
"Apa seperti ini sudah benar?"
Tanya Kaisar pada Lisa, saat ini lelaki itu tengah menyisir rambut Arga.
Lisa memperhatikan sejenak.
Lalu mengangguk.
Kaisar tersenyum puas atas usahanya yang membuat rambut Arga rapih.
"Mas!" Panggil Lisa.
"Eemm!" Iya menyahut dengan sekenanya, karna ia saat ini tengah fokus membuat Arga terlihat seperti dirinya yang menurut dia sangat tampan.
"Mas, kenapa kau terlihat tidak suka dengan Firman?"
"Memangnya apa lagi, yang karna dia itu ingin merebut mu dari ku."
"Kau yakin hanya karena itu alasannya mas? Tanya Lisa selidik.
Kaisar menghentikan gerakannya tangannya, ia menatap Lisa yang kini tengah menatapnya dengan penuh selidik
"Belum saatnya untuk kau mengetahui." Sahut Kaisar.
Lalu melanjutkan aktivitas tangannya yang masih menyisir rambut Arga.
"Apa maksud mu mas?"
TOK ..... TOK .... TOK ....
Belum sempat Lisa mendapatkan jawaban dari Kaisar.
Karena terganggu dengan suara pintu yang di ketuk dengan sangat kencang.
"Apakah yang mengetuk pintu di luar, sudah tidak membutuhkan tangannya lagi!" Kesal Kaisar.
Lisa beranjak untuk membuka pintu kamar.
"Se .... Selamat pagi ....nona! Maafkan Kelancangan saya telah menggangu pagi anda."
Rizal menundukkan kepalanya tapi masih bisa terlihat wajahnya yang begitu panik dengan suara gugup.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" Tanya Lisa.
"Siapa itu sayang, kenapa lama sekali kau bicara padanya!" Teriak Kaisar.
"Rizal mas." Sahut Lisa.
Kaisar menghentikan aktivitasnya.
"Kau tunggu di sini ya." Ucapnya pada Arga seraya membelai rambut anak itu.
Dan berjalan menghampiri Rizal.
"Ada apa?"
Tanya Kaisar pada Rizal, dengan tatapan setajam samurai.
Rizal menundukkan kepalanya ia tidak berani melihat wajah Kaisar.
Karena tatapannya saja sudah membuat Rizal terintimidasi.
Karna Rizal tidak seperti Jhon yang tidak pernah takut untuk berhadapan dengan siapapun.
"Kenapa kau malah menundukkan kepala mu!"
"Cepat katakan ada apa?" Sambungnya.
"Tuan Kai, tolong tuan Farel!"
"Ada apa lagi dengan anak itu?"
"Tuan Farel di seret secara paksa oleh warga, ke balai desa, tuan Farel di tuduh sebagai penyebab warga keracunan."
"Astaga!" Lisa terkejut mendengar perkataan Rizal.
Berbeda halnya dengan Kaisar yang nampak biasa-biasa saja.
"Kenapa bisa seperti itu?"
"Saya tidak tahu nona, kejadiannya begitu tiba-tiba dan tuan Farel pun tidak di beri kesempatan untuk membela diri."
"Suruh Jhon mengurus nya!" Sahut Kaisar.
"Maaf tuan tapi tuan Jhon, sedang berada di kota."
Ah, iya aku lupa kalau menugaskan Jhon, untuk melakukan penyelidikan di kantor pusat.
"Mas! Kenapa malah diam, cepat bantu Farel." Lisa menggoyang lengan Kaisar, yang malah mematung bukannya cepat bertindak untuk membantu adiknya.
__ADS_1
"Baiklah, ini karena kau yang memintanya."
.
Cup ....
Kaisar mengecup bibir Lisa.
Yang sontak membuat wajah Lisa memerah seperti kepiting rebus.
Apa dia tidak tahu malu melakukannya di depan Rizal. Bagaimana kalau ternyata Rizal adalah seorang yang jomblo.
Rizal menundukkan kepalanya, ia berpura-pura tidak melihat, karena itu lebih baik.
Sementara Kaisar kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil sesuatu.
"Cepat antarkan aku ke balai desa!"
"Aku ikut mas!" Pinta Lisa.
"Bagaimana dengan Arga jika kau ikut?"
"Bude Darmi, bukankah hari ini bude akan kemari mengunjungi Arga? Jadi biar kita saja mas yang mengantarkan Arga ke rumah bude Darmi, aku akan meminta bude menjaga Arga selama kita pergi."
Kaisar mengangguk.
Dan mereka pun segera pergi menuju balai desa tapi sebelum itu mereka mampir ke rumah bude Darmi untuk menitipkan Arga.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Tak lama mobil mereka menepi di halaman balai desa.
Sudah terlihat banyak orang yang bersahutan dan berteriak, tengah menghakimi Farel.
Kaisar dan Lisa menembus kerumunan massa itu di ikuti Rizal di belakangnya.
"Nah.... ini dia komplotannya sudah datang!" Seru sang provokator.
Kaisar menanggapinya dengan santai, tanpa rasa takut sedikitpun, padahal puluhan warga sudah siap jika harus menyerang.
Farel yang tengah terikat tali ditangannya, tersenyum melihat kedatangan Kaisar.
Kau datang juga brengsek.
"Ada apa ini, kenapa kalian mengikat tangannya seperti itu?" Kaisar mulai membuka mulutnya.
Kaisar menanggapi dengan anggukan.
"Dan kalian menuduh Farel dan saya yang melakukannya?"
"Tentu saja memang siapa lagi!" Ucap salah satu warga.
"Apa kalian mempunyai bukti, bahwa saya atau Farel yang melakukannya? jika kalian tidak mempunyai bukti. Saya akan menuntut kalian karena telah mencemarkan nama baik."
