Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 89. Donor darah


__ADS_3

Setelah menunggu lebih dari tiga puluh menit, akhirnya dokter keluar dari ruangan IGD.


Kaisar segera beranjak dari duduknya.


"Bagaimana dengan keadaan istri saya?"


"Tuan, istri anda terlalu banyak mengeluarkan darah dan dia harus segera mendapatkan transfusi darah secepatnya."


"Kenapa kau malah keluar! Cepat lakukan." Bentak Kaisar.


"Maaf tuan, kami tengah kehabisan stok golongan darah yang sama dengan istri anda!" Jawab dokter itu dengan takut.


Rumah sakit macam apa ini.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?"


"Kita harus secepatnya mendapatkan pendonor untuk istri anda, jika menunggu dari rumah sakit lain akan memakan waktu lama tuan, jadi saya sarankan keluarga yang memiliki hubungan darah dengan istri anda bisa menjadi pendonor yang tepat." Dokter menjelaskan.


"Keluarga!"


"Iya tuan."


"Baik, beri saya waktu 20 menit, saya akan membawanya."


Kaisar segera menjauh dari dokter itu, seraya tangannya yang merogoh saku jaketnya.


"Sial dimana ponsel ku?" Umpat Kaisar.


Ia kembali berjalan keluar dari rumah sakit itu.


Tak lama.


"Jhon, cepat bawa Yusuf orangtua Lisa ke rumah sakit xxxx sekarang juga, ku beri kau waktu kurang dari 20 menit."


Entah bagaimana caranya, akhirnya Kaisar bisa menghubungi Jhon, dan segera memerintahkan Lelaki itu.


Dan .


...Entah sudah sepanik apa Jhon saat ini, ...


...Tiba-tiba Kaisar menghubungi nya untuk membawa Yusuf segera kerumah sakit....


...Tanpa apa dan kenapa!...


Kurang dari 20 menit kau harus sudah ada di rumah sakit. Kata-kata ini terngiang-ngiang di telinga Jhon.


Tanpa membuang-buang waktu, Jhon turun tangan sendiri.


Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah Yusuf, orangtua Lisa.


Sesampainya di rumah Yusuf, semua menjadi panik atas kedatangan Jhon yang tiba-tiba. Terutama Sella dan Mona.


Pasca kejadian uang 12 miliar itu, Lisa benar-benar memutus hubungan dengan keluarganya, ia sudah tidak pernah lagi menghubungi Mona atau Yusuf ayahnya.


Tapi kini tiba-tiba Jhon muncul, dan menginginkan Yusuf ikut serta dengannya di rumah sakit tanpa menjelaskan apa alasannya.


Ada apa? Kenapa? Dan apakah ini ada hubungannya dengan Lisa?


Beberapa pertanyaan dari Mona dan Sella memberondong Jhon, namun tidak satupun yang ia jawab.


Berbeda dengan Mona dan Sella, Yusuf justru tidak banyak bertanya pada Jhon. Ia dengan patuh menerima ajakan Jhon dan segera mengikuti langkah pria itu menuju rumah sakit.


Di dalam mobil tidak sepatah katapun keluar dari dua pria beda generasi tersebut, bahkan hanya sekedar menanyakan kabar pun tidak mereka lakukan, mereka tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Yusuf berharap ia akan bertemu putrinya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Firman kini sudah berada di lantai 7, lantai yang menjadi tujuannya.


Terlihat ada beberapa orang berseragam serba hitam, tengah menjaga lantai itu terutama di salah satu kamar, yang juga menjadi tujuan Firman.


Firman tengah memutar otaknya, untuk mengatur agar para pengawal itu pergi dari sana tanpa menimbulkan keributan.


Firman mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Dengan cepat ia menekan-nekan angka yang ada di layar ponsel itu.


Tidak beberapa lama, para penjaga itu mulai pergi meninggalkan kamar yang tengah mereka jaga.


Kesempatan bagi Firman, dengan mudah ia membuka kunci pintu kamar apartemen itu.


Dengan sempurna tubuh Firman masuk ke dalam kamar itu, dan ia segera mengunci kembali pintu itu.


Tap.


Tap.


Tap


Alunan suara sepatu yang beradu dengan tongkat, menggema di ruangan sunyi dan nampak sangat berantakan itu.


