Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 36. Dia Yuna, bukan Lisa


__ADS_3

"Dia bukan suamiku lagi, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi." Ucap Yuna dengan tegas.


"Waaaah .... Sepertinya, kakak ipar Sangat membenci kakak ku itu. Ya wajar saja jika kakak ipar membencinya, dia memang pria yang brengsek bisa-bisanya membawa mantan kekasih tinggal bersama istrinya."


"Cukup Farel, lupakan soal itu. Saya datang ke sini untuk urusan, soal pembangunan pabrik."


"Kenapa kakak ipar terburu-buru, bukankah kita sudah 4 tahun tidak bertemu, tentu banyak sekali cerita yang ingin ku sampaikan pada kakak ipar. Begitupun dengan Kakak ipar ? Pasti sangat banyak cerita yang ingin kakak ipar katakan padaku bukan."


"Tidak!" Jawab Yuna singkat.


"Ini berkas-berkas yang anda minta," Yuna mengalihkan topik pembicaraannya dengan Farel, seraya menyerahkan berkas itu pada Farel. Tapi Farel enggan untuk menerimanya.


"Bagaimana dengan kabar keponakan ku, kakak ipar."


JELEGEEERRR.....


Pertanyaannya Farel, bagai petir di siang bolong bagi Yuna.


Keponakan, apa maksudnya? Arga! tidak, tidak mungkin ada yang tau tentang Arga. Bahkan mas Kaisar pun tidak mengetahuinya.


"Apa maksud mu Farel?" Tanya Yuna, mencoba bersikap biasa-biasa saja.


"Kakak ipar, mencoba menutupinya dari ku? Aku sudah tau semuanya Lisa, eh kakak ipar. Kalau Kaka ipar meninggalkan Kaisar ketika kakak ipar sedang mengandung anaknya kan, dan kakak ipar tau! Si brengsek itupun mengetahuinya."


DEG.


Apa mas Kaisar mengetahuinya.


"Jadi, di mana keponakan ku itu, sudah 4 tahun berlalu, pasti dia sudah tumbuh besar kan?" Tanya Farel. Yang membuat Yuna semakin gelisah.


Tapi Yuna bukanlah Lisa yang seperti dulu, yang mudah di


tindas dan gampang menangis.


"Kamu pikir, saya sudi mengandung bayi dari lelaki itu."


Farel tercengang dengan jawaban Yuna.


"Apa maksud kakak ipar? Apa kakak ipar mengugurkannya?" Tanya Farel dengan serius.


Yuna tak menjawab, ia hanya mengedikan bahunya.


"Astaga!" Ucap Farel, sambil memegangi dadanya. "Kakak ipar begitu kejam." Sambungnya.


"Saya bisa jauh lebih kejam dari itu, Farel." Ucap Yuna sambil menatap Farel, dengan kejam pula.


"Apa reaksi si brengsek itu kalau tau semua ini.?"


"Saya tidak perduli."


"Bagaiman, kalau Kaisar tau kakak ipar ada di sini.?"


"Dia tidak akan tau, kalau kau tidak memberi tahunya."


"Kenapa? Apa kakak ipar takut bertemu dengannya, atau kakak ipar belum Move on dari Kaisar?"


"Kata move on, hanya untuk remaja, sedangkan aku sudah dewasa." Gumam Yuna pelan.


"Tapi, kakak ipar harus benar-benar melupakan si berengsek itu. Karna dia sudah hidup bahagia bersama mantan kekasihnya itu, bahkan mereka sudah memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan," ucap Farel, di sertai tangannya yang mencubit pipinya sendiri, menandakan bahwa ia sedang gemas membayangkan wajah lucu anak Kaisar dan Anggel.


BUG ....


Yuna membanting, berkas-berkas yang sedari tadi ia pegang di meja persis di hadapan Farel.


"Itu berkas-berkas tentang profil desa ini, dan dampak bahaya bahan kimia, bagi lingkungan dan warga desa ini. Tolong baca dan pahami, saya harap kalian masih punya rasa kemanusiaan, untuk tidak membangun pabrik itu di desa ini." Ucap Yuna, Yang sepertinya sedang jengkel.


"Kenapa Kakak ipar tiba-tiba marah?" Tanya Farel.


"Bukan urusanmu. Saya permisi."


Yuna Sepertinya sudah muak dengan dongeng yang di berikan Farel, apalagi tentang kisah Kaisar dan Anggel. Dan ia pun memilih segera pergi dari kantor Farel, toh dia juga sudah mengatakan tujuan utamanya datang ke kantor itu.


BRAK..


Yuna menutup pintu ruangan Farel dengan sangat keras, hingga, membuat Rizal yang berada di luar ruangan terkejut.


"Ha... Ha ...kamu sepertinya belum bisa melupakan si berengsek itu Lisa. bagaimana reaksi Kaisar jika dia tau istrinya yang selama ini dia cari-cari ternyata bersembunyi di sini. Lisa akan aku jadikan senjata untuk mengalahkan si brengsek itu." Ucap Farel, dengan tersenyum puas.


******


Di sepanjang perjalanan, Yuna tidak fokus, kata-kata yang di ucapkan Farel berputar-putar di kepalanya.


"Apa benar mas Kaisar sudah menikah dengan Anggel? Sungguh semudah itu mas kamu melupakan aku." Gumam Yuna.




Motor yang di kendarai Yuna tiba di depan rumah bude Darmi, Lisa selama ini tinggal di rumah bude Darmi, bersama Sintia dan putranya Arga.



