
Raka sampai di kediaman Yusuf.
Dan kehadirannya tentu membuat semua menjadi bahagia.
"Raka, mamah sangat merindukanmu nak?" Mona sampai berkaca-kaca menatap dan memeluk putranya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah pulang.
"Apa kau baru ingat keluarga mu sekarang, hingga membuatmu baru pulang hari ini?" Cetus Yusuf, tapi dalam hatinya ia sangat merindukan putra semata wayangnya.
"Maafkan aku, mah, pah!" Raka memeluk kedua orangtuanya.
"Di mana Sella? Apa dia tidak ikut pulang bersama mu?"
"Tidak! Dia belum ingin pulang pah."
"Pah, mah, dimana kak Lisa tinggal, aku ingin bertemu dengannya dan aku ingin memberinya kejutan!"
"Kakak mu tinggal bersama suami dan anak-anaknya, di sebuah Mansion megah, dia hidup bahagia bersama anak dan suaminya."
"Aku senang mendengarnya, kak Lisa pentas mendapatkan itu semua."
"Mamah akan memberikan alamatnya untuk mu!"
🍁🍁🍁🍁
Mendengar kabar kehamilan Luna, membawa kebahagiaan di keluarga Airlangga Wijaya.
Terutama Larasati dan Yuda, mereka sangat bahagia, karna sebentar lagi cucu mereka akan bertambah.
Dan Jhon, dengan raut wajah sumringah, memberikan kabar bahagia itu pada Kaisar, bos, sekaligus teman dan sahabat baiknya yang memiliki hobi dan kesenangan yang sama.
"Selamat! Jhon, akhirnya kau berhasil dan sebentar lagi kau sama sepertiku, menjadi seorang ayah!"
"Terimakasih tuan, saya senang jika anda bahagia."
"Tentu saja aku sangat bahagia, kita akan mendidik anak-anak kita agar menjadi seperti kita, bagaimana kau setuju?"
Jhon mengangguk, sambil tersenyum.
"Tentu saja saya setuju tuan."
🍁🍁
Karna kehamilan Luna yang rentan, Jhon menjadi lebih protektif pada Luna.
Ia meminta istrinya itu untuk tidak melakukan aktivitas apapun termasuk, pergi ke Restoran, bahkan Luna di kurung seharian di Apartemen.
Bukan cuma Luna, tapi Jhon sendiri jarang pergi ke kantor, karena lebih memilih menemani Luna di Apartemen.
Karna waktu Jhon tersita lebih banyak untuk meladeni semua kemauan Luna, yang berlindung di kata Ngidam.
"Kak, aku tidak nafsu makan, tolong jangan paksa aku untuk makan!"
"Tidak bisa, kau tetep harus makan, ini demi kesehatan mu dan calon bayi kita."
Meskipun Jhon sudah membujuknya puluhan kali dan menyuapinya, tapi Luna masih enggan untuk makan.
"Ayolah, sedikit saja!" Rayu Jhon.
"Baiklah, tapi aku ingin makan....!" Luna menggantungkan ucapannya.
"Apa, katakan saja?" Girang Jhon.
"Aku akan makan jika lauknya mangga muda."
"Apa! Lauknya mangga muda?" Bingung Jhon.
Luna mengangguk.
"Iya kak!"
"Baiklah, aku akan pesankan itu untuk mu." Jhon hendak meraih ponselnya.
"Tidak!" Teriak Luna.
Yang sontak mengagetkan Jhon.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Jhon mulai cemas.
"Aku baik."
"Lalu, kenapa berteriak? Apa ada yang sakit?"
"Aku tidak apa-apa kak, aku hanya tidak mau jika kak Jhon, mendapatkan mangga muda itu melalui tangan orang lain!"
Jhon mengerutkan keningnya.
"Dari tangan orang lain?"
