Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 117. Melamar Sintia untuk Farel.


__ADS_3

Mereka pun sampai di Apartemen yang di tinggali Sintia.


"Bukankah ini Apartemen milik Farel, kenapa teman mu bisa tinggal di sini?" Tanya Kaisar bingung.


"Aku juga tidak tau mas, tapi ini alamat yang Sintia berikan padaku, ayo mas kita masuk!"


"Iya,"sahut Kaisar, dan segera menggendong Arga.


Sebelum Lisa menekan Bel pintu Apartemen, Sintia sudah lebih dulu membukanya.


"Akhirnya kau datang juga,"ucap Sintia lega,


"Ada apa?"


"Ayok cepat masuk kedalam." Ajak Sintia.


"Tunggu!" Cegah Kaisar, Ia menatap Sintia penuh arti. "Kenapa kau bisa tinggal di Apartemen Farel? Apa dia yang mengijinkan mu tinggal di sini? Atau jangan-jangan kalian berdua tinggal bersama?"


"Apa maksud mu, aku memeng tinggal di sini, dan Farel yang mengijinkan ku tapi aku tidak tinggal bersama Farel, kau jangan bicara sembarangan." Ketus Sintia.


"Sudah mas, kenapa jadi membahas itu, Sintia tidak mungkin tinggal bersama Farel."


"Sintia, siapa mereka?"


Seorang wanita keluar dari dalam Apartemen, di susul dengan dua orang pria di belakangnya.


Lisa dan Kaisar menatap ketiga orang itu, dengan tatapan penuh tanya yang ia arahkan pada Sintia.


"Apa Farel, juga yang menginginkan mereka tinggal di sini?" Tanya Sinis Kaisar, pada Sintia.


"Mas, sudah mas!"


"Lisa, ini masalah yang aku katakan pada mu,"sahut Sintia.


"Sintia! Mamah bertanya Mereka ini siapa? Kamu malah bisik-bisik!" Kesal wanita yang baru keluar dari dalam Apartemen, yang ternyata adalah ibu dari Sintia.


Kaisar maju selangkah mendekati wanita itu.


"Berani sekali anda meninggikan suara di hadapan Saya, seharusnya Saya yang bertanya kalian ini siapa?" Ucap Kaisar, yang tak terima.


"Dia mamah ku,"saut Sintia.


"Pantas saja anaknya seperti dia, ternya ibunya seperti ini!" Cibir Kaisar.


"Mas, sudah mas, kenapa kau selalu kesal pada Sintia."


"Sintia tolong jelaskan ini sebenarnya ada apa?" Tanya Lisa.


🍁


Dan kini mereka duduk saling berhadapan.


dan Sintia menceritakan semua permasalahannya.


Jadi! sebenarnya Sintia senaja menghindari keluarganya, sampai ia rela di pindah tugaskan ke desa terpencil, setelah kembali ke kota pun Sintia enggan menemui keluarganya, mungkin ia sama seperti Lisa, sama-sama menghindari keluarganya. Tapi alasan Sintia berbeda.


Ia menghindar dari keluarganya karena ia tengah menghindari perjodohan yang ibunya inginkan.


Sintia ingin di nikahkan dengan seorang pria mapan dan Tampa itu versi ibunya, tapi menurut Sintia pria itu adalah pria yang sudah berumur banyak dan tak layak.


Maksudnya tak layak menjadi suaminya, pria itu lebih cocok menjadi bapaknya.


Tapi sepandai-pandainya Sintia bersembunyi, akhirnya sang ibu menemukan keberadaannya.


"Sudah Sintia, kau tidak bisa lagi menghindari dan menolak perjodohan ini, sudah beberapa tahun kau menghilang dan selama itu pula Bram menunggu mu, dia sangat setia menanti mu Sintia, lelaki seperti apa lagi yang kau cari, jika seorang pria yang tampan dan mapan seperti Bram menginginkan mu."


"Tapi mah!"


"Tidak ada tapi-tapian, pokonya kau harus menikah dengan Bram, jika tidak kau akan mamah coret dari daftar kartu keluarga."


"Astaga mamah kejam sekali."


Dan kini Sintia beralih pada Lisa.


"Lisa tolong aku, bantu aku untuk menggagalkan perjodohan ini, aku tidak mau menikah,"bisik Sintia.


"Kenapa? Bukankah kau pernah bilang pada ku jika sudah siap menikah, apa lagi pria yang mamah mu pilihkan, seperti cocok untuk mu."


