
Farel dan Sintia berbalik menatap gudang itu.
"Apa yang terjadi!" Sintia nampak begitu khawatir.
"Ayo kita Lihat!" Farel segera berlari, kembali memasuki gudang itu.
🍁
BRUG ....
Rafi ambruk, dengan darah yang mengalir di perutnya.
Alih-alih menembak Kaisar, lelaki itu justru menembak dirinya sendiri.
Bukan kebetulan, Rafi sudah mempersiapkan dan merencanakan ini semua sudah lama, ia cukup puas dengan terungkapnya semua, dan ia berfikir untuk apalagi ia hidup, tidak akan ada yang mengharapkan dan menangisinya, jika di bandingkan dengan Kaisar.
Akan banyak yang merasa sedih dan kehilangan jika Kaisar yang harus mati, terutama Julia dan Lisa.
Marwan! Rafi memang tidak berniat membunuhnya, Rafi menginginkan pria itu tetep hidup dengan menanggung semua penyesalannya.
RAFIII......!!!
Teriakan begitu menggema bersama dengan ambruknya tubuh Rafi.
Kaisar perlahan membuka matanya, yang ia pejamkan Karana berfikir Rafi bener-benar akan menembaknya.
Ia melihat Rafi yang terkulai di depannya.
Rafi jatuh tepat di hadapan Marwan dan Julia.
Julia menetap lekat lelaki yang mulai memejamkan matanya itu.
Di tengah keterkejutan dan kepanikan, dengan cepat Jhon menghubungi Ambulan.
🍁
Rafi segeralah di larikan ke rumah sakit.
Raut panik dan cemas sangat terlihat di wajah Lisa, yang tengah Mondar-mandir di depan pintu IGD.
Ya Tuhan tolong selamatkan Rafi.
Begitulah doa yang terucap dalam hati mereka, pada lelaki yang beberapa waktu lalu mereka benci, dan tidak di harapkan kehidupannya. Tapi kini semua mendoakan keselamatan Rafi.
Begitupun dengan Kaisar, ia terlihat lesu dan sangat terpukul.
Dasar bodoh, kenapa kau menembak dirimu sendiri.
Lebih dari satu jam, dokter keluar.
Dokter menyampaikannya.
Rafi masih bisa tertolong tapi kondisinya sangat kritis, karena peluru itu tepat mengenai bagian dari ginjal Rafi, hingga membuatnya tidak bisa berfungsi.
Rafi harus segera mendapatkan donor ginjal, agar bisa di selamatkan.
Itulah yang di sampaikan oleh dokter yang menangani Rafi.
🍁🍁
Sementara itu di tempat lain.
Yuda yang sudah mengetahui itu semua sangat kecewa dengan Marwan, ia tidak bisa mengendalikan dirinya pada Marwan.
"Sungguh, aku sangat kecewa dengan mu pah."
Setelah mengatakan itu, Yuda pergi meninggalkan Marwan di kamarnya, lelaki tua itu hanya diam tidak menjawab sepatah katapun.
Selepas kepergian Yuda dari kamarnya, Marwan membuka Laci, ia mengambil beberapa obat yang tersimpan di sana, entah itu obat apa dan dari mana Marwan mendapatkannya.
Ia menorehkan beberapa tulisan di selembar kertas putih, lalu ia meletakkan kertas itu di meja tidak Jauh dari ranjangnya.
Dengan langkah gontai Marwan menuju kamar mandi dengan beberapa obat di genggamannya.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Julia!
Wanita itu, kini sedang berada di Rumah sakit yang sama dengan Rafi, tapi ia berada di ruangan lain.
Julia tidak bisa mengendalikan diri, ia selalu berteriak dan histeris setiap saat, sambil menyebut nama Rafi.
"Jangan halangi aku! Aku ingin bertemu anak ku, Rafi, Rafi itu anak ku dia putraku!" Itulah kata-kata yang selalu Julia ucapkan.
🍁🍁🍁🍁🍁
Dengan langkah panjang dan terburu-buru.
Jhon menelusuri Rumah sakit.