__ADS_1
"Iya, aku mau, kak Jhon sendiri yang mendapatkan buah mangga muda itu dan tanpa tersentuh oleh tangan orang lain, dan kak Jhon juga harus memetiknya langsung dari pohon, dan satu lagi! buahnya harus yang berbentuk sedikit panjang, jangan terlalu bulat, teruuus...!" Luna meletakkan telunjuk di kepalanya ia sedang berfikir,"besarnya segini saja, tidak boleh lebih dari segini." Lanjut Luna, sambil mengepalkan tangannya, memberi contoh ukuran buah yang harus Jhon dapatkan.
Jhon memperhatikan Luna dengan serius.
Tapi otaknya sedang bekerja keras, untuk mendapatkan buah itu.
"Ayo kak, aku sudah tidak sabar ingin makan mangga muda yang seperti itu, dan di petik secara langsung dari pohon dengan tangan suamiku sendiri!"Seru Luna.
"Tapi, jika aku pergi kau bagaimana?"
"Aku tidak apa-apa, toh di depan pintu apartemen juga banyak penjaga kan, aku pasti baik-baik saja."Bujuk Luna.
"Baiklah! Aku akan kembali Kurang dari 20 menit." Ucap Jhon dengan sangat yakin.
Luna tersenyum.
"Apa kak Jhon yakin?"
"Tentu Saja, kenapa tidak!."
Mencari musuh di balik selimut saja aku bisa, apa lagi Hanya sebuh mangga muda.
"Baiklah, selamat berjuang kak!" Ujar Luna.
Dengan langkah percaya diri Jhon keluar dari apartemen di temani 1 anak buahnya.
Sedangkan, lebih dari 5 anak buahnya di tugaskan untuk berjaga di apartemen, dan melindungi Luna
🍁🍁🍁🍁
Di mobil.
"Tuan Jhon, kita kemana?" Tanya anak buahnya, yang berada di belakang kemudi.
"Ke pasar swalayan." Sahut Jhon singkat.
"Jika ada yang ingin anda beli di sana, tentu anda tidak perlu repot-repot dan mengotori sepatu anda tuan, ijinkan saya yang membelinya."
"Tidak perlu, Nona Luna menginginkan buah itu langsung dari tangan saya."
"Buah? Apa anda ingin membeli buah untuk Nona Luna?"
"Bukan hanya membelinya, tapi ia juga menginginkan saya yang memetik langsung dari pohon." Jelas Jhon.
"Maaf tuan, jika anda ingin memetiknya secara langsung dari pohon, tentu di pasar swalayan tidak ada pohonnya tuan."
Jhon terdiam, ia tengah merutuki dirinya sendiri, kenapa ia bisa lebih bodoh dari anak buahnya.
"Saya tau itu."
"Lalu kenapa anda ingin ke pasar swalayan?"
"Saya ingin bertanya dimana mereka mendapatkan buah mangga yang di jual di pasar itu."
Jawaban Jhon sungguh tidak masuk akal di benak lelaki yang tengah mengemudi itu.
"Tuan..!"
"Sudah cukup, Jangan banyak tanya, lebih baik kau cepatkan laju mobil ini." Potong Jhon.
"Baik tuan, maafkan saya."
🍁🍁🍁
Sampai di tempat tujuan.
Jhon dan anak buahnya, menelusuri setiap sudut pasar swalayan itu.
Tentu banyak sekali, buah-buahan di sana begitu juga dengan buah mangga, bahkan yang muda dan berukuran sama seperti yang Luna inginkan pun ada di sana.
Tapi itu bukan dari pohon langsung, dan sudah di pegang oleh beberapa tangan orang lain, tentu Jhon tidak boleh mengambilnya.
Jhon mengedarkan pandangannya, kalau-kalau ada 1 pohon mangga yang terselip di pasar swalayan itu, dan hasilnya tentu saja Zonk .
Bahkan Jhon sampai benar-benar bertanya pada para karyawan di Swalayan itu.
"Di mana Anda mendapatkan buah mangga yang seperti ini?" Tanya Jhon, sambil menunjukan mangga yang tadi ia lihat dan sesuai yang Luna inginkan.
"Itu, kami dapatkan dari petani buah yang ada di kota xxx Pak."
