Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 154. Keadaan Yang Sudah Kembali Normal.


__ADS_3

Kaisar menghampiri Lisa, dan menjauhkan tubuh yang tengah memeluk Nur itu.


"Sayang, sudah, kita harus kembali ke Mansion."


Lisa mengangguk.


"Iya Mas."


Dan Lisa kembali beralih pada Nur.


"Nur, kamu jangan khawatir, ibumu pasti akan segera kembali ke tanah air, dan aku berharap kau bersedia mempertanggung jawabkan semua yang kau lakukan."


'iya, aku akan bertanggung jawab Lis." Meskipun Nur mengatakan itu dengan gemetar, karena ia takut jika untuk bertanggung jawab ia harus di siksa seperti Toni.


Tapi ia tidak mengatakan apapun pada Lisa.


Yang terpenting ibunya bisa kembali ke tanah air.


Nur kembali di bawa ke ruangannya, di ikuti Jhon dan Luna yang memasuki satu ruangan.


"Kami tinggal dulu sebentar tuan,"pamit Jhon.


Dan hanya di balas anggukan oleh Kaisar.


Lisa yang penasaran dengan ruangan itu, ingin ikut serta masuk, tapi lagi-lagi Kaisar menahannya.


"Sayang, jangan ke sana, tetep di sini."


Dan mau tidak mau, Lisa pun tidak memasuki ruangan itu.


Tapi ia tetap heran kenapa Nur justru di bawa kesini bukan ke kantor polisi.


"Mas, kenapa Nur ada di sini? Kenapa tidak membawanya ke kantor polisi?"


"Jhon yang menginginkannya."


"Menginginkannya! Apa maksudmu mas? Jhon tidak melakukan apapun kan pada Nur?"


"Sayang, kau jangan terlalu berpikir yang berat-berat."


"Mas, berjanjilah padaku jika kau tidak akan melakukan apapun pada Nur, serahkan saja dia ke kantor polisi."


Kaisar menatap lekat wajah istrinya, sebenarnya ia sangat sebal karena Lisa selalu membela temannya itu, tapi Kaisar harus menurunkan egonya, ia tidak ingin mengecewakan apa lagi membuat Lisa sedih, kebahagiaan dia adalah yang terpenting bagi Kaisar.


Dan Nur pun tidak sepenuhnya bersalah, mungkin Kaisar pun akan melakukan hal yang sama jika nyawa ibunya yang menjadi taruhan.


Akhirnya Kaisar pun mengangguk.


"Baik, mas berjanji."


Lisa tersenyum senang.


"Terimakasih mas, tapi mas apa kamu sudah menemukan paman Toni? Dia yang menyekap ibunya Nur, maukah Mas membantu untuk itu?"


"Iya, kau tidak perlu menghawatirkan apapun, ibunya wanita itu akan segera kembali ke tanah air."


Lisa memeluk Kaisar, dan kembali mengucapkan terimakasih.


Dan tentu Kaisar membalas pelukan itu jauh lebih hangat.


🍁


Setelah meminta Jhon untuk tidak menyiksa Nur, dan menyerahkannya ke kantor polisi, Kaisar dan Lisa kembali ke Mansion.


Kaisar sudah meminta anak buahnya untuk mengurusi permasalahan ibunya Nur agar ia bisa kembali ke tanah air.


🍁🍁🍁


Nur benar-benar di giring di kantor polisi.


Meskipun Luna sudah memaafkan semua kesalahannya, tapi proses hukum tetap berjalan.


Dan Nur pun dengan ikhlas dan akan mempertanggung jawabkan semua perbuatannya dengan mendekam di balik jeruji besi, asalkan ibunya selamat dari ancaman Toni, dan bisa kembali pulang.


Sedangkan Toni, nasibnya berbeda dengan Nur

__ADS_1


Jhon masih saja menahan pria itu, entah sampai Kapan ia akan melakukan hal mengerikan itu pada Toni, setelah di siksa dan terluka parah, ia akan di obati sampai sembuh dan setelah sembuh ia kembali di siksa sampai terluka.


Dan terus terulang dan ulang lagi.


🍁🍁🍁


Beberapa hari berlalu.


Mira, ibunya Nur, dengan semua yang di lakukan Kaisar akhirnya ia kembali ke tanah air dengan selamat!


Nur masih dalam penjara untuk beberapa tahun kedepan.


*


*


*


Dan kondisi Yuda sudah mulai membaik, begitupun dengan semua asetnya yang sudah kembali Normal.


🍁


"Kai, di mana paman mu Toni?"


Pertanyaan Yuda, membuat Jhon dan Kaisar terdiam dan saling pandang. tidak ada yang bersedia menjawab pertanyaan itu.


Yuda melanjutkan perkataannya.


"Biar bagaimanapun juga, dia paman kalian, biarkan hukum yang mengadili nya kita tidak berhak mengadili kejahatan seseorang."


Perkataan Yuda seolah tengah memperingati ke dua manusia ini, dan dari perkataannya, sepertinya Yuda mengetahui jika Toni berada, di tangan Jhon dan Kaisar.


"Baik pah!"


Dan kata itulah yang akhirnya keluar dari bibir Jhon dan Kaisar.


Tapi hati mereka masih terasa berat untuk melepaskan buruannya begitu saja.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya, Toni benar-benar di bebaskan oleh Jhon dan ia di seret ke kantor polisi, tapi Jhon memperingati Toni untuk tidak mengatakan apapun tentang Dirinya dan Kaisar yang sudah menyekap dan menyiksanya.


Polisi sampai menggelengkan kepalanya, dan berkata pada Toni siapa yang melakukan itu semua.


Toni diam, ia masih ingin hidup, jadi ia tidak mengatakan apapun.


