
Orang itu masuk kedalam Mansion dan bergabung dengan beberapa penjaga yang lainnya, ia menggunakan topi dan Masker hingga membuat yang lain tidak mengenalinya.
Tap.
Tap.
Tap.
Pria itu melangkahkan kakinya masuk kedalam Mansion.
Tapi sebelum ia masuk terlalu dalam bi Lilis menghentikan langkah Kakinya.
"Mau apa kau?"
Si pria berbalik menatap bi Lilis, ia merasa terancam dengan kehadiran bi Lilis di sana.
"Saya tanya, mau apa kau masuk kedalam Mansion? Bukankah tugas mu hanya menjaga di luar Mansion saja?" Ujar bi Lilis, penuh penekanan.
Pria itu hanya menggeleng tanpa menjawab dan mengeluarkan suara sedikitpun.
Bi Lilis menatap lekat wajah pria yang tertutup itu.
Si pria yang takut terbongkar, menundukkan kepalanya pada bi Lilis dan berlalu dari hadapannya.
Bi Lilis yang merasa curiga, segera melaporkannya pada ketua penjaga yang ada di Mansion.
Dengan cepat, ketua itu turun tangan untuk memperhatikan gerak-gerik pria itu secara langsung dan diam-diam.
Kecurigaan semakin di perkuat karna ialah satu-satunya penjaga yang menutupi wajahnya.
Ketua penjaga meminta data-data para penjaga yang ada di Mansion.
Setelah data itu ada di tangan, ia jadi yakin jika orang itu adalah penyusup.
Tapi ketua tidak melakukan tindakan apapun, ia hanya menyuruh yang lain mengawasi dan memperhatikan tanpa di ketahui oleh penyusup.
Sementara dirinya tengah melapor pada Jhon, lewat sambungan telepon.
Ia melaporkan situasi di Mansion, dan adanya penyusup.
Di sebrang sana, Jhon menjadi sedikit Lega.
Karna kemungkinan besar penyusup itu adalah Toni pria yang tengah ia buru saat ini.
Jhon memerintahkan para penjaga Mansion untuk menahan Toni sampai Kaisar kembali pulang.
Sedangkan dia tidak bisa melakukan apa-apa, karna harus menunggu dan menemani Luna di rumah sakit.
🍁🍁🍁🍁🍁
Kaisar, Farel beserta keluarganya tiba di tanah air.
Mereka pulang terlebih dahulu ke kediaman masing-masing.
Di Mansion, Kaisar yang sudah mendapatkan kabar tentang Kaburnya Toni dari penjara dan penyusup yang memasuki Mansion.
Segera memastikan siapa yang menyusup Mansionnya.
Benar saja, ternyata dia Toni.
Toni tengah di ikat di gudang belang Mansion.
Toni tertawa terbahak-bahak, melihat kedatangan Kaisar.
Hahaha...
Hahaha...
Membuat Kaisar, muak mendengarnya.
"Kai, kau datang untuk membebaskan paman mu ini, atau untuk membunuh ku? Hahaha." Toni bertanya sambil terbahak-bahak, seperti orang yang sudah tidak waras!
Mungkin keadaan yang membuat Toni menjadi seperti itu.
"Jawab, Kai? Kenapa kau hanya diam saja."
Kaisar malas untuk menanggapi Toni yang terus-menerus tertawa di sela-sela ucapannya.
Ia keluar dari gudang tanpa mengatakan apapun pada Toni.
Dan Toni semakin terbahak-bahak melihat langkah kaki Kaisar yang semakin menjauh darinya.
"Tuan, apa kita harus menyerahkannya pada polisi? Atau kita eksekusi saja? Sepertinya dia sudah tidak waras tuan,"tanya seorang penjaga.
"Biarkan saja dulu, papah yang akan menentukannya."
"Baik tuan."
Kaisar masih menganggap Toni keluarganya, ya memang benar dia masih Keluarganya, dia adik kandung dari papahnya.
Dan Toni juga satu-satunya keluarga yang Yuda miliki saat ini.
Kaisar memilih untuk menyerahkan keputusan tentang nasib Toni pada Yuda.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di Rumah sakit, kehebohan terjadi oleh Jhon yang terus saja mengintrogasi para dokter yang membantu persalinan Luna.
Luna sudah merasa mulas yang membuat seluruh tubuh dan persendiannya sakit tidak tertahankan.
Ia meringis, sampai membuat di ujung matanya menganak sungai.
Dokter menginstruksikan Luna agar mengatur nafasnya, hal ini yang membuat Jhon mengintrogasi para dokter.
