Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 60. Firman jangan sampai tau


__ADS_3

Kaisar menggelengkan kepalanya.


Lisa menatap nenek itu dengan lekat seolah ingin bertanya, apa yang nenek masukan dalam minuman ini.


Dan yang di tatap tidak bereaksi ataupun berekspresi.


"Mas baik-baik saja." Ucap Kaisar setelah bisa menormalkan kembali nafasnya yang tersedak karena minuman itu.


"Mas yakin?"


"Iya, minuman itu terasa pedas, mas hanya tersedak."


"Itu air rebusan jahe mas, kau harus meminumnya pelan-pelan."


Lisa beralih kembali menatap nenek, kali ini tatapan yang canggung karna sudah berfikir yang buruk pada nenek yang sudah membantunya.


"Nek, maafkan kami sudah mengganggu dan merepotkan nenek." Lisa menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, kalian istirahat lah."


Si nenek segera bangkit dari duduknya, menuju kamar yang tadi ia tunjuk untuk Lisa dan Kaisar beristirahat.


Beberapa detik kemudian, si nenek keluar kamar dengan membawa pakaian yang ada di tangannya.


"Pakai ini, baju kalian sudah basah kuyup harus segera di ganti." Ucap nenek seraya memberikan pakaian yang ternyata dua potong kemeja dengan warna berbeda di tangan Lisa.


Si nenek berbicara tapi tatapannya kosong, dan wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi apalagi senyum.


"Terimakasih nek!" Lisa meraihnya.


Setelah menyarankan pakaian itu, nenek berlalu menuju kamar yang ada di ujung tidak bersebelahan dengan kamar yang ia tunjukkan untuk Lisa dan Kaisar.


Dengan cepat Lisa bangkit dari duduknya. Ia memapah nenek yang berjalan dengan sempoyongan.


"Mari saya antarkan nek."


Sampai di kamar yang dengan penerangan remang-remang, Lisa membantu mendudukan nenek di atas ranjang beralaskan kasur yang sudah lusuh dan di kelilingi kelambu berwarna putih.


Lisa mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan di kamar itu.


Kamar yang nampak berantakan dan tidak terurus. Wajar saja usia nenek itu sudah tidak muda lagi bahkan untuk berjalan pun terkadang kesulitan, jadi tidak mungkin bisa ia membersihkan dan merapikan Kamarnya.


Lisa masih memandang setiap sudutnya dan tatap nya terhenti, ketika melihat sesuatu yang ada di atas lemari kayu yang sudah lapuk, itu adalah sebuah kotak seperti peti kecil dengan ukiran bunga melati di setiap sudutnya.


Kotak itu cukup menonjol sehingga menarik perhatian Lisa.


"Keluar lah, temani suamimu." Suara nenek membuyarkan fokus Lisa pada benda itu.


"Iya nek..... Eemm ... Nek! Apa boleh saya bertanya sesuatu?" Ucap Lisa dengan ragu-ragu.


Nenek menatap mata Lisa, dan mengangguk.


"Apa nenek di sini hanya tinggal sendiri?"


Nenek menjawabnya dengan anggukan.


"Lalu, nenek tinggal di sini sudah berapa lama?"


Nenek berfikir sejenak sepertinya wanita rentan itu tengah mengingat-ingat sesuatu.


Lalu menggelengkan kepalanya.


"Tidak ingat." Jawabnya.


"Keluarga nenek ada di mana? Apa ada di desa sekitar hutan ini?"


Nenek pun kembali menggeleng, sambil berucap.


"Tidak tau."


Sepertinya nenek ini sudah tidak bisa mengingat dengan baik, kasihan sekali wanita setua ini harus tinggal di tengah hutan hanya seorang diri. apa warga tau kalau ada seseorang di hutan ini?


Wajah tua itu sudah terlihat sangat Lelah, sepertinya nenek itu sudah mengantuk.


"Nenek tidur lah." Lisa kembali membantu membaringkan tubuh nenek itu lalu menyelimutinya.


Setelah memastikan nenek tidur, Lisa beranjak dari ranjang itu. Ia melangkahkan kakinya menuju keluar dari kamar itu.


Tapi! tiba-tiba, jiwa kepo Lisa bangkit sehingga menghentikan langkahnya.


Matanya kembali tertuju pada kotak yang ada di atas lemari.


