
Luna dan Jhon tiba di Rumah sakit.
"Mamah ada apa?" Luna Khawatir melihat raut wajah cemas dari Larasati.
"Tidak apa sayang, mamah hanya menghawatirkan kakak mu Farel."
"Mengkhawatirkan kak Farel?" Luna bingung, yang melahirkan Sintia kenapa yang di cemaskan Farel.
"Ada apa dengan kak Farel mah? Lalu di mana Ka Farel?"
Luna meneliti setiap sudut Ruang tunggu yang di sediakan pihak rumah sakit khusus untuk keluarga Kaisar.
Tapi tidak ada Farel di sana
"Dia sedang membuat kehebohan di rumah sakit."Sahut Kaisar. Yang menggantikan Larasati untuk menjawab pertanyaan Luna.
"Kehebohan!"
Sebelum Luna bertanya lebih jauh, ia justru mendengar suara gaduh Farel di luar ruangan.
Spontan semua keluar untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Farel, apa ia kembali rusuh lagi?
Benar saja, Farel kembali membuat heboh! Sehingga membuat semua orang yang berada di sana memperhatikannya.
"Ada apa lagi ini?" Tanya Yuda, pada Dokter yang menuntun kedua tangan Farel.
"Maaf tuan Yuda, kami meminta tuan Farel untuk menunggu di sini saja, karna dengan sikap cemas yang berlebihan dari tuan Farel, membuat konsentrasi kami di ruang bersalin terganggu."
"Tidak bisa, aku ingin menemani istriku melahirkan, kenapa kalian malah mengusir ku?" Farel menepis tangan Dokter yang menggenggam lengannya.
"Tapi tuan?"
"Tidak ada tapi-tapian, aku ini suaminya, jadi harus menemani Sintia sampai dia benar-benar melahirkan bayi kami." Farel semakin emosi, tapi ia tetap bergetar karena kekhawatirannya pada Sintia.
Larasati mencoba kembali menenangkan Farel, ia meminta lelaki itu menunggu di ruang tunggu saja.
Tapi Farel ngotot, ia tetap ingin menemani Sintia di ruang bersalin, ia mengira jika kehadirannya di sana akan membuat Sintia melupakan rasa sakitnya.
Padahal nyatanya, kehadiran Farel di Ruang bersalin malah membuat konsentrasi para dokter terganggu, dengan suara ribut dan Segala macam protesnya pada dokter.
"Farel, dengarkan mamah sayang, kita tunggu di sini saja ya, biarkan dokter yang membantu Sintia."
"Tapi aku ingin menemaninya mah?"
"Mamah paham, tapi kita bisa menemaninya dari sini, berdoa, meminta pada yang kuasa agar persalinan Sintia dimudahkan."
Farel diam!
Dia mendengarkan apa yang di katakan Larasati, apakah dia harus menunggu saja di sini?
Farel tengah mencari keyakinan hati untuk meninggalkan Sintia di ruang bersalin itu, Farel melirik Kaisar yang masih saja nampak tenang, padahal semua sedang panik.
Tap..
Tap..
Tap..
Farel mendekati kakaknya yang masih duduk di sofa sambil membaca koran.
Bisa-bisanya di situasi seperti ini dia sempat membaca koran.
"Kai!" Panggil Farel.
Kaisar menurunkan koran yang menutupi sebagian wajahnya itu.
"Ada apa?"
"Saat kakak ipar melahirkan Clara, kau menemaninya bukan?"
Kaisar mendongak menatap Farel, lalu ia berdiri dari duduknya.
"Tentu saja, aku ini suami yang baik, bertanggung jawab dan siaga, tentu aku menemani Lisa saat ia melahirkan Clara." Jawab Kaisar, sambil melipat kedua tangannya di dadanya.
"Apa yang kau lakukan saat di dalam ruangan sana?"
"Aku menggenggam tangan Lisa, menciumi keningnya, dan membisikkan kata-kata cinta dan sayang, agar dia kuat untuk melewati masa sulitnya, dan itu semua berhasil menetralkan rasa sakitnya,"kaisar melirik Lisa,"iyakan sayang?"
Dan Lisa hanya mengangguk, untuk menanggapi omongan suaminya itu.
Mendengar jawaban Kaisar, Farel terdiam sejenak.
