
"AKAN APA?" Jawab Kaisar, dengan suara yang menggema.
Mata mereka saling bertemu, dan memancarkan kilatan-kilatan kebenciaan.
"CUKUP!" Bentak Yuda.
"Kaisar, jangan kau bahas mamah Melissa, dia sudah tenang di sana. Kita sedang membicarakan soal Lisa." Ucap Yuda.
"Lisa itu istri ku. Jadi kalian tidak usah ikut campur."
Kaisar pun pergi dari kediaman Marwan.
Di mobil.
"Jhon, apa kau sudah melakukan apa yang ku perintahkan?"
"Sudah tuan." Jawab Jhon tanpa mengalihkan pandangannya dari depan, karena ia sedang menyetir.
"Jadi, bagaimana hasilnya?"
"Saya sudah mengecek, dan menyelidiki orang-orang yang kemungkinkan menculik nona Lisa. Tapi, hasil penyelidikan yang saya dapatkan tidak membuktikan kalau mereka terlibat tuan. Dan, nona Lisa tidak di culik tuan."
"Maksud mu, Lisa senaja pergi dari Mansion?"
Jhon tidak menjawab. Menandakan yang di ucapkan Kaisar benar.
"Aku tidak perduli, apapun alasannya cari Lisa sampai dapat."
*****
Dengan bujukan yang susah payah Jhon lakukan, akhirnya Kaisar mau kembali ke mansionnya.
"Saya permisi tuan." Pamit Jhon, setelah mengantar Kaisar sampai ke mansionnya."
Kaisar mengangguk, dan segera masuk ke dalam.
"Tuan Kai! akhirnya anda pulang!" Seru bi Lilis, yang senang melihat Kaisar kembali.
"Eem." Hanya itu jawaban Kaisar, dan langsung menuju lantai atas di mana kamarnya berada.
Sampai di kamar, Kaisar terdiam, ia memandangi setiap sudut kamarnya, mengingat istrinya yang biasa selalu menyambutnya ketika pulang. Kaisar kembali mengingat saat-saat bersama Lisa. Dan ingatannya lebih jelas, ketika Lisa menanyakan perasaannya untuk Lisa.
"Tanpa aku menjawabnya pun, seharusnya kau sudah tau jawabannya." Gumam Kaisar.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba sebuah tangan mulus nan indah melingkar di perutnya.
Jari-jari tangan lentik itu mengusap-usap perut kaisar dengan lembut. Lalu terdengar suara menggoda di telinga Kaisar.
"Kai. Kenapa kau baru kembali." Suaranya, di sertai dengan *******. Dia adalah Anggel, karena Kaisar tidak menutup pintu kamarnya, Anggel dengan lancang memasuki kamar Kaisar. Ia mengira inilah kesempatan untuknya.
"SIAPA YANG MENGIJINKAN MU MASUK KE KAMAR KU?" Bentak Kaisar, sambil menepis tangan yang melingkar di perutnya.
Anggel menutup mata, karena bentakan dari Kaisar.
"Kai. Kenapa kau sekasar ini pada ku
Kai?"
"Aku tidak akan kasar padamu, jika kau tau batasan mu Anggel."
"Maafkan aku Kai. Aku tidak bisa menahan diri, aku sangat merindukan mu Kai."
Kaisar tidak memperdulikan omongan Anggel. Ia segera melangkahkan kakinnya menuju pintu, dan mengisyaratkan agar Anggel segera keluar dari kamarnya.
"Kai." Lirih Anggel.
"Cukup Anggel!"
"Baiklah, aku akan keluar dari kamar mu."
"Kau bukan hanya keluar dari kamar ku, tapi kau juga harus keluar dari Mansion ku. Kau sudah baik-baik saja bukan!"
"Tapi Kai?"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian, kau harus keluar dari Mansion ku malam ini juga." Tegas Kaisar.
"Kai, ini sudah malam, apa kau taga membiarkan aku keluar?" Wajah Anggel kini memelas.
"BI LILIS!" Panggil Kaisar, dengan suara yang full.
Bi Lilis yang mendengar suara Kaisar, segera menaiki tangga, dengan tergesa-gesa, menghampiri tuannya itu.
"Iya tuan." Nafas bi Lilis tersengal-sengal.
"Kenapa, kau masih membiarkan dia tinggal di sini?" Tanya Kaisar, seraya menunjuk Anggel.
"Maaf tuan."
"Sekarang, cepat bawa keluar wanita ini dari Mansion ku."
"Ba ... Baik tuan."
Dan Kaisar pun segera masuk kedalam kamarnya. ia menutup pintu dengan sangat keras.
Dengan susah payah, karna Anggel bersikukuh tetep bertahan, akhirnya bi Lilis bisa menyuruh Anggel pergi dari Mansion, dan menyuruh supir mengatakan Anggel ke apartemennya. Karna tentu bi Lilis tidak akan mungkin tega membiarkan Anggel kembali ke apartemennya sendiri malam-malam begini, apa lagi jalanan di mansion ini sangat sepi.
***
Pagi hari.
Kaisar turun dari kamarnya. Hari ini ia harus ke kantor karna ada beberapa masalah yang terjadi.
"Tuan, anda tidak sarapan terlebih dahulu.?" Tanya bi Lilis, yang melihat Kaisar melewati meja makan.
"Tidak!" Jawab Kaisar, dengan singkat.
"Tuan, ada yang ingin bibi ingin katakan."
Kaisar menghentikan langkahnya.
"Katakanlah."
"Apa yang dia katakan pada Lisa?"
