
Setelah menempuh perjalanan yang cukup menegangkan bagi Lisa, akhirnya mereka sampai di kediaman Yuda.
Suasana rumah Yuda masih di selimut kesedihan Larasati yang sejak semalam menangis.
"Mah, mamah jangan bersedih terus seperti ini, nanti mamah bisa sakit." Luna, sejak semalam ia menenangkan Larasati.
"Benar mah, untuk apa mamah menangisi si berengsek itu!" Sahut Farel yang masih kesal.
"Farel dia kakak mu, kau tidak boleh bicara seperti itu padanya, kau harus bersikap sopan pada kakak mu." Sahut Larasati, dengan tersedu-sedu.
"Sial, kenapa dia harus jadi Kakak kandungan ku." Grutu Farel.
Tok..
Tok...
"Biar aku yang membuka pintu,"ucap Farel, dan ia segera beranjak membuka pintu kamar Larasati.
CKLEK....
"Ada apa bi?"
"Maaf tuan, saya hanya ingin menyampaikan bahwa ada tuan Kaisar dan nona Lisa di bawah."
Farel terkejut! untuk apa Kaisar datang kesini, apa dia ingin memaki ibunya.
"Baik, Terimakasih bi, saya akan segera turun."
🍁
Sama seperti Farel, Yuda pun terkejut dengan kedatangan Kaisar, tapi Yuda sangat senang dengan kedatangan putranya itu, apalagi Kaisar datang dengan raut wajah yang sumringah, berbeda sekali dengan yang semalam.
Ia menyapa papahnya dan mencium punggung tangan Yuda.
Hal itu sampai membuat Yuda terbengong dan ternganga.
Apakah Dunia sudah mau kiamat, atau ini bertanda akan terjadi badai besar!
Bukankah semalam putranya itu keluar dari rumah ini dengan penuh amarah dan kekesalan, tapi kenapa tiba-tiba ia kembali bagai seorang malaikat tak bersayap, dengan wajah cerah dan senyum hangat yang selalu ia kembangkan.
Yuda melirik Lisa, seolah meminta penjelasan.
Tapi Lisa hanya menggelengkan kepalanya saja, ia juga tidak tau kenapa tiba-tiba Suaminya berubah, mungkin nasehat yang ia berikan semalam begitu manjur, hingga membuat seseorang berubah dalam tempo singkat ini.
Larasati turun dari lantai atas di temani Farel dan Luna, tentu saja mereka harus menemani mamahnya, terutama Farel ia takut jika Kaisar masih kesal dan meluapkan emosinya pada Larasati.
Di luar dugaan.
Sesampainya Larasati di ruang keluarga, Kaisar memasang senyum terbaiknya pada wanita itu, wanita yang dulu ia benci setengah mati, jangankan senyum melihat saja enggan Kaisar lakukan.
Kaisar bangkit dari duduknya dan menghampiri Larasati.
Lalu ia memeluk dengan erat wanita yang telah melahirkannya 35 tahun silam.
Ini bagai sebuah mimpi besar bagi Larasati, setelah bertahun-tahun lamanya ia kembali bisa memeluk putranya.
Air mata haru mulai menetes di ujung mata Larasati.
Apakah aku sedang bermimpi, jika ini memang sebuah mimpi tolong jangan ada yang membangunkan aku dari mimpi indah ini.
"Mamah, maafkan aku, maafkan putramu ini." Lirih Kaisar.
Putraku meminta maaf pada ku, tidak! putraku tidak bersalah, dia tidak boleh minta maaf padaku, akulah yang seharusnya minta maaf padanya.
Semua menatap takjub pada Kaisar.
Apa ini nyata, atau ini hanya sebuah khayalan saja, jangan bilang ini mimpi.
Tangan Larasati mulai bergerak ia harus meyakinkan dirinya jika ini bukan sebuah mimpi.
Larasati membalas pelukan Kaisar.
"Tidak nak, kamu tidak salah, Mamah yang bersalah, semua ini salah mamah tolong maafkan mamah mu ini."
Kaisar mengurai pelukan.
Ia mengusap air mata Larasati yang membasahi pipinya.
"Maafkan aku mah, selama ini aku sudah durhaka padamu." Kaisar meraih tangan Larasati, ia mencium punggung tangan itu. Sambil mengucapkan kata maaf yang berulang.
__ADS_1
Entah sudah seperti apa kebahagiaan Larasati saat ini, kalaupun ini hanyalah palsu dia tetep bahagia karena bisa memeluk putranya.
Larasati meraih wajah anaknya itu.
"Apa mamah tidak sedang bermimpi!"
"Tidak mah, ini bukan mimpi."