"Cocok bagaimana, kau lihat pria yang tengah duduk di sebelah mamah ku, pria yang memiliki rambut hanya di bagian belakangnya saja, dan perut seperti seorang wanita yang tengah hamil 8 bulan, apa itu cocok untuk ku?" Kesal Sintia, tapi ia masih mengatakannya dengan cara berbisik.


Lisa terkejut!


Ia menatap pria yang tengah duduk persis di sebelah kanan Ibunya Sintia.


Aaah ... jadi seperti itu, sosok pria yang tampan dan mapan, untung saja dulu aku tidak pernah mendambakan sosok pria mapan dan Tampan.


Lisa kini tengah berfikir bagaimana caranya, agar sahabatnya itu tidak menikah dengan pria , yang lebih pantas menjadi ayahnya.


Sementara Kaisar, ia sama sekali tidak memperdulikan obrolan panas yang ada di hadapannya, ia bersama Arga tengah asik menyelami dunia mereka sendiri.

__ADS_1


Lisa melirik Kaisar.


"Mas."


"Sayang, mas tidak mau mencampuri urusan rumah tangga orang lain," sahutnya cepat.


Rumah tangga! apa dia menganggap di sini tengah terjadi konflik rumah tangga.


"Sintia, kau tidak perlu memikirkannya lagi percayalah pada mamah, Bram adalah pria yang tepat bagi mu, apa lagi sekarang kau tidak mempunyai kekasih kan jadi untuk apa lagi kau berfikir."


Kekasih.


Lisa mulai menyunggingkan senyum di ujung bibirnya.


"Maaf nyonya...!"


"Saya Meri, panggil saja saya Tante Meri,"ucap Meri ibunya Sintia, yang baru memperkenalkan diri.


"Iya Tante Meri, perkenalkan nama saya Lisa, teman Sintia, maaf Tante sepertinya anda tidak bisa menikahkan Sintia dengan lelaki pilihan Anda."


"Kenapa tidak bisa?"


"Karena, Sintia sudah menjadi calon menantu di keluarga kami, iya kan Mas?"


Kaisar terkejut! Karena tiba-tiba Lisa meraih tangannya meminta dukungan.


"Apa, menantu!"


"Iya mas, masa kau lupa,"ucap Lisa, dengan senyum dan kedipan mata yang penuh harap pada Kaisar.


Kaisar mengangguk.


"Iya."


"Apa maksud kalian?"


"Tante, Sintia ini adalah kekasih dari adik ipar ku, yang tak lain adalah adik dari suami ku, Sintia sudah menjadi calon menantu keluarga Airlangga Wijaya."


"Apa! Keluarga Airlangga Wijaya!" Seru Meri, yang sangat terkejut.


Begitupun dengan kedua pria yang ada di sampingnya.


Siapa yang tidak mengenal nama Airlangga Wijaya, nama ini sudah populer di kalangan pebisnis.


Sintia membelalakkan matanya.


Pria yang bernama Bram itu dengan cepat berdiri, dan menundukkan kepalanya pada Kaisar.


"Maafkan saya tuan Airlangga, Saya tidak tau jika wanita yang akan di jodohkan dengan saya adalah calon menantu di keluarga Airlangga, dengan ini saya menyatakan, bahwa saya tidak akan meneruskannya perjodohan ini,"ucap Pria itu.


Kaisar hanya mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi tua nyonya, karna masih banyak pekerjaan saya di kantor."


"Iya silahkan."


Dan pria yang di duga bernama Bram itu mengambil langkah seribu.


Dari pada ia terlibat konflik dengan keluarga Airlangga apa lagi putra sulungnya itu, yang membuat perusahaannya akan hancur dalam tempo singkat, lebih baik ia kehilangan harapan dan mimpinya untuk mempersunting Sintia.


Begitupun dengan Meri ia terkejut dengan penuturan Lisa.


"Kalian tidak sedang membohongi ku kan?" Tanya Meri, menyelidik.


"Tentu saja tidak Tante, benar kan Sin?"


"Iya mah Lisa benar."


Dan pada akhirnya Meri pun bersedia membatalkan perjodohan itu, tapi dengan syarat.


Jika benar Sintia kekasih salah satu dari keturunan keluarga Airlangga, ia ingin Sintia membawa lelaki itu di hadapannya.


Mungkin sebenarnya Meri ragu dengan ucapan mereka.


🍁🍁🍁🍁


Setelah bertemu dengan ibunda Sintia, kini Lisa dan Kaisar beserta Arga, sudah kembali ke Mansion.


Saat ini mereka tengah merebahkan diri di atas ranjang.