"Bibi tidak tau tuan, karna nona Lisa menyuruh bibi menyampaikan pasan pada supir kalau nona ingin pergi."
Kaisar terdiam. Ia mengingat kata salah satu anggotanya, bahwa kemungkinan Lisa di culik dengan orang yang menyimpan dendam padanya, atau orang yang tidak menyukai Lisa, entah kenapa, Kaisar selalu berfikir kalau Lisa di culik . Dan dari hasil pemikirannya, Kaisar malah mencurigai Anggel.
"Baiklah." Kaisar hanya mengatakan itu. Dan segera pergi.
Sebelum ia memasuki mobil, Kaisar mengirimkan pesan pada seseorang.
{ Bawa wanita ini ke tempat biasa. Kau harus sudah membawanya siang ini juga.} Itulah, pesan yang dikirimkan Kaisar di sertai foto Anggel.
Sampai di kantor, Kaisar pun segera menyelesaikan semua pekerjaan.
****
Di tempat lain.
"Tante Julia, pokonya harus membantu ku untuk mendapatkan Kaisar kembali. Dengan cara apapun." Anggel sedang berbicara dengan Julia, lewat sambungan telepon.
{"Sudah Tante bilang, tidak mudah. Kamu masih saja keras kepala dengan rencana mu. Baiklah, kali ini kita pakai rencana Tante."}
Tiba-tiba...
"Hei mau apa kalian? Lepaskan aku!"
2 orang bertubuh besar, menyeret paksa Anggel masuk kedalam mobil.
"Kurang ajar! Aku bilang lepaskan aku. Tolong..... Tolong..... To ...." Orang-orang itu, membekap mulutnya Anggel dengan kuat.
Teriakan Anggel terdengar oleh Julia.
{" Anggel! Kau kenapa? Apa yang terjadi? Halo Anggel?"} Dan panggilan pun terputus, membuat Julia panik.
"Halo tuan! Kami sudah mendapatnya!"
__ADS_1
{" Bagus! Bawa dia. Saya akan segera kesana"}
"Baik tuan."
Salah satu, dari orang yang bertubuh besar itu menyampaikan pada tuannya, yang tak lain adalah Kaisar kalau mereka berhasil.
"Kita bawa dia ke gudang. Tuan akan segera kesana."
"Baik."
Mereka segera melajukan mobilnya, menuju tempat yang di sedia kan Kaisar.
****
Di kantor.
"Jhon,b aku keluar sebentar ada yang harus aku lakukan."
"Anda mau kemana tuan?"
"Kau tidak perlu tau, lagi pula aku sudah menyelesaikan semua masalah yang ada di kantor. Dan kau tidak perlu mengantarkan ku."
Meskipun bingung, dan hati yang bertanya-tanya, Jhon hanya bisa mengiyakan Kaisar.
Kaisar segera keluar dari kantor, dan menuju mobilnya. Dengan kecepatan tinggi Kaisar memacu mobil itu.
30 menit, Kaisar sampai, di sebuah gudang kosong yang jauh dari keramaian.
Ia memasuki gudang itu dengan langkah cepat.
"Tuan." Seorang menyambut Kaisar.
"Di mana dia?" Tanya Kaisar.
"Di dalam tuan. Wanita itu terus saja membrontak tuan."
"Huuf .... Kau, menangani satu wanita saja tidak becus."
"Lepaskan aku, cepat lepaskan aku, kurang ajar! berani kalian memperlakukan aku seperti ini? Kalian tidak tau siapa aku?" Teriakan Anggel, terus saja menggema di ruangan kosong itu. Kaki dan tangan di ikat di sebuah bangku.
"Cepat! lepaskan aku kalau tidak ....!"
"Kalau tidak apa?" Kaisar muncul, memasuki ruangan itu. Seketika Anggel terkejut melihat kedatangan Kaisar.
"Kai! Kau datang kesini, pasti untuk menyelamatkan ku kan?" Wajah Anggel berbinar, di tengah keterkejutannya.
Kaisar hanya mengedikan bahunya. Dan ia duduk di kursi yang sudah di sediakan.
Kaisar menggerakan jarinya, mengisyaratkan seseorang untuk mendekat.
"Iya tuan!"
"Tuan! Apa maksudnya? Kai kepada mereka memanggilmu tuan?" Tanya Anggel, yang mulai merasakan sesuatu yang tidak baik.
Namun Kaisar tetep enggan untuk menjawabnya.
"Kai!" Lirih Anggel, yang mulai merasakan ketakutan, ketika melihat salah satu dari orang yang berbaju serba hitam, memberikan pisau yang sudah di pastikan sangat tajam, karna warnanya begitu mengkilap tepat di tangan Kaisar.
"Cepat, Katakan?" Kaisar berkata, sambil memainkan pisau itu di tangannya, yang sontak membuat Anggel semakin ketakutan, dan gemetar.
"Apa ... Maksudmu Kai?" Suara Anggel, mulai ikut bergetar.
"Cepat katakan, di mana kau sembunyikan Lisa?" Kaisar mengulangi pertanyaannya, namun kali ini lebih jelas apa yang dia maksud.
"LISA?" Anggel terkejut.
"Jadi, kau melakukan ini padaku karena Lisa?"
"JANGAN BANYAK TANYA, CEPAT KATAKAN SAJA DI MANA LISA? JIKA KAU TIDAK INGIN KULIT MULUS MU INI TERLUKA." Maki Kaisar, seraya bangkit dari duduknya, dan mengarahkan pisau itu tepat di wajah Anggel.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Trimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏 minta dukungannya 🤗🤗
__ADS_1