"Dia kesakitan, tapi kenapa kalian malah menyuruhnya Tarik dan hembuskan nafas?" Kesal Jhon.
"Apa kalian tidak punya rasa kasihan, kalian sesama wanita, tapi tega melihat wanita lain kesakitan?" Sambung Jhon, yang membuat para Dokter kesal dan ingin memaki Jhon, tapi hanya dalam hati saja.
Tentu tidak akan berani jika mengucapkan secara langsung, jika dia berani sudah di pastikan karir dan riwayat hidupnya akan hancur hari itu juga.
"Maaf tuan maafkan kami, tapi dengan mengatur nafas bisa mengurangi rasa sakit yang di alami nona Luna."
"Hanya mengurangi? Tidak menghilangkan?" Bentak Jhon.
Ia sudah menajamkan matanya. Siap untuk melontarkan kata-kata jahat pada Dokter, yang mungkin akan membuat dokter-dokter itu trauma.
"Kak!" Panggil Luna.
Membuat Jhon tidak jadi mengatakan itu pada Dokter.
"Iya."Jhon Segera mendekati Luna,"ada apa? Apa sangat sakit? Apa kita lakukan operasi saja?"
Luna menggeleng.
"Tidak Kak, aku ingin melahirkan secara normal, dan aku masih sangat kuat untuk itu."
__ADS_1
"Tapi, lihatlah wajahmu sudah sangat pucat seperti ini."Khawatir Jhon.
"Aku tidak apa-apa kak, aku pasti bisa."Yakin Luna.
Bersamaan dengan itu Larasati masuk.
Dan menangis sambil mengusap-usap rambut putri semata wayangnya.
"Bertahanlah sayang, mamah yakin kau bisa, kau anak yang hebat dan wanita tangguh kau pasti bisa."Ucap Larasati, di tengah-tengah isaknya.
"Mamah kenapa menangisi? Aku akan baik-baik saja, jika kalian semua seperti ini malah membuatku tidak kuat untuk bertahan."
Larasati segera menghapus air matanya, begitupun juga dengan Jhon yang mengusap ujung matanya.
"Mamah bahagia sayang,karna putri mamah akan segera menjadi seorang ibu."
Beberapa jam berlalu.
Dengan di temani Jhon di sampingnya, akhirnya Luna berhasil melahirkan seorang bayi yang sehat dan lucu.
Jhon tak kuasa menahan tangis bahagianya, ketika mendengar suara tangisan bayi yang menggema di ruang bersalin.
"Selamat! Tuan Nona, bayi anda perempuan, lahir tanpa kekurangan apapun, sehat dan cantik." Ucap Dokter, lalu meletakkan bayi itu di atas dada Luna.
"Terimakasih Dok."
Luna sampai berkaca-kaca, menatap bayi kecil yang masih merah itu, tengah mengecap-ngecapkan bibirnya, dengan mata yang terpejam.
Terimakasih tuhan, kau telah mempercayakan aku untuk menjaga malaikat kecil ini.
Jhon keluar dari kamar bersalin, dan langsung memeluk Kaisar yang tengah menunggu di depan kamar itu.
"Tuan, anak saya sudah lahir!"ucapnya sambil terisak bahagia.
Kaisar menepuk-nepuk punggung Jhon.
"Selamat! Jhon, sekarang kau resmi menjadi seorang ayah."
"Terimakasih tuan, apa anda bahagia?"
"Tentu saja, saya sangat-sangat bahagia."
Semua tersenyum melihat mereka berdua, dan merekapun lega sekaligus bahagia karena Luna sudah berhasil melahirkan bayinya dengan selamat.
"Jhon bayi kalian laki-laki atau perempuan?" Tanya Farel.
"Perempuan tuan." Sahut Jhon.
"Waaaah...bayi yang lahir di keluarga kita di tahun ini, semuanya perempuan."Seru Sintia.
"Benar, Nenek jadi banyak teman."Timpal Larasati.
"Tapi, tetep saja dan harus kalian tau, yang paling lucu cantik dan menggemaskan itu hanya Cintaku ya itu Farelin." Sahut Farel bangga.
Dan di balas senyum dan gelengan kepala oleh yang lainnya.
🍁🍁🍁🍁
Beberapa hari berlalu.
Tapi Luna masih belum di ijinkan pulang ke rumah, Jhon menginginkan Luna mendapatkan perawatan sampai benar-benar sembuh, dan Jhon masih terus menemaninya di Rumah sakit.
Lisa sepulang dari sekolah, pasca mengantar Arga, berkunjung di Rumah sakit.
"Kakak ipar?" Girang Luna.
