
Akhirnya Jhon mengambil jenis sayuran yang lain.
Setelah selesai dengan semua keperluannya.
Jhon keluar dari swalayan itu, dan berjalan menuju Apartemennya.
🍁
Jhon melihat wanita yang tadi merebut sayurannya, wanita itu tengah berdiri di halte Bus.
Jhon menghentikan langkahnya, ia malah memperhatikan wanita itu, Jhon masih sangat penasaran dengannya.
"Aku sangat yakin jika pernah bertemu dengan gadis itu, jika saja dia tidak menggunakan kacamata sebesar itu, aku pasti akan lebih mudah mengingatnya." Gumam Jhon yang masih memperhatikan gerak-gerik wanita yang tengah menunggu Bus.
Entah kenapa Jhon sangat yakin jika pernah bertemu dengan wanita itu, wanita yang mengenakan kacamata besar, yang hampir menutupi separuh wajahnya, lengkap dengan poni yang menutupi keningnya dan rambut yang di kepang 2.
Cukup lama wanita itu berdiri namun tidak ada Bus yang melintas di halte itu.
Jhon merapihkan topinya, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Tapi buka ke Apartemen, melainkan ke halte bus di mana wanita itu berada.
Beberapa menit kemudian Jhon sudah berdiri tepat di samping wanita itu.
"Aah... Kenapa Busnya lama sekali, jika seperti ini aku bisa terlambat dan semua usahaku sia-sia, bos pasti akan marah besar,"gumam wanita itu, Seraya melihat jam di pergelangan tangannya.
Jhon yang masih berdiri tidak berani untuk menyapa terlebih dahulu, bukan tidak berani, lebih tepatnya gengsi.
Ia berharap wanita itulah yang melihatnya terlebih dahulu lalu menyapa.
Namun!
Cukup lama Jhon menunggu, wanita itu tak kunjung melihat keberadaannya.
Apakah aku tidak semenarik itu? Hingga wanita culun seperti dia saja tak mau melirik ku, padahal ketampanan ku masih setara dengan tuan Kaisar. Gumam Jhon dalam hati.
Ting!
Bagai di film kartun.
Muncul sebuah bohlam yang menyala terang di atas kepala Jhon.
Dan akhirnya ia mempunyai ide konyol yang ia rasa akan berhasil.
BUG.
Dengan sengaja Jhon, menjatuhkan tas yang berisi beberapa belanjanya.
Berhasil!
Suara yang di timbulkan dari benda jatuh itu, bisa membuat si wanita melihat ke arahnya.
Wanita itu menatap Jhon yang tengah mengambil tasnya yang jatuh.
Bukankah dia lelaki yang tadi di swalayan, astaga! kenapa harus bertemu di sini, tapi kenapa aku merasa tidak asing dengan lelaki itu
"Anda tidak apa-apa tuan?" Tanya gadis yang menurut Jhon culun itu.
"Tidak!" Balasnya dengan singkat.
Bahkan suaranya pun sungguh tidak asing di telinga ku.
"Apakah tadi anda yang berada di Swalayan? Anda ingat dengan saya?"
"Maaf, saya tidak kenal dengan Anda, jadi tidak mungkin jika saya mengingat anda,"sahut Jhon, yang pura-pura tidak mengenali wanita itu.
"Syukurlah kalau anda tidak mengingatnya." Lega wanita itu.
"Tapi sekarang saya sudah mengingatnya."
"Ah.. ternyata cepat juga anda kembali mengingatnya, soal sayuran itu saya benar-benar sangat membutuhkannya tuan, jadi....!"
Bug ...
Beberapa anak-anak remaja berlarian hingga membentur tubuh Jhon.
Jhon yang terkejut sedikit oleng tapi tak sampai membuatnya jatuh.
Hanya topi yang menutupi separuh wajahnya saja yang terjatuh.
Wajah Jhon terlihat dengan sangat jelas ketika topi hitam itu Lolos dari kepalanya.
Membuat wanita yang berdiri di sampingnya terkejut setengah mati.
Ka Jhon, ya tuhan ini gawat sangat gawat.
Wanita itu langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
*Kenapa ka Jhon bisa ada di sini, dan yang lebih parahnya aku sama sekali tidak mengenalinya malah mengajaknya bicara.
aku tidak mengenalinya Karena penampilannya yang sangat berbeda*.
Saat ini Jhon memang berpenampilan tidak seperti biasanya, yang selalu mengenakan pakaian formal dengan setelah JAS lengkap.
Kali ini ai hanya mengenakan sweater lengan panjang dan topi yang menutupi hampir sebagian wajahnya.
