Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 107. Masa lalu Julia


__ADS_3

Penuturan dari Lisa, membuat semua yang ada di sana Terkejut.


Farel perlahan mulai melepaskan cekalan tangannya pada Lisa, tapi Kaisar ia masih menodongkan pistol pada Rafi.


"Lisa, apa yang kau katakan?" Tanya Marwan dengan suara yang bergetar.


Lisa tak menjawab, ia beralih menatap Julia.


Wanita itu sudah tersadar dari lamunannya, dan kini ia tengah terkulai dan menangis di lantai.


"Nyonya Julia, katakan pada Kakek Marwan jika semua ini benar, tentu anda tidak ingin terus-menerus menyembunyikan semua fakta ini kan? Nyonya, ini saatnya anda membuka suara."


Marwan dengan kaki yang bergetar, menghampiri Julia, ia mencekram dengan kuat pundak Julia dengan kedua tangannya.


"Julia, katakan padaku apa semua itu benar? Apa benar Rafi putra ku?"


Julia mengangguk.


"Benar, Rafi memang benar putra mu mas, dia putra kita, bayi yang aku lahirkan 35 tahun silam."


Pengakuan Julia, bagai BOM yang mampu memisahkan seluruh anggota tubuh Marwan, ia menjatuhkan diri tepat di sisi Julia.


"Jadi, kau tidak menggugurkannya!"


Julia menatap nanar Marwan.


"Iya mas, aku mempertahankan bayi yang tidak kau inginkan." Sahut Julia dengan dada yang sesak menahan sakit.


.


🍁🍁🍁🍁


🍁~FLASH BACK~🍁



Masa lalu Julia.


Tepatnya 37 tahun silam.


Marwan berpamitan pada istrinya, Yunita, untuk pergi meninjau Pabrik yang bergerak di bidang makanan siap saji, yang baru beberapa bulan ia bangun di kota xxx.


Marwan di kota itu hanya untuk beberapa hari kedepan.


Sesampainya di kota xxx, Marwan tinggal di sebuah rumah yang tidak jauh dari Pabrik.


Tidak ada yang sepesial, semua seperti biasa dan Marwan mengerjakan pekerjaannya.


Tapi di hari ke 3, Marwan di kota itu, semua menjadi tidak biasa.


Karena di hari itu, Marwan terpesona dengan, kecantikan dan ke anggunan seorang gadis muda yang bekerja di Pabriknya.


"Siapa gadis itu?" Tanya Marwan, pada pengawas Pabrik, seraya menunjuk gadis yang tengah mengemas beberapa produk.


"Ooh... Namanya Julia, tuan, dia baru 3 Minggu bekerja di Pabrik ini."


Julia!


Dan nama itulah yang selalu menghantui pikiran Marwan.


Ia tidak bisa menahan gejolak di dalam jiwanya, dengan tekad yang bulat, Marwan mendekati Julia, tidak di sangka Julia membuka lebar pintu hatinya untuk Marwan.


Hingga sebuah hubungan terlarang di bangun dua insan ini.


Entah setan apa yang merasuki Marwan.


Ia tega mengkhianati istri, yang tengah menunggu kepulangannya, segudang alasan Marwan lontarkan pada Yunita, agar dia bisa tinggal lebih lama di kota itu.


Dan Julia, mungkin ia sudah di butakan oleh cinta yang di berikan Marwan, hingga beberapa nasihat yang teman-temannya berikan, untuk menjauhi Marwan karena Bos mereka itu sudah beristri. Tidak Julia hiraukan.


Padahal saat itu usia Julia masih sangat muda, bahkan ia lebih cocok, jika menjadi anak Marwan daripada kekasihnya.


Hingga hubungan merekapun sudah melewati batas, dengan Janji dan rayuan Marwan yang akan menikahinya, Julia dengan suka rela memberikan kehormatannya pada pria beristri itu.


Di bulan ke 3 hubungan terlarang mereka, Julia mendatangi Marwan di rumah yang tak jauh dari pabrik.


