Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 88. IGD


__ADS_3

Kaisar dengan terpaksa mendudukkan Lisa di bangku.


"Kau, tunggu di sini."


Lisa terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, selain menyaksikan Kaisar yang berjalan dengan langkah panjangnya.


Ia berjalan seraya meraih sebuah balok kayu panjang, yang melintang di dalam gudang kosong itu.


BRAK .


Hanya dengan satu hentakan Kaisar, mampu mematahkan balok itu, hingga berukuran pas di genggamannya.


Beberapa orang anak buah Anggel mulai bersiap-siap.


"Bagaimana, kita menyerang dia secara bergantian atau..!"


"Semua." Potong Kaisar. "Hadapi aku secara bersamaan."


"Nyali dia cukup besar." Ketus pria bertato dan berwajah seram itu.


Kaisar secara brutal menyerang, anak buahnya Anggel yang berjumlah lebih dari lima orang.


Bag...


Bug ...


Bag....


Bug ....


Suara pukulan yang membabi-babi Kaisar layangkan pada mereka semua, hingga dalam hitungan detik. Mereka semua terkapar dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Karena pukulan bertubi-tubi dari balok kayu yang Kaisar gunakan.


Anggel yang tengah terduduk santai mulia panik, ia kembali menyuruh beberapa anak buahnya untuk memasuki arena pertempuran itu.


Dua orang bersenjata tajam memasuki gudang kosong itu.


Kaisar yang tenaganya sudah mulai terkuras, harus kembali menghadapi dua pria ini.


Kaisar kembali meraih balok kayu yang menjadi senjatanya, dan pertempuran antara tiga lelaki itu pun terjadi.


Lisa yang merasa Kaisar terancam, mencoba mencari sesuatu, ponsel! Lisa menemukan ponsel di saku jaket Kaisar. Dengan cepat ia menghubungi satu nama yang saat ini teringat olehnya.


Jhon, dengan cepat Lisa menghubungi Jhon .


Tapi sebelum Lisa berbicara pada Jhon, Anggel terlebih dahulu merampas ponsel itu dan melemparkannya pada sisi tembok.


"Anggel, kau sudah keterlaluan."


"Kau mau marah pada ku, kau Lihat suami gila mu itu dia benar-benar seorang monster yang dengan mudahnya membunuh orang,"ucap Anggel seraya menunjuk Kaisar.


Anggel menodongkan pistol pada Lisa.


"Lihat ini Kai!" Teriaknya.


Kaisar melirik ke arah Anggel.


"Sial umpatnya!"


Bug..


Satu pukulan melayang pada wajah Kaisar.


Hahaha..


Hahaha..


Anggel kembali terbahak-bahak.


"Cepat hajar lelaki gila itu sampai dia memohon ampun pada ku untuk berhenti."


Kaisar tentu tidak bisa berbuat apa-apa. Jika ia melawan tentu Anggel akan menembakkan pistol itu pada Lisa.


Beberapa kali Kaisar mendapatkan pukulan yang bertubi-tubi.


Lisa memperhatikan Kaisar yang tanpa bisa melawan dan menghindar menerima pukulan bertubi-tubi di tubuh dan wajahnya bahkan luka pasca perkelahiannya dengan Firman belum kering sudah di tambah lagi.


"Aku rasa hukuman ini sudah cukup untuk mas." Gumam Lisa pelan.


Tadinya aku berempati pada mu Anggel, karena Kaisar kau menjadi seperti ini, tapi sepertinya aku sudah tidak bisa melindungi mu lagi.


PLAK....


Lisa menepis tangan Anggel dengan sangat kuat, hingga membuat Anggel yang tak siap dengan serangan mendadak Lisa menjatuhkan pistolnya cukup Jauh.


Tentu saja kesempatan ini tidak di biarkan begitu saja oleh Kaisar.


Ia segera berlari meraih senjata api itu.


Dan berhasil, kini senjata itu berpindah ke tangan Kaisar.


DOR.


DOR ...


Tanpa berkata apapun Kaisar segera menembak dua ank buah Anggel yang tersisa.

__ADS_1


Tinggal Anggel ialah sasaran utama Kaisar.


Kaisar mulai mendekat ke arah Anggel, Anggel semakin memundurkan langkahnya. Kemudian ia menarik Lisa sebagai tameng perlindungan untuknya.


