Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 124. Di grebeg


__ADS_3

Jhon mencekal tangan wanita yang kembali ingin menyiramkan air di kepala Luna, tapi kali ini ia menggunakan air dari kuah sayur Sup yang telah di buat Luna.


Dan sepertinya kuah itu belum dingin, atau mungkin masih panas.


Jhon memutar arah tangan yang tengah ia cekal.


Dan mengarahkan tepat di wajah wanita itu.


BYUUUURRRR.


Kurang dari 5 detik. Air sayur itu sudah membanjir Wajah wanita yang tadi berbuat kasar pada Luna.


AAAKKKHHH....


Teriak wanita itu.


"Panas! Wajah ku panas!"


Ia kelabakan, karena benar saja Kuah sayur sup itu ternyata masih cukup panas.


Luna membuka lebar matanya, menatap Jhon yang ada di hadapannya.


Kenapa kak Jhon ada di sini, apa dia mengikuti ku sampai sini.


"Astaga! Senior kau tidak apa-apa!"


Beberapa Koki dan pelayanan, membantu si wanita pembuli.


"Panas, wajah ku sangat panas!" Histeris nya.


"Bawa dia ke ruang kesehatan." Ucap sang Manajer, lalu ia menatap Jhon.


Tapi ia tidak mau menegur apa lagi memarahi atau meminta pertanggungjawaban dari Jhon.


Manajer tidak punya nyali untuk itu.


Jhon menghampiri Luna, dan membantu mengeringkan rambutnya yang basah kuyup.


"Anda tidak apa-apa nona?" Ucapannya.


"Aku tidak apa-apa, tuan!"


Jhon ingin membuka kacamata Luna yang ikut basah karena guyuran air tadi.


Dengan cepat Luna menahan tangan Jhon.


"Terimakasih banyak tuan karena sudah membantu saya, tapi saya bisa membersihkan sendiri, permisi."


Luna segera berlalu menuju suatu ruangan yang sepertinya tempat istirahat para pelayan dan koki.


Si manajer masih bingung menatap Jhon, lelaki dingin ini sama seperti tuannya Kaisar tidak punya empati dan belas kasih pada orang lain, tapi apa ini!


Dia bahkan membantu gadis culun, yang bahkan bukan apa-apa di sini.


Jhon berbalik Menatap di manajer.


"Apa kejadian seperti ini sering terjadi di Restoran ini?"


Si manajer diam, ia takut jika salah dalam menjawab.


"Jawab!" Bentak Jhon.


"Maaf tuan, tidak terlalu sering, tapi memang para senior di sini kerap kali melakukan hal seperti itu untuk para calon koki baru di sini dengan tujuan agar mereka bisa lebih baik dalam bekerja."


"Dengan cara membuli dan merundung maksud mu?"


"Tidak tuan."


"Baiklah, berikan data-data wanita yang tadi merundung gadis itu."


"Baik tuan, kami akan segera memberikannya."


"Dan ingat! Sekali lagi ada yang berbuat seperti itu pada gadis tadi, saya tidak bisa menjamin akan seperti apa nasib Restoran ternama ini, jika tuan Kaisar sudah bertindak."


Astaga tuan Kaisar, kenapa harus membawa nama tuan Kaisar, hanya untuk karyawan rendah seperti Mimi. Batin si manajer.


"Kau mengerti!" Jhon kembali membentak.


"Tentu tuan, saya sangat mengerti dan saya berjanji tidak akan ada hal seperti ini lagi, terutama untuk Mimi."


"Bagus,!"


Jhon segera pergi dari galeri memasak itu.


Tapi ia tidak pergi dari Restoran itu, ia masih menunggu Luna keluar dari sana.


🍁🍁


Cukup lama Jhon menunggu.


Akhirnya Luna keluar dari Restoran itu.


Terlihat Luna tengah melihat kiri dan kanan.


Kak Jhon sudah tidak ada di sini kan!


"Aku harus segera ke kontrakan, hari ini papah dan mamah tengah keluar kota, jadi aku tidak harus terburu-buru untuk pulang." Gumamnya.


Luna berjalan melewati Trotoar menuju halte bus.


Dan Jhon masih memperhatikannya.


"Anda sungguh aneh Nona, untuk apa anda bekerja di Restoran itu dan mendapat perlakuan buruk, bahkan anda sampai merubah penampilan seperti ini dan menyewa sebuah kontrakan, untuk menghayati peran sebagai Mimi, anda sungguh luar biasa Nona, apa anda bercita-cita menjadi seorang aktris terkenal!"


Gumam Jhon, yang kini berada di dalam mobil.


Terlihat Luna yang sudah menaiki bus.


Dan Jhon pun melajukan mobilnya.


🍁🍁🍁🍁


Luna sampai di sebuah kontrakan yang tak jauh dari Restoran, tapi ia harus tetep menaiki Bus untuk menuju ke tempat itu.

