Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 65. Mereka menahan Arga.


__ADS_3

Rizal pun segera keluar untuk membantu tuannya.


"Tuan Farel!" Teriak Rizal yang melihat Farel tengah kesulitan dengan kepungan masa.


Di tambah dengan dua orang yang memiliki perawakan berbeda dari yang lainnya, ia pandai dalam berkelahi sepertinya orang itu sudah terlatih dalam hal seperti ini.


"Kenapa kau keluar!" Tanya Farel dengan suara tertahan, karna menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Saya tidak akan berdiam diri melihat anda kesulitan seperti ini tuan!"


Dan dengan cepat Riza membantu melumpuhkan orang-orang yang tengah mengepung Farel.


BAG .....


BUG .....


BAG .....


BUG ....


Suara pukulan saling bersahutan di sana.


Di dalam rumah, bude Darmi terus berusaha menghubungi Kaisar, tapi tetep saja, operator selalu bilang nomor itu sedang berada di luar jangkauan.


"Di mana nak Kaisar, kenapa ponselnya tidak bisa di hubungi." Bude Darmi sudah berada di ambang kecemasan yang tinggi, wajahnya semakin pucat dan tangannya bergetar hampir membuat ponsel yang ada di tangannya terjatuh.


"Yuna!"


Ya, bude Darmi akhirnya ingat dengan nama itu.


"Aku harus menghubungi Yuna." Bude Darmi mencari nama Yuna di ponsel Rizal.


( Nyonya Kaisar) "ini pasti nomor ponsel Yuna." Yakin bude Darmi dengan nama di layar ponsel itu.


Ia pun segera menekan tombol hijau.


TUT ..... Tut .... Tut .....


Di panggilan pertama Yuna tidak menjawabnya, mungkin ia tengah sibuk karena di klinik pun sedang dalam situasi darurat.


"Ayo Yuna angkat telponnya nak!" Gumam bude Darmi yang masih dengan tangan gemetar.


"Nenek kenapa?" Tanya Arga.


"Nenek tidak apa-apa sayang, Arga tutup telinga Arga lagi ya, jangan dengarkan suara apapun di luar sana." Ucap bude Darmi seraya mengelus rambut Arga.


"Tapi, papah bilang Alga tidak boleh jadi anak penakut, Alga kan laki-laki jadi halus belani!" Ucap anak itu.


"Arga selema ini sudah menjadi anak yang pemberani." Sahut bude Darmi.


Dreeeet.... Dereeeet ....


Ponsel di tangan bude Darmi bergetar.


"Yuna!" Bude Darmi lega karena Lisa menghubunginya.


"Halo!"


{"Halo! Rizal ada apa kau menghubungi ku?"} Tanya Lisa di sebrang sana, yang mengira itu adalah Rizal.


"Ini bude, Yuna."


{" Bude! Ada apa? Kenapa menghubungi ku menggunakan ponsel Rizal! Apa terjadi sesuatu?"} Suara Lisa mulai panik.


"Yuna! Warga menyerang rumah Kaisar, mereka membawa senjata, kemarahan mereka sungguh tidak terkendali saat ini nak Farel dan Rizal tengah menghadapinya tapi bude rasa mereka tidak akan sanggup karena jumlah masa terlalu banyak."


{"APA! Lalu bagaimana dengan Arga? Di mana mas Kaisar, apa dia belum pulang?" }


"Arga ada bersama bude, tapi nak Kaisar belum kembali. Bude sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa."

__ADS_1


{" Bude tenang! Aku akan segera pulang. Tolong jaga Arga."}


Lisa segera memutuskan panggilan itu.


Dengan cepat ia bersiap akan segera pulang.


"Yuna kau mau kemana?" Tanya Viona.


"Aku harus segera pulang dok, warga menyerang rumah ku dan aku khawatir dengan keadaan putra ku dan bude Darmi." Sahut Lisa, dan langsung melangkahkan kakinya.


"Yuna, tunggu!" Bentak Viona, yang kembali menghentikan langkah Lisa.


"Apa kau akan pergi begitu saja, lihat! di sini banyak warga yang membutuhkan pertolongan, dan kau mau meninggalkan tanggung jawab mu." Sambung Viona.


"Tanggung jawab! Ketika aku di sini sedang berjuang membantu para warga, tapi sebagai dari mereka malah menyerang dan menghakimi keluarga ku. Apa aku masih harus berjuang dan bertanggung jawab untuk mereka?" Ucap Lisa. Yang juga membentak Viona.


"Yuna! Apa maksud mu?" Tanya Sintia, yang baru masuk dari ruangan itu.


"Warga menyerang dan menghakimi Farel juga Rizal, aku khawatir dengan Arga dan bude Darmi, karna mas Kaisar tidak ada di rumah."


"Astaga! Apa-apaan mereka, ketika di sini dalam keadaan darurat, mereka malah membuat keributan." Geram Sintia.


"Yuna, aku akan mengantar mu. Ayok kita pulang!" Ajak Sintia.


"Jadi kau juga akan meninggalkan tanggung jawab mu?" Bentak Viona pada Sintia.


"Maaf dokter, saya harus membantu Yuna, karna dia sahabat ku dan bude Darmi, Arga adalah keluarga ku." Tegas Sintia.


"Kalian!" Geram Viona.


Lisa dan Sintia tidak lagi memperdulikan omongan Viona. Mereka segera berlari menuju mobil.