Hati Lisa di serang rasa penasaran, jiwa sesatnya berkata.


Kau penasaran kan? Lalu tunggu apa lagi, ambil dan lihatlah apa yang ada di dalam kotak yang sangat menarik perhatian mu itu Lisa.


Perlahan Lisa melangkahkan kakinya mendekati benda yang entah mengapa bisa membuatnya se penasaran ini.


Benda itu seperti memiliki magnet yang menarik perhatian Lisa.

__ADS_1


Tapi! jiwa bersih Lisa berbisik.


Jangan pernah menyentuh barang yang bukan milikmu, walaupun kau hanya sekedar melihatnya tetep jangan pernah kau lakukan, itu bukan hak mu.


Lisa berperang dengan dua suara batin yang menghasut pikirannya.


Dan akhirnya Lisa memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Membuang jauh-jauh rasa penasarannya pada kotak itu.


🍁


🍁


Lisa kembali ketempat tadi ia duduk bersama Kaisar.


Tapi sosok gagah dan selalu mempesona itu tidak ada di sana.


Dimana dia! apa sudah ke kamar.


Lisa memasuki kamar yang hanya di tutup dengan gorden yang sudah lanjut usia berwarna biru muda. Karena kamar itu tidak berpintu.


Benar saja ternyata Kaisar sudah berada di dalam kamar.


"Mas!" Panggil Lisa.


Kaisar langsung menoleh ke arahnya.


"Kau lama sekali, mas sudah menunggu sejak tadi di sini" Gerutunya.


"Mas kau belum mengganti baju mu?" Tanya Lisa yang meraih kemeja yang tergeletak di atas kasur.


Kaisar menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Lisa heran.


"Mas tidak mau memakai, barang milik orang lain. Apa lagi mas tidak mengenalnya."


"Tapi kamu bisa masuk angin mas jika tidak mengganti pakaianmu."


Kaisar masih terdiam enggan untuk mengganti bajunya.


"Mas!"


"Baiklah."


Kaisar menanggalkan kemejanya yang sudah basah kuyup itu.


"Apa kau tidak tergoda dengan tubuh suamimu yang seksi ini?" Ucapnya sambil menepuk-nepuk pelan dadanya yang tak berbalut kemeja lagi tepat di hadapan Lisa.


Apa dia sudah gila! Lisa jangan tergoda dengan tubuh putih dan mempesona itu.


"Mas, jangan bercanda di tempat orang lain." Ucapnya, sambil membuang pandangannya ke segala arah.


"Kenap kau gugup? Mas hanya bertanya."


"Cepat pakai baju mu mas!" Titah Lisa.


Kaisar terkekeh.


Dengan perlahan dan sesekali mengedipkan matanya, Kaisar mengenakan kemeja itu Bagai seorang model yang sedang mempromosikan produk, persis seperti ikan di televisi.


Lisa hanya menggelengkan kepalanya saja melihat kelakuanku suaminya itu.


*


*


*


"Waah ... Kemeja ini bisa begitu pas di badan mu mas!" Kagum Lisa, yang melihat Kaisar selesai menggunakan kemeja di badannya.


"Sepertinya, pemilik asli Kemeja ini memiliki postur tubuh yang sama sepertimu mas!"


"Tidak ada yang bisa menyamai seorang Kaisar Airlangga Wijaya." Ketusnya.


"Tapi! Kenapa nenek itu mempunyai kemeja ini? Bukankah dia tadi bilang hanya tinggal seorang diri di sini, dan kemeja ini sepertinya harganya sangat mahal. Hanya bisa di beli di kota." Gumam Lisa, sambil meneliti kemeja lain yang ada di tangannya.


"Mas! Apa-apaan ini!" Kejutan Lisa, yang mendapati tangan Kaisar yang mempreteli kancing baju tipisnya.


"Jangan macam-macam mas!" Sambung nya.


"Siapa yang macam-macam, mas hanya membantu mu membuka baju mu yang basah ini."


"Aku bisa sendiri mas." Lisa menahan tangan Kaisar.


"Jika sudah ada mas, untuk apa kau melakukannya sendiri, biar ini menjadi tugas ku." Elaknya yang kembali membuka kancing baju Lisa.


"Mas!"


"Kau diam saja!"

