
Suasana di kediaman Marwan masih menegang, dengan drama air mata yang tumpah ruah dari kedua netra Julia.
Kaisar masih mengumpulkan kesadaran dan kesabarannya, untuk menerima semua pengakuan dari Julia.
Dadanya begitu terasa nyeri dan pikiran yang tiba-tiba sangat kacau.
Jiwa dan hati Kaisar masih belum siap menerima semua kenyataan ini, wanita yang selama ini merawat dan menemani setelah kepergian Melissa, ternyata ibu dari musuh terbesarnya.
"Kai!" Panggil Julia lirih. "Maafkan nenek Kai, bukan maksud nenek menyembunyikan ini semua dari mu, tapi nenek mempunyai alasan." Sambung Julia, yang masih tersedu-sedu.
Membuat Jhon muak melihatnya.
Saya mohon tuan Kai, jangan terpengaruh dengan wanita ini, saya tau ini berat untuk anda, tapi ini adalah yang terbaik. Dan saya yakin anda bisa mengambil keputusan untuk Nyonya Julia.
Kaisar masih belum mengeluarkan sepatah katapun justru ia menjadi seperti orang linglung yang entah harus berbuat apa.
Kejujuran memegang sangat menyakitkan, jika terungkap di waktu dan kondisi hati yang yang belum siap.
Jhon menghampiri Kaisar, yang terlihat nampak frustasi.
"Tuan!"
"Aku baik-baik saja Jhon."
Jhon menganggukan kepalanya, ia memberi keyakinan bahwa Kaisar bisa mengatasi dan menerima ini.
Kaisar mengangkat wajahnya, ia menatap kearah Julia yang masih terduduk di sofa, yang juga tengah menatapnya dengan tatapan mengiba.
Kaisar tengah menahan diri untuk tidak meledak dan murka pada Julia, karna sekejam dan sejahat apapun Julia, Kaisar harus tetep menghormatinya sebagai orangtua.
"Nek, kenapa kau membohongi ku?" Akhirnya Kaisar, bertanya dengan nada Lirih.
Dan ia memberanikan diri untuk menatap mata wanita yang sudah tak muda lagi itu.
"Maafkan nenek, Kai, nenek terpaksa melakukan ini itu semua." Sahut Julia."Nenek bisa menjelaskannya Kai, beri nenek kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan semuanya."
Kaisar menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati Julia.
Hingga tepat berada di hadapan Julia.
"Apa nenek tau, jika lelaki itu adalah musuh ku, bahkan aku hampir saja membunuh anak mu, apa kau menginginkan aku menanggung dosa besar itu?"
Julia kalap bercampur terkejut, ia belum mempersiapkan diri untuk pertanyaan ini.
Hingga akhirnya Julia kembali menciptakan kebohongan.
"Tidak Kai, sungguh nenek tidak mengetahui jika Rafi, mempunyai masalah dengan mu."
Jhon sudah benar-benar muak, dengan kebohongan Julia, dan dengan bodohnya pasti Kaisar akan mempercayai wanita licik itu.
"Nyonya Julia, apa anda sering menemui Rafi? Dan kenapa anda meninggalkan dan tidak mengakui anak anda, apakah harta yang di miliki tuan Marwan, begitu menyilaukan mata anda, hingga dengan tega anda mencampakkan putra anda sendiri."
Ucapan pedas, keluar dengan begitu lantang dari Jhon, yang memeng sudah sejak tadi laki-laki itu menahan geramnya.
"Kurang ajar! Jaga ucapan mu Jhon!"
Julia tidak terima dengan kata-kata yang baru saja Jhon lontarkan.
Jhon tidak menggubrisnya.
"Nyonya, katakan apa maksud dan tujuan anda membohongi keluarga Airlangga?"
"Kau Jangan ikut campur Jhon, ini urusan keluarga kami, dan kau bukan siapa-siapa di sini, jadi! lebih baik kau diam!" Bentakan yang di iringi sindiran, Julia lontarkan.
"Nek, Jhon bagian dari keluarga ini, jadi dia berhak ikut campur." Bela Kaisar, yang semakin membuat Julia terpojok.
"Kai, nenek melakukan ini semua demi kamu, nenek meninggalkan Rafi juga demi bisa terus menemani mu nak!"