"Di kota xxx! Jauh sekali, bisa memakan waktu 5 jam lebih dari sini." Gumam Jhon.
"Baik kalau begitu, Terimakasih."
"Sama-sama pak."
🍁
__ADS_1
"Tuan, jika kita terus mencari di sini tentu tidak akan ada pohon mangga." Ucap, lelaki yang sedari tadi membuntuti Jhon.
"Lalu! Kita harus mencarinya dimana?"
"Saya tau 1 tempat, yang memiliki pohon mangga dan tentunya sudah berbuah, dan pasti banyak yang masih muda-muda juga Tuan!"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?"
"Tadi saya ingin mengatakannya tapi tuan ....!"
"Sudah cukup, jangan banyak bicara, antarkan saya kesana."
"Baik tuan."
Dan mereka berdua pun segera pergi menuju lokasi yang di klaim ada pohon mangga beserta buahnya.
🍁🍁🍁🍁
Tidak butuh waktu lama, karna jaraknya pun tidak jauh.
Mereka sampai di depan rumah sederhana, yang ada di perumahan tidak jauh dari Apartemen tempatnya tinggal Jhon dan Luna.
"Pohon ini yang kau maksud."Jhon memperhatikan, pohon mangga yang tidak tinggi itu, tapi memiliki buah yang sangat lebat dengan berbagai ukuran.
"Benar tuan, bagaimana! di sini banyak pilihan dan sesuai yang Nona Luna inginkan bukan?"
Jhon tersenyum bangga.
"Kau, memang hebat! Bulan depan gaji mu akan saya naikan."
"Benarkah! Trimakasih tuan,"lelaki itu menunduk kepalanya berulang-ulang karna senang, akan naik gaji bulan depan, hanya karena menemukan pohon mangga.
Jhon melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sudah 15 menit berlalu, hanya ada waktu 5 menit lagi, untuk mendapatkan buah itu. Sesuai janjinya pada Luna.
Tentu itu tidak sulit, karna Jhon sudah menemukan buah persis seperti yang Luna inginkan.
Sedikit panjang, tidak terlalu bulat dan berukuran tidak lebih dari sekepalan Tangan Luna.
Jhon melangkahkan kakinya, mendekati pohon mangga, dan hendak memetiknya.
"Tuan!"
Suara anak buahnya mengganggu momen sejarah yang ingin Jhon lakukan.
"Ada apa?" Kesalnya.
"Anda tidak boleh memetiknya begitu saja tuan."
"Memangnya kenapa?"
"Anda harus mendapatkan ijin terlebih dahulu dari pemilik pohon ini."
"Ijin? Saya tidak perlu mendapatkan ijin dari siapapun untuk melakukan apapun, terkecuali dari tuan Kaisar."
"Tapi tuan, jika anda tidak ijin terlebih dahulu, itu sama saja anda mencuri, dan anda bayangkan jika buah yang anda dapatkan dengan cara mencuri lalu anda berikan pada Nona Luna,"si anak buahnya menggelengkan kepala."Nona Luna pasti akan Sangat marah besar!" Sambungnya.
Jhon menarik kembali tangannya yang sudah terulur siap untuk memetik.
"Kau benar, kalau begitu, cepat panggil pemilik pohon ini."
"Baik tuan."
Dengan cepat! lelaki yang akan naik gaji itu, menghampiri rumah si pemilik.
"Permisi! Selamat siang!" Serunya.
Tidak ada jawaban.
"Permisi! Selamat siang!"
Juga tidak ada sahutan.
Hingga lelaki itu meninggikan Volume suaranya.
"PERMISI! SELAMAT! SIANG!"
Dengan teriakan sekeras itu, keluarkan seorang wanita yang sudah memiliki banyak usia, dengan badan gempal berbalut Daster warna pink bermotif bunga Kamboja.
Ia meneliti kedua lelaki yang ada di hadapannya, dari ujung kaki sampai ujung rambut.
🍁🍁🍁🍁🍁
Apakah ibu itu mengijinkan Jhon untuk memetik mangga mudanya?
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