Wajahnya sumringah, ia mengetuk pintu itu dengan tak sabar agar lelaki itu cepat keluar dan menemuinya.


CKLEEEK...

__ADS_1


"Julia!"


"Mas Marwan." mata Julia dengan berbinar.


"Ada apa kau ke sini?" Tanya Marwan.


"Aku punya kejutan untuk mu Mas,"sahut Julia, seraya menyerahkan benda kecil pada Marwan.


"Kau hamil?" Tanya Marwan, yang tatapan tak beralih pada benda yang ia genggam.


Julia mengangguk.


Alih-alih mendapatkan respon yang manis dari Marwan, pria itu justru bersikap dingin pada Julia.


"Kenapa mas? Kenapa kau jadi berubah seperti ini?"


"Justru seharusnya aku yang bertanya pada mu Julia, kenapa kau bisa sampai hamil, aku sudah bilang pakailah alat kontrasepsi."


"Memangnya kenapa mas, aku tidak masalah jika aku hamil, kita akan menikah kan?"


Marwan menggelengkan kepalanya.


"Mas Marwan, Kamu jangan bercanda mas, bukankah kau sudah berjanji akan menikahi ku?" Julia mulai meneteskan air matanya.


"Tidak untuk saat ini Julia, Yunita tengah sakit keras, kondisinya akan semakin memburuk jika mengetahui soal ini."


"Lalu kapan mas?"


"Setelah Yunita sehat, aku akan meminta ijin padanya untuk menikahi mu."


"Lalu bagaimana dengan ku mas, aku tengah hamil, jika aku harus menunggu, perut ku akan semakin membesar dan itu tentu menjadi aib untuk ku dan keluarga ku mas."


"Gugurkan kandungan itu!"


Duuuuaaarrr...


Perkataan dari Marwan, menghancurkan hati dan perasaan Julia.


🍁


Setelah hari itu, Marwan kembali ke kota tempat istrinya tinggal, ia sudah tidak pernah kembali dan memperdulikan Julia.


Marwan, benar-benar telah mencampakkan, gadis lugu yang telah ia perdayai.


Julia kembali ke desa, dengan kondisi berbadan dua.


Ini sudah pasti menjadi aib untuk keluarganya, berbagai cemooh, hinaan, hujatan, bahkan kekerasan fisik sudah Julia terima ketika ia tengah hami.


Julia berkali-kali di paksa oleh warga desa untuk menggunakan kandungannya, tapi ia kekeh untuk mempertahankan bayi yang ia kandung, meskipun selalu di intimidasi.


Penderita Julia terus berlanjut hingga Rafi di lahirkan, dan ke dua ibu dan anak itu selalu mendapat perlakuan tidak adil , bahkan kejam.


Beberapa tahun berlalu, Julia yang tidak terima dengan nasibnya, menyimpan dendam pada Marwan, ia kembali ke kota untuk menuntut balas pada pria itu.


Sampai di kota, Julia mendapati Marwan dengan hidup yang sangat bahagia, tanpa menanggung apa yang telah ia lakukan pada Julia.


Saat itu Yunita, istri Marwan telah meninggal dunia, dan Julia dengan mudah masuk kembali di kehidupan Marwan.


Sebenarnya Marwan bertanya soal kehamilannya, tapi dengan tegas Julia mengatakan kalau ia sudah menggugurkan kandungan itu saat Marwan memintanya.


Hingga pada akhirnya, Marwan pun memenuhi janjinya untuk menikahi Julia.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁



~FLAS BACK OF ~


Lisa, berjalan mendekati Kaisar, yang terlihat masih sangat Shock dengan penuturan Julia, bahwa ternyata Rafi adalah keluarganya.


"Mas!"


Lisa menyetuh Lengan Kaisar, dan perlahan menurunkan tangan yang masih menodongkan pistol pada Rafi.


Farel mendekat pada Marwan.