"Tuan!" Jhon menundukkan kepalanya ketika sampai di mana Kaisar berada.
"Ada apa Jhon?"
__ADS_1
Dari raut wajah Jhon.
Kaisar dapat menebak, sesuatu telah terjadi.
"Tuan Marwan..!" Jhon tidak melanjutkan perkataannya.
"Ada apa dengan Kakek!"
"Tuan Marwan, di temukan meninggal dunia!"
DEG.
Baru beberapa waktu lalu ia serasa di tusuk dengan mata pisau yang tajam, kini tubuh Kaisar serasa di brondong dengan beberapa anak panah yang menusuk jantungnya.
"Apa maksud mu Jhon!"
"Tuan Marwan, di temukan meninggal dunia, kemungkinan beliau telah melakukan bunuh diri."
Kaisar lunglai, ia menopang kan tubuhnya di tembok Rumah sakit itu.
"Tuan, Anda baik-baik saja?"
"Antarkan aku pulang!" Pinta Kaisar, yang tengah menahan sesak.
"Mas, ada apa?" Lisa menghampiri Kaisar dan Jhon. Ia tidak mendengar percakapan Jhon dan Kaisar tadi.
Jhon diam, ia tidak berani membuka suaranya.
"Tiada ada apa-apa, Mas pulang dulu sebentar, Mas ingin melihat keadaan Arga, nanti Mas kembali lagi kesini, Mas akan meminta Sintia untuk menemani mu."
Kaisar tidak mengatakannya pada Lisa, ia takut jika istrinya bertambah sedih, karena Kaisar tau jika saat ini pikiran Lisa tengah berfokus pada keselamatan Rafi.
"Kau baik-baik saja mas?"
"Mas, baik-baik saja!"
Dan Kaisar, dengan langkah terburu-buru namun bergetar, meninggalkannya.
Lisa, menatap kepergian Kaisar yang terlihat sangat berbeda.
"Nona!"
Suster datang mengejutkan Lisa.
"Iya, ada apa sus?"
"Maaf nona, dokter ingin bicara dengan anda!"
"Baik, saya segera kesana!"
🍁🍁🍁🍁🍁
Suasana duka menyelimuti rumah mewah itu.
Mereka menangisi seseorang yang terbujur kaku dengan seluruh tubuhnya di tutupi kain.
Perlahan Kaisar mendekat.
Ia membuka kain putih yang menutupi wajah pria tua itu.
"Kek, kenapa kau selemah ini! Bukankah kau seharusnya tetep hidup untuk membuktikan jika kau akan bertanggung jawab, lihatlah kek, putramu itu tengah kritis, apa kau tidak ingin meminta maaf padanya." Ucap Kaisar lirih.
🍁
🍁
Beberapa hari berlalu.
Beberapa perawat tengah menyiapkan ruangan untuk operasi.
"Dokter, ruangan sudah siap!" Ucap salah satu perawat pada dokter yang tengah berbicara pada Lisa.
"Baik, terimakasih!" Sahut dokter itu.
"Nona, kami harus segera melakukan operasi ini."
"Baik dok, tapi, ijinkan saya untuk menemui suami saya dulu dok, hanya sebentar saja!" Pinta Lisa.
Dokter mengangguk.
"Mas, kamu yakin melakukan ini semua untuk Rafi?" Lisa, tengah menggenggam erat tangan Kaisar, yang sudah berpakaian medis, siap untuk memasuki ruangan operasi.
"Kenapa tidak, bukankah kau bilang jika Rafi adalah keluarga kita, jadi mas harus melakukan ini, anggap saja mas membayar sedikit dari kesalahan Kakek Marwan pada Rafi."
"Terimakasih mas!"
Ya, Kaisar mendonorkan salah satu ginjalnya untuk Rafi, Kaisar bertekad akan berdamai dengan keadaan, ia yang akan menggantikan Marwan untuk menebus semua kesalahan yang Marwan buat.
🍁
Kaisar dan Rafi di bawa ke ruangan operasi secara bersamaan.
Lisa dengan was-was menunggu di depan ruangan itu.