"Mas, bisa kau menolong ku,"pinta Lisa lirih,


"Apa sayang, kau memikirkan soal teman mu itu?"


"Iya mas."


"Mas, sangat cemburu pada teman mu itu, kau tidak boleh memikirkannya,"


"Kenapa kau bicara seperti itu mas, aku memikirkan ucapan ku tadi, yang mengatakan Bahwa Sintia calon menantu keluarga mu."

__ADS_1


"Sudah tidak usah memikirkannya, Mas akan menyelesaikan semua, sekarang peluklah suamimu ini!"


Lisa segera menggeser tubuhnya dan memeluk Kaisar.


"Terimakasih mas."


"Jangan pernah memikirkan orang lain, kau hanya boleh memikirkan Mas dan Arga saja."


🍁🍁🍁🍁🍁


Di pagi hari.


Sebelum ke rumah sakit, Lisa terlebih dahulu mengunjungi kediaman Yuda.


Ia menyampaikan tentang kondisi ayahnya saat ini.


"Kau yang sabar ya nak, mamah yakin ayahmu pasti segera sembuh dan sehat kembali, dan mamah sangat bangga pada mu, kau sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga besar kita,"ucap Larasati, dengan memeluk Lisa.


"Siang nanti mamah dan papah, akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahmu."


"Terimakasih mah."


"Mah."


"Iya, ada apa sayang, kenapa wajah mu di tekuk seperti itu apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Larasati yang mulai khawatir.


"Aku baik-baik saja mah, hanya ada sesuatu yang ingin ku sampaikan."


"Katakanlah."


Lisa menceritakan semua rentetan kejadian semalam, hingga ia terpaksa membawa nama keluarga Airlangga, untuk membantu Sintia.


"Jadi, maksudnya....!"


"Maksudnya, Farel harus memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Sintia, dan bila perlu mereka segera menikah,"potong Kaisar.


"Apa?" Farel terkejut. "Yang benar saja, Kau tidak bisa seenaknya menyuruh ku Kai,"protes Farel.


"Jadi kau tidak mau?" Tanya Kaisar.


"Aku butuh waktu untuk berpikir."


"Kau mau berfikir apa lagi, bukankah kau juga menyukai wanita itu, bahkan kau sampai membiarkan dia tinggal di Apartemen mu."


"Apa! Kau mengajak Sintia tinggal di Apartemen mu?" Kaget Yuda, yang menatap tajam Farel.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak pah, aku hanya menolongnya dan memberi dia tumpangan." Elak Farel.


"Jika hendak menolong lakukan sampai tuntas." Sahut Kaisar.


"Apa maksud mu Kai?"


Kaisar mengedikan bahunya.


"Farel, kau harus menikah dengan Sintia,"ucap Yuda.


"Menikah! Papah yang benar saja,"


"Jika kau menolak, papa akan menjodohkan Sintia dan Jhon, bukankah Jhon juga keluarga Airlangga, bukankah papah sudah mengatakan ini sebelumnya pada mu."


"Tidak! Jangan jodohkan dia dengan Jhon,"sahut Farel cepat.


"Sudah ku duga, sebenarnya kau menyukai wanita itu kan, sampai-sampai kau memberikan Apartemen mu,"gumam Kaisar.


"Baiklah, papah anggap kau setuju, besok kita akan melamar Sintia untuk Farel."


"Mamah setuju,"sahut Larasati.


Akhirnya Lisa bisa lega, ia tau jika sebenarnya Sintia dan Farel saling menyukai, tapi gengsi mereka terlalu besar hingga tidak ada yang mau mengungkapkannya terlebih dahulu.


Mungkin dengan cara seperti ini mereka akan bersama, dan mulai jujur dengan perasaan masing-masing.


Setelah itu Lisa bersama Kaisar, pergi ke Rumah sakit untuk menjenguk Yusuf sedangkan Arga tetep di kediaman Yuda, bersama Larasati.


Farel juga ikut berpamitan pada orangtuanya.


"Kau mau kemana?" Tanya Yuda.


"Ada urusan sebentar pah."


Aku harus menemui Sintia, kenapa semua ini bisa terjadi, aaah apakah aku harus senang atau aku tolak saja, tapi jika aku menolaknya papah pasti akan menjodohkannya dengan Jhon, ini tidak bisa dibiarkan, tidak ada yang boleh menikahi Sintia.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁*


***Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏


maafkan jika tidak sesuai dengan keinginan anda.


❤️❤️❤️ love banyak-banyak buat yang setia membaca cerita ini*** .

__ADS_1


__ADS_2