Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 95. Alamat Firman


__ADS_3

"Kai, kenapa wanita itu ada di sini?" Tanya Julia kesal melihat Lisa yang memasuki kamarnya.


"Nenek, Lisa ingin menjenguk nenek." Sahut Kaisar.


"Nenek, tidak butuh di jenguk olehnya, nenek hanya butuh dirimu Kai."


"Tapi nek ....!"


"Sudahlah mas, tidak apa-apa, aku kembali ke kamar saja jika nenek tidak menginginkan kehadiran ku di sini." Sahut Lisa.


"Tidak sayang, mulai sekarang dan seterusnya nenek harus terbiasa dengan kehadiran mu."


Kaisar tidak mengindahkan rasa keberatan Julia, atas kehadiran Lisa di kamarnya, Kaisar membantu Lisa duduk di kursi persis sebelah ranjang tempat Julia berbaring.


"Bagaimana keadaan nenek?" Tanya Lisa dengan lembut.


"Apa kau tidak bisa melihat, masih saja bertanya." Ketus Julia.


Lisa menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia harus bisa mengontrol diri di depan Kaisar.


"Kai, nenek haus."


"Sebentar, aku ambilkan minum dulu,"ucap Kaisar yang ingin beranjak dari duduknya.


"Tidak mas!" Cegah Lisa. "Biar aku saja yang mengambilkan minum untuk nenek Julia."


"Terimakasih sayang."


"Iya mas." Lisa beranjak dari duduknya, dan keluar dari kamar itu.


Selepas Lisa keluar dari kamarnya Julia mulai, kembali menghasut Kaisar.


"Kai, kau sudah tau bukan, kalau Anggel meninggal karena di bunuh?"


"Aku tau nek."


"Kai, nenek takut kalau orangtua Anggel, marah pada nenek karna tidak bisa menjaga Anggel selama tinggal di negara ini."


"Itu bukan salah nenek, jadi nenek tidak perlu merasa takut pada orangtua Anggel."


"Tapi kau tau sendiri kan Kai, seperti apa orangtua Anggel!"


"Nenek, tidak perlu khawatir aku akan melindungi nenek."


"Kai, apa kamu tidak mencurigai Lisa?"


"Apa maksud Nenek?"


Pertanyaan Julia kali ini benar-benar membuat Kaisar sangat terkejut.


"Lisa, yang membunuh Anggel, Karna dia merasa cemburu pada Anggel."


"Nek, tolong jangan bicara yang tidak-tidak tentang Lisa, Lisa wanita yang sangat baik, dan aku tegaskan Lisa tidak melakukan apapun pada Anggel."


"Dan soal pembunuh Anggel, aku akan mencarinya sendiri." Sambung Kaisar.


Bagaimana bisa nenek menuduh Lisa, sedangkan Lisa menuduh ku.


"Kai, nenek minta kamu tinggalkan Lisa."


"Kenapa, nenek selalu meminta ku untuk meningkatkan Lisa, aku tidak akan pernah melakukan itu nek."


"Tapi Kai, nek ....!"


DREEEET.....


DREEEET....


"Sudahlah nek, aku angkat telepon dulu."


Kaisar beranjak keluar dari kamar itu.


"Halo! Ada apa kau menelpon ku Jhon, bukankah kau ada di sini?"


{" Tidak tuan. Saya sedang berada di depan rumah seseorang."}


"Siapa?"


{"Orang yang selama ini Anda cari, tuan."}


"Firman?"


{"Benar tuan."}


"Cepat kirim alamatnya sekarang, aku akan segera kesana, aku sudah tidak sabar ingin mencincang tubuh pria itu."


{"Lokasinya tidak jauh dari kediaman Kakek Marwan, saya akan segera mengirimkan alamat lengkapnya pada anda."}

__ADS_1


"Baik, cepatlah."


Setelah memutuskan panggilannya, Kaisar meremas ponselnya, seperti ia sedang meremas sesuatu yang sangat ia benci, sambil menyunggingkan senyum misterius di bibirnya.


