Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 63. Firman bertemu Julia


__ADS_3

"Jhon apa kau sudah siap?"


"Sudah tuan."


"Kalau begitu kita berangkat sekarang!" Ajak Kaisar.


"Baik tuan, saya akan menyiapkan mobil."


"Tidak! Kita pakai motor saja."


"Motor!" Bingung Jhon.


Kaisar hanya mengangguk. Dan Jhon pun segera menyiapkan motor yang di minta Kaisar.


Tumben sekali tuan Kai mengunakan motor ketika ada mobil.


"Mas, kau mau kemana?" Tanya Lisa.


"Mas pergi dulu sebentar, ada urusan yang harus segera di selesaikan." Sahutnya.


"Hari ini aku, ke klinik mas!"


"Lalu, Arga sama siapa?"


"Biar bude saja yang menjaga Arga, kalian pergi lah kerjakan apa yang telah menjadi pekerjaan kalian." Ucap bude Darmi.


Keduanya pun mengangguk.


"Iya bude, terimakasih." Sahut Lisa.


"Tapi ingat, jaga jarak mu dengan dokter itu." Ucap Kaisar penuh penegasan.


"Anda jangan khawatir tuan Kaisar, dokter Firman tidak praktek hari ini." Sahut Sintia, yang tengah duduk di meja makan menemani Arga.


"Bagus! Bila perlu dia tidak usah praktek selama-lamanya." Gumam Kaisar, namun masih bisa terdengar dengan semua orang.


"Tuan, motornya sudah siap!" Ucap Jhon, yang telah kembali dari depan.


"Baiklah, kita berangkat sekarang."


"Mas pergi dulu ya." Pamitnya pada Lisa seraya mencium kening istrinya itu.


Dan beralih pada putra sematawayangnya, yang tengah menikmati sarapannya.


"Habiskan makanan mu, supaya kau cepat besar seperti papah." Ucapnya, sambil mengusap rambut Arga lalu mencium pipinya.


Dan di jawab dengan acungan jempol oleh Arga.


"Dadah papah!" Seru anak itu.


"Dah! Sayang."


Kaisar melambangkan tangannya dan segera berlalu, menuju tempat yang ingin ia datangi bersama Jhon.


"Aku pamit juga ya bude, aku akan pulang sebelum sore."


"Iya, berangkatlah, hati-hati!"


Setelah mencium punggung tangan bude Darmi dan menciumi Arga, Lisa dan Sintia berangkat menuju Klinik.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Tuan! Ini?" Tanya Jhon bingung. Dengan tempat yang di tuju tuannya.


"Ini hutan, masa kau tidak tau." Ketus Kaisar.


"Saya tau ini hutan, tapi! kenapa kita kesini tuan?"


Kaisar pun menceritakan semua pada Jhon. Termasuk sumber air yang Sepertinya di cemari.


Dan rumah di tengah hutan, dan temuannya di sana, beserta rencana yang ia siapkan.


Jhon pun mengangguk, menyetujui semua rencana yang telah Kaisar buat.


"Tapi, apa anda tidak takut tersesat lagi tuan?"

__ADS_1


"Aku sudah tau jalan keluar masuk hutan ini, dan hutan ini tidaklah berbahaya seperti yang di katakan kepala desa dan dokter itu." Ucap Kaisar.


"Kalau tidak berbahaya, kenapa mereka melarang warga masuk ke hutan ini?"


"Karna di dalam hutan ini ada rahasia besar, sudahlah cepat tepikan motornya dan jangan sampai orang yang melintasi jalan ini melihat motor kita."


"Baik tuan."


Jhon pun segera menyembunyikan motor itu di balik pepohonan yang rimbun dan memastikan orang lain tidak bisa melihatnya, jadi ini alasan Kaisar memilih menggunakan motor dari pada mobil.


Mereka pun berjalan menyusuri hutan itu sampai kedalam, karna Kaisar sudah hapal dengan jalan menuju rumah itu jadi mereka tidak kesulitan untuk mencapainya.


"Ini sumber air yang aku ceritakan padamu." Ucap Kaisar, setelah langkahnya sudah sampai di sumber air itu.


"Sepertinya sumber air ini di alirkan di pedesaan tuan, dan air ini yang menjadi konsumsi warga sehari-hari. Dan kemungkinan....!"


"Kau benar Jhon. Ada orang yang senaja meracuni sumber air ini." Potong Kaisar.


Jhon pun mengangguk setuju, karna ia pun memiliki pemikiran yang sama dengan Kaisar.


"Semuanya akan terbukti tuan, anda tenang saja." Yakin Jhon.


"Tentu saja, Kaisar tidak akan pernah salah." Sahutnya.


Dan mereka kembali melanjutkan perjalanannya.


🍁


🍁


🍁


🍁


Mereka sudah sampai di tempat tujuan utama.


Rumah di tengah hutan.


"Kita masuk sekarang." Ajak Kaisar.


Kaisar mendorong pintu yang tidak di kunci itu.


"Di mana nenek itu!" Gumam Kaisar. Yang tidak mendapati si nenek di setiap sudut ruangan rumah bambu itu.


Tapi Kaisar tidaklah mempermasalahkannya. Ia kembali pada tujuan utamanya.


Sebuah ruangan yang mirip dengan Kamar. Namun di sana nampak kosong tidak ada apapun.


Jhon masih mengikuti langkah kaki Kaisar.


Kaisar membuka sebuah penutup besar yang terbuat dari kayu berbentuk bulat, yang letaknya ada di tanah.


"Ini sudah terbuka, apa ada seseorang yang masuk kedalamnya." Gumam Kaisar.