Wajar saja jika wanita itu tidak mengenali Jhon.
*Apa ka Jhon mengenaliku! Tenang-tenang.
Tentu Ka Jhon, tidak akan mengenalimu Luna, lihat penampilanmu sekarang*.
Wanita berkacamata itu adalah Luna.
Entah apa sebabnya ia bisa bertransformasi menjadi wanita culun.
Di saat yang tepat, Bus yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Dengan gerakan secepat kilat, Luna langsung menaiki Bus itu dan duduk di bangku paling belakang.
__ADS_1
Sialnya Bus itu tidak segera melaju, Karena banyaknya penumpang yang naik dan turun.
Jhon memutar pandangannya, tidak ada wanita tadi.
Dan Jhon melihat gadis culun itu sudah berada di dalam Bus.
Cepat sekali ia bergerak.
Entah sihir apa yang di miliki gadis culun itu hingga membuat Jhon penasaran seperti ini.
Apakah seperti itu kretetia wanita idaman Jhon?
Atau ia hanya merasa tidak asing saja dengan gadis itu.
Kenapa ka Jhon malah naik ke Bus ini, bukankah apartemennya di Sebrang sana tidak perlu menaiki bus bukan.
Luna berpura-pura tidak melihatnya.
Ia membuka tas dan mengambil sebuah novel di dalam sana, lalu membacanya dengan tujuan agar Jho tidak memperhatikan wajahnya.
Degup jantung Luna berpacu lebih dari biasanya, ia tengah merasakan takut sampai ke ulu hati dan sum-sum tulang belakangnya.
Ia takut jika Jhon mengenalinya dan yang lebih ia takutkan lagi, Jhon akan mengatakan pada Yuda, papahnya.
Suara hatinya terus berkomat-kamit. Agar Jhon tidak sampai mengenalinya.
"Sudah menggunakan kacamata sebesar spion, anda masih saja membaca dengan terbalik!"
Deg.
Suara Jhon menghentikan detak jantung Luna untuk sesaat.
Dan tanpa tau malu Jhon malah duduk di sebelah Luna.
Tenang Luna, Jhon tidak akan mengenalimu.
Setelah berhasil mengatur nafas dan detak jantungnya, Luna mampu mengendalikan diri.
"Aah.. Ini salah satu kebiasaan saya tuan, membaca novel dengan posisi terbalik,"ucap Luna.
"Apakah tempat tinggal anda jauh dari sini? Sampai harus menaiki bus." Tanya Luna.
"Lumayan." Jawab Jhon singkat.
"Oya, nama anda siapa? Sejak tadi kita belum berkenan." Luna mengulurkan tangannya.
"Nama ku Mimi, siapa nama mu?"
Jhon menatap lekat tangan yang terulur di hadapannya itu.
Lalu menyambutnya dengan ragu-ragu.
"Jhon, itu nama saya."
"Nama anda singkat sekali ya tuan."
Kita ke pasangan pengantin baru dulu.
Farel dan Sintia tinggal di Apartemen.
Pasangan ini selalu saja terlibat perdebatan.
"Apa semalam kau yang memindahkan ku ke sofa?" Tanya Sintia pada Farel yang tengah bersiap-siap ke kantor.
"Tentu saja aku, memangnya siapa lagi."
"Kenapa?"
"Kenapa! karena kau berani menguasai wilayah ku, kan aku sudah bilang jika kau ingin tidur di atasnya kasur yang empuk itu, kau harus tidur bersama ku."
"Selalu saja seperti itu jawabnya." Kesal Sintia.
"Kalau begitu, aku tidar di rumah ibuku saja." Sambungnya.
"Silahkan jika kalau kau berani, ibumu itu akan mengira pernikahan kita bermasalah dan dia akan menjodohkan mu dengan lelaki Perut Buncit itu."
"Farel!"
"Kau lupa harus memanggil ku apa?"
"Iya, Mas Farel." Kesal Sintia.
Farel mengangguk-angguk.
"Bagus!" Ucapannya.
"Kalau begitu aku berangkat bekerja dulu, pikiran tawaran ku, apa kau tidak merasa kasihan pada tubuhmu ini jika harus tidur di sofa yang sempit itu setiap malam,"ucap Farel, sambil mengedipkan matanya.
"Aku akan baik-baik saja walaupun tidur di sofa setiap malam." Sahut Sintia cepat.
Lalu ia memberikan kotak plastik yang berisi sarapan untuk Farel.
Biasanya Farel akan sarapan di Apartemen, tapi pagi ini dia bangun terlalu siang hingga tak sempat jika harus sarapan terlebih dahulu.
