Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 92. Kaisar sangat menyayangi Julia


__ADS_3

"Siapa yang telah melakukan ini pada Anggel?" Sepanjang perjalanan, Julia hanya bergumam dengan kata-kata itu. Tentu karena ia di liputi rasa takut akan orangtua Anggel yang saat ini sedang berada di luar negeri.


🍁🍁🍁


Sementara itu Lisa dan Kaisar masih anteng dengan posisi saling berpelukan, mendengar cerita satu sama lain.


"Mas, bisa tolong lepaskan sebentar!" Ucap Lisa karna mulai tidak nyaman dengan posisi itu.


"Tidak! Seperti ini sangat nyaman." Tolak Kaisar.


"Tapi aku sulit untuk bernafas mas?"


Kaisar segera mengendurkan pelukannya.


"Mas, se sayang apa kamu pada nenek Julia?"


Tiba-tiba Lisa menanyakan itu.


"Kenapa?"


"Jawab saja mas."


"Mas, sangat menyayangi nenek Julia, sama seperti mas menyayangi almarhumah mamah Melissa."


"Jika, nenek Julia menyakiti hati mu, apa kamu akan memaafkannya mas?"


"Kenapa kau bicara seperti itu, nenek Julia sekali pun tidak pernah mengecewakan mas, apa lagi sampai menyakiti hati mas."


Kaisar benar-benar sangat mempercayai neneknya itu, hingga pasti sulit jika meyakinkan Kaisar tanpa sebuah bukit yang kuat.


Baiklah, untuk saat ini, sampai di sini dulu. Lisa akan sedikit demi sedikit membuka mata hati Kaisar, agar ia mempertanyakan kasih sayang seorang Julia.


Hening..


"Mas!"


"Emmm!"


Kaisar melepaskan pelukannya.


Ia menatap wajah Lisa dengan lembut.


"Terimakasih, sudah mau pertahanan dengan mas."


"Iya mas!" Lisa mengangguk dengan senyum manis dan lembut ia tunjukkan pada Kaisar.


Kaisar mencium seluruh wajah istrinya itu.


Sampai di tempat utamanya. Bibir!


Ia mencium istrinya dengan penuh kelembutan dan kemesraan.


Tapi dari ciuman itu Lisa merasakan hawa yang berbeda dari suaminya, tentu ini bukan hanya sekedar ciuman biasa, pasti ciuman itu akan berlanjut ke sesi selanjutnya.


Ciuman Hangat kini menjadi ciuman hot!


Perlahan Kaisar mendorong tubuh Lisa menuju ranjang mereka, tanpa melepaskan tautan bibir.


Bug.


Terjerembah lah mereka berdua di atas kasur yang empuk itu.


Kaisar semakin panas mencium bibir Lisa.


Hingga bukan hanya sekedar di bibirnya saja, kini bibir hangat milik lelaki itu sudah turun berada di ceruk Leher jenjang putih milik Lisa sedangkan tangannya sudah berkeliling kemana-kemana.


Kaisar melepaskan ciumannya.


Kedua nafas mereka saling memburu menghirup oksigen.


Dengan mata yang sayu dan nafas yang masih naik turun, Kaisar berkata.


"Mas sangat merindukan mu, sudah lama sekali kita tidak melakukan itu, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang!"


Sama seperti Kaisar, mata Lisa juga terlihat sangat sayu, mungkin karena merasakan sentuhan-sentuhan sensitif yang Kaisar berikan padanya.


"Aku ....!"

__ADS_1


"Uummph...!


Sebelum Lisa menjawabnya, Kaisar sudah lebih dulu mengunci bibir itu dengan ciuman mautnya.


Dengan ahli dan gesit, Kaisar mempreteli satu persatu kain yang menutupi tubuh Lisa.


Nafasnya semakin kejar-kejaran dengan wajah yang memerah ketika Kaisar melihat tubuh polos istrinya.


"Aku malu mas!" Lenguh Lisa, yang berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya.


Kaisar menarik tangan itu.


"Jangan pernah menutupinya, ketika mas sedang memandangnya."


Kaisar, dengan cepat menenggelamkan wajahnya di sana.


"Aah..Mas!"


"Mas, jangan mengigit nya!"


Setelah teriakan kecik itu.


Kini hanya lenguhan dan suara-suara yang bikin meremang dan merinding, yang terdengar di kamar itu.


Entah apa yang sedang mereka lakukan.


Sementara di balik pintu kamar mereka.


Bi Lilis membalikan badannya.


"Den Arga, kita main lagi aja yuk." Ajak bi Lilis yang membawa jauh serta Arga dari kamar itu.


Tentu saja bi Lilis harus membawa Arga jauh dari kamar itu, karena Arga tidak boleh mendengar suara-suara yang meresahkan itu.


"Tapi nek, Alga mau sama papah, papah udah janji mau ajak Alga jalan-jalan."


"Iya sayang, tapi mamah dan papah Arga masih belum selesai."


"Selesai apa?" Tanya anak itu bingung.


Yang di tanya jauh lebih bingung.