.


"Mamah..... !" Teriak Arga yang melihat Yuna menepikan motornya.



"Sayangnya mamah, sudah mandi belum?" tanya Yuna seraya menggendong Arga sambil mencium pipinya.


__ADS_1


"Sudah mah, Alga mandi sama om Filman."



"Om Firman?" Tanya Yuna.



"Iya mah. Om Filman tadi mandiri Alga."



"Lalu dimana om Firman nya?"



"Om Filman, sedang ambil mobil, kata om Filman kita mau jalan-jalan." Jawab anak itu dengan riang dan gembira.



Tak lama.



Seperti janjinya Firman datang dengan mobilnya.



"Hole .... Om Filman sudah datang." Teriak Arga yang melihat Firman turun dari mobilnya.



"Waaaah... Mamah sudah pulang ya, kalau begitu ayo kita berangkat," ucap Firman, yang langsung meraih Arga dari gendongan Yuna.



"Ayo om!"



"Dokter, bukankah di klinik sedang banyak pasien?" Tanya Yuna.



"Yuna, ini buka di klinik, jadi jangan panggil saya dokter. Kamu tenang saja, para pasien yang luka ringan sudah di perbolehkan pulang, hanya ada beberapa pasien yang harus menjalani perawatan di klinik. Tapi kamu jangan khawatir ada Sintia dan dokter Viona di sana." Jelas Firman.



"Tapi kita mau kemana?"



Firman tersenyum.



"Makan di luar?" Tanya Yuna bingung.



"Iya, hari ini aku ulang tahun, dan ingin merayakannya bersama kalian."



"Astaga! Aku lupa kalau hari ini kamu ulang tahun, maafkan aku Firman."



"Tidak apa-apa, ayo kita berangkat. Keburu malam, kalau sudah malam kan nanti warungnya tutup, betul kan jagoannya om ." Ucap Firman seraya mengangkat tangan kanan Arga ke atas.



"Betul om."



"Baiklah, kalau begitu Mamah siap-siap dulu."



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Mereka sampai di sebuah warung makan, yang sangat sederhana. Bukan kafe atau restoran. Tapi di sinilah tempat warga desa suka damai, mengajak orang-orang terkasihnya, jika ingin menikmati suasana makan di luar.



Firman menarik kursi untuk Yuna, tepat di hadapannya, dan Arga ia dudukan di samping kanannya. Mereka memesan makanan kesukaan masing-masing, dan mulai menikmatinya di iringi dengan obrolan hangat.



" Firman, selamat ulang tahun ya. Terimakasih selama ini kamu sudah menjadi sahabat aku, dan menjadi om terbaik untuk Arga." Ucap Yuna, di sela-sela obrolannya.



"Terimakasih Yuna, aku senang bisa membantu mu. Tapi ....!" Kata-kata Firman terhenti.



"Tapi apa?"

__ADS_1



"Tapi! Apa kamu hanya menganggap ku sebagai sahabat?"



Yuna mengerti maksud dari pertanyaan Firman, karna ini bukan pertama kalinya Firman mengatakan soal ini.



"Firman, aku ....!"



"Kakak ipar!"


Farel muncul dengan tiba-tiba, membuat ucapan Yuna terhenti karena terkejut.



"Iya benar, ini kakak ipar Lisa. tidak ku sangka kita bertemu lagi di sini." Ucap Farel, dengan tidak tau malunya.



Tatapan tidak suka, Yuna tunjukkan untuk Farel.



"Tuan Farel?" Tanya Firman.



Farel menatap sesaat pada Firman.


"Oh ... Kau dokter itu kan?" Ucap Farel.



"Iya betul, saya Firman. Tapi kenapa anda memanggil Yuna dengan sebutan kakak ipar?" Tanya Firman.



Farel melirik Yuna, dan Yuna langsung membuang wajahnya.



"Karena dia Lisa, kakak ipar ku."



"Lisa?" Tanya Firman sedikit bingung.



"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang, dia Yuna, bukan Lisa." Ucap Firman.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



"Tuan Kai, kakek Marwan memerintahkan anda untuk menyusul tuan Farel, yang sedang menangani pembangunan pabrik di desa terpencil itu tuan, karna di sana sedang ada masalah dan kakek menyuruh anda untuk membantu tuan Farel mengatasinya." Ucap Jhon, yang sedang membujuk Kaisar.



"Apa kakek menyuruh ku untuk tinggal di desa terpencil itu juga?" Tanya Kaisar, dengan kesal.



"Iya tuan, hanya untuk beberapa hari saja, sampai suasana bisa di kendalikan."



"Huuff .... Baiklah, hanya untuk beberapa hari saja, atur semuanya termasuk kebutuhan selama tinggal di desa itu. Si pecundang itu memang tidak bisa di andalkan." gerutunya.



"Baik tuan, saya akan segera mempersiapkan semua kebutuhan anda, Karna malam ini kita akan segera berangkat."



"Apa! malam ini? apa tidak ada hari esok?" tanya Kaisar, yang semakin di buat kesal.



"Kakek Marwan bilang. Lebih cepat, lebih baik tuan." jawab Jhon.



"Sial." Ya sudah pergi sana. Umpatnya dengan kesal.



🌹🌹🌹🌹🌹🌹



**Terimakasih sudah mau membaca cerita saya. minta dukungannya ya 🙏🤗🤗


__ADS_1


jangan lupa like dan Vote Author ya,😁😁😁**


__ADS_2