
🍁 FLASH BACK OF 🍁
Semua nampak begitu terkejut dengan cerita Yuda.
Kaisar, tentu dia yang paling terkejut hingga membuat wajahnya pucat dan tak bisa berkata apa-apa.
Begitupun dengan Lisa, ia tak menyangka ternyata ibunya adalah sahabat baik orangtua Kaisar.
"Kai, maafkan papah nak, ini semua salah papah, jika saja saat itu papah bisa bertindak tegas tentu semua itu tidak akan terjadi, mamah Larasati terpaksa melakukan itu demi keselamatan Melissa,"ucap Yuda dengan penuh penyesalan.
Sementara Larasati, ia masih diam tak mengatakan apapun, ia tidak sanggup untuk mengingat apalagi bercerita tentang masalalu nya itu.
"Apa kalian, berniat menjadikanku anak durhaka!" Sahut Kaisar, dengan suara yang tertahan.
"Tidak seperti itu Kai."
Kaisar bangun dari duduknya.
"Kita pulang." Ajaknya pada Lisa.
Ia segera berlalu dari ruang keluarga, sepertinya Kaisar tidak mau mendengar penjelasan apapun dari Yuda.
"Mamah, pah, aku ....!"
"Tidak apa-apa nak, pulanglah temani Kaisar, mamah sangat mengerti dengan perasaan Kaisar dia membutuhkan waktu untuk menerima semua ini." Lirih Larasati.
"Mamah tidak perlu khawatir, Mas Kaisar pasti akan menerima semuanya dia sebenarnya sangat menyayangi mamah sama seperti dia menyayangi mamah Melissa." Sahut Lisa.
"Trimakasih nak."
🍁🍁🍁
Lisa menuju mobil, ternyata Kaisar sudah ada di sana bersama Arga dan Jhon, mungkin Jhon sudah mendengar semuanya, terlihat dari raut wajahnya yang sama seperti Kaisar.
"Apa Arga tidur mas?" Tanya Lisa, yang kini sudah berada di dalam mobil.
Kaisar hanya mengangguk, sambil memeluk erat Arga.
"Jhon, kita ke apartemen!"
"Baik tuan."
Jika hatinya tengah kacau, Kaisar selalu pulang ke Apartemen, dan Jhon sudah sangat mengetahui dan memahami itu.
🍁🍁
20 menit kemudian.
Mereka sampai di Apartemen milik Kaisar.
"Mas, kenapa kita harus ke Apartemen?"
"Untuk sementara kita tinggal di sini dulu."
Jhon sudah membuka pintu Apartemen.
"Silahkan tuan, Nona, beristirahat lah jika anda memerlukan sesuatu panggil saja saya."
"Terimakasih Jhon." Sahut Lisa.
Kaisar masuk terlebih dahulu, sedangkan Lisa masih di ambang pintu karena Jhon menahannya.
"Ada apa Jhon?"
"Nona, tolong tetep temani tuan Kaisar, suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja, jangan sampai tuan melakukan tindakan bodoh yang bisa melukai dirinya sendiri."
"Memangnya apa yang akan dia lakukan, Mas Kaisar akan baik-baik saja, kau jangan khawatir."
Lisa segera masuk ke dalam, dan Jhon menutup pintu itu.
Kaisar tengah menidurkan Arga.
"Mas!"
"Iya."
"Kau baik-baik saja?"
"Tentu, memangnya ada alasan untuk mas tidak baik-baik saja."
Kaisar berjalan menuju sofa dekat jendela kaca, dan mendudukan diri di sofa itu, Lisa mengikuti langkah Kaisar dan duduk di samping lelaki yang tengah kacau itu.
"Mas, aku mengerti perasaan mu, kau pasti sangat terkejut kan? Begitupun dengan aku, ternyata orangtua kita bersahabat, jika dulu ibu ku dan papah mu menerima perjodohan itu, tentu kita tidak akan berjodoh seperti ini dan Arga tidak akan terlahir di Dunia ini."
Lisa meraih tangan Kaisar, dan menggenggamnya.
"Mas, ini semua sudah takdir, dan aku sangat yakin kalau kau sama sekali tidak membenci mamah Larasati, kau menyayanginya kan mas!"
Tiba-tiba Kaisar memeluk Lisa, ia menenggelamkan wajahnya di dada Lisa.
__ADS_1
Terlihat punggung lebar itu tengah bergetar.
Lelaki itu tengah menangis.
Lisa mengusap punggung Kaisar, ia membiarkan suaminya itu menuangkan kesedihannya selama ini.
.
Menangisi lah Mas, karena ada masanya kita memang harus menangis, tidak perduli sekuat apa orang itu dia pasti akan menangis jika hatinya benar-benar terluka dan merasa lelah, jadi! jangan malu untuk menangis agar perasaan mu lebih nyaman.
"Mereka sudah dengan senaja membuat Mas menjadi sekejam ini, mereka dengan senaja menutupi semuanya hingga membuat mas menjadi anak durhaka,"ucap Kaisar, masih dengan posisi memeluk Lisa.
