
PLAK ...
PLAK ....
PLAK ...
Suara tamparan yang sangat keras begitu nyaring terdengar menggema di ruangan itu.
"Kalian, benar-benar tidak bisa di andalkan. Menjaga satu orang saja tidak becus." Maki Julia, kepada tiga orang anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi dan menjaga Firman.
"Maafkan kami nyonya, tapi di tiba-tiba menghilang begitu saja." Jawab pria yang baru saja merasakan kerasnya tamparan Julia.
"Sekarang! Cepat kalian keluar dari sini dan cari anak itu sampai di temukan, jangan pernah berani menghap ku jika belum menemukannya." Geram Julia.
"Baik Nyonya."
Ketiga orang itu segera keluar dari ruangan tempat mereka biasa bertemu.
"Apa yang harus aku lakukan jika anak itu tidak ada!" Gumam Julia.
Iya tengah resah dan uring-uringan semenjak Firman tidak bisa di hubungi.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di mansion.
Rupanya Arga bukan hanya di temani Sintia dan Farel, tapi Yuda dan Larasati pun ada di sana.
"Mami, dia siapa?" Tanya Arga yang tidak mau turun dari pangkuan Sintia.
"Dia nenek Arga." Sahut Sintia.
"Dan ini kakek Arga, namanya kakek Yuda!" Sahut Farel.
Larasati tersenyum kagum dan bangga melihat bocah kecil yang lucu dan menggemaskan itu.
"Sini Arga, di pangku nenek!"
Arga malah terdiam, ia menatap Larasati dengan intens.
"Mami!" Lalu ia mendongak menatap Sintia.
Dan di balas anggukan oleh Sintia.
Setelah mendapat kepastian dari maminya, Arga turun dari pangkuan Sintia, dan berpindah di pangkuan Larasati
"Maaf Tante, Arga, memeng seperti ini jika bertemu dengan seorang yang baru ia lihat."
"Tidak apa-apa, tante mengerti soal itu." Larasati memangku Arga dengan penuh kelembutan.
"Jika Luna, sudah kembali ia pasti sangat senang dengan keponakan barunya ini." Ucap Larasati.
Larasati terus mencium gemas puncak kepala bocah lucu itu.
"Siapa nama belakang mu sayang?" Tanya Larasati pada Arga.
"Aillangga Wijaya!" Jawab anak itu dengan lantang.
"Siapa yang memberi nama itu?"
"Papah! Kata papah, supaya Alga bisa menjadi sepelti papah jadi namanya halus sama."
Semua tersenyum mendengar penuturan Arga.
"Itu benar, Arga akan menjadi sehebat papah." Sahut Larasati.
"Lalu kenapa dia memanggil mu dengan sebutan mamih?" Farel yang bertanya, dan pertanyaan itu di tunjukkan untuk Sintia.
"Karna aku juga ibunya, yang mengurus, merawat dan menjaga Arga, aku hanya tidak melahirkan dan menyusuinya saja, selebihnya aku melakukan semua sama seperti Lisa." Sahut Sintia panjang lebar.
Farel mengangguk-angguk.
"Kalau begitu, mulai sekarang Arga, panggil om Farel, dengan sebutan papih." Ucap Farel, tanpa beban.
Semua mata mengarah dan menatap ke arah lelaki yang selalu saja ribut dengan Kaisar itu.
"Kenapa kalian, menatap ku seperti itu?"
"Jika kau ingin di panggil papih oleh Arga, kau harus menikah dulu dengan Sintia." Sahut Larasati. Dan di sambut anggukan oleh Yuda.
__ADS_1
Uhuk .... Uhuk ....
Sedangkan Farel dan Sintia sama-sama terbatuk-batuk mendengar apa yang Larasati katakan.
"Mamih kenapa?" Arga segera turun dari pangkuan Larasati dan menghampiri Sintia. Ia menatap semua orang seolah menyalahkan mereka yang menyebabkan mamih nya terbatuk.
