Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 78. Di luar dugaan


__ADS_3

"Selamat datang tuan Kaisar, tuan Jhon."


Pak kades yang menyapa mereka.


"Silahkan duduk tuan!"


"Terimakasih!" Sahut Jhon.


"Jadi, untuk apa pak kades mengumpulkan kami semua di sini?" Satu warga mulai bersuara.


"Ini mengenai masalah yang sering terjadi di desa kita."


"Apa pak kades, sudah menemukan siapa pelakunya dan apa mereka akan mengembalikan Arga."


Kaisar mendengus kesal mendengar mereka menginginkan Arga, jika bukan di tempat keramaian seperti ini sudah bisa di pastikan Kaisar akan merobek mulut orang itu.


Sementara pak kades diam, karena dia sendiri pun tidak tau. Ini semua Jhon yang mengaturnya ia hanya di minta untuk mengumpulkan para warga saja tanpa tau apa tujuannya.


Semua mata melirik pada Kaisar, tentu! mereka pikir Kaisar lah pelaku dan penyebabnya.


"Cepat pak, katakan apa yang ingin bapak sampaikan, jangan buang-buang waktu."


Mereka sudah sangat tidak sabar.


Jhon mengisyaratkan seseorang untuk masuk ke dalam aula pertemuan itu.


Hanya butuh beberapa detik, masukkan dua pria yang di dampingi pengawal Kaisar.


Semua mata membelalak menatap kehadiran kedua pria itu.


Sekilas, memang nampak asing bagi mereka, karena ke dua pria itu tidak pernah terlihat di desa.


Tapi mereka seperti mengenali salah satu dari pria itu. Terutama bude Darmi.


Ia sampai berkaca-kaca menatap pria itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki tak luput dari pandangannya.


Meski sudah 10 tahun, tentu ia akan tetep mengenalinya.


"Feri." Ucap bude Darmi dengan lirih.


Semua warga terkejut dengan nama yang di sebut bude Darmi.


"Apa! Feri!"


"Iya benar! dia Feri, saya masih ingat betul dengan wajahnya." Sahut seorang warga.


"Ternyata dia masih hidup, aku tidak menyangka."


Ya dia Feri, salah satu, dari dua pria yang Kaisar temukan di rumah tengah hutan tempo hari.


Kaisar menepati janjinya untuk membawa Feri pada keluarganya.


Pria yang bernama Feri, segera menghambur memeluk bude Darmi.


"Ibu." Lirihnya, di dalam pelukan wanita paruh baya itu.


"Ini, benar Feri, putra ku!"


Sambil berlinang air mata, bude Darmi meneliti setiap garis wajah, pemuda yang hilang selama bertahun-tahun itu.


Feri mengangguk, meyakinkan ucapan ibunya.


Bude Darmi tak kuasa menahan tangis bahagianya, anak yang selama ini ia tunggu-tunggu kepulangan nya, kini berdiri tepat di hadapannya. Serasa mimpi baginya yang mendapati anaknya kembali setelah di nyatakan hilang bahkan semua orang meyakini jika Feri sudah meninggal dunia.


Semua warga ikut bahagia menyaksikan momen haru, anak dan ibu yang lama terpisah itu.

__ADS_1


"Lalu, dia siapa?" Pertanyaan pak kades menyadari jika ada satu orang lagi yang mereka lewatkan.


Pak kades bertanya tentang pria yang datang bersama Feri.


"Dia, dokter Firman, dokter yang saya jemput 10 tahun yang lalu."


Dan Feri pun menceritakan rentetan kejadian yang menimpanya dan dokter Firman 10 tahun lalu, persis seperti yang ia ceritakan pada Kaisar. Dan semua cerita itu di benarkan oleh dokter Firman asli.


Bagaikan Sambaran petir di tengah gurun pasir.


Semua terkejut, tercengang, terbengong dan ternganga.


Mendengar cerita dari Feri dan dokter Firman yang asli.


"Jika kau dokter Firman yang asli, lalu siapa dia?" Geram warga, menunjuk Firman palsu yang tengah terduduk santai di kursi barisan depan.


Sungguh di luar dugaan Kaisar.


Kaisar membayangkan, jika warga mengetahui kebohongannya, Firman akan terkejut, panik, ketakutan, histeris dan segala keburukan sudah Kaisar gambarkan di benaknya.


Tapi, apa ini?


Kenapa dia malah terlihat santai.


Seperti sedang menonton drama Korea kesukaannya.


Jangankan takut, panik, bahkan kabur karena sudah ketahuan bohongnya.


Ia malah menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Apa ini, dia tidak bereaksi apa pun. Apa sebenarnya ia juga menginginkan terlepas dari sandiwaranya. Batin Kaisar.