"Tidak mas, kau tentu tidak salah, dan mamah pun tidak bersalah dia hanya berusaha menepati janjinya pada Mama Melissa, semua bisa di perbaiki mas tidak ada yang terlambat. Mamah Melissa tetep Mama mu, dan sekarang kau harusnya bahagia masih mempunyai ibu."
Kata-kata nasihat dan bujukan terus saja Lisa ucapkan untuk Kaisar, Hingga membuat lelaki itu tertidur di pelukannya.
"Apa dia tidur! astaga aku seperti seorang pendongeng yang handal bisa membuat lelaki sekeras ini tertidur, Tapi! Apa dia mendengar nasehat ku tadi!" Gumam Lisa. "Baiklah, aku akan tanyakan esok, sekarang kau tidur yang nyenyak ya Mas, aku tau kau sangat Lelah dengan semua permasalahan yang bertubi-tubi menimpa keluarga mu."
Lisa merebahkan Kaisar di atas sofa, tidak mungkin jika ia memindahkan tubuh besar itu ke atas ranjang.
Setelah menyelimuti Kaisar, Lisa beranjak ke kamar mandi, dan berbaring di samping Arga.
Sudah cukup untuk hari ini, mereka semua harus beristirahat.
Masih ada hari esok yang menanti kesiapan mereka dalam berbagai kemungkinan dan kejutan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Pagi hari.
Arga bangun terlebih dahulu, dan ia protes pada Mamanya kenapa bisa ada di Apartemen.
"Mamah, kenapa kita tidak pulang ke rumah saja? Arga tidak suka di sini."
"Kita akan pulang setelah papah bangun sayang!" Sahut Lisa yang tengah memilah pakaian di lemari.
"Aku harus pake baju apa, di sini tidak ada baju perempuan, dan untuk Arga pun tidak ada di sini,"gumam Lisa yang masih membolak-balik isi lemari.
Sedangkan Arga ia tengah membangunkan Kaisar.
"Papah, ayo bangun! Arga mau pulang pah, Arga tidak suka di sini!" Anak itu mengguncang tubuh Kaisar, yang sama sekali tidak membuatnya bergerak.
"Mamah papah tidak mau bangun!" Teriaknya.
Lisa menghampiri Arga.
"Biarkan dulu papah tidur sebentar lagi ya nak." Lisa meraih tangan Arga dan membawanya ke kamar mandi. " Sekarang kita mandi dulu, setelah itu bangunkan papah."
🍁
"Kenapa aku tidur di sofa!" Kaisar mengingat-ingat apa yang terjadi semalam.
"Sial, aku menangis memalukan sekali!" Umpatnya.
Ia mengedarkan pandangannya, tidak ada Lisa atau Arga di sana. Tapi ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
"Ini baru jam 6 apa Arga sudah bangun!" Kaisar beranjak.
Tok. Tok..
"Sayang kau di dalam?"
"Iya mas, aku sedang memandikan Arga." Sahut Lisa dari dalam.
Mendengar suara Kaisar, Arga segera membuka pintu kamar mandi.
"Horee.. papah sudah bangun!" Serunya.
"Kenapa anak papah se senang ini!" Kaisar segera mengangkat tubuh kecil itu.
"Arga ingin pulang mas!" Sahut Lisa.
"Pulang! ini kita sudah pulang?"
"Tapi Arga tidak mau pulang di sini pah, Arga mau pulang ke rumah yang di sana."
"Baiklah kita akan pulang ke Mansion, tapi kita ke rumah kakek dulu ya!"
Lisa langsung membelalakkan matanya.
"Ke rumah kakek? Maksud mu ke rumah Mama dan papah?"
Kaisar mengangguk.
"Aku harus membereskan semuanya!" Sahut Kaisar.
"Apa maksud mu membereskan mas? Kau tidak ingin melakukan hal yang tidak-tidak kan mas?" Lisa mulai khawatir.
"Memangnya mas mau melakukan apa? Kenapa kau jadi sepanik itu." Kaisar menghampiri Lisa. "Tenang sayang, mas tau apa yang harus mas lakukan,"ucapnya di akhiri dengan kecupan singkat di bibir Lisa, dan kembali fokus pada Arga.
__ADS_1
Lisa masih menatap heran Kaisar, kenapa tiba-tiba ia berubah, dari ekspresi wajahnya yang sekarang sangat berbeda dengan yang semalam.
Ia terlihat tanpa beban, bahkan sekarang ia bersiul sambil menuju kamar mandi, apa ada sesuatu yang menimpah kepalanya semalam!
"Ada apa dengan Mas Kaisar, aah jangan-jangan ini karena nasihat ku semalam, ternyata nasehat ku mampu mengusir aura buruk di jiwanya. Kalau begitu aku akan lebih rajin lagi menasihatinya, kau sungguh berbakat Lisa." Gumam Lisa, dengan bangga.
15 menit berlalu, Kaisar keluar dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar dan bercahaya.