Arga menyayangi Sintia sama seperti dia menyayangi Lisa, karna mereka berdua sama-sama merawat Arga dari bayi.
"Mamih, tidak apa-apa sayang." Sahut Sintia.
Mansion Kaisar yang bisanya sepi dan mencekam, kini terasa lebih hidup dan hangat, semenjak kehadiran Arga di mansion itu, Yuda dan Larasati, jadi lebih sering mengunjungi mansion meskipun Kaisar kerap kali melarang mereka untuk datang ke Mansionnya. Karena dari dulu Kaisar selalu melarang keluarganya terutama Farel dan Larasati untuk menginjakkan kaki di mansion miliknya terkecuali Julia yang di bebaskan keluar masuk di Mansion itu. Tapi karena permintaan Lisa, Kaisar jadi membiarkan orang tuanya datang ke mansion.
"Kapan Kaisar di perbolehkan pulang dari rumah sakit?" Tanya Larasati.
"Mungkin dalam beberapa hari lagi, dia akan di perbolehkan pulang Tante." Sahut Sintia.
"Jika mamah, ingin mengetahui ke adaan si berengsek itu, datanglah ke rumah sakit untuk menjenguk nya."
Larasati menggeleng, bukannya ia tidak mau untuk menjenguk Kaisar, justru ia sangat-sangat ingin menjenguk dan menemani Kaisar di rumah sakit.
Tapi tentu saja Kaisar akan marah besar jika Larasati berani melakukan itu. Jangankan untuk merawatnya, bahkan hanya sekedar mendekat dan menyapa sudah membuat Kaisar marah besar.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di rumah sakit.
Kaisar, benar-benar meminta Lisa untuk tidur satu ranjang bersama dirinya. Ia bahkan memaksa jika Lisa tidak mau.
Tapi dari pada membuat keributan di malam-malam begini, di rumah sakit pula Lisa akhirnya mengalah dan menuruti permintaan suaminya itu.
Kaisar menggeserkan badannya memberi ruang untuk Lisa berbaring.
Ia tersenyum puas.
Setelah Lisa berbaring dengan sempurna, dengan cepat Kaisar memeluk Lisa sangat erat.
"Mas, jangan terlalu kencang." Pekik Lisa, seraya mengendurkan tubuhnya dari pelukan Kaisar.
"Ssuuutt... Jangan berisik sayang, pekikan mu bisa di salah artikan oleh dokter, dan suster jika mendengarnya,"ucap Kaisar yang berbisik di telinga Lisa.
Lisa mulai kesal dengan suaminya itu.
"Ini mas, sudah mau tidur."
Tapi ia malah membalikkan badan Lisa agar menghap ke arahnya.
"Mas akan lebih cepat tidur, jika sudah puas memandangi wajah mu."
Lisa sedikit tersenyum mendengarnya.
Dia jadi semakin pandai menggombal.
"Apa kita perlu pergi ke luar negeri untuk ber bulan madu?" Pertanyaan aneh mulai Kaisar lontarkan.
"Bulan madu? Kita bahkan sudah mempunyai anak mas!"
"Tapi Arga, belum memiliki seorang adik?"
"Arga, masih kecil belum siap jika mempunyai seorang adik."
"Tapi mas, sudah siap!"
"Ini adik untuk Arga mas, bukan untuk mu."
Kaisar terkekeh, yang melihat Lisa, mulai jengkel dan kesal. dengan semua pertanyaannya.
Masih dengan posisi saling memandang, Kaisar memperhatikan setiap garis wajah istrinya itu, begitupun dengan Lisa, ia memandangi wajah tampan yang kini di penuhi luka-luka yang mulai mengering dan lebam di beberapa bagian wajahnya.
"Mas, apa ini sakit?" Tanya Lisa, sambil menyentuh salah satu Luka di wajah Kaisar.
"Tidak! Jauh lebih sakit, ketika kamu pergi meninggalkan mas."
Lisa terdiam menatap Kaisar.
BRAK .....