Yuda sudah pulang dari rumah sakit, dan saat ini ia tengah membesuk Toni.


"Toni, bagaimana dengan kabar mu?"


"Kau tidak perlu bertanya pun, tentu kau sudah mengetahuinya kan?" Sahut Toni, dengan nada yang tidak suka.


"Kenapa kau kembali dengan cara seperti ini? Bukankah kita bersaudara, jika kau menginginkan apa yang telah papah Marwan berikan pada ku, tentu aku akan memberikan apa yang kau mau, tidak perlu sampai seperti ini, bahkan kau sampai tega merusak kebahagiaan keponakan mu sendiri."


"Aku tidak butuh ceramah mu!" Cetus Toni.


"Toni, kita bersaudara, kita sama-sama anak papah Marwan."


"Aku tidak perduli, dan aku juga sudah tidak menganggapnya papah dan aku juga tidak pernah menganggap mu sebagai kakak ku." Ucap Toni.


"Terserah pada mu, tapi aku tetep kakak mu."


Toni membuang wajahnya, dan beralih pada Polisi yang tengah mengawasinya.


"Pak polisi, saya ingin kembali ke Sel, dari pada saya harus berbicara dengan orang ini,"ucap Toni.


Dan iapun kembali pada Sel penjaranya.


🍁🍁🍁


Semua sudah tampak normal dan kembali seperti semula.


Luna sudah membuka kembali Restorannya, dan menjalankan aktifitas seperti biasa.


Kini Luna juga, memperhatikan usaha Catering milik Nur yang di teruskan oleh ibunya, di sini Luna banyak membantu untuk mengembangkan usaha Nur.

__ADS_1


Ia tidak mau jika ada usaha yang harus redup, karena Restonya.


Keluarga kecil Kaisar pun sudah baik-baik saja dan lebih terlihat sangat bahagia semenjak kehadiran bayi Clara.


Apakah akan terus seperti ini?


🍁🍁🍁


"Kak Jhon, Kakak ipar Sintia akan segera melahirkan,"seru Luna, setelah membaca pesan dari Mamahnya.


"Benarkah!" Sahut Jhon dengan santai.


"Tentu saja benar."


Kenapa dia bisa sesantai itu? Batin Luna.


"Ayok Kak, kita ke Rumah sakit sekarang!" Ajak Luna.


"Aku belum menghabiskan sarapan ku."


"Baiklah cepat habiskan, aku akan bersiap-siap sambil menunggu mu."


Luna segera berlalu kedalam kamarnya.


Aku selalu mendengar kabar wanita lain yang melahirkan, lalu kapan dengan istri ku. Batin Jhon.


🍁🍁🍁


Di Rumah sakit.


Kepanikan dan kecemasan membuat gaduh seisi rumah sakit.


Bukan cuma Larasati, dan Yuda yang ikut menenangkan tapi juga dokter sampai turun tangan untuk menenangkan seseorang yang mengalami kecemasan yang berlebih.


"Farel, tenang nak, semua akan baik-baik saja,"kata Yuda.


"Iya Nak, semua wanita yang akan melahirkan memang mengalami hal seperti ini, itu wajar sayang, dan mamah yakin Sintia pasti bisa melewatinya,"sahut Larasati, yang terus mengusap punggung Putra keduanya itu.


"Benar tuan Farel, itu namanya kontraksi dan umum terjadi pada wanita yang segera melahirkan, tapi itu tidak akan lama hanya sampai bayinya keluar saja," kata dokter, yang sudah berulangkali, mengatakan kata-kata yang sama pada Farel.


"Sebentar apanya? Ini sudah sangat lama, baik-baik apanya? Jelas-jelas dia meringis kesakitan,"sahut Farel, dengan mengusap rambutnya kasar.


Ia mondar mandir tak tenang, gemetar dan ketakutan, berulang kali ia mengusap rambut dan wajahnya dengan sangat kasar.


Ketika melihat Sintia yang tengah merasakan sakit akibat kontraksi.


Sedangkan Sintia sendiri, tengah terbaring di ranjang di temani Lisa di sampingnya, menatap Farel.


"Coba kau lihat Sintia, Dia seperti seseorang yang depresi karena mencemaskan keadaan mu,"kata Lisa.


"Dia berlebihan, sampai membuat keributan di rumah sakit,"sahut Sintia, "padahal aku yang mau melahirkannya saja bisa tenang." Sambung nya.


"Dia terlalu menghawatirkan mu Sin."


Mereka berdua masih menatap Farel, yang semakin gelisah, bahkan lelaki itu sampai memukul-mukul tembok dan bolak balik bertanya pada Sintia.


Apa sangat sakit?


Dan selalu di balas kata Tidak oleh Sintia agar suaminya itu bisa sedikit tentang.


Namun tetep saja, yang namanya sakitnya kontraksi tidak bisa di tahan apalagi di sembunyikan, Farel melihat itu semua dan membuatnya semakin frustasi.


Bahkan saking Hebohnya Farel, ia sampai memasuki semua kamar yang terdapat ibu-ibu yang baru melahirkan, untuk bertanya apakah sakit atau tidak.


Tentu saja para ibu-ibu itu mengatakan dengan lantang


(Tentu saja sangat sakit, bahkan rasanya seperti mau mati saja, tulang serasa di Remukan dan seluruh otot-otot seperti terputus dan terlepas dari tempatnya)


Pernyataan itu yang terngiang-ngiang di benak Farel, hingga membuatnya menjadi seperti ini.


Sedangkan Kaisar.


Lelaki itu nampak duduk tenang sambil menonton Farel yang terlihat semakin kacau, ia sangat menikmati pemandangan itu.


🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏


Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️😘


__ADS_2