"Kenapa kau diam, kau pasti sedang berfikir jika kakak mu ini suami yang hebat dan luar biasa bukan?" Ujar Kaisar, dengan penuh rasa bangga.
Farel menatap Kaisar dengan lekat, perlahan ia semakin mendekat pada Kaisar, dan mencekram kedua lengan Kaisar.
"Kai, agar aku bisa menjadi suami hebat seperti yang kau katakan, bukankah aku harus menemani Sintia yang tengah berjuang demi bayi kami?"
"Tentu saja!" Sahut Kaisar, sambil menepis tangan Farel,"kau memang harus menemaninya di sana, agar dia tidak ketakutan dan kesakitan." Sambungnya.
Jawaban Kaisar membuat semua orang menarik nafas dalam-dalam, siap untuk marah, tapi tentu tidak berani.
Susah payah mereka membujuk Farel keluar dari ruangan bersalin, Kaisar justru mendukungnya dan malah memantapkan hati Farel untuk tetap berada di sana, padahal tadi Larasati sudah hampir bisa, membuat Farel menurut.
__ADS_1
Tapi kini lelaki itu, tersenyum puas dengan perkataan yang ia dengar dari Kaisar. Tanpa memperdulikan siapapun ia kembali masuk kedalam ruang bersalin.
Semua menatap Kaisar.
Terutama kedua dokter yang tadi sudah berhasil membawa Farel keluar, kini usahanya sia-sia, karna perkataan Kaisar yang lebih terdengar membanggakan dirinya sendiri, membuat Farel menjadi semakin terpacu untuk menemani istrinya.
"Mas! Kenapa kau bicara seperti itu pada Farel? Seharusnya Mas, membujuk Farel agar dia mau menunggu di sini."
"Memang kenapa? Dia memang harus menemani istrinya di dalam sana kan? Untuk apa dia menunggu di sini." Sahut Kaisar, Tanpa beban.
Lisa menarik nafasnya dalam-dalam.
"Tapi, Farel akan mengganggu kerja dokter di dalam mas."
"Itu urusan dokter, bukan urusan kita kan, sudahlah sayang, kau terlalu banyak memikirkan orang lain, kan mas sudah pernah bilang, kau hanya boleh memikirkan mas dan anak-anak saja, tidak perlu membuang-buang energi mu untuk memikirkan orang lain."
Lisa diam.
Dia adik mu Mas, bukan orang lain.
Dan semua hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
Sekali lagi.
Yang waras yang mengalah.
"Sudah cepat masuk kedalam, kenapa kalian masih ada di sini? Apa kalian berniat membiarkan Farel untuk membantu persalinan istrinya?"Ucap Kaisar, pada kedua Dokter yang masih berdiri di situ.
Mendengar sindiran Kaisar, dokter dengan cepat pergi dari ruang tunggu.
"Baik, tuan kami permisi."
Baiklah biarkan Farel melakukan tugasnya sebagai seorang suami.
"Sebenarnya apa yang terjadi mah?"
Tanya Luna yang sedari tadi ia bingung, dengan sikap aneh Farel, begitupun dengan Jhon.
"Kakak mu mengalami kepanikan dan kecemasan yang berlebih pada kakak iparmu yang akan melahirkan."
"Waaaah.. sungguh kak Farel, suami idaman yang sempurna, dia sampai seperti itu karena menghawatirkan kakak ipar,"bangga Luna.
"Hei, ralat kata-kata mu Luna, predikat itu sudah ku sandang lebih dulu,"sahut Kaisar tidak terima.
"Iya-iya." Balas Luna.
Sedangkan Jhon tengah berfikir, dan mengetahui tipe suami idaman Luna.
🍁🍁🍁
Mereka masih harap-harap cemas menanti persalinan Sintia.
Terutama Larasati, dia bukan hanya mencemaskan Sintia, tapi ia juga mencemaskan Farel yang ada di dalam sana.
"Mamah, makan dulu ya, sejak pagi mamah belum makan?" Ujar Lisa.
"Terimakasih nak, tapi mamah tidak lapar."
"Apa! Jadi dari pagi mamah belum makan?" Sahut Luna, dengan nada tinggi.
"Iya."Sahut Lisa.
Luna mendekati Larasati.
"Mamah tidak boleh seperti ini, mamah harus segera makan,"Luna mengambil kotak makan yang ada di meja,"apa mamah mau aku suapi?"
