Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 96. Harus memastikannya


__ADS_3

Dengan cepat Lisa meletakkan kembali ponsel itu, dan ia segera berbaring ke tempat semula, karena terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka.


"Sayang, apa masih terasa sakit?" Tanya Kaisar yang baru keluar dari kamar mandi, dengan tampilan yang terlihat jauh lebih segar.


"Sudah lebih baik mas, tidak terasa sakit lagi." Sahut Lisa.


Kaisar pun ikut berbaring di samping Lisa dan memeluknya.


"Tidurlah, mas akan menjaga mu di sini, agar sakit mu bisa segera sembuh."


Lisa mengangguk.


"Iya mas."


Dan akhirnya merekapun tidur, dengan posisi Lisa yang ada di tengah-tengah antara Arga dan Kaisar.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara di tempat lain.


Jhon, masih menunggu Kaisar di tempat yang telah mereka janjikan, sudah berkali-kali Jhon menghubungi Kaisar, namun tidak di respon.


"Di mana tuan Kaisar, kenapa lama sekali, bukankah jarak rumah kakek Marwan tidak terlalu jauh dari sini." Gumam Jhon, yang baru saja melakukan panggilan yang ke sekian kalinya.


Sepertinya Kaisar, lupa mengabari Jhon kalau dia tidak jadi datang ke lokasi di mana Firman berada.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Pagi hari.


Lisa terbangun dari tidurnya, ia sudah tidak mendapati Kaisar di sampingnya, hanya ada Arga yang masih tertidur dengan pulas.


Lisa mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


"Apa mas Kaisar, sepagi ini sudah mandi!" Gumam Lisa, heran.


Tak lama Kaisar pun keluar dari kamar mandi, dengan penampilan yang sudah sangat rapih dan formal.


"Mas, kenapa sepagi ini kau sudah terlihat serapih ini?" Tanya Lisa.


"Kau sudah bangun, bagaimana, apa masih terasa sakit?" Kaisar, malah berbalik tanya.


"Aku sudah sehat mas, sekarang jawab pertanyaan ku kau mau kemana?"


Kaisar mendudukkan dirinya, di sisi Lisa yang masih duduk di ranjangnya.


"Sayang, pagi ini, mas harus berangkat keluar kota, karena tadi Jhon mengabari ada beberapa masalah di pabrik yang berada di luar kota, tapi jika kamu tidak mengijinkan mas pergi, mas akan memerintahkan Jhon untuk menanganinya sendiri,"ucap Kaisar, yang tengah menggenggam tangan Lisa.


Keluar kota! apa ini adalah sebuah kesempatan untuk ku, agar aku bisa menemui dan memastikan jika Firman itu ka Rafi.


"Sayang!" Panggil Kaisar, yang melihat Lisa malah melamun. "Baiklah, jika kamu keberatan, mas akan membatalkan perjalanan ini."


"Tidak mas!" Jawab Lisa cepat. "Pergilah, aku tidak apa-apa di sini, aku yakin pekerjaan mu itu sangat penting mas, dan pabrik yang di sana pasti sangat membutuhkan mu."


Padahal aku sangat berharap, kau menahan ku.


"Baiklah jika kau tidak keberatan, mas akan berangkat." Sahutnya lesu.


Setelah mempersiapkan semuanya.


Kaisar pun berangkat keluar kota bersama Jhon, ia tidak sempat berpamitan dengan Arga, Karana di pukul enam pagi seperti ini, anak itu masih tertidur pulas.


Begitupun dengan Julia, yang tidak mengetahui Kaisar keluar kota, karna ia pun masih belum pulang dari alam mimpinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Lisa! Kini ai tengah memutar otaknya, agar dia mendapatkan cara bisa keluar dari kediaman Marwan, karna sebelum berangkat Kaisar sudah mewanti-wanti Lisa, untuk tidak pergi dari kediaman Marwan sebelum ia kembali dari luar kota.


"Mungkin aku bisa meminta ijin sebentar pada kakek Marwan, untuk keluar dari sini, tapi jika aku pergi ke alamat ini orang-orang mas Kaisar, pasti akan mengetahuinya, aku harus menemui Firman di tempat lain, tapi bagaimana cara ku memberi tahunya." Gumam Lisa.


Lisa tidak bisa menghubungi Firman, karna Lisa sudah putus komunikasi dengan Firman semenjak ia meninggalkan desa.


Tiba-tiba Lisa mendapatkan ide kembali.


"Otakku kadang-kadang berfungsi dengan baik di saat seperti ini." Gumamnya dengan bangga.


Entah ide ini berhasil atau tidak! Tapi Lisa segera merealisasikan apa yang ada di benaknya. Yang terpenting ia tidak melibatkan orang-orangnya Kaisar.


Dengan cepat Lisa meraih ponselnya, untuk menghubungi jasa yang berhubungan dengan online.