Larasati kembali memeluk Kaisar, kali ini di iringi dengan tangisan, tapi buka tangis kesedihan melainkan tangis bahagia dari seorang ibu yang sudah Lama merindukan anaknya.
*Lisa benar, seharusnya aku bahagia dan bersyukur karena masih memiliki seorang ibu.
Lisa, sejak kecil ia sudah di tinggal dengan ibunya dan harus hidup bersama ibutirinya.
Rafi, selama bertahun-tahun ia mengejar cinta dan kasih sayang ibunya sampai mengorbankan dan merusak hidupnya.
sedangkan aku, apa aku harus menjadi seseorang yang bodoh karena menyia-nyiakan sesuatu yang telah ku miliki, sedangkan orang lain sangat sulit untuk memilikinya bahkan tidak akan pernah memilikinya*.
*Hidup ku sudah sangat hancur ketika mamah Melissa meninggalkan ku untuk selamanya, dan hati ku sangat sakit ketika Julia ada di balik semua itu.
Sekarang aku tidak ingin mengulangi semua masa itu, aku akan memperbaiki semuanya dan aku berjanji akan menyayangi mamah Larasati seperti aku menyayangi mamah Melissa*.
Yuda mendekat, dan ia ikut memeluk mereka berdua begitupun dengan Luna.
"Terimakasih Kai, papah sangat Bangga padamu."
Lisa menatap haru kebersamaan mereka.
Terimakasih tuhan, kau telah melunakkan hati suami ku.
"Ka Farel dan kakak ipar kenapa hanya berdiam diri di situ, cepat peluklah kami, agar kebahagiaan kita bertambah lengkap,"ucap Luna, dan kini ia menggendong Arga yang terlihat bingung.
"Ayo ka Farel, mulai sekarang kau harus berdamai dengan ka Kaisar."
Dengan malas.
Farel pun melangkahkan kakinya, dan ikut berpelukan.
"Farel jaga tangan mu, jangan sampai kau menyentuh Lisa,"ucap Kaisar, sambil menatap nyalang Farel.
"Bisa-bisanya dia masih memikirkan soal itu." Grutu Farel.
🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah momen haru itu, kini Kaisar dan Lisa berpamitan untuk kembali ke Mansion mereka.
Begitupun dengan Jhon, ia yang secara diam-diam mengikuti Kaisar dari belakang merasakan kebahagiaan keluarga Airlangga.
Anda sudah melakukan yang terbaik tuan, dan saya sangat bangga dengan anda. Nyonya Melissa dan tuan Marwan pun pasti sangat bahagia di sana.
🍁🍁🍁
Sampai di Mansion.
Mereka di sambut oleh bi Lilis yang juga terlihat sangat bahagia, sepertinya hari ini semua orang nampak bahagia.
"Selamat datang tuan, nona."
"Terimakasih bi,"sahut Kaisar.
🍁
Kini mereka sudah berada di dalam kamar.
"Ada apa, sejak tadi kau hanya memperhatikan mas?" Tanya Kaisar, yang merasa aneh.
"Aku hanya sedang bahagia mas, kau memang hebat aku bangga padamu."
"Dari dulu suamimu ini memang sudah hebat." Sahutnya.
"Mas, apa yang membuat mu berubah?" Karena penasaran akhirnya Lisa memberanikan diri untuk bertanya.
"Mas tidak pernah berubah, mas hanya ingin memperbaiki semuanya, mas berkaca pada Rafi yang mempertaruhkan segala sesuatu yang ia miliki untuk ibunya, betapa sulit untuknya hanya sekedar mendapatkan pengakuan dari Julia."
Lisa memeluk Kaisar.
"Kau memang yang terbaik mas."
Kaisar menguraikan pelukannya. Dan menatap mata Lisa.
__ADS_1
"Lalau bagaimana dengan mu?"
"Aku! Memangnya aku kenapa?"
"Selama ini kau hanya sibuk memikirkan keluarga Mas, melakukan segera cara agar keluarga Mas baik-baik saja dan bersatu kembali, lalu bagaimana dengan keluarga mu."
DEG...
Perkataan Kaisar bagai anak panah yang menembus jantung Lisa.
Benar! selama bertahun-tahun ia tidak lagi memperhatikan keluarganya, bahkan ia tidak tau bagaimana dengan kabar ayahnya saat ini.
Hati Lisa terluka dengan apa yang di lakukan Keluarganya.
Bahkan sampai saat ini ia tidak pernah mendengar kabar atau memberi kabar kepada orangtuanya.
Lisa menjauh dari tatapan Kaisar.
"Aku tidak apa-apa mas."
Kaisar kembali menarik Lisa, agar menatapnya.
"Apa kau yakin? Kau sama sekali tidak ingin mengetahui kabar ayah mu? Jika kau merasa terluka dengan ibu tirimu itu, mas dengan mudah akan membalasnya."