"Akhirnya aku menemukan mu dokter palsu." Gumam Kaisar.


Dan ia kembali masuk ke dalam kamar Julia.


Tanpa Kaisar sadari Lisa mendengar pembicaraannya di telpon tadi.


Firman! mas Kaisar sudah mengetahui keberadaan Firman, tidak! ini tidak bisa di biarkan.


"Mas Kaisar tidak boleh menemui Firman, aku harus mencegahnya." Gumam Lisa.


Lisa segera masuk ke dalam kamar Julia, dengan membawa segelas air putih di tangannya.


"Sayang!" Kaisar segera meraih gelas itu, dan membantu meminumkannya pada Julia."


"Kalau begitu, nenek istirahatlah aku keluar sebentar."Ucap Kaisar.


Keluar! mas Kaisar pasti ingin menemui Firman.


"Mas, kau mau kemana?"


"Mas, ada urusan sebentar sayang, mas titip nenek ya."


"Tidak Kai, nenek tidak mau di temani olehnya, biar nenek sendiri saja." Sungut Julia.


"Baiklah." Sahut Kaisar. Dan beralih pada Lisa.


" Sayang kau istirahatlah."


Kaisar mengajak Lisa ke kamarnya yang berada persis di sebelah kamar Julia.


Sampai di depan pintu kamar.


"Masuklah, mas pergi dulu Jhon, sudah menunggu sejak tadi."


Setelah mencium kening istrinya, Kaisar berlalu dari hadapan Lisa, ingin sekali rasanya Lisa mencegah langkah kaki Kaisar, agar tidak pergi menemui Firman.


Tapi dia masih belum cukup berani untuk melakukan itu.


"Mas!"


Suara Lisa menghentikan langkah Kaisar yang ingin menapaki anak tangga.


"Eeemmm ... Tidak! Tidak ada apa-apa mas, kau pergilah, hati-hati!"


Dasar bodoh kau Lisa, kenapa malah kata-kata itu yang keluar, kau harus mencegahnya! Maki Lisa, dalam batinnya.


"Ya sudah, mas pergi dulu ya." Dan Kaisar pun benar-benar pergi dari kediaman Marwan, menuju alamat yang di berikan Jhon lewat pesan singkat.


Selepas kepergian Kaisar, Lisa menjadi cemas, dengan perasaan yang tak karuan.


"Aku harus bagaimana! Mas Kaisar, tidak boleh menemui Firman terlebih dahulu aku takut kalau Firman benar-benar ka Rafi, dan aku juga takut mas Kaisar, akan melakukan sesuatu yang buruk pada ka Rafi." Gumam Lisa, dengan pelan.


"Mamah, kenapa?" Tanya Arga, yang melihat Lisa Mondar-mandir di hadapannya.


"Mamah, tidak apa-apa sayang." Lisa mengusap rambut Arga dan membantu membaringkannya di tempat tidur. " Sekarang Arga tidur ya, ini sudah sangat malam."


"Kenapa mamah tidak tidur?"


"Mamah, belum bisa tidur sayang."


"Apa mamah sakit?" Tanya anak itu kembali, kini dengan nada yang khawatir.


"Tidak sayang, mamah tidak sedang sa....!"


Lisa tidak meneruskan ucapannya, karena sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya.


"Ah .... Iya sayang! Sepertinya mamah sedang kurang sehat, kepala dan perut mamah terasa sakit." Keluh Lisa, seraya memijit kepalanya.


Arga panik, dengan cepat beranjak dari baringnya.


"Mamah!" Arga memeluk Lisa dengan erat.


"Mamah, tidak boleh sakit." Rengek nya.


Arga mengusap-usap perut Lisa, yang katanya sakit.


"Mamah halus minum obat, bial Alga ambilkan ya?"


"Tidak sayang, mamah belum bisa sembuh jika hanya meminum obat."