__ADS_1


"Hanya membuka baju ini saja?" Tanya Lisa.


Kaisar mengangguk.


"Iya hanya ini saja."


Lalu Lisa pun membiarkan tangan kokoh suaminya itu mempreteli satu persatu kancing bajunya.


Kaisar tersenyum puas dalam hati.


Ini pasti berhasil, ia sudah tidak sabar melihat sesuatu yang sudah lama ia rindukan di balik baju itu.


Karna tidak ingin mengulang kesalahan kedua, Kaisar dengan gerakan yang cepat membuka kancing baju itu.


Dan.


BESSSS.....


Kaisar membuka lebar baju yang sudah terbuka sepenuhnya.


ZONK !!!!!


Ternyata di balik kemeja tipis berwarna biru muda itu, Lisa masih menggunakan Tank top


Berwarna senada.


Hingga masih menghalangi pandangan padanya pada dua bukit kembar di sana.


Lisa tersenyum puas, melihat ekspresi di wajah Kaisar.


Lalu menurunkan tangannya yang masih tergantung memegang bajunya.


"Hanya sebatas baju ini saja kan mas." Ucapnya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Bukankah ini mobil Kaisar?" Tanya Sintia.


Dalam perjalanan menuju klinik, Sintia dan Farel mendapati mobil Kaisar di jalan pinggir hutan.


Farel mengangguk.


"Iya ini mobilnya."


"Tapi kenapa bisa ada di sini. Lalu di mana mereka?"


"Sepertinya benar si berengsek itu dan kakak ipar tengah mencari tempat untuk melakukan sesuatu, benar-benar menyusahkan padahal mereka bisa melakukannya di rumah."


"Farel, kau bicara apa?" Kesal Sintia.


"Kau jangan bicara yang tidak-tidak, apa kau tidak lihat mobil kakak mu itu ada di jalan hutan terlarang ini, ini bertanda buruk, bisa jadi mereka tersesat atau ada sesuatu yang terjadi pada mereka." Sambung Sintia dengan penuh khawatir.


"Kau tidak lihat, mobil ini di tepikan begitu rapih dan di kunci oleh pemiliknya, itu artinya Kaisar sengaja meninggalkan mobilnya di sini!"


"Lalu mereka kemana?"


Farel tidak menjawab tapi matanya tertuju pada hutan.


"Apa! maksud mu mereka ada di dalam hutan itu, Astaga! kau tau? hutan itu terlarang. Kita harus menghubungi seseorang yang bisa membantu kita" Crocos Sintia dengan panik.


"Firman, aku harus menghubunginya."


"Firman, dokter itu?"


Sintia mengangguk.


"Tidak! jangan menghubunginya." Farel mencegah tangan Sintia yang hendak menghubungi Firman dengan ponselnya.


"Kenapa?"


Karna Firman saingan Kaisar bukan. Dan sepertinya Kaisar tengah menyelidiki siapa dokter itu.


"Karna....! mungkin mereka sedang melakukan sesuatu di dalam hutan sana."


"Jawaban mu sungguh tidak masuk akal Farel, melakukan apa mereka di malam buta begini di hutan pula." Kesal Sintia.


"Terserah kau mau bilang apa, tapi aku tidak mengijinkan mu untuk menghubungi dokter itu dan mengatakan pada dokter itu kalau Lisa dan Kaisar ada di dalam hutan sana."


"Kau sudah gila?. Kakak mu dan kakak ipar mu dalam bahaya di sana."


"Kau jangan khawatir Kaisar akan menjaga Lisa dengan baik, dan aku yakin tidak akan terjadi sesuatu padanya."


"Kenapa kau melarang ku? apa hak mu."


"Kenapa? Kaisar itu kakak ku, dan Lisa kakak ipar ku mereka keluarga ku, jadi aku yang berhak memutuskannya."


Aku tau kau menemukan sesuatu di hutan sana Kai, aku telah membantu mu. Dokter yang bernama Firman itu jangan sampai tau kalau kau berada di hutan sana, jika dia tau, pasti dokter itu akan segera merencanakan sesuatu untuk menggagalkan penyelidikan mu. Setelah ini kau harus berterimakasih pada ku Kai.


"Jangan hubungi atau memberi tau siapapun jika Kaisar dan Lisa ada di hutan ini." Tegas Farel.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2