
Di tempat lain.
"Bawa mereka ke rumah sakit terbaik yang ada di kota, pastikan mereka sembuh dan kembali bisa berbicara." Ucap Kaisar, pada beberapa orang yang ada di hadapannya.
"Baik tuan, kami pastikan mereka akan kembali sembuh dengan normal." Jawaban yakin dari salah satu di antara mereka.
Kini Kaisar dan Jhon sudah keluar dari rumah tengah hutan itu, mereka membawa dua orang pria yang menjadi tawanan di rumah itu.
βKaisar yakin jika kedua pria tawanan itu memiliki peran penting dalam masalah yang tengah ia hadapi, itu sebabnya Kaisar membawa mengeluarkan mereka dari rumah itu dan menyuruh anggota membawanya ke kota untuk mendapat pengobatan, karena kondisi ke dua pria itu sangat buruk, bahkan mereka sampai tidak bisa bersuara apa lagi bicara, hanya kedipan mata saja yang bisa mereka lakukan ketika Kaisar bertanya.
β
Kini mobil yang membawa mereka sudah melaju. Beruntung jalanan di hutan itu sangat sepi, karena para warga tengah sibuk dengan aksi bar-bar mereka, dan sebagai lagi tengah berbaring di klinik.
"Tuan, bagaimana jika nenek itu mengatakan semuanya?" Tanya Jhon.
"Kau tenang saja, sepertinya nenek itu memiliki keterbatasan dalam mengingat dan aku yakin dia tidak akan mengingat kita." Jawab Kaisar dengan yakin.
.
DREEEET .....
DREEET....
Ponsel Jhon bergetar dari dalam saku celananya.
Sepertinya sinyal sudah di dapat hingga ponsel itu mengadu pada sang pemilik jika ada beberapa pesan dan panggilan yang terabaikan ketika mereka berada di dalam hutan.
"Tuan, ada masalah di rumah, Rizal Sudah memberi tahu dari beberapa jam yang lalu."
Kaisar pun merogoh ponselnya yang tidak bersuara.
Benar saja, terlihat dari layar ponsel itu, menunjukkan puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab dari Rizal dan juga Lisa.
"Sial!" Umpat Kaisar, setelah membaca salah satu pesan itu.
"Kita pulang sekarang! Cepat Jhon." Ajak Kaisar dengan tergesa-gesa.
Jhon segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak perduli jika itu berbahaya yang terpenting ia harus segera membawa tuanya pulang.
π
π
π
Sampai di rumah.
Sudah tidak ada siapapun di halaman rumah.
Kaisar segera turun dari motor itu dan dengan langkah panjangnya ia memasuki rumah.
Baru sampai pintu, Kaisar sudah di sambut dengan suara tangisan Lisa yang terus menyebutkan nama Arga.
Yang membuat dada Kaisar semakin memanas.
"Apa yang terjadi!"
Suara berat Kaisar, mengalihkan pandangan Lisa yang tengah menangis di pelukan bude Darmi, dan Sintia bersama kepala desa tengah membantu mengobati Farel yang masih tidak sadarkan diri sedangkan Rizal sudah mampu membuka matanya. menoleh ke arah Kaisar secara bersamaan.
Mereka semua menatap kedatangan Kaisar.
"Mas ..kau dari mana saja! Arga ....Arga mas ...!" Lisa sesenggukan karena ia berbicara sambil menangis hingga tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
Kaisar segera menghampiri istrinya itu dan meraih telapak tangan Lisa yang terbalut perban.
"Kenapa kau terluka." Tanyanya.
"Ini tidak penting mas! Arga yang terpenting."
Kaisar membawa Lisa kedalam pelukannya.
"Katakan apa yang terjadi?" Tanyanya seraya membelai rambut Lisa dengan lembut. Tapi sebelah tangannya mengepal dengan kuat. Seolah tengah meremas seseorang yang telah membuat istrinya terluka.
__ADS_1
"Mereka membawa Arga mas, cepat tolong Arga mas, dia pasti sangat ketakutan dengan orang-orang itu mas." Ucap Lisa yang masih menangis di pelukan Kaisar.