"Kenapa kau belum siap-siap sayang?" Tanya Kaisar, yang masih mendapati Lisa dan Arga masih mengenakan pakaian yang semalam.
"Aku dan Arga begini saja mas, mau bersiap-siap seperti apa lagi tidak ada baju ku dan Arga di lemari ini."
"Maaf sayang mas lupa, tunggu sebentar mas akan meminta bi Lilis mengambilkan pakaianmu dan Arga." Kaisar meraih ponselnya.
Sambil menunggu pakaiannya datang mereka bertiga sarapan terlebih dahulu.
Lisa masih terus memperhatikan Kaisar, yang benar-benar nampak aneh, ia bercanda ria dengan Arga, tertawa lepas seperti seseorang yang tidak memiliki masalah sedikitpun, bukankah semalam ia tengah kesal bahkan marah pada Yuda dan Larasati.
🍁
Setelah semuanya siap.
"Kita berangkat sekarang!" Dengan wajah berbinar, Kaisar menggendong Arga dan menggandeng tangan Lisa, keluar dari Apartemennya.
"Selamat pagi tuan." Sapa Jhon, yang sudah berada di depan pintu Apartemen.
Semalaman Jhon tidak tidur karena memikirkan tuannya itu, ia berfikir sangat jauh tentang Kaisar, bahkan hal-hal buruk sudah Jhon prediksi, dan ia sudah antispasi untuk semua itu.
Tapi apa! Kaisar justru terlihat sangat bahagia, wajahnya sudah seperti taman bunga di pagi hari.
"Selamat pagi Jhon!" Sahut Kaisar dengan ramah.
Jhon mengangkat wajahnya, ia menatap Kaisar dari ujung kaki hingga kepala, ini pertama kali Kaisar membalas sapaannya, sungguh ajaib.
"Tuan, anda baik-baik saja?"
Keramahan Kaisar, justru memancing kecurigaan Jhon.
"Tentu saja aku baik-baik saja, apa kau tidak melihatnya!"
"Iya, saya melihatnya tuan." Sahut Jhon yang masih bingung.
"Jhon, aku ingin ke rumah papah, kau tidak perlu ikut, pergilah ke kantor karna banyak perkerjaan di sana."
Satu lagi yang membuat Jhon terkejut!
Papah! bahkan tuan Kaisar dengan enteng menyebut Yuda papah, biasanya ia selalu menyebut, pria itu, orang itu. Dia hanya akan menyebut papah jika kepepet saja.
Kaisar berlalu melewati Jhon yang masih di Landa kebingungan.
"Astaga ada apa ini, apa yang terjadi dengan tuan Kaisar, kenapa dia jadi seperti itu." Gumam Jhon.
Perubahan sikap manis Kaisar justru terlihat mengerikan di mata Jhon.
Tiba-tiba Jhon teringat dengan kata-kata yang ia dengar di Televisi semalam.
( Jika seseorang terlalu banyak masalah dalam hidupnya, dan orang itu merasa tertekan dan lelah dengan semua lika-liku kehidupannya, tidak menutup kemungkinan jika orang itu akan menjadi.......!)
"Ya Tuhan! Tuan Kaisar, apa anda..., tidak aku tidak boleh berfikir seburuk itu, aku yakin tuan Kaisar akan baik-baik saja, tapi aku tidak boleh diam saja, aku harus mengikuti tuan Kai, aku Takut jika ia berbuat nekad di rumah tuan Yuda."
Jhon segera menyusul Kaisar, yang ternyata sudah pergi terlebih dahulu bersama anak dan istrinya.
🍁🍁🍁
Di mobil.
Sama seperti Jhon, Lisa pun merasa ngeri Dengan sikap tak biasa Kaisar.
Sepanjang perjalanan lelaki itu menebarkan senyum sejuta Wat bahkan ia sampai bersenandung di belakang kemudi.
Membuat Lisa semakin merinding.
"Kau kenapa sayang?" Tanya Kaisar, yang melihat Lisa terus memperhatikannya.
"Tidak apa-apa mas, mas apa tidak sebaiknya kita pulang ke Mansion, lain kali saja kita ke rumah papah Yuda."
Lisa takut jika Kaisar berbuat sesuatu di sana, Kebahagiaannya hanya kamuflase saja.
"Kenapa? Biasanya kau yang sering membujuk Mas untuk berkunjung ke rumah papah, tapi kenapa sekarang kau malah melarang nya?"
"Bukan melarang mas, tapi Arga kan tadi ingin pulang ke Mansion."
"Tidak apa-apa jika Arga, kerumah nenek dulu mah, Arga suka kerumah nenek setelah itu kita akan pulang ke Mansion, benarkan pah?" Sahut Arga, yang langsung membuat Lisa diam, tidak bisa beralasan Lagi.
"Benar! Anak papah memeng pintar,"ucap Kaisar, seraya mengusap rambut Arga.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁
Ada yang tau, apa yang terjadi dengan Kaisar?
__ADS_1
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🤗🤗🤗🤗
Maafkan jika, tidak sesuai ekspektasi para pembaca.