
Pria itu melangkah menuju Kaisar yang tengah menghindari pukulan dari para warga.
Dan .
SEET .....
Sebuah sayatan tepat mengenai lengan kanan Kaisar, yang membuat Kaisar berhenti sejenak.
Meskipun Kaisar menggunakan kemeja putih di lapisi jaket yang tebal, namun sayatan dari belati tajam itu mampu merobek kulit hingga darah cukup deras mengalir dari luka itu.
Pria itu tersenyum puas, karena ia merasa bangga dapat melukai Kaisar.
Namun senyuman puas itu di balas senyuman miring oleh Kaisar.
Sepertinya luka itu tidak ada artinya sama sekali. Bahkan membuatnya mengaduh pun tidak!
Kaisar kembali menyunggingkan senyum tipisnya.
Fokus Kaisar kini teralihkan.
Ia menatap pria itu dengan tatapan memburu, matanya seperti tidak bisa berkedip.
Ia perlahan melangkahkan kakinya menuju pria yang telah menyapanya dengan belati. Entah itu reflek atau insting pria bertubuh besar itu memundurkan langkahnya.
Sepertinya, nyali pria itu mulai menciut setelah melihat wajah asli Kaisar.
Melihat ada kesempatan, seorang warga menyerang Kaisar dengan sebuah golok di tangannya, ia mengayunkan tepat di wajah Kaisar.
HAP.
Tanpa mengalihkan tatapannya, pada pria itu, Kaisar menahan tangan yang tengah menggenggam golok yang hampir saja mendarat di wajah tampannya.
Hanya dengan satu tangan.
PLETAK ....
"AAKKHHH.."
Terdengar suara retakan di susul dengan teriak kesakitan.
Kaisar mematahkan tangan itu.
Kaisar yang tadinya hanya menghindari tanpa melawan, kini ia tak segan-segan untuk meladeninya bahkan lebih dari yang mereka lakukan.
PLETAK....
Suara itu kembali terdengar sangat nyaring.
Rupanya Kaisar kembali mematahkan tulang kaki warga yang mencoba menahannya dari langkah menuju pria berotot itu.
BRUG. "AAAKKKHHH..."
Jerit orang yang ambruk, sambil memegangi kakinya.
"Dia juga mematahkan kakinya." Gumam warga yang lain.
Warga yang ingin kembali menyerang Kaisar, mematung tidak berani melangkah atau bergerak, nyali mereka terkikis setelah melihat dua temannya yang mengerang kesakitan karna tulangnya di patahkan dengan mudah oleh Kaisar.
Kini Kaisar sudah berhadapan langsung dengan pria yang menjadi buruannya itu.
Pria itu Kembali mengayun-ayunkan belati yang ada di tangannya.
Mungkin ia ingin menakut-nakuti Kaisar.
"Sekali kau melangkah kaki mu, pisau ini akan berakhir di tenggorokan mu!" Ancam pria itu.
Apa Kaisar takut? Tentu saja tidak!
Ia tersenyum dan berkata!
"Lakukan jika bisa."
"Kurang ajar!" Merasa di remehkan, pria itu menyerang Kaisar.
Perkelahian antar dua orang terlihat di sana, sedangkan teman yang satunya hanya menatap dari jarak yang cukup jauh sambil menyalakan rokok yang ada di tangannya.
"Aku harus menikmati detik-detik kematian musuh besar bos Firman itu." Ucapnya. Ia sangat yakin jika temannya itu dengan mudah menghabisi Kaisar.
__ADS_1
Hanya butuh waktu 60 detik, untuk Kaisar membalikkan posisi mereka.
Kini pisau tajam berkilau itu ada di tangan Kaisar.
Dengan posisi si pria bertumpu membelakangi Kaisar, karna Kaisar mencekal kedua tangan pria itu kebelakang.
Tanpa banyak bicara.
SREEEET .....
Kaisar melakukan fataliti nya.
Mata pria itu membelalakkan di susul dengan darah mengalir dari lehernya.
Dan.
BRUG.
pria itu tersungkur di tanah, tanpa menyisakan nafas.
Kaisar masih memegang belati yang kini di penuhi darah di tangannya. Dengan senyum puas terukir di bibirnya.
"Dia, membunuhnya!"
"Apa dia seorang monster!"
"Dia sangat mengerikan!"
"Sepertinya dia seorang psikopat!"
Bisik-bisik suara warga bersahutan, menilai Kaisar dengan apa yang ia lakukan pada pria itu.
"Lebih baik ki ... Kita. Pergi saja dari sini!"
Usul warga yang mulai takut dan gemetar. Ia takut akan bernasib seperti dua temannya, atau lebih parahnya akan seperti pria yang menjadi komando mereka untuk menyerang rumah Kaisar.
"Kau benar, ayok kita pergi dari sini!" Sahut temannya yang lain.
Dengan secepat kilat meraka berlari meninggalkan tempat itu, sambil memapah ke dua warga yang tengah kesakitan di tangan dan kakinya yang baru di kretek oleh Kaisar.
Mereka meninggalkan Kaisar berdua dengan salah satu provokator mereka.
Pria terkejut dengan apa yang ia lihat, hanya baru beberapa detik melawan Kaisar, temannya sudah meregang nyawa di hadapannya.
Insting nya mengatakan kalau ini berbahaya. Tentu pria itu tidak mau ambil resiko dengan melawan Kaisar hanya seorang diri, ia membalik tubuhnya, menuju gubuk di mana Arga di tahun di sana. Pria itu bermaksud ingin melapor pada temannya yang menjaga Arga di gubuk itu.