"Cepat tunjukkan buktinya?" Sambung Kaisar.
"Kami memang tidak mempunyai bukti secara langsung, tapi kami yakin kalian pelakunya, karna kalian lah yang dari awal menginkan kita semua pergi dari desa ini."
"Bahkan kalian tidak tau kalau pelakunya sudah tinggal ber tahun-tahun bersama kalian di desa ini"
Bukan hanya kepala desa dan warga, tapi Lisa juga sangat terkejut dengan ucapan Kaisar.
Apa maksud dari perkataan mas Kaisar, aku yakin dia menyembunyikan sesuatu.
"Apa kau mencoba mengadu domba kami?" Geram salah satu warga.
Sial, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Kalau aku mengatakannya sekarang, Lisa dan Arga pasti dalam masalah.
"Ada apa ini?"
Tiba-tiba Firman muncul dari balik kerumunan.
Tatapan matanya bertemu dengan mata Kaisar, terukir senyum tipis yang menyimpan sebuah maksud, yang Firman tunjukkan pada Kaisar.
Kepala desa menjelaskan semuanya pada Firman.
Dan dengan bijak Firman berkata.
"Kita tidak boleh menuduh seseorang tanpa bukti yang kuat, itu bisa jadi fitnah. Lepaskan tuan Farel, biar kita memecahkan masalah ini dan menemukan siapa pelakunya secara bersama-sama."
Perkataan Firman bagai sihir, para warga mengangguk tanda mengiyakan ucapan Firman.
Di mata para warga Firman adalah Dokter yang memiliki hati bagai malaikat, ia selalu membantu para warga dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih apapun, dan Firman akan selalu di kenal sebagai dewa penolong bagi mereka.
Teruskan saja sandiwara mu Firman,
Kaisar menahan panas dan marah di dadanya, sungguh jika mereka hanya sedang berdua saja Kaisar akan menghajar habis-habisan Firman.
Para warga pun melepaskan ikatan di tangan Farel.
__ADS_1
"Ingat! sebelum kebenaran terungkap siapa yang meracuni warga, kalian tidak boleh keluar dari desa!" Ancam salah satu warga, tepat di wajah Farel.
"Sial, kau mengancam ku?" Farel menepis tangan itu dari wajahnya.
Dan mencekram kerah baju orang itu.
"Farel, lepaskan!" Kaisar menahan lengan Farel.
Dengan terpaksa Farel pun melepaskannya.
Tentu bukan seperti ini cara menghadapi mereka. Aku akan mengikuti alur permainan mu Firman.
**
Menurut keterangan dari para dokter, keracunan yang terjadi pada warga berasal dari makanan atau minuman yang di konsumsi warga. penyebaran sangat cepat merusak semua jaringan penting yang ada di tubuh manusia.
Dan bisa di simpulkan, bahwa memang ada yang dengan senaja menyebarkan racun itu melalu sesuatu yang sering di konsumsi para warga.
"Firman, terimakasih banyak telah membatu kami." Ucap Lisa.
"Untuk apa kau berterimakasih padanya!"
"Mas, Firman sudah membantu mu dah Farel meyakinkan warga bahwa kalian tidak bersalah, jadi seharusnya kalian juga berterimakasih pada dokter Firman."
Kaisar semakin terpancing emosinya.
Sementara Firman tersenyum puas,
Sepertinya ia tau kelemahan Kaisar ada di mana.
"Tidak apa-apa Yuna, untuk membantu seseorang tidak perlu ada ucapan terimakasih." Jawabnya dengan senyum serama mungkin.
Baik Kaisar ataupun Farel benar-benar tidak ada yang mau mengucapkan terimakasih pada Firman, membuat Lisa menjadi kesal sendiri, apa susahnya hanya berterimakasih kepada orang yang sudah membantu mereka.
"Kita pulang!" Hanya kata itu lah yang keluar dari bibir Kaisar, seraya menarik tangan Lisa.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Seseorang yang berpenampilan bak model, baru saja tiba di desa terpencil itu.
Dia adalah Anggelina, dengan tujuan dan ambisi yang besar ia datang ke desa itu.
Dia tiba tepat di rumah kecil ber cat biru, rumah itu milik Firman,
Firman tujuan utama Anggel, Karena foto pria itulah yang di berikan Julia pada Anggel beberapa waktu lalu.
Tap ... Tap ... Tap ....
Anggel melangkah kan kakinya.
Dan tanpa ia ketuk pintu rumah itu sudah terbuka dengan sendirinya.
"Masuk!"
Terdengar suara seseorang dari dalam.
Anggel pun melanjutkan langkahnya memasuki rumah itu.
Nampak jelas sekali, seorang pria dengan rambut yang berantakan dan baju layaknya seorang preman, tengah duduk di kursi yang memiliki sandaran cukup tinggi, tengah menggoyang-goyangkan kakinya.
"Apa kau yang bernama Firman?"
Anggel membuka suaranya.
"Apa dia yang menyuruh mu datang?"
Firman malah memberi pertanyaan balik pada Anggel.
Tapi Anggel bisa memastikan bahwa lelaki yang ada di hadapannya ini adalah Firman, meskipun penampilannya sangat berbeda dengan yang di foto tapi dari garis wajahnya menunjukkan dia Firman.
Beginilah penampilan Firman yang sebenarnya ketika dia tidak sedang berada di klinik.
Anggel lebih mendekat pada Firman, dan mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan aku Anggelina."
Firman menepis tangan Anggel.
Anggel menatap tangannya yang baru saja di tepis Firman.
Berengsek, liat saja kau nanti.
"Kita ini sekutu, memiliki tujuan yang sama bukan? jadi apa salahnya jika kita berteman tuan Firman!"
"Cih ..."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗
__ADS_1