Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 54. Mulai menunjukkan siapa dirinya.


__ADS_3

"Dok .... Dokter .....!" Dengan panik Sintia berlari menuju ruangan Firman dan tanpa mengetuk pintu ia segera menerobosnya.


"Ada apa?" Kejut Firman.


Sintia mengatur nafasnya yang tersengal.


"Dok, beberapa warga mengalami mual dan muntah bahkan ada yang sampai tidak sadarkan diri."


"Apa!"


"Mereka harus segera mendapatkan pertolongan dok."


Firman segera bangkit dari duduknya.


"Kau siapkan semuanya dan segera hubungi dokter Viona." Titahnya dan segera keluar dari ruangannya.


Di ikuti Sintia di belakangnya yang sambil merogoh ponselnya untuk menghubungi Viona dan Lisa.


Pemandangan mencekam sangat nampak di klinik itu, klinik yang bisanya sepi kini ramai di lalui orang-orang dalam ke adaan panik, yang berlarian kesana-kemari.


Suara jeritan, dan tangisan memenuhi beberapa ruangan yang ada di klinik.


"Dokter tolong selamatkan anak saya dok. Saya mohon dokter."


Seorang ibu dengan wajah yang di penuhi linangan air mata tengah memohon pada Firman.


Baik Firman ataupun Viona tidak ada yang berani menatap wajah pilu ibu itu, yang baru beberapa menit yang lalu kehilangan putranya.


"Maafkan kami Bu." Hanya itulah kata-kata yang keluar dari bibir ke dua dokter yang sudah mengabdikan diri di klinik itu selama bertahun-tahun.


"Ikhlas kan Bu." Sambungnya.


"TIDAK! Dokter tolong periksa sekali lagi anak saya dok, tolong periksa sekali lagi dia pasti akan bangun dok , tolong putra saya dok."


Ibu itu semakin histeris, hingga tidak bisa mengontrol diri. Ia meraung menangis tidak bisa menerima jika anaknya yang masih sangat kecil harus mendahului dengan cara seperti itu.


Beberapa warga kembali berdatangan hingga memenuhi setiap ruangan yang ada di klinik. Mereka datang dalam kondisi sangat memprihatikan, Dengan gejala yang hampir sama mulai dari pusing mual muntah lalu pingsan bahkan sampai meninggal.


Ketiga pengabdi klinik itu bekerja dengan sangat ekstra, namu karena banyaknya pasien membuat mereka kewalahan.


.


"Apa kau sudah menghubungi Yuna?" Tanya Firman disela-sela kesibukannya yang menangani para pasien.


"Sudah dok, Yuna sedang dalam perjalanan."


🍁🍁


Tak lama Lisa pun sampai di klinik itu.


Dia segera bergegas menuju klinik sesaat setelah mendapat kabar dari Sintia, bahkan ia tidak sempat untuk meminta ijin pada Kaisar yang tadi melarangnya untuk keluar rumah.


Lisa berlari di tengah kekacauan.


"Kak Yuna! Tolong kakek saya ka." Seorang anak menarik lengan Lisa.


"Tenang sayang, di mana kakek mu?"


"Di sana ka, sebelum sampai sini kakek terjatuh dan tidak mau membuka matanya lagi hu ... Hu hu hu...!" Ucap anak itu dengan tangis yang menyayat.


Lisa memeluk anak itu.


"Sekarang mari kita lihat kakek mu."


Dengan cepat Lisa dan anak itu menuju si kakek yang ternyata berada di tengah jalan jaraknya sekitar 50 meter dari klinik.


Lisa menekan pergelangan tangan kakek itu dan meletakkan kedua jarinya di leher kakek.


Dag ...


Meninggal!


Hati Lisa seperti tertusuk benda tajam.


Ia segera memeluk anak itu dengan erat.


"bagaimana dengan kakek ku ka Yuna?"


Lisa tidak menjawabnya ia hanya menggeleng sambil memeluk anak itu


🍁🍁


Dengan penanganan yang cepat di lakukan oleh Firman, di bantu Lisa dan yang lainnya


Akhirnya.


Ke kepanikan mulai mereda.


mereka sudah mendirikan tenda darurat untuk menampung pasien, karena ruang yang tidak mencukupi.


beberapa warga yang meninggal dunia, tengah dalam pengurusan.