"Tidak sayang, mamah tidak berselera" Tolak Larasati.
Luna bangun dari duduknya.
"Aku tau makanan apa yang membuat mamah berselera, aku akan membelikannya untuk mamah."
"Tidak perlu nak."
Tapi Luna tidak mengindahkan, ia keluar dari ruangan dan pergi menuju kantin.
Di ikuti Jhon di belakangnya.
🍁
Luna berjalan sangat cepat hingga Jhon tertinggal jauh darinya, Jhon harus berjalan perlahan karena banyak petugas kesehatan yang tengah Mondar-mandir melewatinya.
Luna harus pergi ke kantin yang jaraknya cukup jauh dari Rumah sakit, karena hanya di sana yang menjual makanan kesukaan Larasati.
Sampai di tempat tujuan, Luna segera memesan apa yang ingin ia pesan.
Dan Luna menunggu di kursi depan Kantin, sambil memainkan ponselnya.
"Luna!"
Suara seseorang yang datang mengagetkan Luna.
"Diki!" Luna sedikit terkejut dengan kedatangan Diki.
__ADS_1
Lelaki manis itu, tersenyum semakin manis kala melihat Luna.
"Aku senang bisa bertemu dengan mu kembali."
"Aah.. iya, aku juga senang, apa yang kau lakukan di sini Diki?" Tanya Luna.
"Aku ingin membeli makanan di sini, tapi tidak senaja aku bertemu dengan bidadari ku di masa kuliah dulu.. hehe." Sahut Diki, malu-malu.
"Kau, bisa saja." Balas Luna.
"Aku lihat, tadi kau dari arah Rumah sakit itu, apa ada keluarga mu yang sakit di sana?"
"Bukan sakit, tapi kakak ipar ku...!"
KREEEEETT..
TAK.
KREEEEETT..
TAK..
Ucapan Luna terhenti.
Karna mendengar suara kursi yang di tarik kuat.
Dan di ketuk-ketukan di lantai.
Hingga menimbulkan suara yang menyebabkan telinga sakit mendengarnya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Di ruang bersalin.
Dokter tengah bekerja keras untuk membantu Sintia, yang tengah bertaruh nyawa demi melahirkan bayinya.
Jarum jam terus saja berputar.
Dan 120 menit, sudah berlalu.
Itu artinya mereka sudah berada di dalam ruangan itu selama 2 jam, tapi Sintia belum juga berhasil untuk melahirkan bayinya.
Gadis itu, sudah sangat lelah karena ia mengalami kontraksi sudah sejak sore, dan sampai siang hari.
Nafasnya sudah semakin berat. Hingga Dokter harus memasang selang oksigen pada Sintia.
"Bersabar Nona, dengarkan aba-aba saya, di mana Nona harus mengejan dan mendorong." Kata dokter yang membantu Sintia.
Sintia mengangguk, ia sudah paham dan tau bagaimana proses melahirkan yang aman dan baik, karena Sintia memang seorang perawat.
Tapi ketika ia yang mengalami proses itu, entah kenapa tiba-tiba ia merasa semua yang ia pelajari tidak ada gunanya.
Sintia lelah, sakit dan merasa sudah tidak sanggup lagi. Membuatnya tidak fokus dengan arahan yang di berikan Dokter.
Farel! entah sudah seperti apa raut wajah lelaki itu, ia ingin menjerit pada Dokter.
Tapi ia sudah berjanji tidak akan ribut dan menggangu Dokter.
Ia hanya mengikuti instruksi dari Kaisar.
Menggenggam tangannya, mencium keningnya dan membisikkan kata-kata sayang dan cinta untuk istrinya.
"Bersabarlah sebentar, aku yakin kau pasti bisa." Ucap Farel.
Hingga pada waktunya.
Sintia mengejan dengan panjang, sampai otot-otot di tangan dan lehernya terlihat sangat jelas dan menonjol.
Di susul dengan suara tangisan bayi dan darah yang mengalir.
Oek.. Oek.... Oek....
Tiba-tiba.
BUG.
"Dokter dia pingsan!"
Panik suster yang Juga ikut membantu persalinan Sintia.
"Astaga, cepat panggil keluarganya."
🍁
🍁
Siapa yang pingsan?
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️
__ADS_1