
Jhon masih berkutat dengan semua pekerjaan yang seharusnya menjadi tanggung jawab Farel.
Sudah pukul 12 00 Siang, waktunya istirahat dan makan siang, tapi Jhon masih tidak bergeming, ia tidak perduli dengan waktu yang memintanya untuk beristirahat.
Hingga membuat sang asisten, mengetuk pintu ruangannya.
Tok.
Tok.
"Masuk!"
CKLEEEK...
"Tuan, ini sudah waktunya makan siang."
"Lalu?"
"Anda harus beristirahat dan makan siang, Tuan."
"Jika kau mengetuk pintu hanya untuk mengatakan itu, lebih baik kau cepat keluar dari ruangan ini."
Tania menekuk wajahnya, tapi ia tidak menyerah, ia keluar dari ruangan Jhon, tapi Tania berniat untuk kembali lagi.
"Baik, tuan, maafkan saya."
Baru 10 menit ia keluar dari ruangan Jhon, kini gadis itu kembali lagi dengan membawakan makan siang untuk Jhon.
"Apa ini?" Tanya Jhon, melihat bungkusan yang di letakkan di atas meja.
"Ini makan siang untuk anda."
"Tidak perlu, bawa keluar."
"Maaf tuan, tidak bisa, semua pekerjaan di kantor ini harus beristirahat dan makan siang tepat waktu, peraturan itu di buat oleh tuan Yuda, dan sekarang beliau pun meminta saya untuk mengingatkan ini pada anda."
Jhon menghela nafasnya.
"Baiklah, sekarang kau boleh keluar dari sini."
Tania tersenyum puas.
"Baik tuan, selamat menikmati makanan siang."
🍁🍁🍁🍁
Sore hari.
Luna bermaksud memberi kejutan untuk Jhon, sebelum Jhon menjemput di Resto, ia terlebih dahulu mendatangi kantor papahnya.
Semua orang yang ada di kantor nampak asing dengan Luna, karena Luna memang tidak pernah datang ke kantor itu, ia tidak tertarik dengan dunia perkantoran seperti ini.
Tapi kali ini ia memaksakan diri untuk ke kantor Demi menemui suaminya yang mulai hari ini bekerja menggantikan Farel.
Luna tau di mana ruangan Jhon, karena Yuda yang memberi tahunya.
Ia menaiki Lift menuju lantai 3 karena di sanalah ruangan Jhon.
Sampai di depan pintu, baru Luna hendak mengetuk pintu itu, seseorang sudah menghentikannya.
"Maaf, Nona anda siapa? Jika tidak berkepentingan dengan tuan Jhon, anda tidak boleh mengetuk apa lagi masuk ke ruangannya."
Luna menatap wanita yang mencegahnya itu.
"Kau siapa?"
"Nama ku Tania, Aku asisten tuan Farel, dan sekarang aku adalah Asisten tuan Jhon, dan mungkin sebentar lagi aku akan menjadi lebih dari sekedar Asisten untuk tuan Jhon."
Dia bicara apa? kenapa Asisten kak Farel wanita?
Tapi Luna tidak perduli, ia malah ingin segera masuk ke ruangan Jhon.
"Nona! Jika anda memaksa masuk ke dalam, saya akan panggilkan sekuriti untuk membawa anda keluar dari kantor ini!"
"Panggil saja, Saya tidak takut!" Tantang Luna yang kesal dengan Tania.
CKLEEEK..
Luna membuka pintu dan segera masuk kedalam ruangan Jhon.
Tapi Tania pun ikut serta masuk ke dalam sana.
"Maaf tuan Jhon, saya sudah mencegahnya untuk masuk kedalam tapi wanita ini memaksa,"ucap Tania dengan tergesa-gesa, karena ia takut jika Jhon marah.
Jhon menatap kedua wanita itu secara bergantian, dan ia segera bangun dari duduknya, mendekati Luna.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai di Kantor, aku akan menjemput jm 5 nanti."
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin mampir ke sini saja, dan kak Jhon, tolong katakan pada wanita itu, aku ini siapa?" Ujar Luna, dengan menatap tajam Tania.
Jhon beralih menatap Tania.