Wajah Arga terlihat sangat sedih, dengan ucapan mamahnya.


"Jangan sedih sayang, mamah akan sembuh jika papah kembali ke sini."

__ADS_1


"Apa papah pelgi?"


Lisa mengangguk, lalu menyerahkan ponselnya pada Arga.


Dengan pintar, anak itu menekan-nekan layar ponsel itu.


{"Halo! Ada apa sayang!} Suara Kaisar terdengar jelas di telinga Arga.


"Papah!"


{"Arga! Ada apa nak? kenapa belum tidur!"}


"Mamah sakit pah, papah cepat pulang!"


{"Apa! Mamah sakit, baiklah papah segera pulang, Arga temani mamah sampai papah kembali ya."} Nada suara Kaisar, terdengar sangat panik di sebrang sana.


"Iya pah."


Arga menyerahkan ponselnya pada Lisa.


"Terimakasih sayang." Ucapannya.


Maafkan mamah sayang, mamah sudah membohongi mu. mamah melakukan ini agar papah mu tidak melakukan sesuatu yang di luar batas, terutama pada ka Rafi.


Padahal tanpa dia berbohong seperti ini pun, Kaisar pasti tidak akan pergi jika dia memintanya tetep tinggal.


🍁🍁


Sementara itu, Kaisar segera memutar arah mobilnya kembali ke kediaman Marwan.


🍁🍁🍁


Hanya butuh waktu beberapa menit saja Kaisar sampai kembali di kediaman Marwan.


Dengan langkah seribu, dan wajah yang sangat panik Kaisar menuju lantai atas.


CEKLEEK.....


"Sayang!"


Kaisar segera berhambur, memeluk Lisa yang tengah berbaring di ranjang.


"Mana yang sakit? apa terasa sangat sakit, aku akan panggilkan dokter sekarang." Ucap Kaisar, dengan raut wajah yang benar-benar sangat cemas, membuat Lisa menjadi merasa bersalah padanya.


"Tidak mas, tidak perlu memanggil dokter, aku sudah meminum obat, sebentar lagi juga sakitnya hilang."


"Sakit, tetap sakit, mas akan tetep panggil dokter."


"Jangan mas!" Lisa mencegah lengan Kaisar, yang sudah memegang ponselnya.


"Dengan mas, berada di sini saja aku pasti akan sembuh." Ucap Lisa.


"Benarkah?"


"Iya mas!" Yakin Lisa.


Kaisar tersenyum.


"Mas akan menemanimu."


Lalu Kaisar beralih pada Arga yang terlihat sedih karena mamahnya sakit.


"Anak laki-laki tidak boleh cengeng, Arga harus kuat dan tak terkalahkan, supaya bisa melindungi Mamah." Ucap Kaisar, pada Arga yang saat ini berada di gendongannya.


Dengan cepat bocah itu terlelap, karna di timang-timang oleh papahnya.


Setelah membaringkan Arga, Kaisar menuju kamar mandi.


"Tunggu sebentar ya sayang, mas mau mandi dulu,"ucapnya pada Lisa, seraya mengusap rambutnya.


"Iya mas."


Selama Kaisar berada di dalam kamar mandi, Lisa menggunakan kesempatan itu untuk mengecek ponsel Kaisar.


Beruntung! ponsel Kaisar tidak memiliki sandi khusus, hanya dengan sekali usap layar ponsel itu terbuka.


Lisa mengecek riwayat pesan Kaisar, dan ia menemukan percakapan via Chat Kaisar dengan Jhon.


Aku menemukannya.


Ya. Lisa berhasil menemukan pesan yang di kirim Jhon, dan isi pesan itu, sebuah alamat lengkap yang sudah bisa Lisa pastikan itu alamat di mana Firman berada.


Dengan cepat, Lisa mengirim teks alamat itu ke ponselnya dan segera menghapus riwayat pesan Kaisar.


Aku, harus cepat menemui Firman sebelum mas Kaisar menemuinya.


🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗😘


__ADS_2