Firman mengedarkan pandangannya, hingga ia menangkap sosok wanita yang tengah terduduk di sisi ranjang, dengan penampilan kusut, pucat, dan kaki di perban.


Dia Anggel. Yang masih belum menyadari jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya.


Hingga di Langkat terakhirnya Firman mengencangkan suara tongkat yang ia gunakan.


Dan berhasil membuat Anggel melirik ke arahnya.


"Kau siapa?"


Firman membuka topi dan masker yang menutupi wajahnya.


Seketika mata Anggel membelalak sempurna.


"Firman! Kau masih hidup?" Tanya Anggel yang masih terkejut.

__ADS_1


"Tentu saja, memengnya aku bisa semudah itu untuk mati." Jawab Firman.


"Kau datang untuk membebaskan aku dari Kaisar, iya kan?" Anggel bertanya dengan wajah yang berbinar.


Firman tersenyum kecut.


"Aku, bukan hanya membebaskan mu dari Kaisar, tapi aku juga akan membantu mu terlepas dari semua tanggung jawab yang ada di Bumi ini.


"Apa maksud mu?"


Anggel mulai menangkap sinyal tidak baik dari kehadiran Firman saat ini.


Firman mengeluarkan seutas tali yang ada di saku jaketnya. Ia memelintir kan tali itu di tangannya seraya berjalan mendekati Anggel.


Anggel mulai beringsut ketakutan.


"Firman kau mau apa?" Tanya Anggel dengan gemetar.


"Kau sudah berani mengganggu Lisa ku dan bahkan kau berani melukainya."


"Lisa!"


Selalu saja wanita itu, yang di sebut-sebut, aku sangat membencinya sampai ke tulang ku.


"Firman, kau jangan macam-macam, aku. Akan berteriak, agar para anak buah Kaisar yang berada di luar mengetahui keberadann mu, kau tau jika Kaisar tengah memburu mu?"


"Aku tidak perduli!" Firman. Sudah tidak bisa di ajak negosiasi lagi.


Firman semakin melangkahkan kakinya.


"Tidak! Jangan Firman , jangan mendekat."


Anggel semakin beringsut dari sisi ranjang itu.


"Firman jangan! Tidaaaakk..!"


*


🍁


*


🍁


*


CEKLEEK.


Firman membuka kembali pintu apartemen itu.


Masih sepi tiada siapapun di luar,


Dengan langkah terburu-buru.


Di depan lift Firman bertemu dengan orang-orang suruhan Jhon. Ia meneliti Firman dari atas sampai bawah.


"Apa kau dari lantai 7?" Tanya salah satu anak buah Jhon.


Firman yang kembali menutup wajahnya, Sulit untuk di kenali.


"Saya dari lantai 8." Jawab Firman asal, dan segera memasuki lift itu.


"Sudahlah, jangan hiraukan pria itu, kita ke tujuan utama menjaga Anggel."


"Kau benar."


Mereka kembali ke posisi jaga. Mereka semula, tanpa mereka sadari Firman telah menerobos pintu itu, dan entah apa yang terjadi pada Anggel saat ini.


Sedangkan Firman sudah berhasil keluar dari gedung apartemen itu, dan saat ini ia tengah berada di dalam mobil yang menjemputnya.


Ia menggulung tali yang ada di tangannya.


"Tuan, apa kita kembali sekarang?" Tanya asisten Firman.


Di balas anggukan oleh Firman.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Di rumah sakit.


Yusuf nampak terharu dan bahagia bisa kembali melihat wajah putrinya.


Tatapannya tidak berpaling sedikitpun, seraya darah yang mengalir dari selang menuju kantong darah yang tergantung. Persis di sebelahnya Lisa tengah terbaring tidak berdaya dengan wajah yang sangat pucat.


Lisa putri ayah, maafkan ayah nak, maafkan semua kesalahan ayah Selma bertahun-tahun pada mu.


"Sudah selesai." Ucapan suster yang mendampingi Yusuf.


"Bapak harus banyak istirahat dn makanan makanan yang sehat, agar kembali pulih lagi."


"Baik suster, terimakasih." Ucap Yusuf. "Suster kapan anak saya akan bangun!"


"Tidak akan lama lagi putri bapak akan segera siuman." Sahut Suster itu.


Yusuf keluar dari ruangan itu.


Ia berhadapan langsung dengan Kaisar.


"Nak Kaisar, bagaimana dengan kabar mu?"