__ADS_1


"Hi Mimi, kau sudah pulang?"


Sapa seorang wanita yang Kontraknya bersebelahan dengan Luna.


"Hay!" Sahut Luna.


Dan Luna pun terlibat sedikit obrolan ringan dengan wanita itu.


Setelah beberapa menit.


"Aku masuk dulu ya!" Pamit Luna.


"Iya, beristirahat lah!" Sahut wanita itu.


🍁


Di dalam kontrakan.


Luna merebahkan tubuhnya di atas kasur yang tergeletak di lantai.


"Aku lelah sekali, sungguh tidak mudah mencapai perjuangan ini, dan semoga saja ka Jhon tetep tidak mengenaliku."


Karena Lelah, Luna memejamkan matanya dan tertidur.


Sementara di luar.


Jhon sudah membuka pagar kontrakan itu.


Dan ia berjalan dengan santai menuju kontrakan Luna yang posisinya ada di paling ujung.


Beberapa pasangan mata menatap penuh curiga, karena saat ini Jhon mengenakan pakaian serba hitam lengkap dengan topi hitam, di malam yang gelap pula.


Mereka bertanya-tanya, siapa lelaki itu? Dan untuk apa dia ke kamar kontrakan Mimi.


Jangan-jangan!


"Kita harus melaporkan ini pada ibu kontrakan?"


"Benar, Mimi sudah mengundang lelaki masuk ke dalam lingkungan kontrakan tanpa ijin terlebih dahulu, bukankah membawa lelaki di larang di tempat ini."


"Kau benar, jadi cepatlah kalian melapor, biar aku yang menjaga di sini, berjaga-jaga agar lelaki itu dan Mimi tidak kabur."


Dua orang dari mereka segera berlalu untuk melaporkan kejadian yang terlarang di lingkungan kontrakan, yang hanya boleh di tinggali dengan wanita saja.


Tok.


Tok.


Tok..


Jhon mengetuk pintu kontrakan Luna.


Luna yang sempat tertidur, kembali membuka matanya.


"Tunggu sebentar!" Teriaknya.


Tanpa curiga atau berfirasat tidak baik, Luna bangun dari rebahannya dan membuka pintu itu.


CKLEEEK...


Luna bengong, melihat siapa yang ada di balik pintu.


"Kak Jhon...eh maksud saya tuan Jhon!"


Luna meraba-raba wajah dan rambutnya.


Aman! aku masih sebagai Mimi.


Jhon tersenyum miring, menatap Luna dari atas sampai ke telapak kakinya.


"Maaf tuan Jhon, untuk apa anda datang kesini? dan dari mana anda tau tempat tinggal saya?"


"Selamat malam, nona Mimi, atau..., Nona Luna!"


Deg.


Ka Jhon tau.


"Mimi tuan, nama saya adalah Mimi, bukan Luna." Balas Luna, sambil tersenyum yang ia paksakan.


"Benarkah!"


"Tentu saja benar!"


"Kalau begitu, mari kita buktikan Nona!"


Jhon mendorong tubuh Luna, hingga masuk kembali ke dalam kamar kontrakan itu.


Dan iapun ikut serta masuk ke dalam sana.


Lalu Jhon menutup pintunya.


"Tuan, kenapa pintunya di tutup, biarkan saja terbuka,"ucap Luna, dengan gugup.


Jhon tidak memperdulikan ucapan Luna.


Ia melangkahkan kakinya mendekati Luna.


Dan Luna pun memundurkan langkahnya.


Jhon membuka topinya dan tersenyum miring menatap Luna.


*Ya Tuhan, ada apa dengan senyumnya kenapa terlihat menakutkan, apa yang terjadi pada kak Jhon.


Astaga! apakah dia ingin melakukan pelecehan pada ku.


Tidak! kak Jhon buka orang seperti itu, dia sangat menghormati kak Kaisar, jadi tidak mungkin dia berani.


Tapi masalahnya saat ini, kau sebagai Mimi bukan Luna. Ya tuhan aku takut sekali*.


Pasti ini karena di sebabkan kak Jhon terlalu lama menjomblo, dan ia mulai tergoda ketika Ka Kaisar dan Kak Farel menikah.


Tapi kenapa harus aku, ya tuhan tolong selamatkan aku, Aku harus melawannya.

__ADS_1


Cerocos Luna dalam hatinya.


"Tuan, berhenti di situ, anda sudah tidak sopan memasuki kamar orang lain, jadi sebaiknya anda keluar sebelum saya berteriak!"


"Berteriak lah Nona!" Tantang Jhon.


Jhon semakin mendekat!


Dan Luna sudah tidak bisa mundur lagi, karna kini ia sudah mentok di sudut tembok.


Jarak mereka teramat dekat hanya beberapa senti saja.


Jhon menunduk, untuk menatap wajah Luna.


