Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 94. Siapa yang di foto itu?


__ADS_3

" Ka, Rafi!" Lisa sangat terkejut dengan foto yang kini ada di tangannya.


"Apa ini benar-benar ka Rafi."


"Yuna, bagaimana apa kau sudah menemukan kotaknya?"


Tiba-tiba Sintia masuk ke dalam kamar itu dan mengejutkan Lisa, yang segera menyembunyikan foto yang ia duga Rafi di balik jaketnya.


"Sudah, ini!"Sahut Lisa, seraya menunjukan Kota yang ada di tangannya.


Sintia pun ikut melihat isi yang ada di dalam kotak itu.


"Apa ini, foto Nyonya Julia ketiak masih muda?" Tanya Sintia, yang hanya di balas anggukan oleh Lisa, karna saat ini fikirannya tengah melayang kemana-mana.


"Jadi nyonya Julia, anak dari nenek yang tinggal di rumah ini?"


"Bisa di simpulkan seperti itu." Balas Lisa.


"Kalau itu benar, tega sekali nyonya Julia membiarkan ibunya tinggal di tempat seperti ini." Gumam Sintia.


"Apa kalian sudah selesai!" Farel juga masuk di kamar itu.


Dengan cepat dan antusias Sintia menunjukkan semua temuan Lisa dari kotak itu pada Farel.


"Apa kita harus mencari nenek itu?" Tanya Farel.


"Sepertinya begitu, karna kita bisa menjadikan nenek itu sebagai saksi kejahatan nyonya Julia, pada Kaisar." Sahut Sintia. "Tapi masalahnya, kita harus mencari nenek itu di mana?" Sambungnya.


"Firman! Nenek itu pasti bersama Firman." Yakin Farel.


"Firman!" Bingung Sintai.


"Iya, aku yakin jika Firman, dan nenek itu mempunyai hubungan khusus, begitupun dengan Julia." Ucap Farel.


"Kau benar." Sahut Sintia.


Sementara Lisa hanya diam saja, tanpa mengeluarkan sepatah katapun untuk berpendapat.


Dan Sintia menyadari itu, Lisa yang tadinya sangat antusias, tapi kenapa sekarang menjadi tidak bersemangat seperti ini, bahkan ia tidak merespon sedikit pun apa yang ia dan Farel katakan.


"Ayo kita kembali ke kota Sekarang." Ajak Lisa dengan tiba-tiba.


Membuat Farel juga bingung dengan sikap kakak iparnya yang Tiba-tiba berubah.


"Baiklah, ayok kita pulang sekarang." Sahut Sintia. Yang langsung menyusul Lisa yang terlebih dahulu beranjak dari kamar itu.


Kini mereka ber tiga sudah keluar dari rumah tengah hutan, dan menuju mobil yang mereka parkiran di tepi jalan.


🍁


Di sepanjang perjalanan, Sintia dan Farel sibuk dengan pendapat masing-masing tentang Julia dan Firman.


"Aku sungguh sangat penasaran, ada hubungan apa antara Firman, dan nenek mu itu." Ucap Sintia yang ia tunjukkan untuk Farel yang berada di sebelahnya.


"Jangan pernah menyebut kalau dia itu nenek ku, nenek ku sudah lama tidak ada, Julia itu nenek nya Kaisar." Jawab Farel ketus.


Dan beberapa perdebatan lain, yang menambah drama perjalanan mereka.


Lisa! Ia masih termenung, dan sibuk dengan dunia pikirannya sendiri. Mungkin juga dia tidak mendengar perdebatan yang terjadi antara Sintia dan Farel, karna Lisa tengah gundah dengan suara-suara hati dan pikiran.


"Yuna, kau kenapa? Aku perhatikan kau murung sejak tadi, apa ada masalah?" Tanya Sintia khawatir.


"Aku tiada apa-apa." Sahut Lisa, dengan lesu dan pandangan yang tetap ke arah kaca mobil, tanpa melihat atau melirik Sintia yang tengah mengajaknya berbicara.


"Tenang kakak ipar, Kaisar tidak akan tau kalau kau tidak ada di mansion." Sahut Farel, yang mengira Lisa, terdiam karena tengah memikirkan suaminya itu.


Lisa mengangguk.

__ADS_1


"Iya."


Sementara alasan Lisa termenung, tentu bukan karena ia takut Kaisar akan marah padanya karna pergi ke desa tanpa memberi tau suaminya terlebih dahulu.


Ia termenung karna sosok remaja laki-laki yang ada di foto itu.


Aku yakin itu ka Rafi, tapi kenapa dia terlihat mirip dengan Firman, apa Sebenarnya Firman itu ka Rafi, kalau benar dia ka Rafi , lalu kenapa dia harus menjadi Firman? Dan ada hubungan apa antara ka Rafi dan nenek Julia.


Begitu banyak pertanyaan yang bertebaran di benak Lisa, dan ia pun kini kembali teringat pada sosok Rafi, yang dulu selalu melindungi dan menjaganya.


KRIIING....


KRIIING.....


Suara dering ponsel membuyarkan lamunan Lisa.


"Mas Kaisar!" Kejut Lisa, setelah melihat nama si penelepon di layar ponselnya.


"Bagaimana ini, mas Kaisar menghubungi ku!" Panik Lisa, yang ia tunjukkan pada Sintia dan Farel.


"Angkat saja." Ucap Farel.


"Lalu bagaimana kalau Kaisar tau jika Yuna, tidak ada di mansion dia pasti sangat marah." Sahut Sintia.


"Dia akan jauh lebih marah lagi, jika Lisa, tidak menjawab panggilannya."