"Tidak mas, jangan lakukan apapun pada keluarga ku, dan tolong jangan pernah berkata apapun tentang keluarga ku, anggap saja aku sudah tidak memiliki keluarga lagi." Lisa melepaskan tangan Kaisar yang tengah memeluknya. " Aku mau melihat Arga mas, ini sudah waktunya dia mandi."
Lisa berlalu dari kamar tanpa mengatakan apapun lagi.
Kaisar masih menatap kepergian Lisa, ia tau jika wanita itu tengah menahan diri.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pasca mendonorkan darahnya untuk Lisa, Yusuf meminta pada Kaisar untuk tidak mengatakan apapun pada putrinya.
Ia tau dan menyadari jika selama ini ia sangat berdosa pada Lisa, putri semata wayangnya bersama Rani.
Jadi biarlah anak itu bahagia tanpa ayahnya yang jahat ini, bukan Lisa yang menjauh darinya tapi dirinyalah yang menjauh dari putrinya, bahkan hal itu sudah ia lakukan sejak Lisa kecil, tepatnya setelah kematian Rani dan setahun kemudian ia menikah dengan Mona, dengan teganya Yusuf menyerahkan Lisa pada Rano untuk merawatnya dengan alasan Mona merasa kerepotan jika harus merawat dua anak sekaligus.
Begitupun dengan Lisa.
Bukan ia sudah tidak perduli dengan keluarganya, tapi ia hanya tidak mau mengusik keluarganya yang mungkin kini akan lebih bahagia tanpa dirinya.
Jalan hidup Kaisar dan Lisa tidak jauh berbeda, mereka sama-sama terjebak peliknya masalah di keluarga mereka.
Hanya konfliknya yang berbeda.
Jika di keluarga Kaisar, semua permasalahan di picu dengan sebuah balas dendam dan kesalahpahaman, tapi mereka sangat menyayangi Kaisar, itu sebabnya Lisa harus mempersatukan keluarga yang sebenarnya saling menyayangi itu.
Sedangkan Lisa, permasalahan selalu di picu dengan mereka yang tidak menginginkan kehadirannya, paska Rani meninggal Yusuf sudah enggan untuk merawatnya, hingga ia harus hidup bersama Rano kakeknya, dan setelah Rano meninggal Yusuf kembali mengambilnya, bukan karena Yusuf iba atau merasa tanggung jawab, tapi ia lakukan atas permintaan istri barunya Mona, ia kembali mengurus Lisa karna harta peninggalan Rano dan untuk membantu semua pekerjaan ibu tirinya.
Setelah harta Rano habis terkuras, Lisa terpaksa tidak melanjutkan kuliah dan ia harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan ibutirinya itu, tidak bisa di pungkiri jika sebenarnya, Lisa sangat menyayangi Mona.
Ia sudah seperti sebuah barang, yang akan di ambil jika di butuhkan saja.
Dan dengan tega orangtua menukarnya dengan sejumlah uang.
🍁🍁🍁🍁
"Ayah minumlah obat mu, jika kau tidak meminum obat ini kapan ayah bisa sembuh,"ucap Sella yang tengah menyodorkan beberapa butir obat.
"Biarkan ayah sakit, sakit ayah ini tidak sebanding dengan sakit hati Lisa yang kecewa pada ayah." Sahutnya Lirih.
Bertahun-tahun yang lalu, tepatnya ketika Lisa datang kerumahnya dan menuangkan semua isi hati dan kekecewaannya pada Yusuf.
membuat Yusuf jadi sering sakit-sakitan, di saat Lisa menghilang, ia yang paling merasa bersalah, sama seperti Kaisar Yusuf pun selalu mencari keberadaan putrinya itu.
Dia sangat bahagia ketika tau Lisa telah kembali, tapi ia sedikit kecewa karena Lisa sama sekali tidak memberinya kabar apalagi menjenguk nya.
Yusuf tentu tidak berani jika harus menemui Lisa terlebih dahulu, karna saat itu Kaisar mengancam keluarganya untuk menjauhi Lisa, Kaisar sudah tau semua tentang masa lalu Lisa dan apa yang telah keluarganya lakukan terutama Mona, bahkan Kaisar sudah membuat perusahaan Yusuf bangkrut hingga saat ini ia jatuh miskin, dan Mona serta Sella ia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Yusuf sangat bahagia ketika Jhon datang membawanya untuk mendonorkan darah pada Lisa.
Kaisar memberikannya penawaran untuk menemui Lisa, tapi Yusuf menolak ia terlalu malu jika masih menampakkan wajahnya pada Lisa.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏
maaf jika tidak sesuai ekspektasi para pembaca 🙏
__ADS_1