
Hahahaha.....
Semua anak buah Jhon, tertawa terbahak-bahak melihat tawanan mereka ketakutan, karna melihat orang lain yang ketakutan itulah kesenangan yang luar biasa bagi mereka semua.
Jhon mengangkat tinggi-tinggi benda tajam tapi sangat kecil yang ada di tangannya.
Silet!
Benda tajam itu sebuah Silet yang berukuran sangat kecil, tapi jika di sayat kan di kulit manusia yang begitu tipis tentu akan menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
AAAAKKHH....
Teriakan pertama keluar dari Lelaki itu, karna Jhon sudah melesatkan benda itu di wajahnya, hingga tetesan darah mengalir dari sana.
AAAAKKKKHHHH
AMPUN..
TOLONG AMPUUNI SAYA.
JANGAN LAKUKAN LAGI, SUDAH CUKUP.
SAYA TIDAK KUAT LAGI.
Dan Lelaki itu terus saja meraung memohon ampun. Bersamaan dengan Jhon yang santai dan sangat menikmati gerak tangannya yang menguliti wajah lelaki itu menggunakan Silet.
Kaisar dan beberapa anak buah mereka pun ikut menikmati pemandangan yang sangat mengerti itu.
Tapi di tengah-tengah kesenangan mereka, ponsel Jhon berbunyi.
"Mengganggu saja,"umpatnya dan meletakkan senjata kecil yang sudah berlumuran darah itu, Lalu meraih ponselnya.
"Halo! Ada apa?"
{"Halo! Tuan Jhon, ada kabar buruk"}
Yang menghubungi Jhon, adalah anak buahnya yang di tugaskan untuk menjaga dan mengawasi Luna.
"Katakan!"
{"Ada beberapa orang dari kepolisian dan seorang Detektif wanita, yang menemui Nona Luna di Restoran."}
Kabar yang baru saja Jhon dengar membuatnya geram.
"Lalu apa yang kalian lakukan? Cepat usir orang-orang itu dari Restoran!" Bentak Jhon.
{"Maaf tuan, kami tidak bisa melakukan itu, jika kami memaksa melakukan itu Detektif dan para polisi akan curiga pada kami, yang dengan senaja melindungi Nona Luna, dan itu sangat berbahaya bagi Nona Luna."}
Dia benar juga.
"Baik, kalian lakukan apapun itu, asalkan bisa mencegah Nona Luna untuk tidak mengatakan apapun, saya akan segera kesana."
Jhon segera menutup panggilan!
"Apa apa dengan Luna?" Tanya Kaisar, yang sudah bisa menebak sesuatu terjadi pada Luna.
"Tuan, saya harus segera ke Resto, ada polisi yang menemui Luna di sana."
Kaisar berdiri dari duduknya.
"Cepat, lakukan apapun agar Luna tidak mengatakan apapun, dan ia terbebas dari tuduhan itu."
"Baik tuan."
Dan Jhon pun segera keluar dari Markas, menuju Restoran Luna.
Semoga saja ia belum terlambat!
Sementara itu Kaisar yang masih berada di Markas, memukul tawanannya.
"Ini semua gara-gara kau."
BUG.
Kaisar kembali melayangkan pukulan, dan ia ingin benar-benar menghabisinya lelaki itu sekarang juga.
Tapi tiba-tiba ia teringat pada janjinya pada Lisa, dan menurunkan tangannya yang sudah mengudara.
Sial! jika aku tidak terikat janji dengan Lisa, aku sudah mencincang orang ini.
Kaisar merapihkan Kemejanya yang sedikit berantakan.
"Urus dia!" Titahnya pada anak buah yang masih setia menemaninya.
"Baik tuan."
Kaisar juga pergi dari Markas itu.
"Mengganggu saja, padahal kita baru saja memulai pemanas,"keluh salah satu anak buah Kaisar, yang tengah melepaskan ikatan lelaki itu dan membawanya ke ruangan yang lain.
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Di Resto.
"Nona Luna, apa anda mengenal wanita ini?"
Detektif yang bernama Farida, menunjukkan foto Linda petugas Hotel yang kini menjadi tersangka atas pembunuhan kejam itu.