"Kenapa? Bukankah kau ingin mengirim ku ke neraka? Ayo cepat lakukan."Kaisar dengan seringai jahatnya.


"Kai, aku akan mencekik leher Lisa, jika kau berani mendekat ."


"Dan aku akan mematahkan kedua tangan mu terlebih dahulu."


"Aku tidak main-main Kai."


"Memangnya kau pikir aku main-main!"


Kaisar kian maju mendekati Anggel.


DOR ....


"AAAKKKHHH!" Terikaan Anggel menggema sesaat setelah Kaisar melepaskan tembakan tepat di kaki Anggel. Hingga membuat wanita itu tersungkur.


Lisa membelalakkan matanya. Kaisar Memang mengerikan jika marah.


Kaisar menodongkan pistol itu tepat di kepala Anggel.


" Cepat! Tembak, tembak aku Kai." Tantang Anggel.


Kaisar sudah tidak tahan ingin melepaskan tembakan pada wanita itu.


"Mas!" Panggil Lisa.


Kaisar melirik pada Lisa, ia baru sadar ternyata ada yang jauh lebih penting saat ini.


Wajah Lisa semakin memucat, mungkin karena darah yang terus mengalir di pergelangan tangan pemicunya.


"Lisa!" Kaisar langsung menangkap Lisa yang hampir saja jatuh karna lemas."


"Sayang! Kau kenapa! Sayang Bangun." Kaisar panik karna tiba-tiba Lisa tidak sadarkan diri.


"Haha..!" Anggel tertawa melihat kepanikan di wajah Kaisar.


" Kau bodoh Kai, karna mengikuti hawa nafsu mu, sampai kau tidak sadar jika Lisa harus mendapat pertolongan pertama. Luka yang tergores di lengannya, memeng tidak besar tapi aku menggoresnya di bagian yang sangat tepat, hingga secara perlahan-lahan Lisa akan kehabisan banyak darah."


"ANGGEL!" Teriak Kaisar, yang langsung menarik rambut panjang wanita itu. Dan menodongkan pistol tepat di tenggorokannya.


Dengan waktu yang bertepatan Jhon tiba di gudang itu. Lisa memang tidak berhasil menghubungi Jhon tapi Jhon berhasil mencari tau melalui sinyal dari ponsel yang Lisa aktifkan.


"Tuan!" Jhon segera menghampiri Kaisar.


"Bagus kau datang."


"Jhon, amankan wanita ini, pastikan dia tetep hidup sampai aku kembali menemuinya. Aku harus membawa Lisa ke rumah sakit."


"Baik tuan."


"Dengar Anggel, setiap tetes darah yang mengalir dari luka Lisa, kau harus membayarnya berpuluh kali lipat dengan darah mu." Ucap Kaisar pada Anggel, sebelum ia meninggal gudang itu.


Dan.


Kaisar segera menggendong Lisa menuju mobilnya, dan melaju dengan kencang menuju rumah sakit.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Anggel, kau berani melakukan itu."


Firman meremas dengan kuat ponsel yang berada di genggamannya.


Sebenarnya yang mengirimkan pesan pada Kaisar adalah Firman, ia berharap dia lah yang akan menjadi penolong Lisa tapi dia belum cukup mampu, sekedar untuk berjalan pun ia belum sepenuhnya bisa.


Dengan cepat ia mengirim pesan misterius pada Kaisar agar lelaki itu menyelamatkan Lisa.


Firman sendiri mengetahui lokasi itu dari pesan yang Anggel kirim ke ponsel Julia, ternyata selama ini Firman menyadap ponsel milik Julia.


"Kapan aku kembali bisa berjalan dengan normal?" Tanya Firman pada asistennya.


"Menurut dokter, beberapa bulan lagi anda akan kembali biasa berjalan dengan normal, asalkan anda rutin mengikuti terapi yang dokter sarankan."


"Aku ingin keluar sebentar."


"Tapi tuan, polisi sedang mencari-cari anda!"


"Gunakan penyamaran."


Asisten itu diam. Tidak bisa menolaknya.


"Baik tuan, saya akan mempersiapkan semuanya."


Dan asisten Firman segera pergi, untuk melakukan apa yang di minta tuannya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Nona Anggel, ternyata anda cukup nekad melakukan semua ini, padahal dulu aku sudah menyarankan anda untuk pergi sejauh mungkin dari kehidupan tuan Kaisar. Tapi kenapa anda malah kembali lagi."


