"Tidak!" Jawab Lisa cepat.


Kaisar terkekeh kecil.


Ia kembali melanjutkan perjalanan tangan dan bibirnya di setiap sudut tubuh Lisa. Sepertinya suasana kamar yang remang-remang dan udara yang sangat dingin membangkitkan hasrat gabrut Kaisar.


"Aaakkh ...Sakit mas!"


Apa sekarang dia sedang meng cosplay diri menjadi vampir atau drakula.


"Kau yang menggoda mas dengan berpakaian seperti ini." Ucapnya dengan suara parau.


"Mas yang melarang ku untuk menggunakan kemeja yang di berikan nenek tadi kan."


Hingga aku harus mengenakan Tank top di udara sedingin ini.


"Aku akan kembali memakainya." Lisa hendak bangun dari pembaringannya yang terganggu ulah tangan dan bibir Kaisar.


"Seperti ini saja." Kaisar menahannya.


Ia tetep memeluk tubuh ramping Lisa, merasai setiap aroma yang keluar dari setiap inci tubuh yang sangat ia rindukan itu.


Hingga akhirnya Lisa pun tertidur di pelukan Kaisar, sementara Kaisar masih terus menciumi seluruh wajah Lisa.


"Mas sangat mencintai mu." Gumamnya di sela-sela ciuman lembut yang ia berikan.


Malam terlewati begitu indah bagi Kaisar, meskipun ia tertidur di rumah tengah hutan dengan beralaskan ranjang yang sudah hampir reyot dan kasur tipis lusuh, lengkap dengan serbuan dari nyamuk yang mengigit kulit putihnya.


Tapi itu jauh lebih indah di banding tidur di Mansion mewahnya yang memiliki ranjang bak seorang raja.


Karna malam itu ia lewati bersama istri yang sangat ia cintai.


🍁


🍁


🍁


🍁


Pagi hari. Lisa terbangun dari tidurnya. Ketika membuka mata, yang pertama ia lihat adalah wajah tampan yang sangat ia rindukan dan nantikan selema ini.


Lisa membelai wajah yang tengah memejamkan matanya itu.


"Dia terlihat teduh jika tidur seperti ini, tapi jika sudah membuka matanya dia sangat menyebalkan." Lisa masih memainkan jarinya di wajah Kaisar.


"Hidung yang mancung, alis yang tebal dan hitam mata yang tajam ,rahang yang keras, tapi memiliki kulit selembut ini." Gumam Lisa.


Semalam aku tidak salah dengar kan? dia mengatakan cinta pada ku. Apa aku hanya bermimpi.


"Jika kau memeng mencintai ku, tapi kenapa kau dulu tidak menjemput ku mas! Padahal aku sangat menantikan kedatangan mu." Gumam Lisa.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2