
Di Mansion.
Lisa tengah sibuk, mempersiapkan keperluan Arga yang hari ini mulai bersekolah.
"Mamah, apa nanti di sekolah Aku akan punya teman baru?" Tanya Arga yang rambutnya sedang di sisiri.
"Tentu saja, di sekolah Arga akan banyak taman, dan Arga harus baik dan sayang pada teman-teman Arga." Sahut Lisa.
"Tapi mah, papah bilang, Arga hanya boleh sayang sama mamah, papah dan adik Clara."
Lisa menghentikan gerakan tangan.
Bisa-bisanya Mas Kaisar bicara seperti itu.
"Tidak seperti itu sayang, mungkin maksud papah, Arga harus menyayangi semua seperti Nenek, Kakek. Om Farel dan Tante Luna, begitupun dengan temen-temen Arga. Tapi Arga harus lebih menyayangi Adik Clara, mamah dan papah."
Arga mengangguk mendengar penjelasan Lisa.
Lalu Lisa melanjutkan perkataannya.
"Arga juga harus sayang, dan menghormati guru Arga di sekolah, Arga mengartikan apa yang mamah katakan?"
"Iya mah, Arga mengerti."
"Anak pintar."
Sembari merapihkan baju dan mempersiapkan keperluan Arga, Lisa memberi beberapa nasihat untuk anak laki-lakinya itu.
Lisa Sibuk mengurusi Arga, sedangkan sang suami tengah sibuk juga mengurusi bayinya yang sudah sangat aktif.
"Kau lucu sekali,"Kaisar gemas dengan bayi perempuannya itu,"tapi papah rasa ini tidak cocok untukmu." Kaisar menyingkirkan pita berwarna pink yang menempel di rambut Clara.
"Seperti ini kau jauh lebih Lucu dan manis." Sambungnya.
Kaisar selesai memakaikan sepatu di kaki kecil Clara.
Dan ia menggendong bayi itu menuju kamar Arga.
Inilah rutinitas yang Kaisar lakukan setiap pagi, sebelum berangkat bekerja.
Ia akan memandikan dan mendandani bayi perempuannya itu.
Itu semua ia lakukan, agar istrinya tidak merasa lelah mengurus dua anak sekaligus.
Sungguh Sumi idaman!
"Sayang, Arga, apa sudah selesai?"
"Sudah pah!" Seru Arga, yang penuh dengan semangat!
"Waaaah... Sekarang anak papah sudah makin besar."
Kaisar mengusap rambut Arga.
"Jika aku sudah semakin besar, apa sekarang aku boleh menggendong adik Clara?"
"Belum boleh sayang,"sahut Lisa, tanpa menoleh, karena ia tengah fokus dengan buku-buku yang akan di bawa Arga.
"Kenapa mah?"
"Tangan Arga masih belum cukup kuat untuk menggendong adik Clara."
"Tangan Aku kuat mah, bahkan aku pernah meng....!"
"Jika belum di ijinkan, menggendong, Arga masih bisa memeluk adik Clara."
Kaisar memotong perkataan Arga, yang mungkin akan mengatakan apa yang pernah ia lakukan dengan tangannya itu.
Arga terdiam, ketika Kaisar mendekatkan Clara, agar Arga bisa memeluk adiknya.
Sambil mengedipkan mata, memberi kode agar tidak mengatakan apapun pada Mamahnya.
"Pernah melakukan apa sayang?" Lisa yang penasaran, bertanya pada Arga.
"Pernah....! Membantu Nenek Lilis mengangkat pot bunga, Mah!"
Lisa tersenyum.
"Anak mamah memang hebat! Tapi sabar sayang ya, untuk saat ini Arga masih belum boleh menggendong adik Clara, Arga mengartikan maksud mamah? "
"Iya Mah."
🍁
Sudah pukul 7 pagi.
Dan waktunya Berangkat.
"Mas, apa Clara sudah siap?"
"Tentu saja sudah." Sahut Kaisar cepat.
"Yasudah ayok kita berangkat!" Lisa, yang sedari tadi tidak memperhatikan Kaisar.
Seketika menekuk wajahnya ketika melihat penampilan Suaminya itu.