"Apa sebenarnya yang terjadi.!"


"Dari gejalanya, kemungkinan besar mereka keracunan, racun yang menyebar di tubuh mereka sangat cepat dan teramat berbahaya, kita akan mengambil beberapa sampel untuk di bawa k lab yang ada di kota.".


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


BUG ....

__ADS_1


BUG ....


Kaisar kembali melanjutkan permainannya, menghajar kedua orang telah Jhon tangkap.


Setelah puas ia melepaskan cengkeramannya. Dan melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Jhon kau urus mereka, jangan kau buat mereka tutup usia dulu, karena aku masih belum puas bermain-main dengannya."


"Baik tuan."


Kaisar melangkahkan kakinya keluar dari gudang itu.


Dan segera memasuki mobilnya. Ia harus segera pulang Lisa menunggunya di rumah, itulah yang ada di pikirannya.


🍁🍁🍁🍁


20 menit kemudian Kaisar sampai di rumah.


Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah.


Sepi tidak ada siapapun di dalam. Kaisar kembali melangkah menuju kamarnya, Lisa dan Arga pasti ada di kamar.


"Haha... Haha.. gambal apa itu om."


Kaisar mendengar suara tawa Arga dari dalam kamar Farel.


"Kenapa Arga ada di kamar Farel."


Tok ... Tok ... Tok ...


"Farel buka pintunya."


Ckleeek....


Farel muncul dari balik pintu.


"Arga! Ini papah mu sudah kembali." Seru Farel.


"Kenapa Arga bisa bersamamu ? Di mana Lisa?"


"Kakak ipar yang menitipkan nya pada ku, dan dia pergi ke klinik. Mungkin untuk menemui dokter itu."


Wajah Kaisar memerah bagai bara api. Ia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat.


"Papah!"


Arga muncul dari balik pintu kamar Farel.


Sedikit meredakan panas di dada Kaisar.


"Sayang ayo sama papah." Ajaknya.


Arga mendekat, dan Kaisar langsung menggendongnya.


Farel mengangguk dan membalas lambaian tangan Arga.


Kaisar membawa Arga masuk kedalam kamarnya.


Ia meletakkan Arga di atas ranjang.


Percayalah, kalau saat ini Kaisar sedang menahan amarahnya pada Lisa.


Yang berani-beraninya keluar dari rumah tanpa seijin nya dan yang paling membuat Kaisar marah Lisa pergi ke klinik, dan sudah pasti akan bertemu dokter yang menjadi target penyelidikan Kaisar.


Kaisar merogoh ponselnya.


Dan mengusap layar yang ada di ponsel itu. Ia sedang melakukan panggilan pada Lisa.


Di panggil pertama dan kedua Lisa tidak menjawabnya.


Membuat Kaisar semakin geram.


Hingga di panggilan ke tiga.


{" Halo! Ada apa mas?"}


Suara Lisa terdengar dari sebarang sana.


"Di mana kau?" Tanya Kaisar yang sedang menahan emosinya.


{"Maafkan aku mas, aku berada di klinik, ada masalah besar di sini mas, beberapa warga mengalami keracunan parah."}


Lisa mencoba menjelaskannya.


Kaisar mulai mengatur nafasnya yang tengah turun naik. Agar ia tidak sampai lepas kontrol pada Lisa, yang hanya akan membuat Lisa takut padanya.


"Baiklah, mas akan menjemput mu."


TUT ....


Kaisar mematikan panggilan itu tanpa menunggu jawaban dari Lisa.


Ia merebahkan diri di samping Arga, dan mulai mengusap-usap rambut anak itu dengan lembut.


Beberapa menit kemudian Arga tertidur dalam dekapan Kaisar.


Kaisar menciumi wajah putranya itu.


"Papah mau menjemput mamah mu dulu ya." Ucapnya pada Arga yang tengah tertidur.

__ADS_1


Kaisar keluar dari Kamarnya. Bertepatan dengan Jhon yang baru saja kembali.


"Jhon aku titip Arga, dia sedang tidur di kamarnya."


"Baik tuan."


"Tuan mau kemana?"


"Menjemput Lisa."


Kaisar kembali mengendarai mobilnya menuju klinik.


