
Suster keluar dari ruangan dan segera mengabari keluarga Farel yang tengah menunggu.
"Maaf, Tuan Nyonya."
Suster memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, membuat Larasati dan yang lainnya panik.
"Ada apa sus?"
"Nyonya, tuan Farel pingsan!"
"Apa! Farel pingsan?"
"Benar nyonya."
"Kenapa dia bisa pingsan? Lalu bagaimana dengan keadaan Sintia?" Kali ini Yuda yang bertanya.
"Mungkin tuan Farel Syok karena mendengar suara bayi dan melihat darah, atau mungkin karena tegang dan kelelahan, Nona Sintia beserta bayinya selamat, meskipun terjadi sedikit pendarahan dan nona kelelahan tapi semua sudah terlewati."
Semua bahagia dan lega mendengar kondisi Sintia, dan bayi selamat! Dan baik-baik saja.
"Sekarang Farel ada di mana sus?"
"Masih berada di ruang bersalin tuan, kami meminta bantuan anda untuk membantu mengangkat Tuan Farel."
Mereka pun segera menuju ruang bersalin Sintia, tapi mereka masih belum bisa melihat Sintia, karena dokter masih membersihkannya beserta bayinya.
Yuda dan Kaisar mengangkat Farel, dan di baringkan di ranjang bersebelahan dengan Sintia, yang hanya terhalang dengan tirai saja.
"Si brengsek ini, baru segitu saja sudah pingsan, benar-benar merepotkan,"kesal Kaisar.
"Mas, kamu tidak boleh bicara seperti itu, dia seperti ini karena terlalu menghawatirkan Sintia."
"Mas juga, selalu mengkhawatirkan mu tapi tidak sampai pingsan."
"Sudah, Mas."
Dokter datang untuk memeriksa keadaan Farel.
Dan semua kini di cemaskan dengan keadaan Farel yang tiba-tiba pingsan.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Di tempat lain, tapi di waktu yang bersamaan.
Luna dan Diki terkejut!
Ternyata yang menarik kursi dengan begitu kasar adalah Jhon.
"Kak Jhon? Di sini juga?" Tanya Luna asal, Karna ia tidak tau harus bertanya apa, saking terkejutnya.
"Ya,"sahut Jhon singkat.
Luna canggung sekaligus ngeri, melihat mata Jhon sampai tidak berkedip sekalipun menatap Diki yang tengah berdiri di sampingnya.
"Aku sedang memesan makanan, kesukaan mamah, apa kak Jhon juga mau?" Tawarnya, untuk menghilangkan kecanggungan.
"Tidak! Aku tidak suka dengan apa yang ada di kantin ini." Jhon menyahut Luna , tapi matanya tertuju pada Diki.
Jhon melangkahkan kaki mendekati Luna, dan melingkarkan tangannya di pinggang Luna.
Lalu ia menatap tajam mata Diki.
"Apa kantin di sekitar sini hanya ada satu, hingga anda memilih untuk membeli makanan di sini?"tanya Jhon, yang pertanyaan itu ia tunjukkan untuk Diki.
Diki tersenyum sangat manis dan ramah, lalu menjawab pertanyaan Jhon.
"Kebetulan hanya di kantin ini yang menjual makanan yang ingin saya beli tuan, dan kebetulan saya bertemu dengan Luna di sini, dan ini adalah sebuah keberuntungan bagi saya."
"Keberuntungan?" Mata Jhon sudah mau lepas, menatap Diki.
"Iya, karena saya sudah sangat lama tidak bertemu dengan Luna."
Jhon mengepalkan tangannya.
Apa aku harus membuat dia tidak bisa melihat Luna, untuk selamanya. Batin Jhon.
"Bagaimana dengan kabar anda, terakhir kita bertemu di Kafe xxx beberapa waktu yang lalu, sudah sangat lama sekali,"Diki berbicara, dengan akrab sambil mengulurkan tangannya.
Jhon menatap tangan itu, dan meraih jabatan Diki.
Tapi Diki meringis, karena Jhon menjabat tangan itu dengan sangat kuat, sampai membuat semua jari-jari tangan Diki terkilir.
Dan Jhon tersenyum puas.
Ini baru di jari tangannya saja sudah membuat dia meringis seperti itu, apalagi jika seluruh badannya aku remuk kan, dasar lelaki lemah.
"Kak, sudah kenapa kalian berjabat tangan lama sekali,"ujar Luna, yang merasa ada yang tidak beres dari jabatan tangan itu.