"Ini istri saya, dan juga anak dari ....!"
"Cukup!"Luna menghentikan perkataan Jhon, tidak perlu Tania tau jika ia anak pemilik perusahaan ini, asalkan wanita itu tau bahwa dia adalah istrinya Jhon saja sudah cukup!
"Kenapa?"tanya Jhon.
"Tidak apa-apa,"Luna menggandengkan tangannya di lengan Jhon dan mengusap-usap dadanya, sambil tersenyum puas menatap wajah Tania yang terkejut dan nampak pucat sekaligus kesal.
Istri, dia istrinya tuan Jhon! Oooh tidak! apa aku terlambat! Batin Tania.
"Kau sudah dengarkan aku ini siapa? Jadi! Apa kau masih mau melarang ku masuk keruangan suamiku?"
"Tidak! Maaf Nona."
"Ya sudah, untuk apa kau masih di sini, cepat keluar!" Usir Luna, yang nampak kesal dengan Tania.
Tania masih tidak bergeming karena keterkejutannya tadi.
Hingga Jhon membuka suaranya.
"Kau tidak dengar apa yang istri saya katakan?"
__ADS_1
Dengan cepat Tania merespon.
"Baik, saya permisi, Nona, tuan." Dan Tania pun benar-benar pergi dari ruangan itu, dengan perasaan yang jengkel karena ternyata Jhon, lelaki incarannya sudah menikah.
Tinggallah Jhon dan Luna di ruangan itu.
"Kenapa kau marah pada wanita itu?" Tanya Jhon.
Luna melepaskan gandengan tangannya.
"Aku tidak suka dengan wanita itu, kenapa dia harus jadi Asisten kak Jhon? Bukankah Asisten kak Farel itu laki-laki, ka Rizal namanya, asisten sekaligus sekretarisnya,"protes Luna.
"Rizal sedang di tugaskan di Luar kota untuk beberapa bulan kedepan,"
"Tapi, tidak harus wanita itu juga kan yang menjadi Asistennya?"
Jhon mengedikan bahunya.
"Tuan Yuda yang menyiapkan semuanya, dan ini juga salah kakak mu yang tidak kunjung bekerja!"
Papah! Kak Farel!
"Kau, mau langsung pulang ini sudah sore?"
Luna mengangguk.
"Tapi aku mau kerumah kak Farel dulu sebentar."
"Baiklah!"
🍁🍁🍁🍁
Di malam hari mereka baru sampai di rumah Farel.
Jhon tengah melakukan panggilan dengan Kaisar, yang membahas masalah kantor mereka.
Dan kesempatan ini Luna gunakan untuk berbicara dan membujuk agar kakaknya mau bekerja kembali.
"Ayolah kak, aku mohon segeralah kembali ke kantor, agar Kak Jhon bisa kembali ke kantor Kak Kaisar saja!" Pinta Luna.
"Tidak bisa Luna, aku sibuk mengurusi bayi ku yang Lucu dan menggemaskan ini, biarkan saja Jhon yang mengurus semuanya," sahut Farel, tanpa menoleh karna tatapannya hanya untuk bayinya.
"Ada kakak ipar Sintia, yang jauh lebih bisa dan sangat baik untuk menjaga Farelin, dia ibunya."
"Kau tidak mengerti Luna, Farelin akan menangis jika aku tidak menemaninya ketika tidur siang, dan dia juga akan menangis ketika membuka matanya tidak melihat papih nya."
Luna sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Farel.
Dia meminta bantuan Sintia.
"Aku sudah membujuknya lebih dari 20 kali dalam sehari, tapi tetap tidak berhasil."ucap Sintia, yang sudah pasrah.
Luna mendekati Farel, dan bergelayut manja di lengan kakaknya itu, jika sudah begini pasti Farel akan luluh dengan Luna, dan ini yang biasa Luna lakukan jika dia meminta sesuatu pada Farel.
"Ayolah, kembalilah bekerja, kau sangat hebat! dan perusahaan sangat membutuhkan mu, agar kak Jhon bisa kembali lagi ke kantor Kakak Kaisar."
"Luna! Jangan seperti ini, Farelin akan cemburu jika melihat kau bergelayut di lenganku seperti ini,"ucap Farel, tapi ia tidak menepis tangan Luna.
