Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 104. Mengaku.


__ADS_3

Tanpa memperdulikan panggilan dari Jhon, Kaisar berjalan cepat menuju mobilnya.


"Tuan, tunggu saya!" teriak Jhon, sambil berlari mengejar Kaisar.


"Berikan kunci mobilnya nya Jhon!" pinta Kaisar, pada Jhon yang kini sudah ada di hadapannya.


"Maaf tuan, biar saya saja yang menyetir mobilnya, anda silahkan masuk,"ucap Jhon, sambil membuka pintu mobil untuk Kaisar.


Dan Kaisar pun, mau tidak mau harus mendengarkan Jhon.


Selama di perjalanan Jhon hanya memperhatikan Kaisar, lewat kaca kecil yang mengarah pada Kaisar, dan terlihat sangat jelas wajah Kaisar, yang memerah dan gelisah.


Tentu saja lelaki itu merasa gelisah, karna ini menyangkut orang tersayangnya Julia.


"Tuan ....An ..!"


"Tidak Jhon!"potong Kaisar. "Jangan katakan apapun, sebelum kita mendengarnya langsung dari nenek Julia, lebih baik kau tambah kecepatan mobil ini, agar kita bisa cepat sampai di rumah kakek Marwan."


"Baik tuan, tapi saya minta, apapun yang Nyonya Julia katakan, tetep tenangkan lah diri anda."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di Mansion.


Seperti permintaan Lisa, Farel dan Sintia tiba di Mansion.


Lisa memberikan obat yang ia temukan di kamarnya.


Dugaan mereka sama, itu pasti bukan sembarang obat, dan Sintia berniat membawa Sampel obat itu untuk diperiksa lebih lanjut.


"Kau tenang saja Lisa, aku akan membawa hasilnya malam ini juga." Yakin Sintia.


"Aku percayakan ini semua pada kalian, terutama kamu Farel, kita harus menyelamatkan keluarga kita dari dendam Julia,"ucap Lisa, yang ia tunjukkan pada Farel.


"Aku mengerti,"sahut Farel.


Farel saat ini masih nampak terkejut dengan cerita Lisa, bahwa Julia adalah ibu kandung Rafi atau yang dia kenal sebagai Firman.


"Baiklah, kalau begitu kita pamit, kau jaga dirimu baik-baik di sini terutama Arga,"ujar Sintia.


"Kau jangan khawatir, Mansion ini tempat yang aman, aku dan Arga pasti akan baik-baik saja." Sahut Lisa.


Sintia dan Farel pun meninggalkan Mansion itu.


🍁🍁🍁🍁


Di kediaman Marwan.


Julia baru saja melakukan panggilan pada orang-orang terpercayanya.


Ia memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk menyerang Mansion Kaisar, tentu targetnya Lisa dan Arga, Julia tau jika Kaisar tidak ada di Mansionnya, tapi Julia tidak tau jika ternyata Kaisar menemui anaknya.


Tok .... Tok ...


"Nyonya! Nyonya Julia!"


Tok ... Tok ..


"Nyonya Julia!"


Suara panik dari seorang wanita di balik pintu, membuat Julia mengembangkan senyumnya.


Ia dengan santai berjalan dan membuka pintu kamarnya.


CKLEK...


"Ada apa?"tanya Julia, pada seorang wanita paruh baya yang biasa bertugas memasak di keluarga itu.


"Tuan Nyonya! Tuan Marwan, tiba-tiba mengalami kejang-kejang, beliau sekarang berada di ruangan keluarga,"ucap wanita itu dengan panik dan ketakutan.


Berbeda sekali dengan Julia, yang menanggapinya dengan sangat santai.


"Memengnya di mana Sanusi?"


"Sanusi, tidak ada di rumah Nyonya, beberapa jam yang lalu tuan Marwan meminta Sanusi keluar."


"Baiklah, kau urus saja dulu, aku akan menyusul,"ujar Julia dan hendak menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


"Tapi Nyonya!"


"Ada apa!" Bentak Julia.


"Apa tidak sebaiknya kita membawa tuan Marwan ke rumah sakit, atau memanggil dokter keluarga?"


"Tidak perlu, cepat! Urus dia." Tegas Julia, dan segera menutup pintu kamarnya dengan kuat.


"Sepertinya obat itu sudah beraksi, pada si tua bangka itu, bagus ini akan memudahkan semuanya." Gumam Julia senang.


🍁


Di bantu dengan para pengawal, Marwan yang sudah tidak sadarkan diri di baringkan di ranjangnya.


"Sekarang kalian cepat keluar, biar aku yang mengurusnya." Titah Julia.


"Tapi Nyonya, apa anda yakin tidak ingin membawa Tuan Marwan ke rumah sakit atau memanggil dokter?"


"Aku bilang tidak! Ya tidak, sekarang kalian cepat keluar dari sini." Bentak Julia, dengan mata yang melebar.


Setelah kepergian para pengawal dan pelayanan dari kamarnya, Julia segera menutup pintu itu dengan rapat, dan ia melangkahkan kakinya mendekati Marwan yang tengah terbaring.


Ia mengusap-usap rambut Marwan, seperti seseorang yang sedang menyalurkan kasih sayangnya.


Tapi usapan lembut Julia di iringi dengan senyum tipis di bibirnya.


"Maafkan aku mas, aku terpaksa melakukan ini semua, aku tidak bisa jika harus kehilangan Kaisar, aku tidak mau jika anak yang aku rawat selama bertahun-tahun, tiba-tiba membenciku." Ucap Julia, yang tanpa ia sadari ada bulir bening yang mengalir di ujung matanya.