"Baik nek, Alga suka sama ikan yang warnanya hitam nek!" Girang Arga.


"Oya! Kalau begitu ayo kita kasih makan ikan-ikan itu."


Dan bi Lilis pun kembali meninggalkan lantai dua menuju lantai dasar.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Julia, kau dari mana?" Tanya Marwan, yang mendapati Julia baru memasuki ruangan keluarga di kediamannya. Kondisi Marwan sudah mulai membaik saat ini, stelah berminggu-minggu beliau sakit dan hanya berbaring di atas ranjang.


"Mas Marwan, apa kau sudah tau apa yang terjadi pada Anggel?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Julia justru bertanya balik dengan raut wajah yang pucat.


"Memangnya ada apa dengan gadis itu." Jawab Marwan dengan malas.


"Anggel, meninggal?"


"Meninggal!" Kejut Marwan.


Bukan hanya Marwan yang terkejut, Yuda dan Larasati yang ada di ruangan itu pun ikut terkejut dengan berita kematian Anggel.


"Dia di bunuh!" Sambung Julia.


"Astaga! Siapa yang tega melakukan itu pada Anggel!" Sahut Larasati.


"Tentu saja banyak orang yang akan tega melakukan itu pada wanita seperti Anggel!" Farel yang baru turun dari lantai atas, menyahut obrolan mereka.


Tatapan mata Julia, bagai sebuah silet yang ingin menggores Farel.


"Jaga mulutmu, anak tidak tau diri!"


"Hahaha, anda juga harus jaga kelakuan anda jika tidak mau bernasib seperti Anggel!"


"Farel!" Bentak Larasati. "Jaga bicaramu pada nenek Julia." Sambung Larasati.


"Nenek! Dia neneknya Kaisar, bukan nenek ku." Sahut Farel, Seraya melewati Julia begitu saja. Dan duduk di sebelah Larasati.

__ADS_1


"Mamah Julia ma...!"


"Diam kamu!" Bentak Julia yang memotong ucapan Larasati. "Itulah hasilnya, jika anak yang terlahir dari wanita murahan perebut suami orang seperti mu."


"JULIA!" Teriak Farel.


"Apa? kau mau perotes? tidak terima, memang benar kan kau anak dari hubungan terlarang ibu mu itu."


"CUKUP!"


Kali ini Yuda yang berteriak.


"Mamah Julia, stop untuk menyudutkan dan mengatakan hal yang tidak-tidak pada istri saya, dan asal mamah Julia tau saat itu kami tidak pernah berselingkuh." Tegas Yuda.


"Cih ... Orang akan mudah beralasan dan membela diri ketika sudah terlalu berdosa."


"Sekali lagi anda bicara seperti itu pada mamah saya, saya tidak akan segan-segan merobek mulut jahat mu itu!" Murka Farel.


"Haha.. Kamu lihat mas Marwan, ini kelakuan cucu mu yang tidak jelas ini, berbeda sekali dengan Kaisar."


"Cukup, hentikan keributan ini, kalian selalu saja meributkan persoalan yang sama." Ucap Marwan.


"Maafkan aku pah!" Sahut Larasati.


"Wanita sihir ini yang salah mah." Ketus Farel.


"Sudah nak." Larasati menenangkan putranya itu.


"Saya muak dengan drama kalian,"ucap Julia dan langsung berlalu menuju kamarnya di lantai atas.


Suasana masih memegang, terutama Farel di hatinya masih ada bara api yang memanas.


"Farel!" Panggil Marwan.


"Apa?" Jawabnya dengan ketus.


"Suruh Kaisar, dan kakak ipar mu datang ke sini."


"Kakek saja yang langsung mengatakannya, kenapa harus aku." Tolak Farel.


"Farel!" Larasati mantap anaknya itu.


"Baiklah." sahut Farel terpaksa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di mansion.


Kisar dan Lisa baru saja selesai melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan.


"Mas, Farel manyampaikan pesan dari Kakek Marwan, kita di minta ke rumah kakek." Ucap Lisa pada Kaisar yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kenapa dia mengirim pesan pada mu?" Sahut Kaisar.


"Aku tidak tau mas!"


"Tidak usah di balas, biarkan saja." Ketus Kaisar.


"Jadi kita ke rumah kakek atau tidak mas?"


Tidak! hari ini Mas mau mengajak Arga jalan-jalan."


"Iya mas."


"Ayo, cepat mandi kita berangkat secepatnya,"ucap Kaisar seraya menarik lengan Lisa ke dalam kamar mandi.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Tuan, semuanya sudah siap. Saya juga sudah menyiapkan rumah untuk tuan yang lokasinya tidak jauh dari kediaman Marwan."


"Bagus, kita berangkat sekarang."


"Baik tuan."


Dan Firman pun berangkat bersama asistennya, menuju rumah baru mereka yang letaknya tidak jauh dari kediaman Marwan, Firman senaja memilih tempat itu agar bisa dekat dengan Julia.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗😘😘😘😘❤️❤️


__ADS_2