
"Maaf, maafkan aku Lis, aku terlalu bersemangat!" Nur, menarik tangannya.
Kaisar yang memperhatikan dari jauh, segera menghampiri Lisa, karna istrinya itu tengah mengibaskan tangannya.
Kaisar menuntun Arga dan menghampiri Lisa.
"Ada apa?" Tanyanya dengan penuh curiga kala menatap Nur.
"Tidak ada apa-apa Mas."
"Sayang, kita harus segera kembali ke Mansion, kau harus banyak beristirahat,"Kaisar menggandeng tangan Lisa, menjauhkan Lisa dari Nur.
"Baik mas," lalu Lisa beralih pada Nur. "Aku pulang dulu ya Nur, lain kali kita akan bertemu lagi,"Lisa melambaikan tangan pada sahabatnya.
Dan Nur pun membalasnya dengan senyuman di bibirnya.
"Baik, berhati-hatilah di jalan."
Tak ingin berlama-lama, Kaisar segera membawa Lisa beserta Arga keluar dari Kafe itu, entah kenapa lelaki itu sepertinya tidak menyukai Nur.
🍁🍁🍁🍁🍁
Luna sepertinya sudah bisa menerima keadaan, meskipun ia belum bisa tenang dan masih merasa bersalah pada wanita yang bernama Linda itu, karena dia, wanita itu harus berada di dalam penjara.
Tapi, bukankah wanita itu juga bersalah!
Hari ini Luna ingin melihat keadaan Restorannya, karena sudah beberapa hari dia tidak menjenguk tempat usaha yang ia dambakan sejak dulu.
"Kau mau Ke Resto?" Tanya Jhon, yang melihat Luna tengah bersiap-siap seperti biasanya.
"Iya, aku sudah lama tidak ke sana,"sahut Luna.
Jhon tersenyum, ia sudah mulai lega karena sepertinya Luna sudah melupakan kejadian itu dan kembali hidup normal, tanpa merasa bersalah pada siapapun.
🍁🍁🍁
Selepas mengantarkan Luna ke Resto, Jhon segera menuju markas.
Mungkin ia masih ingin melanjutkan kegilaannya kemarin bersama Kaisar.
"Ibu Luna, akhirnya anda datang juga, ibu Luna baik-baik saja kan?" Karyawan Luna menyambut kedatangannya, mereka semua pun sangat khawatir dengan keadaan Luna yang beberapa hari tidak datang ke Restoran.
"Aku baik-baik saja,"Luna tersenyum ramah dan terlibat sedikit obrolan dengan mereka.
Baru beberapa jam Luna berada di Resto dan sedikit bisa melupakan kejadian tempo hari.
Tiba-tiba ada beberapa orang datang ke Restorannya.
"Maaf Bu Luna, ada yang ingin bertemu dengan anda!"
"Siapa?" Luna sedikit merasakan takut jika ada orang yang ingin menemuinya pasca kejadian itu ia selalu tidak tenang dan merasa was-was jika ada orang lain yang ingin bertemu dengannya.
"Maaf Bu, saya tidak tau, mereka tidak menyebutkan nama, mereka hanya ingin bertemu dengan ibu Luna."
Bertemu dengan ku, semoga tidak terjadi apa-apa, tenang Luna, tenangkan hatimu.
"Baik saya akan segera keluar, Terimakasih!"
🍁
__ADS_1
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Luna memberanikan diri untuk menemui orang itu.
Sampai di sebuah meja dengan 4 kursi yang mengelilingi meja itu.
Ada 4 orang tengah duduk di sana.
Salah satu dari mereka berdiri, memberi tempat duduk untuk Luna.
Luna duduk berhadapan dengan seorang wanita yang memakai jaket kulit dengan wajah yang sangat tegas.
"Maaf, ada apa mencari saya?" Luna membuka pembicaraan di antara mereka.
"Apa anda yang bernama Luna putri Wijaya?" Tanya wanita itu memastikan.
Luna mengangguk.
"Iya benar."
Perasaan Luna semakin tidak karuan dan iapun semakin ketakutan.
Wanita itu mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan saya Farida, saya Detektif yang di tugaskan untuk menangani kasus pembunuhan pengusaha properti yang di temukan tewas beberapa hari yang lalu."
DEG..
Seketika wajah Luna pias.
Detektif! pembunuhan! apa mereka mencurigai ku.
🍁🍁🍁🍁🍁
Seperti yang sudah di perkirakan.
Jhon benar-benar mendatangi Markas.
Tidak di duga sudah ada Kaisar di sana yang datang terlebih dahulu.
