Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 102. Drama di meja makan.


__ADS_3

"Selamat pagi Kai." Sapa Julia dengan ramah.


"Selamat pagi nek, bagaimana dengan kondisi nenek, pagi ini aku akan menemani nenek ke dokter, nenek harus memeriksakan kesehatan nenek!" Sahut Kaisar, yang langsung mendudukkan Arga di sebelah Lisa.


"Tidak perlu Kai, nenek sudah sehat dan sekarang baik-baik saja."


"Pergilah, Kai yang akan mengantarkan mu ke dokter, kau memeng harus memeriksakan kesehatan mu." Marwan membuka suaranya.


"Tidak, aku baik-baik saja, Kaisar sangat sibuk dengan semua pekerjaannya, jangan membuat dia semakin repot dengan mengantarkan ku ke dokter." Balas Julia, dengan senyum merekah yang ia kembangkan untuk Marwan dan Kaisar.


Lisa hanya memperhatikan percakapan di meja makan itu, ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Julia tidak, mengatakan apapun pada Kaisar, tentang hubungan Julia dan Rafi, jika Julia berkata jujur dan mengungkapkan semua rahasia besar itu, sudah bisa di pastikan Kaisar tidak akan bersikap se baik ini padanya, padahal Lisa dan Rafi sudah memberi Julia kesempatan untuk bicara baik-baik pada Kaisar dan mengatakan semuanya, agar Kaisar tidak semakin marah jika mengetahui itu dari orang lain.


Anda masih saja merahasiakannya dari Kaisar, nyonya Julia. Sepertinya aku terlalu baik padanya.


Julia, menatap Lisa yang tengah memperhatikannya.


Kau pikir, saya akan sebodoh itu, untuk mengatakan semuanya pada Kaisar, tidak Lisa! Rahasia besar ini akan selamanya tersimpan, karna yang namanya rahasia harus tetap menjadi sebuah rahasia. Dan, agar rahasia ini tetep aman aku akan menyingkirkan siapapun yang mengetahuinya, termasuk kau Lisa.


"Kai, apa hari ini kau akan kembali ke Mansion?" Tanya Yuda, di sela-sela sarapannya.


Seperti biasa, Kaisar hanya mengangguk, tanpa menjawab sepatah katapun.


"Iya pah, kita akan kembali ke Mansion, setelah mas Kaisar mengantar nenek Julia ke dokter." Sahut Lisa, yang merasa tidak enak dengan Yuda, yang di acuhkan oleh Kaisar.


"Kenapa tidak tinggal untuk beberapa hari lagi nak." Ucap Larasati.


"Tidak!" Sahut Kaisar ketus, dengan tatapan sinis yang ia tunjukkan pada wanita yang saat ini berstatus sebagai ibunya.


Dan sontak membuat wajah Larasati menjadi sedih.


"Mah, kita akan lebih sering main kesini karena Arga sangat dekat dengan neneknya, ia pasti akan sering merindukan mamah."Balas Lisa, yang bermaksud menghibur hati Larasati, atas sikap cuek dari Kaisar.


Namun salah, Kaisar justru semakin terpancing karena Lisa selalu membela Larasati.


"Jangan terlalu dekat dengan putra ku, Arga tidak memiliki hubungan darah dengan mu, jadi! jangan menganggap dia sebagai cucumu, jika kau mendambakan seorang cucu, suruh anak kesayangan mu Farel, segera menikah dan memberi mu seorang cucu."


Lisa membelalakkan matanya, bisa-bisanya Kaisar bicara seperti itu pada Larasati.


"Kai, jaga ucapan mu!" Bentak Yuda.


"Kenapa?" Sahut Kaisar, dengan nada suara yang balik membentak Yuda.


Yuda sudah sangat kesal dengan sikap Kaisar yang selalu merendahkan Larasati, ia selalu menahan kata-kata yang ingin ia lontarkan pada Kaisar, karna Larasati selalu mencegahnya.


Nafasnya naik turun, menatap putra sulungnya itu.


Begitupun dengan Kaisar, seolah tengah menantang Yuda.


TENG !


Marwan meletakkan sendok dengan cukup keras di piring, hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.


Membuat semua tertunduk, terkecuali Kaisar, ia tetep menegakkan kepalanya tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Pah, maafkan saya, yang sudah mengganggu sarapan papah,"ucap Larasati, yang berdiri dan menundukkan kepalanya.


"Itu memang sudah menjadi kebiasaan mu, dari dulu sampai sekarang, selalu membuat keributan di setiap suasana, kau selalu merusak momen keluarga kami." Ketus Julia, yang melemparkan tatapan tidak suka pada Larasati.