"Tuan, apa ini yang anda maksud?"


" Betul, tempat ini mempunyai ruang bawah tanah. Dan ini lah pintu masuknya." Ucap Kaisar seraya menunjuk penutup besar itu.


Jadi! ketika Kaisar dan Lisa bermalam di rumah nenek itu, Kaisar tanpa senaja menemukan ruang itu. Awalnya ia mengira kalau itu adalah kamar. Tapi setelah ia lihat ruangan itu tampak kosong tidak ada apapun, dan pandangan Kaisar tertuju pada penutupan besar yang ada di ruangan itu.


Karena penasaran dan di dukung oleh keadaan Kaisar pun nekat memasuki ruang dan membuka penutup itu, yang ternyata adalah pintu menuju ruang bawah tanah. Sementara itu Lisa tidaklah mengetahuinya karena ia tengah menemani nenek itu di kamar.


Setelah menuruni anak tangga, Kaisar dan Jhon berada di ruang bawah tanah.


Di sana terlihat, nenek itu tengah memberi makan pada dua orang yang tengah di sekap di sana.


Jadi, tugas nenek ini memberikan makan tawanan Meraka.


"Apa ini, yang anda maksud dengan rahasia besar di dalam hutan?" Tanya Jhon.


Kaisar menjawab dengan anggukan.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sementara itu di tempat lain.

__ADS_1


Beberapa warga terpogoh-pogoh menuju klinik.


"Dokter! Di mana dokter Firman!" Tanya salah satu warga itu dengan nafasnya yang tersengal.


Kebetulan ada Lisa di sana.


"Bapak kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Lisa yang khawatir, karena melihat dari ekspresi kedua orang itu menandakan keadaan darurat.


"Di ... Mana dokter Firman!" Tanyanya kembali.


Ya. Selalu dokter Firman yang mereka cari ketika dalam keadaan apapun, karena mereka menganggap Firman yang bisa membantu mereka, dan penolong untuk mereka.


"Dokter Firman sedang ke kota, tapi ada dokter Viona di dalam." Jawab Lisa.


"Yuna, tolong! Beberapa warga kembali mengalami keracunan mereka semua kejang-kejang dan tidak sadarkan diri." Sahut salah satu dari kedua orang itu.


"Keracunan!" Kejutan Lisa.


Dan dalam hitungan detik, klinik itu pun kembali di buat sibuk dan mencekam, dengan warga yang berbondong-bondong membawa sanak keluarga yang mengalami kejang-kejang.


"Ini lebih parah dari waktu itu." Ucap Sintia.


Bersama dokter Viona Lisa dan Sintia berjibaku mencoba menyelamatkan warga yang kritis. Peralatan di klinik ini sangatlah terbatas bahkan tidak memadai. Hingga sangat sulit untuk mereka mendapatkan pertolongan dari alat medis.


Setelah beberapa jam mereka berusaha keras.


Hingga akhirnya Lisa lunglai di lantai putih klinik itu. Ia tidak bisa menahan sedih dan tangisannya, ia merasa tidak berguna ketika menyaksikan banyaknya warga yang tidak tertolong, bahkan mereka menghembuskan nafas terakhirnya sebelum mendapatkan pertolongan apapun.


Suara tangis dari ibu yang kehilangan anaknya, begitu pun sebaliknya, suara jeritan anak-anak memanggil ibunya, dan panggilan itu tidak akan pernah di balas oleh ibu mereka.


Sintia memeluk Lisa. Ia pun sama merasa telah gagal dan tidak berguna.


Kenapa kejadian mengerikan ini terjadi tepat di hadapan mereka. Dokter Firman! Seandainya dokter itu ada di sini pasti banyak warga yang bisa di selamatkan oleh dokter hebat itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


PLAK .....


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Firman.


Ketika semua orang yang ada di desa,


tengah menyebut namanya dalam hati dan berharap ia datang membantu mereka yang dalam keadaan sulit.


Dokter itu justru tengah mendapatkan tamparan dari Julia.


Saat ini Firman berada di kota, Julia yang menyuruh datang untuk menemuinya.


"Apa kau sudah tidak waras?" Geram Julia sambil menunjukan jarinya di wajah Firman.


Firman hanya diam, tidak menjawab atau menghindar ketika tangan Julia kembali melayang di pipinya.


PLAK .....


"KENAPA KAU MEMBIARKAN LISA HIDUP." Teriak Julia.


"Bukankah aku sudah bilang lenyap kan wanita itu. Rencana kita bisa gagal, bukankah kau ingin mengambil semua yang di miliki Kaisar!" Sambung Julia, masih dengan amarah di setiap kata yang ia lontarkan pada Firman.


"Termasuk Lisa!" Satu kata, keluar dari Firman.


Yang membuat Julia semakin murka.


"DASAR BODOH!" Bentaknya.


"Kenapa tidak Kaisar saja yang langsung aku lenyap kan?" Ucap Firman.


"Tidak! Kau tidak boleh menyentuh Kaisar, kau hanya perlu menahannya di sana dan merusak mental nya kembali. Dengan begitu kau bisa mengirim Kaisar untuk menemani wanita tua itu."


"Bukan itu alasannya!" Firman kembali berucap.


"Apa maksud mu?" Tanya Julia.


"Kau menyayangi Kaisar kan? Sebab itu kau menginginkan dia tetep hidup."


Julia terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Firman. Julia tidak bisa memungkiri bahwa ia memang menyayangi Kaisar.

__ADS_1


Tapi sayang aku sudah merubah semua rencana mu, dan Kaisar, ia lah yang harus membayar semua kesengsaraan ku selama ini. Batin Firman.


🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🍁


__ADS_2