"Mas, kau belum mandi?" Tanya Lisa, yang melihat Kaisar masih mengenakan piyama tidur dan Rambut yang acak-acakan.
Kaisar menggeleng, sambil berkata.
"Belum sayang."
"Astaga mas! Ini sudah jam 7, kita mau mengantar Arga sekolah kan?"
"Iya."
"Lalu kenapa Mas belum bersiap-siap?"
"Kau kan belum mengurusi Mas, jadi bagaimana mas bisa siap."
__ADS_1
Lisa menggelengkan kepalanya.
Ia meraih Clara dari tangan Kaisar, dan menidurkannya di kasur Arga.
"Arga sayang, jaga adik Cara sebentar ya?"
"Iya Mah."
Setelah itu, Lisa menuntun Kaisar kembali ke kamarnya.
Dan seperti ini jugalah yang terjadi setiap pagi.
Kaisar akan telaten mengurusi Clara di pagi hari, sampai bayi itu terlihat cantik dan wangi.
Tapi setelah itu.
Gantian Lisa yang mengurusinya seperti bayi.
Mulai dari menemani mandi.
Membantu mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya.
Kalau seperti ini.
Bisa di bilang apa?
Apakah Kaisar termasuk golongan suami yang meringankan kesibukan istri di pagi hari?
Atau dia malah menambah kesibukan istrinya?
🍁🍁🍁🍁
Luna sudah bersikap normal seperti biasanya.
Dan sepertinya ia juga sudah bosan dengan mainan barunya, dan Jhon lah yang membereskan soal Tania.
"Kau mau ke Restoran?" Tanya Jhon.
"Iya kak."
"Bukankah kau sedang tidak enak badan, kenapa tidak beristirahat, atau aku antar ke dokter?"
"Tidak ka, terimakasih, mungkin penyebab aku mual dan muntah-muntah karena masuk angin biasa."
"Tapi akhir-akhir ini, kau sering seperti itu terutama di pagi hari, jadi kau harus tetep ke dokter untuk memeriksa kondisi kesehatanmu."
"Baik, tapi pagi ini aku ke resto dulu ya kak, karena banyak barang yang akan masuk."
"Aku akan menjemputmu jm 10, untuk ke dokter."
Luna mengangguk tanda setuju.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Semua tengah menjalankan aktifitasnya masing-masing.
Ia adalah Raka.
Adik lelaki Lisa, dari Mona dan Yusuf.
Dia baru kembali setelah bertahun-tahun lamanya, menempuh pendidikan dan bekerja di negeri orang.
Bahkan Lisa menikahkan pun dia tidak hadir, hanya saling memberi kabar.
Tapi semenjak Lisa menghilang beberapa tahun yang lalu, dua kakak beradik ini putus dalam berkomunikasi.
Dan hari ini Raka kembali untuk menemui keluarganya, terutama kakak tersayangnya yaitu Lisa.
Raka memajukan kepulauangan nya, yang seharusnya Lusa.
Raka berniat memberi kejutan untuk keluarganya.
Ia memesan taksi untuk menuju ke kediaman Yusuf dan Mona.
Beberapa menit sudah Raka di dalam taksi.
Tiba-tiba.
CKIIIITT...
Supir taksi ngerem ngdadak, yang membuat Raka terkejut!
"Ada apa pak?"
"Maaf pak, ada wanita yang jalan tidak berhati-hati dan hampir tertabrak mobil ini!"
Raka turun dari taksi, ketika melihat seorang wanita yang sepertinya tidak dalam kondisi baik-baik saja.
Raka mendekati wanita yang sempoyongan dan memegangi kepalanya.
"Anda tidak apa-apa?"
Si wanita menoleh.
Wuuusss....
Bagai hembusan angin di pantai yang berpasir putih, menerpa tepat di wajah Raka.
Ketika ia melihat wajah wanita di hadapannya.
Apakah negeri khayangan tengah membuka pintunya lebar-lebar hingga ada satu bidadari yang turun ke bumi.
Raka sama sekali tidak berkedip menatap wajah wanita yang terlihat pucat itu.
Jantung Raka berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ia sungguh terpesona dengan wanita yang ada di hadapannya.