Namu baru suatu langkah, dengan terpaksa ia harus menghentikan langkahnya.
Karna dari jauh Kaisar melayangkan belati itu hingga menembus kakinya.
"Aaakkh!" Pria itu mengerang.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Sementara itu di rumah, Lisa mondar-mandir tidak tenang, sungguh ia sangat menghawatirkan keselamatan Kaisar dan Arga.
"Ya Tuhan tolong selamatkan mereka." Di situasi seperti ini hanya berdoa yang bisa ia lakukan.
Bersamaan dengan itu, suara beberapa mobil terdengar dari luar.
Lisa bergegas melihatnya.
Rupanya itu dua mobil berwarna hitam dan satu ambulance yang senaja tanpa di bunyikan sirene nya.
"Cepat bawa tuan Farel dan Rizal, pastikan mereka baik-baik saja jika kalian tidak ingin tuan Kaisar murka!" Titah Jhon pada para pria yang baru turun dari mobil itu.
"Baik tuan."
Dengan segera mereka memindahkan Farel yang tengah kritis kedalam ambulance.
"Semua sudah selesai tuan, tapi maafkan kami tuan, sepertinya kami membutuhkan seseorang yang bisa memfungsikan alat-alat medis yang ada di dalam ambulance, karena kami tidak serta membawa perawatan atau dokter ."
Ya karena perintah yang tiba-tiba dan mendesak dari Jhon, mereka secara paksa membawa ambulance dari rumah sakit yang ada di kota desa terpencil itu, tanpa ada tenaga medis yang memantau nya.
Jhon melirik ke arah Sintia.
"Nona Sintia! Saya mohon kesediaan anda untuk membantu Tuan Farel." Ucap Jhon.
__ADS_1
"Saya!" Tunjuk Sintia pada dirinya sendiri.
Jhon mengangguk.
"Ta ... Tapi saya!"
"Sintia, aku mohon bantu Farel." Lisa berkata, seraya menggenggam tangan Sintia.
Lisa tau, Sintia sangat enggan jika harus ke kota. Karena ada sesuatu yang harus ia hindari di sana, dan itulah alasan selama bertahun-tahun Sintia tinggal di desa ini.
Melihat wajah sedih sahabatnya, tentu itu akan meruntuhkan pertahanannya.
Sintia melirik bude Darmi, dan di balas anggukan oleh orang yang selama ini Sintia dan Lisa anggap sebagai pengganti orang tua mereka.
Akhirnya Sintia bersedia.
Tak butuh waktu lama, mengingat kondisi Farel yang harus segera di tangani.
Mereka segera menuju rumah sakit yang ada di kota.
Setelah kepergian Sintia yang mengantar Farel.
Lisa menghampiri Jhon yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Jhon!" Panggil Lisa.
"Iya nona! Apa ada yang anda butuhkan?"
"Tolong bantu Kaisar!" Kata Lisa.
"Maaf nona, tuan Kai melarang saya meninggal anda."
"Aku tidak sendiri, di sini ada bude Darmi dan aku bisa menjaga diri dengan baik, aku mohon pergilah bantu Kaisar." Pinta Lisa.
Jhon masih tetep menggelengkan kepalanya.
"Maafkan saya nona."
Jhon kembali pada ponselnya. Sepertinya Ia tengah menghubungi seseorang.
"Jhon bagaimana kalau kita laporkan polisi saja!"
"Maaf nona tuan Kaisar melarang saya melakukan itu."
"Kenapa!" Kesal Lisa.
"Baiklah, jika kau tidak mau pergi, dan lapor polisi pun di larang nya. Aku yang akan pergi kesana."
"Jangan nak!" Bude Darmi, mencegah Lisa.
"Tetaplah di sini, seperti apa yang suamimu katakan." Sambungnya.
Lisa melemah.
"Maafkan aku, aku hanya khawatir dengan mas Kaisar dan Arga."
"Anda, jangan khawatir Nona tuan Kaisar pasti bisa mengatasinya." Sahut Jhon.
Tentu saja Jhon yakin tidak akan terjadi sesuatu pada Kaisar , justru yang Jhon khawatirkan jika Kaisar lepas kendali, karena Jhon tau betul seperti apa jika tuanya itu sedang marah, apalagi mereka berani memancing Kaisar dengan Arga putranya. Sudah bisa di pastikan tidak ampun bagi mereka.
Ting....
Satu pesan masuk di ponsel Jhon.
(Tuan Jhon! tuan Kaisar tidak bisa mengendalikan diri)
Dan apa yang di khawatirkan Jhon sepertinya terjadi.
Semoga anda masih bisa menahan diri di depan tuan kecil. Batin Jhon.
Ternyata Jhon mengirim beberapa orang untuk mengikuti Kaisar. Bukan untuk membantu hanya mengawasinya.
Kaisar menderita penyakit mental dan sangat berpengaruh pada emosinya yang sering tidak terkendali. Inilah alasannya Jhon selalu berada di sisi Kaisar di manapun lelaki itu berada.
"Aku harus mencegahnya, sebelum tuan Kaisar semakin menggila di depan tuan kecil, yang mungkin saja akan membuat tuan kecil takut pada tuan Kai." Gumam Jhon.
🍁🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🍁
__ADS_1
Trimakasih 🙏🙏 minta dukungannya ya 🤗🤗