"Tuan, anda sudah datang!" Jhon melangkahkan kakinya mendekati Kaisar.
"Kau lama sekali Jhon, siang nanti aku akan mengantar Luna ke rumah orangtuanya,"keluh Kaisar pada adik iparnya itu.
"Maafkan saya tuan, tadi saya harus mengantar Luna ke Resto terlebih dahulu."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Sudah lebih baik tuan, sepertinya ia sudah bisa melupakan kejadian itu."
"Bagus! Sekarang kita lanjutkan untuk memberi pelajaran pada orang yang membuat Luna tidak nyaman, dan merasa bersalah,"Kaisar melangkah terlebih dahulu memasuki sebuah ruangan, di ikuti Jhon di belakangnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Jhon pada anak buahnya, yang tengah mengurus tawanan mereka.
"Semalaman dia menangis kesakitan tuan."
"Sayang sekali aku tidak mendengar itu,"sesal Kaisar, yang merasa kehilangan momen berharga.
"Kalian minggir!" Titah Jhon.
Dan beberapa anak buahnya itu menepi dan berbaris di belakang Kaisar dan Jhon.
__ADS_1
Mereka pun ingin menyaksikan apa yang akan di lakukan tuanya pada tawanan mereka yang sudah berani lancang bermain dengan dua sikopat ini.
"Apa anda ingin memulai terlebih dahulu?" Tawar Jhon pada Kaisar.
"Tidak! Aku sudah berjanji pada Lisa tidak akan menyiksa orang lagi apa lagi sampai membunuh."
Jhon menautkan kedua alisnya, ia sedang mencerna maksud dari ucapan Kaisar.
Jika dia tidak mau menyiksa dan membunuh orang lagi, lalu untuk apa dia datang ke Markas.
Kaisar tau apa yang ada di pikirkan Jhon, dan dengan entengnya ia berkata!
"Aku hanya ingin menontonnya saja Jhon, karna dengan menyaksikan itu semua, aku jadi tidak mual-mual lagi dan merasa puas sekaligus bahagia."
Gila! Dia Benar-benar sudah gila!
Jhon mengangguk dan tau apa yang harus ia lakukan.
"Baik, ijinkan saya memberi tontonan yang spektakuler untuk anda tuan!"
Kaisar tersenyum dengan puas dan bangga karna telah memiliki adik ipar seperti Jhon, yang selalu tau apa yang ia inginkan tanpa harus mengatakannya.
"Lakukan Jhon!"
Salah satu anak buah Kaisar membawakan sebuah kursi yang sangat nyaman untuk tuannya duduk sambil menikmati tontonan spektakuler yang akan di selenggarakan oleh Jhon.
Bukan hanya Kaisar yang berantusias.
Tapi para anak buahnya pun tersenyum lebar dan bahagia, sudah tidak sabar menyaksikan apa yang akan Jhon lakukan pada lelaki yang sedang ketakutan setengah mati itu.
Mereka semua benar-benar sudah gila dan sungguh kejam!
"Ampun, ampuni saya , tolong ampuni saya tuan jangan siksa saya, saya akan melakukan apapun dan akan menuruti permintaan anda jika anda membebaskan saya,"lelaki itu terus saja memohon, entah ini sudah yang ke berapa kali, ia memohon pada Jhon dan Kaisar.
Seperti biasa, mendengar orang itu memohon sambil berlinang air mata, semakin Jhon bernafsu untuk menyiksanya.
Jhon meraih sebilah pedang yang sudah di sediakan anak buahnya, ai menatap lekat benda tajam dan mengerikan itu.
Jhon mengarahkan pedagang itu pada leher tawanannya yang masih dalam posisi terikat.
"Tuan, apa hanya dengan sekali sabetan leher ini akan putus?" Tanya Jhon pada Kaisar.
"Tentu Saja, apa kau akan menebasnya begitu saja?" Sahut Kaisar, yang di akhiri dengan pertanyaan.
"Tentu Saja Tidak! Tuan, bukankah itu terlalu ringan untuknya,"Jhon berkata sambil menukar pedagang itu dengan sebuah benda tajam yang berukuran sangat kecil.
Kaisar menyunggingkan senyum di bibirnya, seraya kepalanya mengangguk-angguk memperhatikan Jhon.
"Kau akan menggunakan itu?"
Jhon tersenyum seperti iblis dan mengangguk.
Dan di sambut senyum membanggakan dari Kaisar.
Entah sudah seperti apa wajah lelaki yang ada di hadapan Jhon, ia sudah sangat salah berani mengganggu keluarga dari dua Sikopat itu.
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
__ADS_1
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️