"Kakek, aku tidak menyangka jika kakek ternyata pengecut, perbuatan kakek sangat menjijikkan!"


Setelah mengatakan kata-kata tak sopan itu, Farel berjalan begitu saja melewati Marwan.

__ADS_1


Ia keluar dari gudang itu, ia sudah tidak mau perduli apa lagi yang akan terjadi di sana, mau Kaisar mengamuk dan membunuh Rafi atau Marwan


Atau bahkan lelaki itu akan membakar gudang beserta isinya, Farel benar-benar tidak perduli, ia keluar begitu saja, dan di ikuti Sintia di belakangnya.


Kaisar menjatuhkan Pistol yang ada dia tangannya, ia menatap nanar Marwan yang tengah terkulai di lantai.


"Kakek, kau selalu mengajari ku agar menjadi lelaki yang bertanggung jawab, tapi, bahkan kau sendiri dengan tega mengkhianati nenek Yunita, dan meminta nenek Julia, untuk membunuh anak mu yang bahkan belum di lahirkan." Ucapan Kaisar, semakin memukul hati Marwan.


Marwan tidak mampu bicara apapun untuk membela diri.


Sedangkan Rafi, ia meraih pistol yang di jatuhkan Kaisar.


PROK...


PROK ....


Haha.. haha...


Rafi bertepuk tangan, dengan tawa yang menggelegar, ia nampak puas sekali.


"Bagaimana, apa kalian sudah puas dengan drama ini? Dan kau Kaisar, kau sudah tau kan alasan ku."


Rafi berjalan mendekati Julia dan Marwan yang masih terkulai.


"Ka, jangan lakukan itu, kita semua keluarga, tolong maafkan kami." Ucap Lisa lirih.


"Kau tenang saja Lisa, demi kamu aku tidak akan membunuh suamimu itu, tapi sebagai gantinya aku menginginkan kematian Marwan!"


Rafi menodongkan pistolnya tepat di kepala Marwan.


"Ka, jangan ka."


Sedangkan Marwan, hanya pasrah jika memang Ia harus mati di tangan putranya yang selama ini ia sia-siakan.


"Rafi, maafkan aku, maafkan papah mu ini"ucap Marwan Lirih. "Bunuh lah orangtua yang kejam seperti ku ini nak, tolong bunuh papah mu ini agar bisa menebus semua dosa-dosa ku."


"Aku, tidak pernah menganggap mu orangtua ku, aku tidak pernah mempunyai ayah." Bentak Rafi.


Rafi bersiap dengan senjatanya.


"Rafi!" Panggil Kaisar.


Ia berjalan mendekati Rafi.


"Aku tau, dari dulu aku lah yang ingin kau singkirkan, jadi, jangan menambah dosa mu dengan membunuh ayah mu sendiri."


Kaisar, mengarahkan pistol yang Rafi genggam, tepat di bagian dadanya.


"Anggap lah aku sebagai penebus semua kesalahan Kakek Marwan padamu dan nenek Julia."


Lisa terkejut!


"Mas, apa yang kau lakukan mas!"


"Kai, jangan Kai." Pinta Marwan.


Dan Julia hanya bisa menangis sambil menggelengkan kepalanya.


"Rafi! Tembaklah aku." Pinta Kaisar, dengan yakin.


Rafi tersenyum miring.


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, Lisa jangan salah kan aku, karena dia yang meminta."


Rafi perlahan menggerakkan jarinya, menekan pistol itu.


"Ka, jangan ka!" Jerit Lisa.


Dan ..


DOOR....


Suara tembakan, menggema di ruangan itu.


Hingga membuat, Farel dan Sintia yang masih berada di luar gudang, menghentikan langkahnya.


Mendengar suara tembakan yang mampu menggetarkan hati.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏


mohon maaf jika cerita ini di luar ekspektasi para pembaca, dan alurnya yang mungkin lambat. 🙏🙏🤗🤗


__ADS_2