Karena paginya selalu di penuhi dengan drama, perkara tempat tidur dan bulan madu, menyusul Lisa dan kakak nya Kaisar.
Akan membutuhkan waktu berjam-jam untuk sekedar sarapan saja.
Sintia mengantar Farel sampai depan Apartemennya.
"Siang nanti aku pergi ke rumah mamah Larasati, aku ingin menjemput Arga, Karan untuk beberapa hari kedepan Arga akan tinggal bersama kita di sini."
"Baik, tidak masalah, aku akan menjemputmu di sana."
Seperti biasa.
Meskipun mereka selalu berdebat, Sintia selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Farel.
Ia mencium punggung tangan Farel.
__ADS_1
Karena Farel belum mempunyai keberanian untuk mencium Sintia, ia hanya mengusap rambutnya saja.
"Aku pergi dulu ,"ucapanya dan segera menuju mobil yang sudah di persiapkan sekertaris nya.
🍁🍁🍁
Seperti yang ia katakan pada Farel.
Sintia pergi ke rumah orangtua dari suaminya.
"Sayang, maafkan mamah karena harus merepotkan mu,"ucap Larasati.
"Tidak apa-apa mah, sama sekali tidak merepotkan ku, aku sudah biasa bersama Arga, jadi Mama tidak perlu khawatir."
"Terimakasih sayang."
Larasati menitipkan Arga pada Sintia Karena ia hendak pulang ke kampung halamannya, karna ada sesuatu yang penting di sana.
Yuda keluar dari kamarnya, sambil mengotak-atik ponselnya.
"Bagaimana pah, apa Luna sudah bisa di hubungi?"
"Belum ponselnya masih tidak aktif."
"Ya Tuhan di mana anak itu."
"Mah tenang mah,"ucap Sintia menenangkan Larasati.
"Luna pergi dari sejak subuh tadi, tapi sampai sekarang anak itu belum juga pulang bahkan ponselnya tidak aktif, mamah sangat khawatir dengan adik mu Sintia."
"Bagaimana kalau aku meminta Mas Farel untuk mencari Luna?"
"Jangan, dia sedang banyak pekerjaan di kantornya, biar papah meminta Jhon saja untuk mencari anak itu." Sahut Yuda.
Yuda segera menghubungi Jhon.
Dan menyampaikan jika Luna sering kali menghilang seperti ini.
🍁🍁🍁🍁
Jhon yang sedang berada di Apartemennya, segera bersiap-siap setelah mendapat telpon dari Yuda.
Tapi Jhon sejenak terdiam.
Luna!
Luna!
ketika mengulangi nama itu, sepintas bayangan gadis culun itu muncul di pikiran Jhon.
Tidak mungkin. Jelas mereka sangat berbeda.
Yakin Jhon.
Dan ia segera pergi dari Apartemennya untuk mencari Luna.
Tidak susah untuk seorang Jhon.
Hanya mencari seorang Luna saja tentu sangat mudah baginya.
Jhon sudah berdiri di sebuah Kafe.
Dimana ada Luna bersama teman-temannya di sana, tentu penampilan Luna sudah kembali normal seperti biasanya.
Tap.
Tap.
Tap.
Jhon melangkahkan kakinya memasuki Kafe itu, dan berdiri tepat di hadapan Luna.
"Nona, anda harus pulang sekarang, Nyonya Larasati sangat mengkhawatirkan anda." Ucap Jhon, yang membuat kaget teman-teman Luna.
"Ka Jhon!"
Astaga! kenapa aku harus bertemu Ka Jhon lagi.
"Luna, dia siapa? dia sangat tampan, apa di kakak mu?" Tanya temen Luna, sambil mengedipkan mata pada Jhon.
"Iya dia kakak ku." Sahut Luna.
"Mari nona, saya antarkan anda pulang."
"Tapi, jika dia kakak mu, kenapa dia memanggil mu Nona?"
"Di memang suka bercanda."
Luna segera bangkit dari duduknya, dan menarik Jhon untuk menjauhi teman-temannya.
"Ka Jhon kenapa kau bisa ada di sini?"
"Tuan Yuda, yang menyuruh saya menjemput anda nona."
"Tapi ka..!"
"Tidak ada tapi-tapian, anda harus segera pulang."
Jhon menarik tangan Luna agar mengikutinya.
Tapi ketika ia menyentuh tangan Luna, ia kembali teringat dengan gadis culun yang mengulurkan tangan padanya.
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
❤️❤️❤️❤️Love banyak-banyak untuk semuanya.
Semoga selalu dalam keadaan sehat..
__ADS_1