Di sepanjang perjalanan Lisa juga mencoba menghubungi Kaisar.


"Kamu di mana mas!"


"Sintia, tolong lebih cepat lagi."


"Yuna tenangkan diri mu, berfikir positiflah, aku yakin mereka akan baik-baik saja." Ucap Sintia yang mencoba menenangkan Lisa.


Sintia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hingga hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka sampai di rumah.


Pemandangan di sana masih mencekam,


Mereka tengah menyeret bude Darmi yang masih menggendong Arga di pelukannya. Rupanya mereka mengetahui kalau Arga dan bude Darmi ada di dalam rumah.


Sedangkan Farel masih berusaha untuk melindungi keponakannya itu.


Tapi apa daya luka di tubuh Farel sudah cukup parah, hingga satu pukulan dari pria bertato itu mampu membuatnya tersungkur di samping Rizal yang sudah lebih dulu tumbang.


"APA YANG KALIAN LAKUKAN!" Teriak Lisa, dan langsung berlari menghampiri putranya.


Namun seseorang menghalangi nya, dengan mencekal lengan Lisa.


"Lepaskan aku bajingan!" Bentak Lisa.


"Diam! Yuna, saya tidak menyangka ternyata kau juga bagian dari mereka." ucap pria itu.


"Apa maksud kalian! Cepat lepaskan anak ku, aku tidak akan mengampuni kalian jika kalian berani menyentuh anak ku."


"Haa hahaa hahaa .... Orang-orang itu malah tertawa mendengar ancaman Lisa."


Sedangkan kepala desa pun tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tengah di ikat di sebuah pohon besar lantaran selalu menghalangi aksi mereka.


BUG....


Sintia menghajar orang yang menahan Lisa, menggunakan balok yang ia rampas dari salah satu warga.


Dengan cepat Lisa pun menendang pria itu di bagian sensitifnya, sehingga membuatnya kelojotan.

__ADS_1


"Kurang ajar!" Umpat pria itu sambil menahan rasa sakitnya.


"Aku harus menghajarnya."


"Jangan!" Tahan salah satu temannya.


"Bos akan marah besar pada kita, jika menyetuh wanita itu apa lagi sampai membuatnya terluka." Ucap temannya berbisik.


Dan.


BUG ...


BUG ...


BUG ....


Lisa kembali menghajar pria itu dengan balok kayu yang ia ambil dari tangan Sintia. Tanpa ada perlawanan sedikitpun dari pria.


"YUNA!" Teriak dari pria bertato.


Lisa dan Sintia melihat ke arahnya.


"Arga!"


Pria itu tersenyum puas, karna saat ini ia tengah menggendong bocah kecil itu. Tapi sedikit pun Arga tidak ketakutan apalagi menangis ia hanya menatap wajah pria itu.


"LEPASKAN ANAK KU!" Lisa kembali berteriak.


"Kalian berengsek, jangan hanya bisa mengancam. Turunkan anak itu dan hadapi kami dasar pengecut." Umpat Sintia.


"Saya tidak Sudi berkekahi dengan wanita." Jawab pria itu.


Dan ia segera membawa Arga,


"Jangan bawa anak ku!"


"Yuna. Kau tenang saja, saya tidak akan melukai anak mu ini. Kami hanya akan membawanya sebentar sampai Kaisar menjemput anak ini."


"Mamah, jangan menangis Alga tidak apa-apa! Papah akan menjemput Alga." Ucap anak itu.


"Arga sayang. Maafkan mamah!" Tangis Lisa pecah. Seiring langkah mereka yang membawa Arga. Dengan pisau di leher anak itu, sehingga Lisa tidak bisa berbuat apa-apa karna ia takut pisau itu akan melukai putranya jika ia berbuat nekad.


"Yuna." Sintia memeluk Lisa. Ia pun sama seperti Lisa takut untuk bertindak karena ancaman orang itu tidak main-main.


🍁🍁🍁


"Halo! Bos!"


{" Bagaimana? Apa berhasil?"} Tanya seseorang di sebrang sana.


" Belum bos, target tidak ada di tempat, tapi anda jangan khawatir kami pasti akan membereskan nya, kami menahan putranya. Dengan begitu dia pasti akan datang sendiri pada kami. Lalu kami akan mengeksekusinya."


{"Bagus! Lakukan se rapih mungkin, buat, seolah-olah itu adalah aksi massa, jangan sampai mereka curiga bahwa itu adalah rencana dari kita."}


"Beres bos!"


Firman menutup sambungan telepon itu.


Ya, dia adalah Firman. Orang yang berada di balik semua ini. Ia sengaja mengirim anak buahnya untuk menjadi provokator agar menyulut emosi warga. Dengan begitu rencananya menyingkirkan Kaisar akan aman, warga dan Lisa akan mengira kaisar meninggalkan karena di hakimi warga, dan namanya akan tetap indah di mata warga terutama Lisa.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu.


Arga yang tengah mereka dudukan di sebuah kursi, menatap mereka dengan intens sepertinya anak itu tengah meneliti wajah orang-orang yang membuat mamahnya menangis.


Tatapan Arga tidak seperti layaknya anak berumur tiga tahunan, yang sudah pasti menangis jika di culik seperti itu. Ia menatap wajah orang-orang itu dengan tatapan berbeda.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2