"Siapa?"
Satu pertanyaan Kaisar. Membuat semua orang yang ada di sana diam menunduk, tidak ada yang berani mengangkat wajahnya mereka takut dengan air muka Kaisar yang berubah drastis.
Dan Sintia lah yang membuka suara untuk menceritakan semuanya pada Kaisar.
Kaisar mendengarkan cerita dari Sintia. Sambil tetep mengusap rambut istrinya. Tapi terlihat sangat jelas di wajah Kaisar jika iya dalam proses kamuflase menjadi seekor serigala.
Kurang ajar! berani sekali mereka melakukan itu pada keluarga ku, akan aku pasti mereka menyesal telah di lahirkan ke dunia ini. Dan akan ku buat mereka menangis darah hingga memohon untuk segera di kirim ke akhirat.
Ia terus saja membelai rambut itu sambil menenangkan Lisa.
"Jangan khawatir, mas tidak akan memaafkan orang-orang yang berani menyentuh putra kita." Ucap Kaisar dengan mata merah menyala.
"Apa dia masih hidup?" Tanya Kaisar pada Sintia, dan Sintia tau kata-kata itu di tunjuk untuk siapa.
"Masih, tapi kita harus segera membawanya kerumah sakit, luka yang di alami Farel sangat serius dan cukup parah, aku khawatir jika terus di biarkan seperti ini dia tidak akan selamat." Kata Sintia.
Ting ....
Bersamaan dengan Sintia yang baru saja menyelesaikan penjelasan tentang kondisi Farel, suara pesan masuk di ponsel milik Kaisar.
( Di tanah kosong, tempat pembangunan pabrik, gubug kosong sebelah timur. Putramu ada di sana, jemput lah, kasian dia sejak tadi menangis memanggil nama mu. Itu juga jika kau mempunyai keberanian.)
Itulah isi pesannya.
Kaisar tidak memberi tahu siapapun isi pesan itu, ia kembali memasukkan ponsel itu ke saku jaketnya.
"Sudah jangan menangis, mas akan segera menjemput Arga." Ucap Kaisar pada Lisa, seraya menguraikan pelukannya.
"Aku ikut mas!" Pinta Lisa.
"Tidak! Kau tetep di sini saja, Jhon akan menjagamu, mas janji akan segera membawa pulang Arga."
Kaisar tidak mau jika Lisa nanti melihat apa yang ia lakukan pada orang-orang itu.
"Iya." Jawab Kaisar mantap.
"Kau tetep di sini, jaga Lisa seperti kau menjaga nyawamu sendiri." Sambungnya.
"Tentu saja tuan." Jawab Jhon dengan yakin.
"Panggil yang lain, suruh mereka membawa Farel ke rumah sakit dan pastikan ia dan Rizal baik-baik saja."
"Baik tuan."
Kaisar melangkahkan kakinya. Tapi Lisa menahan lengan Kaisar.
Ia berat melepaskan suaminya pergi seorang diri, karna Lisa tau betapa gilanya orang-orang itu.
"Mas! biarkan Jhon menemanimu, aku tidak apa-apa di sini ada bude Darmi, kepala desa dan juga Sintia yang menemani ku."
"Tidak! Jhon yang akan tetep menjaga mu." Tegas Kaisar, dan sudah tidak bisa di bantah lagi.
Di saat seperti ini Kaisar hanya akan mempercayakan semuanya pada Jhon. Termasuk untuk menjaga Lisa.
"Mas akan baik-baik saja." Ucapnya.
Dan ia benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu seorang diri untuk menghadapi puluhan masa yang tengah menyandra putranya.
Kaisar mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar untuk segera sampai di lokasi itu.
"Yuna aku Yakin Kaisar dan Arga akan baik-baik saja." Kata Sintia.
"Benar nak, sekarang lebih baik kita berdoa untuk keselamatan Arga dan Kaisar." Sambung bude Darmi.
"Benar Yuna, bapak akan mencoba bicara pada warga yang lain untuk melerai perdebatan mereka." Kepala desa bersuara sekaligus berpamitan, ia akan mencoba kembali menenangkan warga, dan meminta warga yang tersisa untuk ikut membantu menenangkan masa.