🍁


Sementara itu di lantai bawah terjadi kegaduhan.


Karna kedatangan Kaisar yang sudah seperti tornado yang menerjang rumah besar itu.


Tap..


Tap.


Tap.


Padahal mereka hanya sekedar menyapa dan menyambut kedatangannya, tapi Kaisar merespon seolah mereka adalah musuh bebuyutannya.


"Tu ... Tuan Kai ...!" Sapa salah satu pengawal dengan gemetar, ketika langkah kaki Kaisar sudah berada di batas anak tangga.


"Ada apa!" Bentak Kaisar.


Yang membuat pengawal itu terkejut dan semakin menciut di hadapan Kaisar.


"Tidak tuan."


Padahal pengawal itu hendak menyampaikan, kondisi Marwan padanya.


"Minggir!"


Kaisar mendorong tubuh besar pengawal itu hanya dengan satu tangan, dan kembali melangkahkan menuju kamar Julia.


Kaisar mendorong pintu yang ternyata terkunci dari dalam.


Kaisar mengatur nafasnya dan memejamkan mata untuk beberapa saat.


Ia mengetuk pintu kamar itu dengan sangat keras sambil berteriak.


"NEK! NENEK, BUKA PINTUNYA!"


Julia yang berada di dalam kamar tentu sangat terkejut mendengar gedoran pintu dan teriakan seseorang dari luar kamarnya.


"Itu seperti suara Kaisar, ada apa tiba-tiba dia datang kesini!"


Dengan cepat Julia membuka pintu kamarnya.


CKLEEEK...


Pintu terbuka hanya sebagian, tapi dengan tangannya Kaisar mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, dan terlihat dengan jelas wanita yang ia hormat selama ini.


Melihat wajah Kaisar yang memerah dengan nafas yang memburu, Julia sudah bisa menebak jika terjadi sesuatu pada lelaki yang ada di hadapannya.


"Kai, kau kenapa nak?"tanya Julia khawatir.

__ADS_1


Tanpa basa-basi Kaisar pun bertanya.


"Siapa Rafi?"


DEG.


Dua kata yang keluar dari bibir Kaisar, mampu mengguncangkan hati Julia.


Dengan cepat ia kembali menetralkan hatinya, mungkin Kaisar salah ucap, itu yang Julia yakini.


"Kai!"


"Cepat katakan siapa itu Rafi?" Kaisar kembali mengulangi pertanyaannya, tapi kali ini dengan nada tinggi, tapi menekan.


"Apa maksud mu nak? Rafi! Siapa itu Rafi!"sahut Julia dengan kepura-puraannya.


"Nyonya Julia, anda tidak perlu lagi untuk menutupi semuanya, karna tuan Kaisar sudah mengetahui semua."


Jhon muncul dari belakang punggung Kaisar.


"Apa maksud mu Jhon!" Bentak Julia.


"Nyonya, sebaiknya anda Jawab saja pertanyaan tuan Kaisar, tanpa harus berbelit-belit seperti ini." Sahut Jhon penuh dengan penekanan.


Julia menajamkan matanya, dan ia arahkan pada Jhon berharap pria gagah itu takut padanya.


"Apa yang di katakan Jhon benar, lebih baik nenek katakan saja siapa itu Rafi, anak laki-laki yang diam-diam sering mendatang rumah kita, beberapa tahun yang lalu,"ujar Kaisar, tanpa menatap wajah Julia, karna ia tidak sanggup jika Julia membenarkan semua itu.


Diam.


Dan diam.


Hanya itu yang bisa Julia lakukan, ia belum mempersiapkan hati untuk ini semua.


"JAWAB PERTANYAAN KU NEK?" Teriak Kaisar, tepat di wajah Julia.


Mendengar teriakkan yang menggelegar dari Kaisar, Julia menitihkan air matanya.


Ini pertama kali, Kaisar berteriak sekeras itu di hadapannya.


" Hikss... Hikss ... Hiks.... Kai..!" Julia terisak sambil memegangi dadanya yang mungkin terasa sesak.


Lama-lama tangis Julia pecah, membuat Kaisar menjadi bingung dan merasa bersalah.


Tapi ini harus ia lakukan, ia harus kuat, dan juga ia harus segera mengetahui semua kebenarannya sekarang juga.


Julia yang hampir ambruk, karna tubuhnya yang bergetar sambil terisak-isak, segera diraih oleh Jhon.


Sedangkan Kaisar hanya diam tanpa respon apapun.


Jhon membawa Julia duduk di sofa, yang letaknya tidak jauh dari pintu kamarnya.


"Nyonya, lebih baik anda jujur saja pada tuan Kaisar, karena seperti apapun anda menyembunyikannya tuan Kaisar pasti akan mengetahuinya, tuan Kai, akan mencari tau semua termasuk persekongkolan anda dengan putra anda itu,"bisik Jhon, tepat di telinga Julia.


Julia mendelikan matanya pada Jhon, dan di balas senyum sinis oleh pria itu.


Julia beralih menatap Kaisar, yang masih berdiri di tempatnya.


Entah apa yang ada di pikiran wanita itu.


"Kai,"lirih Julia. "Maafkan nenek."


"Apa benar Rafi anak mu?"


Dengan kesiapan hati yang besar, Kaisar menayangkan apa yang harus ia pastikan.


Sambil berlinang air mata yang membanjiri pipinya dan suara yang semakin terisak, Julia mengangguk.


"Itu benar Kai, Rafi adalah anak kandung nenek."


JLEEEBB....


Bagaikan di tusuk mata pisau, yang telah di asah puluhan kali, dada Kaisar begitu terasa nyeri.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘

__ADS_1


__ADS_2