Jhon melepaskan jabatannya, lalu tersenyum, sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Sedangkan Diki tengah menahan sakit, pada jari tangannya yang terasa mau patah saja, ingin rasa Diki mengibaskan tangannya dan meringis sambil mengaduh, tapi itu gengsi ia lakukan di depan Luna, wanita pujaan hatinya ketika masa kuliah dulu.
"Ini mbak pesanannya,"pemilik kantin menyerahkan bungkusan pada Luna, dan berhasil membuyarkan ketegangan di sana.
"Terimakasih."
"Apa sudah selesai?" Tanya Jhon.
"Sudah kak."
__ADS_1
"Ayo kita kembali."Ajak Jhon.
"Tunggu!" Cegah Diki.
Luna menoleh ke arah Diki.
"Ada apa?"
"Luna, Minggu depan tolong luangkan waktumu untuk menghadiri, pembukaan toko kue ku."
"Kau jadi membuka toko kue?" Luna sangat berantusias.
"Iya, aku mengikuti saran yang kamu berikan."
"Baiklah, akan aku usahakan datang, selamat ya!"
Diki tersenyum manis pada Luna, dan itu membuat Jhon semakin kesal pada lelaki itu.
Dan Luna berpamitan untuk kembali ke Rumah sakit.
🍁
Luna berjalan beriringan dengan Jhon menuju rumah sakit.
"Kak!"
"Iya!"
"Bagaimana menurut kak Jhon, tentang Diki?"
Jhon mengedikan bahunya.
"Tidak bagaimana-bagaimana."
Kenapa jawabannya seperti itu. Batin Luna.
"Apa, aku boleh menghadiri acara pembukaan toko kue nya?"
"Boleh, tapi aku akan menemanimu."
Luna tersenyum.
"Kenapa harus di temani?"
"Aku tidak suka dengan lelaki itu."
"Kenapa kak Jhon tidak suka, apa kak Jhon cemburu pada Diki?" Pertanyaan Luna, yang langsung membuat Jhon terkejut.
"Cemburu?"
Luna mengangguk.
"Benarkah?"
"Apa seperti itu cemburu?" Tanya Jhon.
"Astaga! Mana aku tau, yang bisa merasakan itukan kak Jhon, makanya aku bertanya apa kak Jhon cemburu pada Diki, hingga ingin menemani ku untuk menghadiri acaranya?" Luna yang mulai emosi.
Jhon menyentuh tungkainya.
"Aku hanya ingin menemani dan menjaga mu dari lelaki itu, karna sepertinya Lelaki itu suka padamu, jika kau menganggap itu sebagai cemburu, tidak masalah, anggap saja."
Bicara dengannya memang sangat sulit.
"Apa kak Jhon tau apa itu cemburu?"
Jhon terdiam, dan berfikir.
"Sepertinya Aku tau, tapi aku akan bertanya pada tau Kaisar, untuk memastikannya."
Apa pertanyaan seperti itu perlu melibatkan kak Kaisar. Kesal Luna.
Dan Luna pun tidak mau bertanya apapun lagi pada lelaki yang tidak tau apa-apa soal cinta dan antek-anteknya.
🍁🍁🍁🍁
Farel terbangun dari pingsannya.
Ia panik, dan langsung beranjak dari ranjangnya.
"Sintia! Kau pasti bisa, kau pasti kuat, bertahanlah sebentar lagi." Ucapannya dengan sangat keras, memenuhi seisi ruangan.
Lalu Farel terdiam ketika menyadari, ada banyak orang yang tengah memperhatikan.
"Kau sudah bangun? Baru saja aku hendak menghubungi tempat pemakaman untuk mempersiapkan satu liang kubur untuk mu, yang tidak kunjung Bangun."Kesal Kaisar.
Brengsek! Dia bicara apa? Perkataannya, secara tidak langsung, mendoakan aku mati. Batin Farel.
"Mas!" Lisa menyetuh Lengan Kaisar, dan menggelengkan kepalanya, agar lelaki itu tidak bicara apapun lagi.
Farel pingsan lebih dari 12 jam.
Membuat semua orang khawatir.
Tapi akhirnya ia bangun juga.
Membuat semua lega, tapi tidak dengan Kaisar, ia yang paling merasa di repot kan dengan pingsannya Farel, hingga ia melampiaskan kekesalannya ketika lelaki itu tersadar.
"Kenapa kalian ada di sini? Di mana Sintia?,"Farel beralih pada Larasati,"mah tadi aku mendengar suara bayi yang menangis, dan melihat banyak darah!"
__ADS_1
Larasati tersenyum.
"Itu suara bayi mu, Sintia Sudah melahirkan anak mu dengan selamat dan sehat."
"Benarkah?" Wajah Farel berbinar.