Ya, bukan seperti ini yang di harapkan Kaisar.


Sepertinya kita memang harus menyiapkan arena khusus.


"Ayo, cepat mengaku, dasar penipu." Bentak warga pada Firman palsu.


"Iya, dia benar-benar seorang penipu yang kejam."


"Dasar tidak tau malu."


"Dasar, kejam, bengis, memanfaatkan orang lain demi keuntungan sendiri."


"Dia telah menipu Kita selama bertahun-tahun."


Dan masih banyak lagi, caci-maki hujatan dan hinaan yang di lontarkan warga pada Firman palsu.


Tapi Firman masih saja tidak bergeming dari duduknya.


"Kita apakan dokter gadungan, yang sudah menipu kita dan menyandra Feri?" Emosi warga sudah tersulut.


"Kita hajar saja dia sampai mati."


"Tidak! Lebih baik kita seret dia keliling desa, setelah itu kita gantung dia di tengah alun-alun desa ini." Geram warga.


"Saya setuju! Dan sekali pun dia memohon ampun, kita jangan pernah mengampuninya."


Semuanya tidak akan terjadi, karena akulah yang akan menghabisi nyawanya. Batin Kaisar.


Apa Firman takut?


"Haha.... Haha ....!" Firman palsu, malah tertawa terbahak-bahak mendengar makian dan ancaman para warga.


"Jadi seperti ini rasanya, di maki-maki warga." Gumam Firman.

__ADS_1


Ya, karena selama menyandang gelar dokter yang ia rebut dari orang lain, Firman palsu selalu di puja-puji dan di hormati oleh warga, baru kali ini ia di maki.


"Apa kau puas Kai, inikan maksud dari tujuan mu,"ucap Firman, yang melirik pada Kaisar, yang juga tidak bergeming dari tempatnya.


Kaisar tengah Fokus memperhatikan musuhnya itu, sepertinya ia mulai memahami sesuatu.


"Kurang ajar!" Warga semakin geram dengan sikap Firman yang seolah meremehkan mereka.


"Cepat, seret dia." Dan warga mulai anarkis seperti biasanya.


Tapi sebelum mereka berhasil meraih lengan Firman.


Beberapa orang dari kerumunan itu, membuat benteng perlindungan untuk Firman.


"Apa-apa ini! Kenapa kalian malah melindungi dokter palsu ini." Kesal warga.


"Karena beliau tuan kami, kami akan melindungi beliau dengan nyawa kami." Ucap salah seorang yang membuat benteng untuk Firman."


Dan jika kalian ingin menyentuh tuan kami, langkahi dulu mayat kami." Sambungnya.


Rupanya, separuh dari warga adalah orang-orangnya Firman, yang juga ikut serta membantu semua aksi yang Firman lakukan.


Firman bangkit dari duduknya, ia melepaskan jubah putih, yang menjadi kebanggaan setiap dokter itu.


"Aakhh.... Akhirnya aku bisa terlepas juga dari sandiwara bodoh ini." Ucapnya, seraya memberikan jubah putih itu, pada pemilik sebenarnya, yang tengah mematung menyaksikan semua itu.


"Ini, saya kembalikan milik mu." Ucap Firman pada dokter itu."


"Baiklah, sekarang kalian sudah tau kan siapa saya sebenarnya." Ucap Firman.


"Dan apa kalian semua tau, kalau saya juga yang menaburkan racun di mata air tengah hutan, yang menjadi konsumsi kalian."


"Dan semua teror, musibah, kesengsaraan yang terjadi di desa ini adalah ulah saya, dan saya juga yang menyebabkan kalian gagal panen beberapa tahun lalu." Dengan bangga Firman mengakui semua kejahatannya.


Warga semakin geram mendengar pengakuan Firman.


Sudah tidak bisa di tahan atau di bendung lagi, emosi benar-benar sudah menguasai mereka.


Dan mereka mulai menyerang Firman dengan segala senjata dadakan yang ada di sekeliling.


Tentu benteng Firman tidak akan membiarkan jika tuannya di amuk masa.


"Serang saja dia, termasuk para penghianat ini." Ucap warga.


Dan perkelahian antara dua kubu pun terjadi.


Di tengah perkelahian antar warga itu.


Ada dua pasang mata yang saling menatap dan memburu.


Ia Firman dan Kaisar.


Mereka tidak perduli dengan keributan yang ada di sekeliling.


Karena keperdulian mereka adalah tarung satu lawan satu.


Kaisar mengisyaratkan agar mereka menjauh dari pertempuran para warga.


Seperti isi pesan itu, hanya kita berdua.


Dan Kaisar menginginkan itu.


🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁🍁


Trimakasih atas dukungannya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2