"Bagaimana dengan keadaan mu dan Yolla?"Tanya Lisa.
"Aku baik kak, bahkan sangat-sangat baik, begitupun dengan Yolla, dia sudah sangat sehat dan segar, tapi kenapa aku masih di kurung di rumah sakit ini?" Keluh Luna.
"Bukan di kurung, tapi kau tengah menjalani perawatan di rumah sakit ini."Jhon, yang menyahutinya.
"Aku bisa melakukan perawatan di Apartemen, tidak harus berada di rumah sakit ini, dan di periksa oleh dokter setiap jam."
"Ini demi kesehatan mu, Tuan Kaisar pun sama seperti itu, dia melakukan perawatan pada Nona Lisa selama tiga Minggu di rumah sakit."Timpal Jhon.
"Dan kakak ipar tidak betah berada di rumah sakit selama itu, kak Jhon jangan selalu mencontoh kak Kaisar."
"Tuan Kaisar panutan terbaikku Luna."
Luna menggeleng kepalanya.
Sangat sulit bernegosiasi dengannya, apalagi jika sudah mengatasnamakan Kak Kaisar, batin Luna.
Sedangkan Lisa hanya diam memperhatikan perdebatan mereka berdua.
Dan sekarang, sepertinya perdebatan itu sudah terhenti.
"Apa kalian sudah selesai?" Tanya Lisa.
Luna dan Jhon melirik ke arah Lisa, secara bersamaan.
Dan Lisa kembali membuka suaranya.
"Apa kalian berdua sudah selesai berdebat? Aku ingin melihat keponakan."
Lalu tersenyum malu.
"Maaf kak, aku dan kak Jhon tidak sedang berdebat, kami hanya sedang berdiskusi,"lalu Luna beralih pada Jhon,"benar kan Kak Jhon, kita hanya sedang berdiskusi?"
"Iya, itu benar Nona!"
"Baiklah, apapun itu, mau diskusi atau debat, yang terpenting sekarang aku mau melihat keponakan ku."ucap Lisa.
Diskusi saja seperti itu, bagaimana berdebatnya.
"Silahkan Nona!" Jhon memberi jalan untuk Lisa, menuju Boks bayi.
Dan Lisa menggendong bayi mungil itu.
"Kakak ipar, apa kau datang ke sini sendiri? Lalu si mana Clara?" Tanya Luna, yang baru menyadari jika Lisa masuk kedalam kamarnya hanya seorang diri.
"Tentu saja tidak! Memangnya kakak mu itu, akan mengijinkan aku keluar dari Mansion sendiri?"
Luna tertawa kecil.
"Maaf kak, aku lupa kalau ternyata kakak ipar jauh lebih terkurung dari pada aku." Ujar Luna.
Begitulah Kaisar, ia akan membuntuti Lisa kemanapun pergi, jika bukan di dalam Mansion.
"Lalu dimana kak Kaisar dan Clara?"
"Masih ada di Luar, sedang membeli makanan."Sahut Lisa.
🍁🍁
__ADS_1
Tak lama Kaisar masuk di dalam kamar rawat Luna.
Tapi dengan Clara yang menangis sambil memukul-mukul pundak papahnya.
"Clara kenapa mas? Kenapa dia menangis?" Lisa langsung menghampiri Kaisar, dan menggendong Clara.
"Dia meminta Balon yang ada di jual di depan rumah sakit ini." Sahut Kaisar.
"Lalu, apa mas tidak membelikannya?"
"Tentu saja tidak!"
"Kenapa?"
Lisa dan yang lainnya memasang wajah bingung.
"Sayang, balon yang di jual itu harganya sangat murah, masa Mas membelikan sesuatu untuk Clara barang murah seperti itu." Sahutnya tanpa Dosa.
"Astaga mas! Jadi Mas lebih memilih Clara menangis seperti ini, dari pada membeli Balon yang murah, itu malah lebih bagus mas kita bisa berhemat bukan?"
"Tidak sayang, kita tidak perlu berhemat, uang mas masih sangat banyak untuk menuruti semua keinginan dan kebutuhan mu beserta anak-anak kita, dan mas juga sudah meminta seseorang untuk membawakan Balon yang bagus dan mahal untuk Clara, sebentar lagi dia datang."
Lisa sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi jika suaminya sudah kumat seperti itu.
Selalu membanggakan kehebatan dan kekayaannya, sungguh luar biasa.
Begitupun dengan Luna, dia sudah tau dari dulu seperti apa kakaknya, dan saat ini ia hanya bisa berdoa, semoga Jhon tidak mencontoh kelakuan Kaisar yang satu ini.