"Akhirnya, aku berhasil membuatnya bertahan, dan aku sudah menemani dan mendampinginya sampai ia berhasil." Sambungnya.
"Tapi kau sudah membuat repot semua orang, karena kau pingsan di ruang bersalin." Sahut Kaisar.
"Apa aku pingsan?" Bingung Farel.
"Tapi tidak apa-apa kak Farel, kau tetep hebat dan luar biasa." Sambung Luna.
Membuat Farel semakin bangga pada dirinya.
🍁🍁
Farel di antar menuju ruang rawat Sintia yang berada persis di sebelahnya.
Ia sangat bahagia dan terharu melihat bayi perempuan yang mungil dan sangat lucu, tengah tertidur di Boks bayi yang berada di sebelah ranjang Sintia.
"Selamat! Ya nak, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah, itu artinya tanggung jawab mu akan lebih besar lagi untuk keluargamu, jaga dan sayang istri dan anakmu dengan sepenuh dan setulus hati,"kata Larasati.
"Iya mah, itu pasti."
Farel beralih pada istrinya, ia memeluk Sintia dengan erat.
"Terimakasih, terimakasih untuk semuanya."
Meskipun hubungan mereka tidak semanis dan seromantis Kaisar dan Lisa, karena mereka lebih sering terlibat perdebatan kecil di setiap harinya.
Tapi percayalah mereka berdua sungguh saling mencintai dan menyayangi satu sama lain.
Karena setiap pasangan mempunyai cara yang berbeda-beda untuk menunjukkan kebahagiaan dan keharmonisan keluarga mereka.
🍁🍁🍁🍁
Satu Minggu berlalu.
Luna tengah bersiap-siap untuk menghadiri pembukaan toko kue Diki, teman kuliahnya dulu.
Begitupun dengan Jhon, ia ikut serta menemani Luna ke acara tersebut.
"Kak Jhon, sudah siap! Ayo kita berangkat?" Ajak Luna, yang saat ini sudah sangat-sangat siap dengan penampilan yang sungguh berbeda, dia sudah seperti gadis dewasa yang sangat mempesona dan mampu menyihir mata para laki-laki. Sangat berbeda dengan penampilan yang biasanya.
"Apa kau memakai pakaian seperti itu, dan harus berdandan seperti itu, hanya untuk menghadiri pembukaan toko kue?" Tanya Jhon yang melihat penampilan luar biasa Luna.
Luna mengangguk.
"Tentu saja, ini hari sepesial bukan, jadi aku harus berpenampilan berbeda dari yang biasanya."
Setelah mengatakan itu, Luna berlalu dari hadapannya Jhon.
"Aku tunggu di depan ya Kak, jangan terlalu lama." Ucapannya.
Jhon masih mematung, menatap kepergian Luna.
"Bisa-bisanya Dia berpenampilan secantik itu, hanya untuk menghadiri pembukaan toko kue lelaki tidak berguna dan lemah itu." Gumam Jhon.
"Tadi dia mengatakan jika ini hari sepesial, apa ini semua untuk lelaki lemah itu, apa dia berniat menyihir mata para lelaki yang ada di acara itu, ini tidak bisa di biarkan!"
Jhon segera menyusul Luna.
Dia tidak mengerti dengan kata hari sepesial bagi Luna, yang sebenarnya di tunjukkan untuknya.
"Luna tunggu!"
"Kenapa kak?"
"Aku minta ganti pakaian mu, dan hapus makeup mu."
"Apa? Yang benar saja!"
Aku sudah berjam-jam berdandan seperti ini, tapi dia menyuruh menghapusnya! benar-benar tidak berpri kemanusiaan.
"Tentu saja benar."
"Tapi kenapa?"
"Karna....!" Jhon masih berpikir, untuk mencari alasan yang tepat,"Karna kau tidak cocok dengan pakaian dan makeup seperti itu."
"Benarkah! Sayang sekali, padahal aku sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari."
Apa, dia menyiapkannya sudah jauh-jauh hari!
"Tapi tidak apa-apa kak, dari pada aku harus ganti pakaian dan berdandan ulang, akan membuang-buang waktu saja nanti kita bisa terlambat, jadi! Aku seperti ini saja."
"Bergantian pakaian, atau tidak pergi sama sekali?"ujar Jhon.
Luna menekuk wajahnya.
"Baiklah!" Sahut Luna kesal, dan ia kembali masuk kedalam dan mengedit ulang hasil karya yang ia pelajari selama berhari-hari dan ia praktekkan ber jam-jam lamanya.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
Jangan bosen ya 🙏🙏🤗🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️😘