__ADS_1
Beberapa jam berlalu.
Pintu kamar operasi terbuka.
"Operasi berjalan dengan lancar!"
Ucapan dari dokter, membuat Lisa Dan beberapa orang yang ada di sana menangis haru, Lisa memeluk Larasati dengan erat.
Rafi dan Kaisar di pindahkan di ruang perawatan. Kedua pasien itu kondisinya sudah membaik.
🍁
Lisa tengah menyuapi Kaisar.
"Di mana nenek Julia?"
Satu pertanyaan dari Kaisar menghentikan pergerakan tangan Lisa.
"Nenek Julia di rawat di rumah sakit ini juga mas!"
"Apa dia sakit?" Wajah terkejut dan khawatir Kaisar, perlihatkan.
Lisa mengangguk.
"Nenek sakit apa?"
Lisa tak menjawab pertanyaan Kaisar.
Tapi ia langsung mengantar Kaisar untuk menemui Julia.
🍁
"Tidak! Tidak! Tidak! Dia ini anak ku, dia putra ku, Rafi putra ku!"
"Bu, tenang Bu!"
"Kalian jangan memisahkannya dari ku!"
"Iya Bu, kami tidak akan memisahkan ibu dari putra ibu, sekarang ibu minum obat dulu ya biar cepat sehat, lalu bisa bermain dengan anak ibu."
"Aku, bersalah aku tidak menjaga dan merawat putraku dengan baik, aku ibu yang jahat, aku ibu yang kejam."
"Dokter, bagaimana ini, jika pasien di biarkan seperti ini di akan melukai dirinya sendiri."
"Kita ambil tindakan!"
Beberapa orang perawat dan seorang dokter, tengah mengenang seseorang yang selalu histeris, sambil memeluk sebuah guling . Dia akan marah dan histeris bahkan sampai membenturkan kepalanya pada tembok secara berulang jika ada yang mendekatinya.
Di Julia.
Kondisinya kian hari kian memburuk, ia mengalami depresiasi berat, pasca menyaksikan Rafi yang menembak dirinya sendiri dan menutup mata di depannya.
Lisa mendorong kursi roda yang menjadi tempat aktivitas Kaisar untuk sementara.
Kaisar menatap iba, wanita yang perlahan mulai diam dan tenang itu, karna suster terpaksa menyuntikkan obat penenang pada Julia.
Kaisar dan Lisa mendatangi dokter yang merawat Julia.
"Apa dia bisa sembuh dok?" Tanya Kaisar.
"Kemungkinannya sangat kecil, tapi kita akan terus berusaha dan dukungan dari keluarga sangat di butuhkan."
"Saya mengerti, tolong lakukan yang terbaik untuknya."
"Baik pa, kami akan melakukan yang terbaik untuk Nyonya Julia."
🍁
Saat ini Kaisar dan Lisa tengah berada di ruang rawat Rafi.
Lelaki itu sudah membaik pasca operasi donor ginjalnya.
"Ka, bagaimana dengan keadaan mu?" Lisa mendekati Rafi, yang masih berbaring.
"Aku baik, tapi bukan keadaan seperti ini yang aku inginkan." Sahut Rafi.
Tatapannya mengarah pada Kaisar.
"Seharusnya kau berterimakasih pada ku,"sahut Kaisar. "Cepatlah pulih, dan lanjutkan balas dendam mu padaku."
Rafi tidak menanggapi perkataan Kaisar.
"Ka Rafi, tolong maafkan kami!" Ucap Lisa.
"Kau tidak bersalah Lisa, jadi kau tidak perlu minta maaf."
Kaisar mengeluarkan selembar kertas putih yang terlipat di saku bajunya.
"Ini untuk mu, bacalah,"ucap Kaisar seraya menyerahkan kertas itu pada Rafi.
🍁🍁🍁🌹🌹🌹🌹🍁🍁🍁🍁
Terimakasih sudah mau membaca cerita saya.🤗🤗🤗
__ADS_1
maaf ya jika cerita ini tidak seperti yang kalian harapkan! 🙏🙏🙏