Suara pintu terbuka cukup keras, mengejutkan Lisa dan Kaisar.
Hening .....
__ADS_1
Kaisar masih di atas ranjang, dengan tangan yang tetap melingkar di pinggang Lisa.
Dan Lisa pun sama, tanyanya masih menyentuh wajah Kaisar, tapi tatapan tertuju di ambang pintu, sama seperti Kaisar.
Sedangkan di ambang pintu itu.
Berdiri seorang dokter yang di dampingi dua orang suster.
Dan di depan mereka. Dia yang tadi menggebrak pintu Berdiri dengan tegak, ia adalah Anggel.
"Maaf tuan, nona ini memaksa untuk masuk,"ucap dokter itu, yang menundukkan pandangannya pada pasangan suami istri yang sepertinya tengah bermesraan."
Lisa yang malu dengan posisi seperti itu, segera beranjak dari ranjang pasien yang ia tiduri.
Ini sungguh memalukan.
Tapi Kaisar menahannya.
"Tetap di sini." Bisiknya pada Lisa.
Lalu melirik pada dokter itu, mengisyaratkan untuk keluar.
Dengan cepat dokter pria itu segera keluar dari kamar rawat Kaisar, di ikuti dengan dua suster di belakangnya.
Tapi tidak dengan Anggel.
Ia masih tetep berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikitpun.
Anggel tengah menatap sepasang manusia yang sedang berpelukan di atas ranjang pasien.
Entah apa yang di pikirkan Anggel, namun di lihat dari raut wajahnya ia nampak sangat kesal, cemburu dan merah menyaksikan pemandangan yang ada di hadapannya ini.
"Kau tidak ikut keluar? Atau mau tetep di sini?" Tanya Kaisar, yang ia tunjukkan untuk Anggel
Tanpa menunggu jawaban Anggel, Kaisar kembali bersuara.
"Jika ingin tetep tinggal, cepat tutup pintu itu jangan sampai dokter dan para suster itu kembali masuk, dan melihat kemesraan kami berdua." Ucap Kaisar, yang sukses membuat Anggel semakin termakan api cemburu dan kemarahan.
Meskipun ia bertekad untuk membenci dan membalas dendam pada Kaisar, tapi tetap saja ia merasakan sangat cemburu jika Kaisar dan Lisa, bermesraan di hadapannya.
Dulu ia lah, wanita yang paling di cintai dan di sayangi Kaisar, tapi sekarang keadaan berbalik.
"Apa kau tidak mendengar ucapan ku ?"
BRAK .....
Anggel menutup pintu dengan cara yang keras."
"Kau membuat istri ku kaget!" Kesal Kaisar.
"Sudahlah mas." Lisa mencegah Kaisar yang hendak marah.
Lalu Lisa beralih menatap Anggel, dan di balas dengan tatapan membunuh oleh Anggel.
"Kau mau apa?" Tanya Lisa yang bangkit dari rebahan nya itu meskipun Kaisar menahannya.
"Sebentar saja mas, aku risih jika di perhatikan oleh orang lain jika aku sedang tidur,"ucap Lisa, seraya menepis tangan Kaisar yang menahannya.
"KAU, DENGAR ITU ANGGEL, JADI CEPAT KELUAR DARI SINI." Teriak Kaisar.
Namun seperti tidak tau malu, Anggel malah melangkahkan kakinya, menuju sofa yang tidak jauh dari ranjang Kaisar dan duduk santai di sana.
Apa apaan dia!
"Aku ingin menemani mu di sini Kai, nenek Julia yang meminta ku." Anggel memberikan alasan yang sulit untuk Kaisar tolak.
"Sudah ada istriku yang menemani, jadi kau pulanglah "
"Tidak Kai, nenek Julia, akan merasa sedih jika kau menolak keinginannya."
Dasar licik. Batin Lisa.
"Tapi, ak ....!"
"Sudahlah mas, biarkan saja jika ia ingin tetep di sini." Potong Lisa.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏
__ADS_1