"Nenek Julia! kenapa anda bicara seperti itu?" Tanya Lisa, dengan nada yang cukup tinggi dan menatap wajah Julia.


Dan ucapan dari Lisa, sontak membuat semua menatapnya, pasalnya! Tidak ada yang berani menyela atau bertanya pada Julia, ketika ia sedang menuangkan rasa tidak sukanya pada Larasati, terkecuali Farel.


Karna Julia di lindungi Kaisar, jika ada yang berani protes padanya, sudah pasti akan berhadapan dengan Kaisar.


Julia tidak terima dengan nada yang membentak dari Lisa.


"Kai, kau lihat? Istrimu itu Berani meninggikan suaranya pada nenek!" Adu Julia.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak berani!" Sahut Lisa cepat!


"Astaga Kai, istri mu ini benar-benar kurang ajar, dia sama sekali tidak mempunyai sopan santun dan tata Krama pada orangtua." Sungut Julia.


"Anda sendiri yang memberi saya contoh, untuk tidak memakai tata Krama dan sopan santun." Balas Lisa, sepertinya ia sudah sangat kesal Dengan kelakuan culas Julia.


Lisa sudah tidak perduli, apa pandangan Yuda dan Marwan tentang dirinya, yang berani membuat keributan di pagi hari, dan tentunya Kaisar, Lisa sudah berani bicara kurang sopan pada Julia, pasti Lelaki itu akan marah padanya.


Persetan dengan itu semua, yang penting ia sudah mengungkapkan unek-uneknya Pada Julia, dan Juga Kaisar yang selalu mangut dengan apapun yang di katakan wanita jahat itu.


Sementara Kaisar bingung harus berpihak pada siapa.


"Kai, kenapa kau diam saja dengan kekurang ajaran istri mu ini?" Julia kembali membentak.


"Nek, tenangkan diri nenek." Ucap Kaisar pada Julia.


Dan ia beralih pada Lisa, yang tengah berdiri tegak seolah menantang Julia untuk bertarung.


"Sayang, jangan bicara seperti itu pada nenek,"ucap Kaisar lembut, sambil memegang pundak Lisa.


"Memangnya ada yang salah dengan pertanyaan ku mas?" Lisa berbalik menatap Kaisar. "Aku hanya bertanya, kenapa nenek Julia bisa bicara seperti itu pada Mama Larasati, tapi kenapa dia marah."


"LISAAA!" Teriak Julia.


"Apa! Anda tidak perlu berteriak seperti itu, pendengaran ku masih sangat baik, sudah seperti di hutan saja teriak-teriak seperti itu." Rupanya Lisa semakin berani pada Julia, dan tidak takut pada Kaisar ataupun Marwan.


"Sayang! Kamu tidak boleh seperti itu pada nenek." Kaisar menahan pundak Lisa.


"Wanita kampung ini, benar-benar sudah kurang ajar!" Julia yang tak terima, mengangkat tangannya untuk ia layangkan pada wajah Lisa, yang sudah membuatnya naik darah.


Tapi dengan cepat Kaisar menahan tangan yang sudah tidak muda itu.


"Nenek! Kenapa nenek sekasar ini pada Lisa?" Bentak Kaisar, dan menurunkan tangan Julia.


Lisa tersenyum puas melihat ekspresi wajah Julia, yang ketar-ketir.


Dan Larasati, wanita itu sudah meninggalkan meja makan beberapa menit yang lalu, ketika Lisa meninggikan suaranya pada Julia, ia membawa serta Arga menjauh dari sana, dan masuk kedalam kamar, agar bocah kecil itu tidak mendengar suara perdebatan dari keluarganya.


"Astaga! Kenapa nona Lisa, berani sekali menantang Nyonya Julia." Bisik salah satu pekerja pada temannya, yang tengah mengintip di sela-sela pintu


"Tapi, tuan Kaisar tidak memarahinya, justru membelanya, Memeng pantas Nyonya Julia mendapat perlakuan seperti itu, karna dia memang kejam,


jika bukan nona Lisa yang melawan Nyonya Julia, sudah bisa di pastikan orang itu tinggal nama, atau babak belur seperti tuan Farel, yang selalu melawan Nyonya Julia." Sahut temannya yang juga, tengah mengintip.


Hening...


Tidak ada satu suara pun yang keluar dari mereka..


Semua tengah menatap Kaisar, karna ini sejarah, baru pertama kali lelaki itu membentak Julia, sang nenek kesayangan.