Luna menatap foto itu dengan lekat, dan meremas jari-jarinya yang berada di bawah meja.
"Tidak!" Satu kata Keluar dari bibir Luna, "tapi..!"
Mendengar Luna yang akan melanjutkan perkataannya, Farida semakin menajamkan pendengarannya dan sudah sangat siap dengan apa yang akan Luna katakan.
Beberapa detik, Luna tak kunjung melanjutkan perkataannya.
Hingga membuat Farida sedikit kesal!
"Apa anda tidak ingin mengatakan apapun? Saya tau anda mengenal Linda kan?"
"Tidak, saya tidak mengenalinya, saya hanya kebetulan pernah bertemu dengannya,"sahut Luna cepat.
Farida tersenyum!
Akhirnya dia berhasil membuat Luna bicara.
"Nona ceritakan semuanya pada saya, di mana Anda bertemu Linda dan apa yang anda dan Linda lakukan di pertemuan itu?"
Luna menatap Farida, ia sedang berfikir apa dia harus mengatakan kejadian sebenarnya pada Farida.
Ketika Luna hendak membuka kembali suaranya.
Terdengar suara gaduh di halaman Resto.
Seseorang membuat keributan di depan sana.
Semua berhamburan menuju sumber keributan, begitu juga Luna dan Farida.
Rupanya keributan itu senaja di ciptakan oleh beberapa anak buah Jhon yang dengan senaja bertengkar di depan Resto.
Setelah beberapa menit.
Polisi yang datang bersama Farida mengamankan orang-orang itu.
Dan Farida kembali mengajak Luna berbicara, tapi Luna menolaknya karna ini sudah memasuki jam makan siang, di mana Restonya akan ramai dengan pengunjung untuk makan siang.
Farida mencekal lengan Luna yang hendak berlalu di hadapannya.
"Nona Luna, tentu anda bukan seseorang yang lepas dari tanggungjawab begitu saja kan?"
"Saya...!"
"Luna!"
Jhon datang tepat waktu hingga Luna menghentikan perkataannya.
"Kak Jhon!" Luna terkejut dengan kedatangan Jhon yang tiba-tiba.
Farida menatap dalam Jhon yang kini berdiri tepat di samping Luna.
"Siap dia?" Tanya Jhon, yang melirik pada Farida.
Sebelum Luna menyebutkan siapa dia, Farida terlebih dahulu memperkenalkan diri pada Jhon, dan mengutarakan maksud kedatangannya.
Jadi dia Detektifnya, jika dia berani menyelidiki Luna, dengan senang hati aku akan menyambutnya.
Selamat datang di permainan Jhonatan!
Jhon masih terus memperhatikan Farida dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Maaf tuan, saya ingin berbicara dengan nona Luna, mengenai Kasus pembunuhan beberapa hari yang lalu."
"Bicara pada saya saja, tidak ada bedanya, saya Suaminya, katakan apa yang ingin anda tanyakan." Sahut Jhon.
"Tapi saya hanya ingin bicara berdua saja dengan Nona Luna!"
"Apa ada surat ijin, yang mengharuskan anda bicara berdua saja dengan istri saya?"
Farida diam, karna memang ia tidak memiliki itu. Ia menyelidiki Luna secara diam-diam tanpa sepengetahuan atasnya.
"Saya bisa melaporkan anda karna sudah secara diam-diam menemui istri saya, dan memaksanya untuk mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui, dan mengaitkannya dengan kasus pembunuhan itu."ancam Jhon.
Sebisa mungkin Jhon akan tetap melindungi Luna dari tuduhan itu, ia seolah menutup mata jika memang Luna yang membunuh pengusaha itu.
Tapi Jhon tidak terima ia tetap menganggap jika Luna tidak bersalah, dan sampai kapan pun dan dengan bagaimana pun caranya dia akan menyelamatkan Luna, sekalipun harus menjadikan orang lain sebagai kambing hitam bahkan dia rela jika dia yang harus menggantikan Luna.
Karna Luna melakukan semua itu dengan terpaksa, untuk membela kehormatannya sebagai seorang wanita.
Tapi bukankah dia harus tetap bertanggung jawab!