"Aku baik!" Jawab Kaisar ketus.


"Terimakasih sudah menemukan dan menjaga Lisa dengan baik."

__ADS_1


"Tentu saja!" Kaisar masih sangat cuek pada ayah mertuanya itu.


🍁


Setelah pendonoran darah yang di lakukan Yusuf, akhirnya Lisa bisa melewati masa kritisnya.


Ia sekarang sudah membuka matanya.


Ada Kaisar di sana yang tengah menggenggam tangannya dengan sangat erat.


"Mas!"


"Sayang! kau sudah bangun!" Kejut bahagia terukir di wajah Kaisar.


"Mas, apa aku masih hidup?"


"Tentu saja, memangnya seberani apa kau meninggalkan mas."


Kaisar membantu istrinya untuk duduk bersandar.


Tidak ada siapapun di ruangan itu, bahkan Yusuf yang tadi mendonorkan darah pun tidak terlihat di sana.


Hanya ada Kaisar yang menemaninya.


"Mas di mana Arga?" Tanya Lisa.


"Arga di mansion sayang, setelah kau sembuh kita akan kembali ke Mansion." sahut Kaisar.


Kaisar memeluk Lisa dan mencium seluruh wajahnya.


"Maafkan mas, yang terlambat menolong mu, hingga membuat mu terluka seperti ini." Kaisar berucap, dengan raut sedih di wajahnya.


"Tidak apa mas, aku senang kau datang dan menjadi penolong ku!"


"Apa wanita itu, melakukan hal yang lebih parah lagi pada mu?"


"Tidak mas, dia tidak melakukan apapun lagi pada ku."


Tapi Anggel, sudah mengatakan semua tentang nenek Julia mu mas, tapi bagaimana cara ku untuk menjelaskan pada mas Kaisar, apa dia akan mempercayainya ku!


"Kenapa kau diam?" Kaisar menguraikan pelukannya, beralih membelai wajah Lisa.


"Tidak apa-apa mas!"


"Mas!"


"Iya."


"Tolong jangan melakukan apapun pada Anggel mas, dia mengalami depresi berat karena masalalu nya."


Kaisar tidak menjawab perkataan Lisa.


"Kau istirahat lah, agar kita bisa segera pulang ke Mansion." Ucap Kaisar.


Lisa meraih tangan suaminya.


"Mas, berjanjilah pada ku untuk tidak melakukan apapun pada Anggel!"


Kaisar diam, ia memperhatikan wajah Lisa yang kini sudah tidak sepucat beberapa jam yang lalu.


"Sayang, maafkan mas yang tidak bisa memaafkan siapapun yang berani melukai mu." Tegas Kaisar.


"Tapi mas!"


"Sayang, istirahat lah mas akan menemani mu di sini."


Kaisar segera mengubah posisinya, ia menaiki ranjang Lisa.


"Kau mau tidur di sini mas?"


"Tentu saja memang di mana lagi."


Lisa melirik ke arah sofa.


"Tidak, mas mau tidur di sini, sudah lama mas tidak memeluk mu saat tidur."


🍁🍁🍁🍁🍁


"Cepat kau antarkan makanan ini pada wanita itu,"Ucap pengawal Jhon, seraya menyerahkan piring berisi makanan pada rekanya.


"Baik."


Dengan cepat pria itu, membawa piring berisi makanan di kamar Anggel.


Ia membuka kuncinya, dan masuk dalam kamar sunyi itu.


"Ini makanan untuk mu, cepatlah makan selagi saya masih berbuat baik pada mu,"ucapanya sambil meletakkan makanan itu di meja kecil samping ranjang Anggel.


Namun tidak ada reaksi apapun dari wanita yang terlihat, tengah terbaring itu.


"Hei apa kau mendengar?"


Masih tidak ada tanggapan dari Anggel.


Lalu pria itu memutuskan untuk pergi saja meninggalkan Anggel, nanti juga kalau dia lapar akan bangun dan memakannya, pikir pria itu.


"Bagaimana?" Tanya rekannya.


"Wanita itu nampak tenang untuk saat ini tidak seperti biasanya, dia akan ngamuk-ngamuk minta di lepaskan atau di bunuh sekalian, jika kita memasuki kamar."


"Awasi terus dia, tuan Jhon sudah mengirimkan pesan, besok tuan Kaisar akan datang."


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏 🤗


__ADS_2