Sedangkan Jhon, ia sibuk dengan ponselnya, menghubungi orang-orang kepercayaannya yang ia tugaskan tidak jauh dari desa itu, untuk membawa Farel dan Rizal ke rumah sakit yang ada di kota.
πππππππ
__ADS_1
"Kau lihat anak itu, apa dia tidak takut pada kita. Jangankan menangis bicara saja tidak ia lakukan." Ucap salah satu dari orang yang membawa Arga.
"Sepertinya anak itu sedang menahan rasa takut nya."
"Hai nak, jika kau takut menangis lah jangan di tahan seperti itu, nanti kau bisa mengompol di celana." Ledek mereka.
"Hahaha hahaha."
Dan di sambut tawa mengejek dari teman mereka yang lain.
Meskipun mereka tengah mentertawakan dan meledeknya, Arga tetep diam tak ber ekspresi apapun. Ia hanya menatap wajah orang-orang itu secara bergantian.
"Ah di mana ayah mu itu, kenapa lama sekali. Atau jangan-jangan dia tidak mau menjemput mu." Kata pria bertato tengkorak pada Arga.
Brem .... Brem....
Brem .....
Suara motor terdengar di telinga mereka.
"Sepertinya ia sudah datang."
"Lalu siapa yang akan mengeksekusi nya?"
"Biar kami saja yang memimpin masa untuk menghabisi dia."
"Baik, lakukan!"
Dan dua dari ketiga orang itu, keluar dari gubuk untuk menunaikan apa yang ia katakan tadi. Sementara yang satu tetep tinggal untuk menjaga Arga.
Para masa sudah siap. Mereka tengah mengepung Kaisar dengan posisi memutari. Lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.
"Akhirnya kau mempunyai keberanian untuk datang!" Ucap pria berotot itu.
"Dimana anak ku?" Tanya Kaisar masih dengan nada normal.
"Kami akan menyerahkan anak mu, jika kau sudah bertanggung jawab atas kejahatan mu yang telah membunuh para warga dengan racun yang kau sebarkan." Sahut salah satu warga. Yang ikut memutari nya .
Kaisar membuang pandangannya ke segala arah.
Jadi karna masalah itu, baiklah aku tau siapa dalang dari semua ini. Tentu ini hanya pengalihan saja bukan, target dia adalah aku tapi dia sudah berani membawa keluarga ku dalam masalah ini. Lihat Firman siapa yang akan menang di antara kita. Untuk menyingkirkan ku , tentu tidak semudah yang kau bayangkan.
Kaisar mulai menggerakkan-gerakan otot tangannya.
Hingga sebuah balok melayang hampir menghantam wajahnya.
Tapi dengan cepat Kaisar menahan balok itu hanya dengan satu tangan.
Dan menghempaskan nya, sehingga membuat orang yang tengah memegang balok itu tersungkur di tanah.
"Kurang ajar!" Satu lagi warga kembali menyerang. Tapi dengan mudah pula Kaisar melumpuhkannya.
Kaisar Hanya menghindari pukulan dari warga, ia tidak akan melawan Dengan caranya. Karna Kaisar tau mereka hanyalah korban hasutan dari 2 pria yang tengah melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Kaisar dengan senyum jahat.
BAG .....
BuG .....
Masa menyerang Kaisar secara bersamaan.
Namun kehebatan Kaisar dalam soal bela diri sudah tidak perlu di ragukan lagi, ia sangat pandai dalam hal ini bahkan saat masih kecil Kaisar sudah menguasainya.
Kaisar mampu menghindari semua serangan dari warga. Sesekali ia hanya membalasnya dengan pukulan ringan.
Mangsa Kaisar adalah dua orang yang tengah menonton mereka.
"Ternyata di tidak bisa kita anggap remeh. Cepat kau turun tangan, agar tugas kita segera selesai." Ucap salah satu dari dua pria bertubuh besar itu.
"Baik." Ia mengeluarkan sebuah belati dari saku jaket Levis nya.
πππΉπΉπΉπΉπΉπππ
Terimakasih π πππ€π€ππ€π€
__ADS_1