🍁🍁🍁🍁🍁


Sampai di klinik.


Orang yang pertama Kaisar lihat adalah Firman. ia tengah melakukan panggilan pada seseorang.


Kenapa setiap melakukan panggilan dia selalu menjauh dari kerumunan.


Firman menangkap Kaisar dengan matanya, Firman segera menutup telponnya dan berjalan menghampiri Kaisar.


"Untuk apa anda datang ke sini?" Tanyanya pada Kaisar.


"Tentu saja untuk menjemput istri ku." Jawabnya Kaisar.


"Bukankah kau seharusnya anda berada di balik jeruji besi?"


"Haha ... harapan anda untuk memenjarakan saya tidak akan pernah berhasil dokter." Sinis Kaisar.


"Seharusnya anda yang berada di dalam penjara, Firman!" Sambung Kaisar.


Mendengar penuturan Kaisar, Firman hanya menyunggingkan senyum Kecil di bibirnya.


Firman nampak begitu tenang dengan ekspresi wajah seperti biasanya.


Sehingga membuat Kaisar sulit menganalisa dari ekspresi wajah.


"Apa anda sedang membual tuan Kaisar?" Tanya Firman, dengan tenang.


"Jiwa iblis, yang anda sembunyikan di balik jubah putih itu, sama sekali tidak bisa menipu saya." Sahut Kaisar.


"Hanya satu orang yang mengetahui jiwa iblis saya di antara ribuan orang, tidak masalah bagi saya." Sahutnya.


Sepertinya Firman mulai menunjukkan siapa dirinya pada Kaisar.


"Bahkan istrimu telah menganggap ku sebagai dewa penolong baginya." Sambung Firman, di sertai senyum mencurigakan yang terukir di bibirnya.


"Dan saya yang akan membuka kedok mu itu, anda tau, kedua pria yang anda utus untuk membunuh suami istri itu. Berada dalam kendali saya." Ucap Kaisar, yang di bumbui senyum puas.


Air muka Firman sekita berubah.


Tapi dengan cepat ia menetralkan nya kembali.


"Kalau begitu, kita akan memulai permainannya." Sahutnya.


"Mas!"


Lisa datang.


"Kenapa kau kesini mas?"


"Menjemput mu, bukankah kau sedang sakit, tapi kenapa malah Bekerja."


"Maafkan saya tuan Kaisar, saya yang meminta Yuna untuk datang ke klinik karna ke adaan darurat." Ucap Firman, dengan senyum ramah yang ia tunjukkan.


Pandai sekali dia berpura-pura seperti itu.


" Dokter tidak perlu meminta maaf seperti itu, ini sudah tugas ku." Sahut Lisa.


Firman tersenyum puas. Ia akan tetap di kenal sebagai pahlawan untuk Lisa, dan dewa penolong bagi warga desa.


Ini baru permulaan saja Kaisar, karna permainan yang sesungguhnya akan segera di mulai, keluarga mu akan merasakan apa yang aku rasakan selama puluhan tahun. Batin Firman.


Tentu akan sulit untuk Kaisar meyakinkan semua orang, jika memang benar Firman lah yang melakukannya.


Jhon benar, Ia harus mengumpulkan cukup bukti untuk meyakinkan semua orang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Ada apa ini?" Kejut Farel, ketika rombongan orang mendatangi kantornya.


Farel di seret paksa ke balai desa oleh para warga yang tengah berada dalam puncak emosi.


Ia di tuduh penyebab keracunan yang melanda para warga hingga menyebabkan korban jiwa.


"Apa kalian mempunyai bukti, kalau saya yang meracuni mereka?" Ucap Farel.


"Buktinya sudah kuat, sebelum kedatangan mereka desa kita tentram dan damai. Tapi setelah mereka datang semuanya menjadi kacau bahkan sampai menimbulkan korban jiwa, mereka senaja melakukan itu untuk menyingkirkan kita dari desa ini, agar pembangunan pabrik itu tetap terlaksana." Ucap salah satu warga. Memprovokasi.


"Betul."


"Betul."


"Benar itu."


Dan masih banyak lagi suara-suara dari para warga yang bersahutan.


Sementara seseorang yang tengah berdiri di bawah pohon besar menyunggingkan senyum puas di bibirnya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗


__ADS_2