
"Mas kenapa Arga belum datang juga? Bukan kah rumah bude Darmi tidak terlalu jauh dari sini."
Lisa nampak begitu Khawatir karena Jhon belum juga kembali untuk menjemput Arga. Padahal Jhon sudah pergi dari beberapa jam yang lalu bahkan hari sudah mulai gelap mereka belum kembali juga.
Sama halnya dengan Lisa, Kaisar juga mulai khawatir karena Jhon dan Arga belum kembali juga.
"Mas akan menjemputnya." Kaisar membuka pintu yang sejak tadi ia kunci.
"Aku ikut mas!" Ucap Lisa.
"Kau di sini saja." Sahut Kaisar.
"Tapi aku tidak tenang mas jika tidak memastikannya sendiri, pokonya aku ikut. Jika mas tidak mau mengajak ku, biar aku pergi sendiri."
"Baiklah, kau ikut." Pasrah Kaisar.
*************
"Sial! Pasti ada yang senaja menyebarkan paku di sini." Umpat Jhon. Sambil menendang ban mobilnya yang pecah karena banyaknya paku yang berserakan di jalan hutan itu.
Jhon merogoh ponsel di saku celananya.
"Tidak ada sinyal! Sial." Umpatnya kembali.
Ia kemudian kembali ke dalam mobil, untuk melihat Arga yang sedang tertidur pulas.
"Tuan Kaisar pasti sangat kecewa jika aku terlambat membawa tuan kecil ke rumah."
Jhon kembali berusaha untuk mendapatkan sinyal di ponselnya agar ia bisa menghubungi Kaisar.
Dan tidak ada satu kendaraan pun yang melintas di jalan itu hingga Jhon sulit mendapatkan bantuan.
"Apa aku harus jalan kaki saja sambil menggendong tuan kecil ?" Tanya Jhon pada dirinya sendiri.
"Tapi ini sudah gelap, akan sangat berbahaya untuk tuan kecil." Gumamnya.
Kresek ..... Kresek .....
Suara terdengar di balik pepohonan.
membuat Jhon menghentikan pertanyaan batinnya.
Kresek.... Kresek....
Jhon menajamkan pendengarannya,
Kresek ..... Kresek .....
Suara itu makin terdengar jelas di telinga Jhon. Seperti suara seseorang yang menginjak dedaunan kering.
Ia kemudian masuk kedalam mobilnya dan mematikan lampu dari mobil itu.
"Apa kau yakin sudah membereskannya?"
Suara seseorang mulai terdengar jelas di telinga Jhon, meskipun jarak antara mereka tidak terlalu dekat, namun karena kesunyian di jalanan hutan ini, membuat suara yang keluar begitu jelas terdengar.
"Kau tenang saja, mereka sudah saya bereskan dan saya yakin tidak akan ada orang yang mencurigai kita." Jawab salah satu di antara mereka.
"Baguslah jika sampai kita gagal tuan akan marah besar pada kita."
Suara-suara obrolan kedua orang itu mulai masuk ke dalam pemikiran Jhon.
"Tuan! Membereskan? Aku yakin mereka telah melakukan sesuatu di dalam hutan sana, dan ini pasti ada hubungannya dengan masalah tuan Kai." Gumam Jhon.
Namun di tengah obrolan, mereka di kejutkan dengan sesuatu yang samar-samar terlihat di pandang mereka.
"Hei! Apa kau melihat itu?" Tunjuk salah satu dari mereka.
"Itu seperti mobil!"
"Mobil siapa malam-malam begini melintasi hutan yang lebat seperti ini."
"Saya rasa itu hanya sebuah penampakan, bukankah hutan ini terkenal dengan ke angkernya jadi tidak mungkin kalau itu sebuah mobil."
__ADS_1
Mobil Jhon berwarna hitam jadi sangat wajar jika mereka tidak bisa melihatnya dengan jelas di suasana gelap seperti itu.
Salah satu di antara mereka ingin menyalakan senter yang di pegang namun rekannya melarang.
"Jangan nyalakan senternya, jika benar itu mobil dan ada seseorang di dalam sana, keberadaan kita di sini, bisa di ketahui."
Padahal, meskipun Jhon tidak bisa melihat mereka berdua tapi Jhon Sangat jelas mendengar suara pembicaraan mereka.
"Bagaimana kalau itu benar seseorang, dan mendengar pembicaraan kita tadi."
"Ah ... Biarkan saja yang penting kita sudah melaksanakan tugas kita, cepat kita pergi dari sini. "
Dan kedua orang itu pun pergi dari sana dengan menggunakan sepedahnya.
***
Dengan menggunakan motor yang tadi siang Lisa kendarai, Kaisar dan Lisa sudah mendekati jalan hutan itu.
"Kenapa di sini gelap sekali." Keluh Kaisar.
"Ini jalan hutan mas sudah pasti gelap." Sahut Lisa.
"Mas itu mobil Jhon!" Tunjuk Lisa.
Kaisar makin mempercepat laju motornya.
"Apakah itu tuan Kai?"
Ucap Jhon, yang melihat cahaya dari motor Kaisar yang sangat jelas. Dan ia pun segera turun dari mobilnya.
"Jhon kenapa kau masih di sini?" Ucap Kaisar yang baru saja memberhentikan motornya tepat di hadapan Jhon.
Lisa segera turun menghampiri Jhon.
"Jhon dimana Arga? Dia baik-baik saja kan? Mana Arga Jhon?"