"Baiklah, aku akan mengangkat teleponnya."


Dan Farel pun segera menepikan mobilnya.


"Halo! Mas,"


{"Kau dimana? Kenapa lama sekali hanya untuk pergi ke Mansion saja, ini sudah sore, sedangkan kau pergi dari pagi."} Kesal Kaisar, di sebrang sana.


"Maaf mas, aku merapikan pakaian ku dan Arga terlebih dahulu."


{"Kenapa kau yang melakukannya, itu sudah jadi tanggung jawab bi Lilis."}


Mendengar nada suara yang berbeda dari istrinya, Kaisar pun melemah.


{"Baiklah sayang, bagaimana kalau mas jemput di mansion?"}


"JANGAN! MAS!" Teriak Lisa.


{"Kenap kau berteriak seperti itu?"} Tanya Kaisar yang mungkin terkejut dengan teriakan Lisa.


"Aku ...! Aku di antara Jhon saja mas, kebetulan Jhoh tengah berada di mansion, mas kan harus menjaga nenek Julia, kasihan jika harus di tinggal, nenek Julia kan sedang sakit."


{"Baiklah, minta Jhon yang mengantarkan mu ke sini, dia akan menjaga mu dengan baik selama di perjalanan, dan segera kembali."}


"Baik mas."


Rasa lega baru menghampiri Lisa, setelah panggilan itu usai.


"Cepat Farel! Kenapa kau memberhentikan mobilnya?" Kesal Lisa.


"Iya, iya." Sahut Farel.


🍁🍁🍁🍁


Menjelang malam, mereka sampai di kota.


Mereka menuju Mansion terlebih dahulu, untuk menemui Jhon di sana.


"Nona, ayo kita segera pergi ke kediaman Kakek Marwan, karna tuan Kaisar sejak tadi memarahi ku." Kata-kata Jhon, yang ia gunakan untuk menyambut Lisa yang baru saja turun dari mobilnya.


Tanpa masuk ke Mansion terlebih dahulu, Lisa segera pergi bersama Jhon menuju kediaman Marwan.

__ADS_1


Mengenai pakaian yang menjadi alasan Lisa untuk ke mansion, semua sudah di siapkan oleh bi Lilis.


Di perjalanan Lisa menceritakan apa yang ia temukan di rumah hutan sana, dan apa yang menjadi peraduannya dan Farel.


Tapi, tentu Lisa tidak menceritakan soal Firman yang ia yakini adalah Rafi, entah kenapa Lisa seperti ingin melindungi sosok Rafi dari Kaisar.


Karna Lisa takut jika Kaisar melakukan sesuatu yang buruk pada Firman atau Rafi, ia akan mencari tau sendiri soal Firman tanpa bantuan siapapun, dan Lisa juga harus mengetahui terlebih dahulu di mana Firman berada sebelum Kaisar mengetahuinya.


Lisa harus memastikan kalau Firman benar-benar Rafi, dan apa tujuannya menyerang Kaisar.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil yang di kendarai Jhon sampai di kediaman Marwan.


Terlihat Kaisar, yang menjulang tengah berdiri di depan pintu, sambil memasukkan sebelah tangannya di saku celana panjang hitam yang ia kenakan,


dengan tatapan menelisik pada Jhon, yang baru saja turun dari mobilnya.


"Selamat malam tuan." Sapa Jhon, yang kini sudah ada di hadapan Kaisar.


Tidak di jawab! Tentu saja, jangankan untuk membalas sapaan dari Jhon, dia tidak marah saja itu sudah jadi anugerah terbesar bagi Jhon.


"Kau mengunakan mesin waktu bukan?" Tanya Kaisar, dengan tatapan dan suara yang menekan.


Jhon melirik pergelangan tangannya.


"Tentu tuan, saya menggunakannya."


"Lalu, kenapa di jam segini kau baru mengantarkan Lisa kembali?"


Ternyata itu maksud basa-basi dari sang Kaisar, yang membuat Jhon menjadi kesal. Tapi! tentu Jhon tidak bisa dan kuasa menunjukkan kekesalannya pada si serigala pemarah ini.


Yang waras yang mengalah.


Begitulah batin Jhon.


"JAWAB!" Ucap Kaisar, dengan nada yang bertambah dua oktaf.


"Tuan, saya ....!"


"Mas," panggilan Lisa, memotong ucapan Jhon.


"Mas, apa Arga sudah tidur?" Tanya Lisa, sambil bergelayut di lengan Kaisar.


"Belum sayang, kenapa kau lama sekali? Mas sudah menunggu mu selama beberapa jam." Ucapannya dengan lembut.


Cepat sekali anda mengcosplay diri tuan.



"Maafkan aku mas."


"Kau tidak perlu minta maaf, yang seharusnya minta maaf itu Jhon, karena dia terlambat mengantarkan mu."


Baiklah, terus saja salahkan saya tuan, asal anda tidak mencurigai nona Lisa.


"Mas, ayo kita masuk kedalam." Ajak Lisa.


Dan tanpa menunggu nanti Kaisar mengikuti Lisa masuk kedalam.


Jhon sedikit lega, karena sekarang ia tidak harus menenangkan tuannya yang akan marah, karna pawangnya terlebih dahulu menanganinya.


Selepas kepergian Lisa dan Kaisar, Jhon merogoh ponselnya yang bergetar.


[Tuan Jhon, saya sudah menemukan di mana Firman berada.]


Satu pesan teks yang membuat Jhon tersenyum lebar.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


**Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏🤗😘**


__ADS_2