"Dan sekarang, Rafi menuntut balas pada Tuan Kaisar dan keluarga Airlangga, apa itu juga yang ada di daftar misi tujuan anda Nyonya?" Jhon, kembali membuka suaranya.
__ADS_1
Dia tau jika Kaisar akan lemah pada wanita itu, oleh karna itulah ia harus menguatkan Kaisar.
"Tuan, anda harus segera memutuskan sesuatu untuk Nyonya Julia." Jhon, beralih pada Kaisar yang masih terdiam dan diam.
Kaisar masih belum bisa berfikir dengan jernih, ia takut jika salah dalam bertindak
tumben sekali.
Biasanya dia akan bar-bar seperti serigala, jika sudah marah.
"Aku akan memutuskannya nanti, sekarang kita kembali ke Mansion."
Tanpa berkata apapun Lagi, dengan tatapan yang kosong Kaisar melangkahkan kakinya menjauhi Julia.
Bahkan ia tak sempat, melihat dan mengetahui kondisi Marwan saat ini.
Julia meraung, berlari dan meraih lengan Kaisar, tapi Kaisar menepis dengan kasar, tangan yang selama ini membesarkannya itu.
"Kai, apa karna kesalahan sekecil ini, kau bisa semarah itu pada nenek yang membantu merawat mu hingga sebesar ini?"
"Nenek bilang ini kesalahan kecil?" Bentak Kaisar. "Baiklah, aku akan memberikan waktu untuk mu nek, agar kau bisa merenungi semua kesalahanmu dan cepat temui anakmu itu sebelum aku melenyapkannya."
Setelah mengatakan itu, Kaisar benar-benar pergi meninggalkan Julia tanpa menoleh pada wanita yang terus memanggil namanya.
"Saya rasa, tidak ada ibu sekejam anda di dunia ini Nyonya Julia,"ucap Jhon, menyindir dan segera pergi meninggalkan wanita, yang dalam keadaan sangat kacau itu.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara di tempat lain.
Orang-orang yang di tugaskan Julia untuk menyerang Mansion, dengan target utama Lisa dan Arga.
Mereka semua di temukan terkapar bersimbah darah di jalan menuju Mansion.
Rafi yang menghadang mereka sebelum sampai di Mansion, Rafi akan terus melindungi Lisa dari Julia, dan ia bisa dengan mudah mengetahui gerak-gerik Julia, Karna ia telah menyadap ponsel ibunya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sudah ada Farel dan Sintia di sana.
Kaisar semakin terpukul, dan kecewa saat Lisa menjabarkan semua kejahatan Julia.
Mulai dari.
Rencana Julia dan Anggel yang akan membunuh Lisa dan Arga, Pristiawan yang terjadi di desa, persekongkolan Julia dan Rafi untuk menghancurkan keluarga Airlangga, dan obat-obatan yang sering Kaisar konsumsi.
Ternyata itu obat yang sengat keras dan berbahaya, lebih tepatnya itu Racun, bukan obat.
Racun itu akan merusak saraf-saraf dan otak, siapapun yang mengkonsumsinya, apalagi jika di gunakan dalam dosis besar dan kurun waktu yang panjang.
Lisa juga menceritakan tentang masa lalunya dengan Rafi.
Dendam yang selama ini terpendam dalam diri Rafi, adalah buah dari sakit hati, kecewa dan rasa sedihnya pada Julia.
Namun lelaki itu tentu tak kuasa jika harus melampiaskannya pada Julia.
Jadi Kaisar lah yang menjadi pelampiasannya.
Ada dua rahasia besar yang masih belum Lisa ungkapan, mengenai siapa ayah kandung Rafi, dan kematian Melissa.
Biarkan Kaisar mengetahuinya secara perlahan, di waktu yang tepat.
Lisa tidak sanggup jika harus mengatakan saat ini juga pada Kaisar, karna kondisi psikis Kaisar benar-benar terganggu karena masalah ini.
Lelaki itu kacau, dan terlihat sangat frustasi, dengan semua kenyataan ini.
Selama berhari-hari Kaisar hanya terdiam dan mengurung diri di dalam kamar, terkadang ia berteriak-teriak melampiaskan semua kekecewaannya pada benda-benda mati yang tidak tau apa-apa di kamar itu.