Belum sempat Jhon menjawab pertanyaan Kaisar, Lisa sudah memberondongnya dengan pertanyaan sambil memegang dan menggoyangkan lengan Jhon.
Dan Lisa pun segera menarik tangannya.
"Maafkan saya tuan, tapi nona Lisa yang memegang lengan saya." Sahut Jhon.
"Jadi kau menyalakan Lisa?"
"Tidak tuan, saya yang salah. Maafkan saya tuan."
Kaisar mendengus kesal.
"Sudah mas, jangan memperbesar masalah sepele seperti ini."
Apa, masalah sepele! dia menggenggam lengan lelaki lain di hadapan suaminya, dan dia menganggapnya sepele. Karena dia Jhon aku bisa memaafkannya kali ini.
"Jhon di mna Arga?" Tanya Lisa kembali.
"Di dalam mobil nona,tuan kecil sedang tidur."
Lisa segera membuka pintu mobil.
"Arga sayang, syukurlah kamu baik-baik saja mamah sangat khawatir nak." Ucap Lisa seraya mencium pipi Arga.
"Tentu dia akan baik-baik saja, Jhon akan menjaganya lebih dari dia menjaga nyawanya sendiri." Sahut Kaisar.
"Maafkan saya tuan, nona. Ban mobilnya pecah jadi saya terlambat membawa tuan kecil pulang ke rumah."
"Pecah!"
"Benar tuan, sepertinya ada yang dengan senaja menaburkan paku di jalan ini."
"Kurang ajar! Umpan Kaisar.
"Baiklah, aku akan mengantar Lisa dan Arga kembali ke rumah, dan kau tunggu di sini aku akan menyuruh Rizal untuk menjemput mu."
"Baik, terimakasih tuan."
__ADS_1
Kaisar mengangkat Arga dari kursi mobil, tapi sebelum itu ia membuka jaketnya dan memakaikannya pada Arga, agar anak itu tidak kedinginan.
" Ayo kita pulang!" Ajak kaisar pada Lisa.
🍁🍁🍁
Tidak butuh waktu lama Kaisar dan Lisa sampai di rumah.
"Tuan, anda dari mana malam-malam begini?" Tanya Rizal yang berdiri menyambut mereka di depan pintu.
"Di mana si pecundang itu? Apa dia tidak pulang?" Pertanyaannya Rizal di balas dengan pertanyaan.
"Tuan Farel tidak pulang tuan, tuan Farel bilang ingin tidur di kantor saja." Jawab Rizal.
"Baguslah kalau begitu, bila perlu tidak usah pulang selama-lamanya." Ucapnya sambil meraih Arga dari pangkuan Lisa dan menggendongnya.
"Kau jemput Jhon, dia ada di jalan hutan sana." Kaisar melemparkan kunci motor pada Rizal. Yang langsung di tangkap Rizal dengan gelagapan.
Apa! di jalan hutan!
"RIZAL CEPAT!" Bentak Kaisar, yang melihat Rizal masih berdiri tidak bergerak.
"Ba .... Baik tuan."
Dan dengan terpaksa Rizal pun harus menjemput Jhon di hutan, yang di klaim oleh warga bahwa tempat itu angker dan berbahaya.
Kaisar meraih tangan Lisa untuk menuntunnya masuk ke dalam rumah sambil menggendong Arga yang masih tertidur dengan pulas.
Sampai kamar, Kaisar membaringkan Arga di atas kasur dan menciumi seluruh wajah putranya itu.
"Dia menggemaskan sekali, tapi besar nanti kau harus seperti papah mu ini." Ucap Kaisar pada Arga yang masih memejamkan matanya.
Apa kau ingin putramu memiliki sifat arogan seperti mu juga mas.
"Sayang, ceritakan padaku saat kau mengandung Arga dan sampai melahirkannya." Kaisar bertanya pada Lisa.
"Tidak ada cerita mas, semua sama seperti wanita pada umumnya."
"Benarkah? Lalu siapa yang memberi dia nama Arga? Kenapa hanya Arga saja dia tidak memiliki nama panjang?"
Aku memberi nama depannya saja, karena waktu itu aku berharap kau yang memberikan nama belakang untuk putramu mas.
"Aku yang memberinya nama. Arga! dengan nama sependek itu akan lebih mudah di ingat." Jawab Lisa.
Kaisar menatap Lisa dengan lekat, memperhatikan setiap garis wajah istrinya itu.
"Apa kau kesulitan saat mengandung, melahirkan dan merawat Arga?" Tanya Kaisar, dengan suara yang sangat lembut lebih ke iba.
"Tidak! Mana ada seorang ibu yang merasa kesulitan untuk anaknya. Aku juga di bantu dengan bude Darmi, Sintia dan dokter Firman."
"Jangan pernah menyebut nama dokter itu lagi." Air muka Kaisar tiba-tiba berubah, mendengar Lisa menyebut nama Firman.
Kenapa dia cepat sekali berubah.
"Memangnya kenapa mas? Firman selalu baik pada ku dan Arga, dia selalu me ....!"
"CUKUP!" Kaisar menghentikan ucapan Lisa.
Lisa menatap Kaisar dengan tatapan sama kesalnya seperti Kaisar.
Lalu ia beranjak pergi menuju kamar mandi.
"Kau mau kemana?" Kaisar menahan tangan Lisa.
"Kenapa masih bertanya? Tentu saja aku mau ke kamar mandi." Lisa menepis tangan Kaisar, dan berlalu meninggalkan Kaisar dengan hati yang panas membara.
Kaisar menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Kau harus sabar menghadapinya Kaisar.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗
__ADS_1