Degup jantung Luna, semakin berpacu.


Apa aku mengaku saja ya!


Luna memejamkan matanya.


Karena tangan Jhon mulai terulur ke wajahnya.


Dan.


"Anda sudah ketahuan Nona!"


Jhon menjauhkan badannya, sambil memegangi kacamata yang baru saja ia lepaskan dari wajah Luna.


Luna membuka matanya.


"Apa!" Ia sangat terkejut, karena kacamata kesayangannya sudah berpindah ke tangan Jhon.


Sudah tidak ada pilihan ia memang harus benar-benar mengaku pada Jhon, semoga saja lelaki ini berbaik hati untuk tidak melaporkannya pada Yuda apalagi Kaisar.


"Anda masih mau mengelak nona Luna?"


"Iya, iya kau benar! Aku Luna,"ucapanya, sambil menyingkirkan poni tebal yang menutupi keningnya.


"PUAS!" Kesalnya, pada Jhon.


Dan saat ini ia benar-benar Luna, bukan Mimi.


Jhon menggelengkan kepalanya.


"Nona, apa saat ini anda tengah mengikuti tantangan acara reality show, Yang berjudul! Pura-pura menjadi Cupu, atau pura-pura menjadi miskin!" Sindir Jhon.


"Kalau itu memang benar, anda sungguh sangat berbakat menjadi seorang aktris Nona, apa perlu saya sampaikan bakat anda ini pada Tuan Kaisar?" Sambung Jhon, yang masih menyindir Luna.


"Tidak! Kalau papah atau kak Kaisar dan Ka Farel tau, mereka pasti akan marah besar Ka."


"Sudah tau, seperti apa Sifat mereka, tapi kenapa anda berani bermain-main seperti ini, bahkan anda sampai membiarkan orang lain menindas anda!"


"Aku terpaksa melakukan ini ka, aku ingin mengejar cita-cita ku."


"Untuk menjadi seorang Koki? Jika anda mau, tuan Yuda pasti akan membangunkan sebuah Restoran mewah, dan anda sebagai pemiliknya di sana."


"Papah tidak akan mengijinkan ku menjadi Koki, ka Jhon ingat! Waktu aku lulus sekolah dan menyampaikan keinginanku untuk belajar menjadi seorang Koki, tapi dengan tegas papah menentangnya, malah aku di kirim ke luar negeri untuk belajar bisnis."


"Itu karena tuan Yuda, menginginkan anda untuk meneruskan perusahaan milik keluarga Airlangga!"


"Soal perusahaan kan ada Kak Kaisar dan Kak Farel, kenapa harus aku juga yang meneruskannya, aku mau berkarir di jalan ku sendiri ka, aku mau mengejar impianku tanpa campur tangan papah."


Jhon terdiam, mendengar keluhan Luna.


Ia jadi mengingat masa lalunya, yang menolak bantuan dari Keluarga Airlangga dalam pendidikannya, ia ingin berjuang di atas kakinya sendiri.


Luna tertunduk.


"Sejak kecil aku selalu di beri kemudahan oleh papah, dan orang-orang bersikap baik pada ku, hanya karena aku ini anak Yuda Wijaya."


Luna meraih tangan Jhon.


"Ka, aku mohon tolong jangan beri tau papah, dan soal kejadian di Restoran tadi, jangan sampai Ka Kaisar tau!"


Tiba-tiba


Tok.. Tok.. Tok...


"Mimiii, cepat keluar!"


Suara ibu Kontrakan terdengar jelas di telinga Jhon dan Luna.


"Astaga! Aku lupa jika kontrakan ini di khususkan hanya untuk wanita, bagaimana ini,"panik Luna.


"Mimi, kami tau kau bersama lelaki di dalam sana, tidak usah bersembunyi!" Suara di Luar semakin gaduh, dan riuh.


Luna semakin panik dan kalangan kabut.


"Ka, kenapa kau hanya diam saja di situ, ayo cepat bersembunyi, jangan sampai mereka melihat mu!"


"Kenapa harus bersembunyi? Saya tidak salah."


"Aah ... Pokonya Kan Jhon harus bersembunyi!" Luna menarik lengan Jhon, untuk bersembunyi.


Tapi di mana? Luna bingung harus menyembunyikan badan sebesar Jhon.


Luna menatap lemari plastik, dan itu tidak akan muat untuknya.


Kamar mandi!


Satu-satunya tempat aman.


Tapi sebelum Luna berhasil memasukan Jhon ke sana.


Ibu Kontrakan dan para penghuni lainya.


Sudah lebih dulu membuka paksa pintu kamar Luna.


🍁🍁🍁🌹🌹🌹🍁🍁🍁


Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏🙏


Semoga semua dalam keadaan sehat.

__ADS_1


❤️❤️❤️ Love banyak-banyak untuk semua sahabat, Kaisar dan Lisa.


__ADS_2