Aamiin.
"Luna, bagaimana dengan kabar mu?" Kaisar beralih pada adiknya.
"Aku baik kak, dan aku sudah ingin pulang, aku tidak betah berlama-lama di sini, tapi kak Jhon selalu melarang ku, dan menginginkan aku tetap melakukan perawatan di sini sampai tiga Minggu lamanya."Keluh Luna, pada sang kakak, berharap Kaisar akan memerintahkan Jhon, membawa dirinya pulang.
"Jhon benar Luna, kau harus melakukan perawatan di sini, dia itu suami yang hebat sama seperti kakak mu ini, jadi kau dengarkan apa yang Jhon katakan."
Prak!
Hancur sudah harapan Luna, berharap dia bisa segera pulang dengan berkeluh kesah pada kakaknya, tapi Luna melupakan sesuatu, jika Kaisar itu adalah gambaran Jhon.
Jhon tersenyum bangga mendengar pujian dari Kaisar.
"Terimakasih tuan, atas pujian yang anda berikan, itu sangat berharga bagi saya."
Mereka berdua lebay sekali.
Batin Luna dan Lisa secara bersamaan.
Beberapa menit sudah mereka mengobrol dan bercanda.
Tiba-tiba ponsel Jhon berdering, dan ia pergi keluar untuk menjawab panggilan itu.
Setelah 5 menit, Jhon kembali masuk.
"Siapa Jhon?" Tanya Kaisar, yang menangkap ada sesuatu yang terjadi.
"Di proyek yang ada di kawasan xxx mengalami beberapa masalah tuan, dan mereka tidak bisa mengatasi itu."
"Lalu?"
"Mereka meminta saya untuk membantu menyelesaikannya."
"Apa kau ingin pergi ke sana?"
"Maaf tuan, saya tidak bisa karena saya harus menjaga Luna."
"Kak Jhon, jika itu mendesak dan sangat penting, pergilah, aku tidak apa-apa di sini."
"Kau yakin?" Kaisar yang bertanya.
"Aku yakin kak, mereka juga membutuhkan kak Jhon di sana, aku tidak boleh egois dengan menahannya sini."
"Jhon, jiak kau ingin pergi, aku akan menjaga Luna di sini."Sahut Lisa.
Dan di sambut antusias oleh Luna.
"Kak Jhon dengar kan, kakak ipar akan menemani ku di sini, dan jika ada kakak ipar di sini sudah pasti kak Kaisar pun akan ada di sini, jadi kak Jhon tidak perlu khawatir."
"Baiklah, aku akan pergi ke Proyek."
Di balik kata baiklah! Yang Jhon ucapkan, entah kenapa hatinya semakin sedih dan sakit.
Jhon melangkahkan kakinya menuju Boks Tempat tidur Yolla.
Jhon mencium seluruh wajah putri kecilnya itu. Seolah iya tak puas dan tidak akan bisa mencium wajah mungil anaknya lagi, Jhon melakukannya berulang-ulang. Sampai bayi itu bangun dan menangis.
Jhon tersenyum.
Semoga aku masih bisa mendengar suara tangisan mu ini.
Kaisar yang memperhatikan itupun, tiba-tiba dadanya menjadi sesak.
Jhon menggendong Yolla, lalu kembali menciuminya, bayi itu semakin menangis keras.
"Dia menangis kak, kau mengganggunya tidur." Ujar Luna.
"Aku hanya ingin mendengar dia menyapa ku, sebelum aku pergi." Sahut Jhon.
"Kak Jhon pergi hanya untuk beberapa jam saja, setelah itu kalian akan puas saling bersapa."Balas Luna.
Jhon menyerahkan Yolla di pangkuan Luna, lalu berkata.
"Tolong jaga putri kita baik-baik."
Luna tiba-tiba menjadi sedih mendengar pesan Jhon.
Kenapa kak Jhon bicara seperti itu? Kita akan menjaga putri kita bersama bukan?"
"Tentu!"
Jhon berpamitan, ia akan segera kembali jika urusan di proyek selesai.
"Jhon, apa kau yakin akan pergi?" Entah kenapa Kaisar bertanya seperti itu pada Jhon, sepertinya ia menyimpan ketidak relaan jika Jhon pergi.
"Iya tuan, saya titip Luna dan Yolla, dan tolong jaga kesehatan anda."
"Enak saja kau menyuruh ku menjaga Luna dan Yolla, dia putri dan istrimu, kau yang harus menjaganya."celetuk Kaisar, tapi ia merasakan sakit di hatinya ketika mengatakan itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘
__ADS_1