"Saya tidak apa-apa." Hingga suara, menyadarkan Raka dari keterbuayanya.
__ADS_1
Bahkan suara yang lirih itu terdengar begitu merdu di telinga Raka.
"Maaf, jika saya sudah mengganggu perjalanan anda," wanita itu menundukkan kepalanya dan hendak berlalu.
"Tunggu!" Cegah Raka.
"Apa kau yakin baik-baik saja? Wajah mu nampak pucat seperti sedang tidak sehat."
"Saya tidak apa-apa, Terimakasih!"
"Apa perlu saya antar ke rumah sakit?" Tawar Raka.
"Tidak! Terimakasih."
Wanita yang sudah berhasil mencuri hati Raka di pertemuan pertama itu, berlalu dari hadapan Raka.
Raka ingin sekali menahan wanita itu agar tetap berada di hadapannya.
Tapi, ia tentu tidak akan berani melakukan itu.
Raka hanya bisa memandangi Wanita yang semakin menjauh, dan masuk ke dalam Restoran.
Lama Raka terdiam.
"Pak, ingin melanjutkan perjalanan atau sampai sini saja?" Tanya Supir taksi, yang melihat Raka malah bengong sambil menatap wanita yang sudah tidak terlihat lagi.
"Eeh.... Kita lanjutkan pak!"
Dan Raka kembali, masuk kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan.
Bayang-bayang wajah wanita itu masih menari-nari di pelupuk mata Raka.
Ia sampai lampau jauh membayangkan wanita yang sudah membawa hatinya pergi.
"Aku, harus kembali menemui Gadis itu, dan aku harus berkenalan dengannya." Gumam Raka.
"Aku, rasa aku sudah jatuh cinta di pandang pertama dengan gadis itu?"
🍁🍁🍁
Tepat pukul 10.
Jhon datang menjemput Luna di Restoran.
Dan ia segera mengantarkan Luna ke Dokter.
🍁🍁
"Jadi, bagaimana dok, istri saya sakit apa?"
Dokter tersenyum.
"Tuan, istri anda tidak sakit!"
Jhon dan Luna saling pandang mendengar penuturan Dokter wanita yang berwajah teduh itu.
"Tidak sakit? Istri saya muntah-muntah sudah beberapa hari ini, terutama di waktu pagi, dan diapun tidak mau makan, apa itu bisa di bilang tidak sakit!" Sahut Jhon.
"Tuan, itu sangat wajar terjadi, dan di alami kebanyakan wanita yang tengah hamil muda!"
"HAMIL!"
Jhon dan Luna secara bersamaan mengulangi kata itu.
"Iya tuan, selamat! istri anda tengah hamil dan sudah memasuki Minggu ke 6."
Luna dan Jhon sampai bengong.
Apa benar aku hamil? Batin Luna.
Luna hamil, aku berhasil! Batin Jhon.
"Tuan! Nona!"
Panggil Dokter.
"Iya, dok apa ini benar?" Tanya Jhon memastikan.
"Benar tuan."
Jhon tersenyum sangat lebar, dan ini pertama kalinya ia tersenyum selebar itu.
Raut bahagia sudah tidak bisa di sembunyikan lagi dari wajah Jhon.
Karna kebahagiaan yang luar biasa itu Jhon langsung memeluk Dokter.. eh Luna.
Dan tertawa dalam hati yang juga ikut girang.
Aku akan sama seperti tuan Kaisar bukan? Akan menjadi seorang ayah! Batin Jhon.
🍁🍁🍁🍁
Sepanjang perjalanan pulang ke apartemen. Jhon selalu mengembangkan senyum bahagianya.
"kenapa kak Jhon dari tadi tersenyum terus?"
"Aku bahagia, dan aku sudah tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini pada tuan Kaisar."
Ya. Kaisar lah orang pertama yang ingin Jhon kabari tentang berita membahagiakan ini.
Luna tersenyum.
*Baru kali ini aku melihat kak Jhon tersenyum seperti itu, dia nampak sangat bahagia, ya tuhan semoga aku bisa menjaga bayi ini sampai ia terlahir ke dunia dengan selamat, aku tidak mau mengecewakan kak Jhon.
🍁🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🤗
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️*
__ADS_1