
Dan akhirnya Lisa pun berhasil mendapatkan ijin dari Marwan, untuk keluar dari rumahnya.
Lisa beralasan ingin mengambil sesuatu yang sangat berharga di rumah peninggalan mendiang Rano, kakeknya.
Tempat yang ia tinggali semasa Rano masih hidup, dan sekitar empat tahun lalu, Lisa j singgahi selama beberapa hari, selepas ia kabur dari Kaisar dan pergi ke desa.
Karna Lisa menceritakan mendiang Rano yang juga sahabat baiknya, Marwan menjadi luluh, dan membiarkan Lisa pergi tapi tetep dalam pengawasan.
Lisa pergi di antara oleh Sanusi.
🍁🍁🍁
Karna lokasi yang cukup jauh dari kediaman Marwan.
Siang menjelang sore ia baru sampai di rumah yang penuh dengan kenangan masa kecilnya itu.
Lisa membuka pintu rumah itu.
"Terakhir aku kesini empat tahun yang lalu, maafkan aku ke karna jarang menjenguk rumah peninggalan kakek." Gumam Lisa.
Lisa minta Sanusi masuk, agar menunggunya di dalam saja.
Tapi Pria paruh baya itu menolaknya.
"Terimakasih nona, saya menunggu di sini saja, jika anda sudah menemukan apa yang anda cari, kita harus segera kembali ke kediaman tuan Marwan, sebelum tuan Kaisar pulang."
Lisa pun mengangguk.
"Iya pak, saya mengerti."
Dan ia kembali masuk kedalam rumah, tidak ada yang Lisa cari di dalam rumah itu, karna memeng tujuannya bukanlah untuk mencari sesuatu.
"Aku harus segera menemui Firman, tanpa di ketahui pak Sanusi." Lisa tengah memikirkan sebuah cara agar Sanusi pergi dari situ untuk beberapa jam.
Tak lama, Lisa kembali membuka pintu dan menemui Sanusi, sepertinya ia sudah menemukan cara agar Sanusi pergi.
"Pak!" Panggilannya.
"Iya nona, apa anda sudah selesai?" Sahut Sanusi.
"Belum pak, tiba-tiba perut saya terasa sakit." Keluh Lisa.
Sanusi panik.
"Kalau begitu kita harus segera kembali nona, tapi sebelum itu kita ke rumah sakit dulu."
"Tidak perlu ke rumah sakit pak, dan jika melakukan perjalanan pulang dengan kondisi seperti ini saya tidak bisa pak."
"Lalu saya harus bagaimana non?" Sanusi bertambah panik.
"Pak Sanusi, tolong belikan saya obat di apotek dekat sini." Pinta Lisa.
"Baik nona, tapi bagaimana dengan anda jika saya pergi?"
"Tidak apa-apa pak, saya bisa jaga diri, pak Sanusi tolong belikan saja saya obat."
"Baik, nona tunggu sebentar ya."
Dan Sanusi pun pergi menuju apotek yang Lisa klaim tidak jauh.
Sanusi tidak membawa mobilnya, karna Lisa bilang apotek itu ada di sebuah gang sempit yang tidak jauh dari rumah Rano.
Padahal, satu-satunya apotek di kampung itu, ada di depan jalan persis sebelah klinik yang juga satu-satunya di kampung itu, dan lokasinya tentu jauh dari rumah Rano, apalagi jika di tempuh dengan berjalan kaki dan memasuki gang sempit, sudah bisa di pastikan Sanusi akan kesulitan mencarinya dan kemungkinan dia akan nyasar. Lisa benar-benar tega.
Selepas kepergian Sanusi, Lisa pun ikut pergi menuju belakang rumahnya.
__ADS_1
Tidak terlalu jauh.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja Lisa sampai di sebuah tempat, seperti bukit kecil dengan hamparan tumbuhan ilalang yang menghiasi dan menambah kesan indah tempat itu.
Ini adalah tempat terindah masa kecil Lisa dan juga Rafi, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini, Hanya untuk sekedar bermain, bercerita dan bercanda.
Lisa mengedarkan pandangannya.
Dan terlihat sosok pria yang tengah duduk di bangku panjang di bawah pohon besar yang sudah tandus.
Dia Firman, ternya dia sudah sampai terlebih dahulu.
"Ka Rafi, aku sangat yakin jika dia ka Rafi, dia sangat tau tempat ini padahal tidak banyak orang yang mengetahui tempat ini, tapi sepertinya ia sudah sangat familiar dengan tempat ini." Gumam Lisa.
Lisa perlahan melangkahkan kakinya.
Mendengar suara langkah kaki, Firman menoleh ke arah sumber suara.
Senyum bahagia terukir jelas di wajah pria itu, ketika melihat kedatangan wanita yang ia tunggu-tunggu.
"Yuna, kau sudah datang!"
Firman segera menghampiri Lisa.
"Firman, bagaimana keadaan mu?" Tanya Lisa.
"Aku baik, hanya pukulan seperti itu dari Kaisar, tidak akan bisa membuat ku mati." Sahutnya.