Begitupun dengan Luna.
"Cemburu! Mana mungkin, Farelin masih bayi tidak mungkin dia cemburu."
"Kau sungguh tidak mengerti perasaan seseorang bayi." Keluh Farel.
🍁🍁🍁
Setelah di bujuk dan di rayu dengan berbagai kata-kata yang bisa meluluhkan hati Farel.
Akhirnya Sintia dan Luna berhasil membuat lelaki itu berkata!
"Baiklah, besok aku akan bekerja kembali!"
Raut girang dan puas, terukir jelas di wajah Luna dan Sintia, akhirnya lelaki itu bersedia kembali bekerja, meskipun banyak syarat yang ia ajukan pada dua wanita itu.
Tapi tiba-tiba Farel menanyakan sesuatu.
"Luna, kenapa kau tidak mengijinkan Jhon untuk bergabung dan menggantikan ku di kantor papah?"
"Aku tidak suka, karena Asisten kak Farel, sepertinya menyukai kak Jhon, dan dia berniat menggodanya." Ucap Luna dengan pelan, karna takut terdengar Jhon.
"Kau cemburu dengan Tania?"
"Suuuuttt... Pelankan suara mu kak, jangan sampai kak Jhon mendengarnya."
"Kenapa?"
"Aku tidak mau jika kak Jhon tau aku cemburu, dia saja sulit sekali untuk mengaku cemburu padahal aku sering memanas-manasi nya."keluh Luna.
Obrolan mereka terhenti ketika mendengar suara Sintia yang berdehem.
"Jadi! Sekarang Asisten mu seorang wanita? Setelah kau mengirim Rizal keluar kota, kau merekrut Asisten wanita?"pertanyaan Sintia, yang penuh dengan tekanan.
"Aaah... Tidak! Tidak! Itu, papah yang memilihnya, sungguh! Bukan aku yang memilihnya."sahut Farel, yang takut,"kau tenang saja, aku tidak akan tergoda dengan siapapun, meskipun Tania selalu berpenampilan seksi tapi sedikitpun aku tidak tertarik,"sambungnya, yang makin membuat Sintia kesal.
Jangan sampai Sintia melarang Farel untuk pergi ke kantor, dengan cepat Luna bertindak.
"Benar kak, kakak Farel sangat setia, bahkan semenjak dulu dia tidak pernah berpacaran sama sekali, jadi kakak ipar tidak perlu khawatir."
"Luna benar, lagipula Tania tidak suka padaku, dia lebih tertarik dengan Jhon! Apa kau aku tidak usah bekerja saja?" Wajah Farel yang girang.
"Tidak! Kau harus tetap bekerja."Sahut Sintia, yang kembali membuat wajah Farel tidak bersemangat, karena harus berjauhan dengan bayinya.
"Luna, ini sudah malam, ayo kita kembali ke Apartemen?"
Suara Jhon menghentikan obrolan mereka.
"Baik kak, kak, mulai besok kak Farel kembali ke kantor!"
"Benarkah?"
"Iya!" Sahut Farel dengan ketus.
"Syukurlah, akhirnya anda sadar juga jika masih membutuhkan uang untuk hidup."
__ADS_1
"Kau jangan bicara sembarangan Jhon, uang ku masih sangat banyak, bahkan aku tidak bekerja seumur hidup pun tidak akan kehabisan uang."protes Farel.
Dan malam itu berakhir dengan kepuasan Luna, karena Farel kembali bekerja.
🍁🍁🍁🍁
Keesokan harinya.
Farel benar-benar berangkat ke kantor untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang sudah satu Minggu lebih ia tinggalkan.
Banyak pesan yang ia titipkan pada Sintia terutama melakukan Video call setiap satu jam sekali, karena ia ingin melihat apa yang di lakukan Farelin, padahal umur bayi itu belum satu bulan, jadi apa yang akan di lakukan seorang bayi di umur yang masih hitungan hari, selain tidur di siang hari dan bangun di malam hari.
🍁🍁🍁🍁
Sampai di kantor.
Ternyata Jhon juga masih ke kantor itu.