Kaisar tidaklah sekuat yang di bayangkan, ia rapuh, buruk, dan lemah, mentalnya benar-benar di hancur oleh Julia, Lisa selalu sabar mendampingi dan menenangkan Kaisar, ia tau jika Kaisar memiliki kesehatan mental yang sangat buruk, emosinya akan berubah drastis mengikuti suasana hatinya.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu Mas, aku tau ini berat untukmu, tapi kita harus bisa menerima semua kenyataan ini, Rafi, dia tidaklah bersalah dia sama sepertimu Mas, dan nenek Julia, dia pasti mempunyai alasannya sendiri."
Itulah kata-kata yang selalu Lisa ucapkan, berulangkali selama beberapa hari.
Karna, jika Kaisar mengamuk, dia selalu meneriaki dan mengumpat nama Rafi.
Sama seperti Rafi, Kaisar juga memendam kekecewaan yang begitu dalam pada Julia, tapi ia tak sanggup jika harus melampiaskannya pada Julia, hingga ia akan menuangkan kemarahan pada Rafi.
Sungguh Julia sangat beruntung, ia mempunyai dua anak laki-laki yang sangat menyayanginya dengan sepenuh hati, Rafi ia rela mengorbankan apapun untuk Julia, dan Kaisar meskipun ia bukan darah daging Julia, tapi lelaki itu rela melakukan apapun demi wanita itu.
Kedua lelaki itu, rela menyiksa diri, karna menjaga emosinya pada Julia. Mereka tidak ingin menyakiti Julia baik dengan perbuatan ataupun kata-kata.
🍁🍁🍁🍁
Sudah dua Minggu berlalu.
Kondisi Kaisar semakin memburuk, ia benar-benar mengalami depresiasi berat.
Mungkin orang akan mencibir nya sebagai lelaki lemah, tapi harus di ingat! Kaisar juga manusia biasa yang memiliki hati tak sekeras kayu apalagi beton.
Kaisar kembali di Fase terburuknya, namun kini Lisa yang mendampingi dan menemani Kaisar, Lisa yakin semua ini akan segera berlalu dan Kaisar akan kembali pulih.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di kediaman Marwan.
Lelaki tua itu kini sudah terlihat nampak sehat, karna Julia tidak lagi memberikannya obat.
Julia juga tengah frustasi dengan semua keadaan ini.
Marwan baru mengetahui semua fakta ini, dari Farel dan di benarkan oleh Jhon.
Marwan benar-benar murka.
Dengan tenaga yang masih tersisa, Marwan menyeret Julia dari kamarnya hingga menuruni anak tangga.
"Dasar! Kau wanita tidak tau diri, ternyata kaulah parasit yang selama ini tumbuh di keluarga ku!" Teriak Marwan, dengan otot-otot yang menonjol di lehernya.
"Mas, aku mempunyai alasan melakukan semua ini."
PLAK ....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Julia.
"Kau wanita hina, ternyata kau mempunyai seorang anak dan kau bersekongkol dengan anakmu untuk meracuni Kaisar, dan merusak keluarga Airlangga, apa semua alasan mu itu karena harta?"ucap Marwan, dengan mata yang berapi-api.
Sementara Larasati dan Yuda, hanya bisa menyaksikan kemarahan Marwan tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Kau tidak sepenuhnya mengetahui kebenaran ini mas, bahkan kalian hanya bisa menghakimi ku, tanpa bertanya apa alasan ku." Elak Julia.
Julia mulai berkaca-kaca, ia mengenang kembali masa lalunya yang buruk, dan kini kembali terulang.
"Tidak ada pembelaan untuk wanita laknat sepertimu Julia."
Marwan semakin geram, ia kembali menyeret Julia dengan kasar, bahkan wanita itu sampai terkulai di lantai, tapi Marwan tetep tidak perduli.
"Enyah lah dari hadapan ku!"
Marwan menghempaskan tubuhnya Julia, keluar dari pintu rumahnya.
Julia tersungkur, hingga ia membentur sebuah batu yang ada dia sana, darah mengalir di ujung pelipisnya.
"Astaga! Apa yang papah lakukan!" Pekik Larasati.
Larasati berlari ingin membantu Julia.
Tapi langkahnya terhenti ketika Marwan berteriak.
"Hentikan langkah kakimu Larasati!"
__ADS_1
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah setia dan selalu berkenan membaca cerita Mak, yang receh ini.🙏🙏😘😘😘