Hingga suara lirih keluar dari Julia.


"Kai, kau tega membentak nenek?" Julia, mulai memakai senjata andalannya, yang sudah pasti ampuh dan membuat Kaisar bertekuk lutut.


Julia terisak kecil, seolah merasa terpukul dan sangat sedih, karan Kaisar membentaknya.


Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.


"Nenek!" Panggil Kaisar.


Namun Julia tidak menggubrisnya, ia tetap menapaki tangga dengan cepat, tanpa menoleh pada Kaisar.


Kaisar berbalik pada Lisa.


"Kau tidak apa-apa? Maafkan nenek, nenek hanya sedang emosi,"ucapanya yang membelai wajah Lisa.


Aku sangat terharu dengan sikap mu yang seperti ini pada ku mas, aku tau kau sebenarnya lelaki baik dan penyayang, tapi aku tidak akan membiarkan kasih sayang dan cinta yang kau curahkan pada Julia dia manfaatkan untuk kepentingannya. Aku akan melepaskan mu dari wanita itu mas.

__ADS_1


"Kembalikanlah ke kamar, mas mau menemui nenek Julia, dia pasti sangat sedih." Kaisar tertunduk, dengan raut wajah yang merasa bersalah bersalahnya.


Lisa mengerti apa yang Kaisar rasakan, lelaki itu sangat menyayangi Julia, karna Julia selalu menemaninya ketika Kaisar dalam keadaan rapuh pasca di tinggal Melissa, sudah pasti Kaisar akan merasa bersalah ketika bicara dengan nada yang tinggi pada wanita itu,


Lisa mengangguk.


Dan Kaisar pun, dengan langkah cepat menyusul Julia di kamarnya.


Tersisa Lisa, Yuda dan Marwan.


Lisa melirik kedua lelaki yang tengah menatapnya itu.


Dengan canggung, dan wajah yang memerah menahan malu sekaligus takut. Lisa berulang kali menundukkan kepalanya.


"Maafkan saya, pah, kakek, tolong maafkan saya yang sudah membuatnya keributan."


Marwan bangkit dari duduknya, lalu ia menepuk pundak Lisa.


"Tidak apa-apa, kau tidak salah nak." Ucapannya, dan segera berlalu meninggalkan Lisa, yang masih tertunduk.


"Lisa, terimakasih kau sudah menyerukan suara untuk Larasati." Kini giliran Yuda yang bicara. "Jangan merasa bersalah, Kaisar memang harus menyadari semuanya." Sambung Yuda dan ia pun berlalu meninggalkan Lisa.


Setelah drama di meja makan, Lisa kembali masuk kedalam kamarnya untuk menunggu Kaisar, yang tengah berada di kamar wanita Jahat itu.


Ada Arga dan Larasati di sana.


"Ma!" panggil Lisa, lembut.


"Lisa, kemarin nak!" Larasati menepuk kasus, yang ada di sebelahnya mengisyaratkan agar Lisa duduk di sampingnya.


Lisa, mendekat dan duduk di sisi Larasati.


🍁🍁🍁🍁


Di luar kediaman Marwan, ada Jhon yang tengah sibuk dengan ponselnya, untuk menghubungi seseorang yang bisa ia andalkan.


Sepertinya lelaki ini melewatkan momen menegangkan yang terjadi di meja makan.


"Sore, nanti saya dan tuan Kaisar, segera menuju lokasi." Ucap Jhon, pada seseorang yang hanya terdengar suaranya itu.


{"Baik tuan, perintah segera di laksanakan."}


🍁


Di kamar Julia, Kaisar tengah membujuk wanita yang tengah sedih karena di bentak oleh cucu kesayangannya.


"Nek, maafkan aku!" Ucap Kaisar, dengan nada yang penuh sesal.


Kaisar bersusah payah membujuk Julia, hingga akhirnya wanita itu luluh juga, dengan beberapa janji yang iya Ingin dengar dari Kaisar.


"Iya nek." Dan inilah jawaban yang selalu Kaisar berikan, ketika Julia meminta sebuah janji padanya.


Julia membelai wajah Kaisar.


"Kai, apa kau selalu meminum obat yang nenek berikan?" Tanya Julia.


"Maaf nek, sudah beberapa bulan ini, aku melupakan obat itu, sepertinya aku tidak ingin meminumnya lagi."


"Tidak ingin meminumnya lagi?" Sentak Julia.


"Iya nek, aku merasa lebih baik jika tidak meminum obat itu." Sahut Kaisar.


"Tidak! kau harus tetap meminumnya Kai."


🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2