"Diam kamu Jhon, aku tidak membutuhkan ocehan mu itu." Sahut Anggel, dengan nada meringis karena luka tembak di kakinya.


"Anda beruntung sekali, hanya mendapatkan luka tembak di kaki, lihat semua anak buah anda terkapar sudah tidak bernyawa."

__ADS_1


"Itu karena mereka yang tidak becus melawan pria gila seperti Kaisar."Maki Anggel.


"Mulut anda benar-benar sangat berani nona." Kesal Jhon.


"Tapi sialnya saya harus mengobati Luka anda."


"Tidak! jangan obati aku, bunuh saja aku Jhon. Cepat bunuh aku!" Teriak Anggel.


"Jika saya melakukan itu, maka saja juga akan di bunuh oleh tuan Kaisar, tuan Kaisar menginginkan anda tetap hidup sampai tuan Kai sendiri yang mendiskon nyawa anda." Tegas Jhon.


Jhon memangil beberapa pengawalnya.


"Cepat bawa wanita ini ke apartemennya, pastikan tidak ada siapapun yang mengetahui keadaannya sampai tuan Kaisar datang, dan lakukan penjagaan yang ketat di apartemen itu."


"Baik tuan."


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Kaisar sampai di rumah sakit.


Beberapa dokter dengan cepat dan sigap melakukan penanganan pada Lisa.


"Saya ingin masuk menemani istri saya!"


"Maaf tuan, anda tidak di ijinkan masuk, sebaiknya anda tunggu di sini sampai dokter selesai melakukan pertolongan pada istri anda."


Kaisar mengangguk.


Jika tidak dalam keadaan hati yang cemas, hingga membuatnya lemas tidak bertenaga, mungkin Kaisar sudah memaksa dan menerobos masuk ke IGD.


Kaisar menatap pintu dimana Lisa di bawa masuk oleh para dokter dan suster.


IGD.


Tiga huruf itu membuat Kaisar melemah, ia seolah di bawa kembali pada masa lalunya yang sangat buruk.


Dimana, Melissa sudah berulangkali memasuki ruangan itu.


Hingga pada akhirnya Melissa sudah tidak pernah membuka matanya lagi.


Ketakutan mulai merasuki hati Kaisar, ia takut untuk berandai-andai.


Lisa harus selamat, dia harus sembuh dia tidak boleh seperti mamah yang tidak pernah membuka matanya lagi setelah masuk ke ruangan ini, tuhan tolong Lisa tolonglah Lisa ku.


Keringat dingin mulai membanjiri wajah Kaisar, ia cemas Takut dan sepertinya, Kaisar memiliki fobia pada ruangan itu.


Hingga seorang suster menghampirinya.


"Tuan, sepertinya anda juga terluka, mari saya bantu mengobati luka anda." Ucap suster itu dengan nada semanis mungkin.


Kaisar melirik dari atas sampai bawah wanita yang ada di hadapannya ini.


Wanita itu sangat percaya diri, ketika Kaisar mulai menelesik dirinya.


Ia menebarkan senyum indah dan manis ketika Kaisar menatap sejenak wajahnya.


Kaisar bangkit dari duduknya.


Ia melipat kedua tangannya di dada.


Sambil menggelengkan kepalanya.


"Cepat pergi dari sini, atau aku yang akan melempar mu dari sini." Ucap Kaisar sinis.


Wanita yang mencoba menggoda Kaisar seketika menciut.


Ia mundur secara perlahan dan segera meninggalkan Kaisar.


Gagal sudah mendapatkan Lelaki tampan yang sepertinya tengah kesepian. Batin wanita itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Apa anda yakin tuan?"


Firman mengangguk.


"Baik, berhati-hati lah tuan, jika terjadi sesuatu segera hubungi saya."


Firman segera turun dari mobil itu dengan menggunakan sebuah tongkat untuk menopang kakinya.


Ia menatap sebuah apartemen mewah yang ada di hadapannya.


Dengan pakaian yang sangat tertutup, hingga membuat semua orang yang berlalu-lalang tidak menyadari bahwa dia seorang buronan polisi.


Firman mulai melangkahkan kakinya, memasuki apartemen itu.


Meskipun saat ini ia menggunakan tongkat, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk mencapai Kamar yang ada di apartemen itu.


Ia mulai memasuki lift dan menekan angka menuju lantai yang ia inginkan.


"Tunggu aku." Gumamnya.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2