"Yuna, apa kau bahagia bersama Kaisar? Jika kau merasa terpaksa, aku akan membawamu dan Arga, pergi darinya sejauh mungkin."
Lisa menggelengkan kepalanya.
"Kaisar, selalu memperlakukan aku dengan sangat baik, kau tidak perlu khawatir."
"Firman, kenapa kau melakukan ini semua?"
"Kenapa kau melakukan semua ini, pada ku, Arga dan Kaisar."
"Yuna, aku ....!"
"Kenapa, kau sangat membenci Kaisar?" Potong Lisa.
"Maaf Yuna, aku tidak bisa mengatakan apapun pada mu."
"Kenapa?"
Firman tersenyum kecut.
"Seharusnya aku tidak sepercaya diri ini. Kau mengajak bertemu bukan karena ingin benar-benar bertemu dengan ku kan, kau kesini karena Kaisar, dan jika itu soal Kaisar, apa lagi jika kau memintaku untuk berdamai dengan Kaisar, aku tidak bisa melakukannya."
Firman melangkahkan kakinya menjauhi Lisa, terlihat jelas raut kecewa di wajahnya.
"Ka Rafi!"
Deg ....
Dan Lisa pun menyebut nama itu.
Yang mampu menghentikan langkah kaki Firman, ia mematung tak bergerak sedikit pun, dengan perasaan yang berkecamuk dada yang mulai terasa panas bercampur haru, ketika mendengar Lisa menyebut nama yang sudah lama ia tinggalkan, dan lupakan.
Firman berbalik menatap Lisa.
"Ka Rafi."
Lisa kembali menyebut nama itu, dengan mata yang berkaca-kaca, penuh haru menetap lelaki yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Lisa mendekat.
"Kau kemana saja selama ini ka?"
"Lisa." Suara Firman yang bergetar.
"Kau menghilang begitu saja tanpa berpamitan padaku, dan kau kembali dengan memakai identitas orang lain, apa selama ini kau juga tidak mengenali ku ka?" Tanya Lisa, terisak karna sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
"Jangan menangis, aku tidak suka melihatmu menangis." Firman mengusap air mata yang mengalir di pipi mulus Lisa.
"Kau mengenali ku?" Tanya Firman.
"Iya, aku mengenali mu ka, aku mengenali mu karna ini!" Lisa menunjukkan foto yang ia temukan di rumah tengah hutan.
"Apa kau masih mau mengelak ka, apa kau masih mau membohongi ku?"
"Tidak Lisa, maafkan aku, kau benar aku Rafi."
Rafi menggenggam tangan Lisa.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membohongi mu, terimakasih kau sudah mengingat dan mengenali ku Lisa."
>Karena sampai sini kita sudah mengetahui nama asli dari Firman, jadi mulai sekarang kita bisa memanggil dia Rafi , karna itu nama aslinya.<
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain.
Sanusi benar-benar tersesat, ia sudah puluhan kali melewati jalan yang sama, seolah terjebak di sebuah labirin.
Tidak ada yang bisa ia tanyai, karna di jalan itu sangat sepi hanya ada beberapa rumah saja, dan itu pun tertutup semua.
"Bagaimana ini, jangankan ke apotek, keluar dari sini pun saya belum bisa, semoga nona Lisa baik-baik saja, sampai saya mendapatkan obat untuknya." Gumam Sanusi.
Sanusi masih terus berjalan keluar masuk gang yang sama. Tiba-tiba langkahnya terhenti, ingatannya mundur ke empat tahun silam.
"Jangan-jangan nona Lisa .... Kabur!"
Sanusi panik, ia segera menghubungi Lisa, namun ponselnya tidak aktif.
"Ini bahaya, dunia bisa Benar-benar kiamat jika nona Lisa kembali kabur dari tuan Kaisar."
Dengan cepat Sanusi mencari bantuan, agar ia bisa keluar dari gang sempit yang menjelma seperti labirin itu.
🍁🍁🍁🍁🍁
"Tuan, masih terlalu banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan." Ucap Jhon.
"Lalu?" Sahut Kaisar.
Dengan ragu Jhon pun mengatakannya.
"Tuan, sepertinya kita tidak bisa kembali di sore hari."
"Apa maksud mu Jhon?" Nada suara Kaisar mulai naik.
"Terlalu banyak masalah di pabrik ini tuan, kemungkinan kita akan pulang terlambat, mungkin juga kita harus menginap di sini."
"APA! menginap, yang benar saja Jhon!" Kesal Kaisar.
"Maafkan saya tuan, ini semua di luar prediksi saya." Jhon menundukkan kepalanya, tidak bisa ia pungkiri jika dia juga ikut bersalah atas masalah yang menimpa pabrik mereka, karna sudah beberapa bulan ini Jhon kurang memperhatikan pabrik ini, karena banyaknya masalah yang menimpa Kaisar, hingga membuatnya harus menyelesaikan masalah tuannya.
"Pokoknya aku tidak mau tau, sore kita sudah kembali ke kota xxxx dan paling lambat malam hari kita sudah kembali, tidak ada kata menginap, selesaikan semuanya hari ini juga." Tegas Kaisar.
"Baik tuan."
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