Farida mengalah, tapi bukan berarti dia menyerah, dia akan terus mencari tau tentang Luna, dan untuk saat ini ia harus mengalah terlebih dahulu.
Selepas kepergian Farida, Jhon mengajak Luna berbicara, intinya Jhon meminta Luna untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang pembunuhan itu.
__ADS_1
Luna merasa salah, dan semua ini tidaklah benar, tapi ia juga takut akan merusak mama baik keluarga Airlangga Wijaya jika dia di penjara atas kasus pembunuhan.
"Semuanya akan baik-baik saja, kau tidak bersalah, pria itu pantas untuk mati, dan Linda, wanita itu juga sudah seharusnya berada di dalam penjara karena dia yang memulai semuanya." Entah sudah berapa kali Jhon mengucapkan kata-kata ini.
Aku akan selalu membuat mu tidak bersalah dalam situasi apapun.
Dan Luna pun mengangguk.
Apakah yang di lakukan Jhon ini sudah benar?
Atau justru dia salah jika terus terusan melindungi Luna dari kesalahan itu?
🍁🍁🍁🍁
Luna tengah bersiap-siap untuk mengunjungi Mansion Kaisar, ia sudah sangat merindukan keponakannya yang lucu.
"Kak, nanti kau tidak perlu menjemput ku, aku bisa pulang bersama supir kak Kaisar."
"Aku akan menjemputmu."
"Baiklah."
🍁🍁
Di tempat lain.
Wanita yang menjebak Luna tengah tertawa puas melihat berita yang sedang Trending di beberapa laman media.
"Hahaha.. dengan adanya berita ini aku jamin Restoran Luna akan sepi, meskipun rencana ku Gagal membuat Skandal tentang Luna, karena tua bangka itu malah mati, tapi aku cukup puas dengan hasil akhirnya! Karena tujuan ku memang hanya membuat Resto Luna bangkrut dan para pelanggan ku akan kembali padaku."
Lalu dengan penuh semangat wanita itu menyebar luaskan berita tentang Luna, di berbagai media sosial yang banyak di ikuti oleh masyarakat.
Sementara Luna sendiri belum mengetahui pemberitaan tentang dirinya.
🍁🍁🍁🍁
"Mas, sudah beberapa hari ini kau terlihat lebih segar!"tanya Lisa pada Kaisar, yang tengah bermain-main dengan Arga.
"Benarkah! apa aku jadi terlihat semakin tampan dan mempesona?"sahut lelaki itu dengan bangga.
"Ya tentu saja,"
"Mas, apa Luna jadi berkunjung ke sini?"
"Iya, Jhon akan mengantarkannya."
"Kalau begitu aku akan meminta Farel untuk mengantarkan Sintia juga ke sini."
"Untuk apa?"
"Agar kita bisa berkumpul bersama Mas, sudah lama kita tidak berkumpul kan!"
"Baiklah!"
Lisa tersenyum, dan segera menghubungi adik iparnya itu.
🍁🍁🍁🍁
Di perjalanan menuju Mansion.
Luna mendapatkan pesan dari Karyawannya, jika ada masalah di Restoran.
Luna meminta Jhon untuk ke Restoran terlebih dahulu.
Setelah sampai Resto.
Tiba-tiba Jhon juga mendapat pesan yang mendadak dari Asistennya, yang mengharuskan Jhon segera ke kantor.
Dengan terpaksa Jhon meninggal Luna di Resto dan tidak bisa mengantar Luna ke Mansion.
Tapi Jhon sudah meminta Supir Mansion untuk menjemput Luna di Resto.
"Tidak apa-apa kak, pergilah aku akan baik-baik saja,"ucap Luna dengan yakin, agar suaminya itu tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Baiklah, aku akan menjemputmu di Mansion."
Setelah Luna meyakinkannya Jhon pun pergi dari Resto dan segera menuju kantor.
Dan Luna memasuki ruangannya yang ada di Resto dan di ikuti beberapa Karyawannya.
"Ada apa?"tanya Luna.
"Bu, beberapa pelanggan membatalkan kerja sama dengan Resto kita."
🍁🍁❤️❤️❤️🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya 🙏
Semoga suka dengan musim kedua ini.
Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️😘
__ADS_1