Yuda memintanya untuk mengawasi Farel, Yuda tau jika Farel tidak akan fokus bekerja jika dia sedang galau seperti itu.
"Jika kau ada di sini, lalu untuk apa kalian menyuruh ku masuk kerja, bukankah lebih baik aku menjaga bayi ku?"protes Farel.
Jhon tidak memperdulikan protes itu, ia membuka pintu ruangan dan mendorong Farel masuk ke dalam.
"Waaaah.. Jhon! Kau jangan kurang ajar! Aku ini kakak iparmu?"
"Jika di rumah, saya memang adik ipar anda, tapi di kantor saya atasan anda yang akan memantau dan mengawasi semua pekerjaan anda di kantor ini."
"Apa papah yang menyuruh mu?"
"Tentu saja, memangnya siapa lagi!"
Jhon menarik kursi untuk Farel.
"Sudahlah tuan, kerjakan semua pekerjaan Anda."
"Lalu kenapa kau masih di sini! Cepat keluar dari ruangan ku."usir Farel.
"Sudah saya bilang, saya akan mengawasi semua pekerjaan anda."
"Menyebalkan sekali, kau Sama saja seperti Kaisar."Grutu Farel.
🍁
Benar saja.
Baru beberapa menit, Farel mulai gelisah dan beberapa kali melirik jam yang ada di tangannya.
Tapi ia berusaha untuk Fokus, karena ada Jhon yang memperhatikannya.
Aaah.. kasihan sekali bayi ku, dia pasti tengah bersedih karena tidak ada aku di sampingnya.
1 jam.
2 jam.
3.jam
3 jam sudah berlalu, dan waktu menunjukkan pukul 11 siang.
Farel bangkit dari duduknya, ketika melihat sudah pukul 11 siang.
"Anda mau kemana tuan?" Tanya Jhon, yang bingung melihat Farel tiba-tiba beranjak dari duduknya.
"Kau lihat Jhon! Ini sudah jam 11 siang!"
"Waktu istirahat jam 12 siang tuan, jadi masih ada 1 jam lagi menuju waktu istirahat, sekarang kembalilah duduk."
"Bukan istirahat Jhon?"
"Lalu?"
"Jam 11, ini waktunya Farelin tidur siang."
"Memangnya kenapa?"
"Kau tidak akan tau Jhon, Farelin akan menangis dan bersedih ketika ia hendak tidur tidak aku timang-timang, dan membacakan dongeng."
Jhon menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Tuan, anda tidak perlu mengkhawatirkan itu, ada Nona Sintia yang akan melakukan semua itu dengan sangat baik."
"Sudah kubilang kau tidak akan mengerti Jhon."ucap Farel yang langsung nyelonong ingin keluar dari ruang kerjanya.
Tapi Jhon menahan.
"Kenapa kau menahan ku Jhon, aku harus segera pulang, pasti bayi ku yang lucu dan menggemaskan itu tengah menangis karena merindukan ku."
Sekali lagi Jhon tidak memperdulikan, protes Farel, sepertinya Jhon sudah berada di batas kesabarannya, ia kembali menyeret Lelaki itu agar kembali duduk di kursinya.
BRAK!
Jhon meletakkan dengan kuat, tumpukan berkas-berkas di meja Farel.
"Jhon, apa-apa ini?"
Farel ingin kembali melayangkan protes.
Tapi Jhon langsung membungkam Farel dengan berkata.
"Tuan, lebih baik anda segera selesaikan semua pekerjaan ini, agar anda bisa segera pulang dan menemani bayi anda yang sangat lucu dan menggemaskan itu, biarkan di siang ini bayi itu tidur bersama ibunya, tapi setelah ia terbangun anda sudah ada di sampingnya saya yakin nona kecil pasti akan tersenyum senang melihat anda yang pulang bekerja lalu mengajaknya bermain."
Farel terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.
"Kau benar Jhon, bayi ku pasti akan senang melihat papih nya yang bertanggung jawab ini pulang bekerja."
Jhon tersenyum puas, akhirnya Lelaki itu bisa Fokus menyelesaikan semua pekerjaannya.
🍁🍁🌹🌹🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
__ADS_1