🍁🍁🍁🍁🍁


Di tempat lain.


"Tuan, ada yang mengirim makanan via online untuk anda!"


"Makanan?" Tanya Firman bingung.


"Iya tuan, tapi belum saya terima karena saya harus mendapatkan ijin dari anda terlebih dahulu." Jawab asistennya.


"Dari siapa?"


"Si pengirim tidak memberi nama, tuan."


"Tolak!" Satu kata keluar dari Firman, dan sang asisten segera kembali ke depan.


"Baik, tuan."


Setelah menolak kiriman itu, Firman malah jadi penasaran.


Ia bangkit dari duduknya dan menyusul asistennya.


"Tunggu!" Cegah Firman.


"Ada apa tuan!" Heran asisten Firman, yang bernama Rendi.


"Ambil makanannya, dan segera bawa ke ruangan ku." Titah Firman, dan ia segera kembali lagi ke tempatnya semula.


🍁


"Tuan, ini makanannya." Ucap asisten Firman yang baru saja masuk keruangan Firman.


"Letakkan di situ." Tunjuk Firman dengan ekor matanya, yang mengarah ke meja yang ada di depannya.


"Keluar lah." Usir Firman, setelah paket makanan itu mendarat di mejanya.


"Saya permisi tuan."


Asisten Firman, segera keluar dan menutup kembali pintu ruangan pribadi bosnya itu.


Karna tiba-tiba ia sangat penasaran dengan paket makanan itu.


Firman pun segera membukanya.


Terlihat ada satu kotak makanan, yang dari labelnya, sudah bisa di pastikan itu adalah Cilok pedas, lengkap dengan nama dan gambar penjualannya.


Firman menyingkirkan itu dari hadapannya, sepertinya ia tidak tertarik atau mungkin tidak suka dengan makanan itu.


Padahal menurut Ntor, Cilok pedas itu jajanan yang sangat enak dan bikin nagih ya. Hehe...


Tapi Firman justru tertarik dengan sebuah kertas, yang tertinggal di dalam paper bag itu.

__ADS_1


Firman segera meraih kertas putih yang terlipat .


Sebuah nomor telepon, dan satu baris tulisan. (Hubungi aku, Yuna!)


"Yuna!" Kejut Firman.


Bukan hanya terkejut, tapi ia juga heran, apa benar Yuna yang mengirimnya, jika itu bener sudah bisa di pastikan Firman akan sangat senang, karna ia bisa kembali berkomunikasi bahkan bertemu dengan Lisa.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di kediaman Marwan.


Lisa yang masih harap-harap cemas, masih menunggu di kamarnya, sedangkan Arga sudah di bawa Larasati dan Yuda, untuk bermain di halaman rumah.


Tidak sampai satu jam, setelah ia memesan makanan yang di kirim ke alamat Firman.


Lisa mendapatkan sebuah pesan dari kontak tanpa nama.


[Yuna, apa benar ini kamu?]


"Ini pasti Firman." Gumam Lisa senang, dan ia segera membalas pesan itu.


[Iya, ini aku, Yunalisa.]Send....


Setelah pesan itu terkirim, Firman justru menelponnya.


"Aaah .... Kenapa dia malah melakukan panggilan." Lisa segera menolak panggilan itu.


[Cukup mengirim pesan saja, jangan melakukan panggilan.] Send....


[Yuna ada apa? Apa si keparat Kaisar itu menyakiti mu?]


[Tidak! Mas Kaisar selalu memperlakukan ku dengan baik.] Send....


[Firman, apa bisa kita bertemu?] Send....


[Tentu, di mana? Apa kau ingin aku yang menjemput mu?]


[Tidak! Aku akan kirimkan alamatnya, kita bertemu di sana.] Send....


[Baik]


Setelah mengirimkan lokasi pertemuannya dengan Firman, kini Lisa tengah mencari alasan agar Marwan mengijinkannya keluar.


Dia harus bener-benar memastikannya sendiri, jika Firman itu Rafi.


🍁🍁🍁🍁🍁


Dan Firman, tanpa bertanya lebih jelas lagi pada Lisa, ia segera menuju lokasi yang Lisa kirimkan, sepertinya ia sangat tau betul dengan lokasi yang di tunjuk Lisa.


"Tuan, anda mau kemana?" Tanya asistennya.


"Aku ada beberapa urusan, dan kau tidak perlu mengantar ku."


"Tapi tuan!"


"Kau berani membantah ku?" Bentak Firman.


"Tidak tuan, maafkan saya."


"Cepat! lakukan apa yang telah menjadi rencana ku, aku ingin Kaisar segera lenyap dari muka bumi ini."


"Baik tuan."


Dan Firman pun pergi dari rumah barunya.

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗😘🤗😘


__ADS_2