Mengejar Cinta Istri Yang Kabur

Mengejar Cinta Istri Yang Kabur
Bab 21. Lisa menyerah


__ADS_3

Di mobil Lisa menahan tangisnya. Hatinya benar-benar hancur. Bagaimana tidak, suaminya memilih menemui wanita lain dari pada menemani dan mengantarkan istrinya pulang.


Sampai di mansion Lisa langsung masuk ke dalam kamarnya, sampai ia tidak mengindahkan sapaan dari bi Lilis.


Lisa duduk di lantai kamarnya dadanya begitu sesak, sungguh Lisa merasa di permainkan oleh takdir mulai dari permasalahan di keluarganya di tambah lagi rumah tangganya yang makin hari makin tidak menentu yang hanya bisa membuat Lisa terluka.


Ia kembali merekaulang adegan di mobil bersama Kaisar. Pertanyaannya pada Kaisar tentang isi hatinya.


" Ya. Kamu tidak perlu menjawabnya mas, karena aku sudah tau jawabannya."


********


"Anggel! Anggel buka pintunya?" Kaisar menggedor-gedor pintu apartemen Anggel.


"Jhon bagaimana kalau kita buka paksa saja pintu ini."


"Tuan tenang dulu. Biar saya yang coba memanggil nona Anggel."


Jhon mengetuk pintu itu tapi di ikuti dengan dorongan. "Tuan pintunya tidak di kunci."


Kaisar segera mendorong pintu itu dan langsung masuk ke dalam.


"Anggel di mana kau.?"


"Anggel!" Kaisar sangat panik melihat Anggel yang tengah tergeletak di lantai dengan keadaan ruangan yang porak poranda.


"Jhon Anggel pingsan, kita harus bawa dia kerumah sakit. "


Tanpa berlama-lama


Mereka pun segera membawa Anggel kerumah sakit.


Di rumah sakit.


"Tuan ini sudah Larut apa anda tidak ingin kembali ke Mansion?"


Kaisar melihat mesin waktu yang melingkar di tangannya.


"Sudah jm 12. Aku mau melihat Anggel dulu sebentar setelah itu kita Langsung kembali ke Mansion."


Kaisar membuka pintu kamar rawat Anggel.


Ia memandang Anggel yang tengah terbaring dan terlihat sangat pucat. Sungguh Kaisar merasa sangat iba pada wanita yang pernah mengisi hatinya dulu selama 3 tahun lebih. Rasa bencinya selama 2 tahun pasca Anggel meninggalkannya, menguar begitu saja dan sekarang timbul rasa bersalah dan simpati pada Anggel, tanpa Kaisar sadari sikapnya yang seperti ini yang akan menghancurkan semuanya.


Setelah beberapa saat Kaisar mulai melangkahkan kakinya ia hendak keluar. Tapi Anggel tiba-tiba menahan tangannya.


"Kai ... Tolong jangan pergi." Suara parau Anggel.


"An kau sudah sadar?"


Kaisar kembali mendekatkan dirinya kepada Anggel.


"Kau jangan khawatir An, aku akan meminta nenek Julia untuk menghubungi mami mu di luar negeri."


"Tidak Kai! Jangan hubungi mami, mami pasti akan cemas jika mendengar kondisiku sekarang ini, aku tidak mau membuat mami khawatir Kai."


"Lalu siapa yang akan menemanimu mu di si An?"


"Aku akan meminta nenek Julia menemaniku selama aku di rumah sakit. Tapi untuk malam ini aku mohon kamu yang tamani aku di sini Kai, aku takut?"

__ADS_1


"Tapi An aku harus segera pulang."


"Apa karena istrimu? Aku tau Kai kau bukan lagi milikku kau sudah menjadi milik orang lain. Tapi tidak bisakah kau menganggap aku sebagai teman."


"Kita bisa berteman An. Tapi malam ini aku harus segera pulang. Tadi dokter berpesan agar kau harus banyak istirahat agar kondisimu membaik. Jadi istirahatlah An"


"Kai tolong aku sekali ini saja. Aku meminta sebagai seorang teman." Anggel menggenggam erat tangan Kaisar. Di iringi dengan aliran air mata yang mengalir di pipinya.


Kaisar sejenak berfikir dan.


"Baiklah hanya untuk malam ini, aku akan menghubungi Lisa agar dia tidak menunggu ku."


Anggel tersenyum bahagia karena keinginan di kabulkan Kaisar.


Kaisar keluar menemui Jhon yang sedang menunggunya.


"Jhon kau pulang lah. Malam ini aku tidak pulang Anggel membutuhkan teman saat ini."


"Apa!" Jhon sangat terkejut dengan perkataan Kaisar, ia bingung sebenarnya di mana letak hati, pikiran dan kesadaran Kaisar. Tapi seperti janjinya ia tidak mau ikut campur urusan Kaisar dan Anggel, Jhon sudah bosan meladeninya. Biarkan saja tuan Kaisar sendiri yang akan menanggung semua ini suatu hari nanti. Mungkin seperti itulah suara hati Jhon.


"Baik tuan kalau begitu saya akan segera pulang. Mobil saya tinggalkan jika nanti anda berubah pikiran dan hendak kembali ke Mansion."


Jhon segera berlalu sambil merogoh saku jasnya mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk menghubungi taksi online.


*******


Di mansion.


Meskipun hatinya sedang kacau bahkan hancur Lisa tetap menunggu suaminya pulang. Masih ada sedikit harapan yang terselip di hatinya.


Lisa menatap jam dinding yang menunjukkan waktu semakin larut saja.


Ting....


Ia segera membuka pesan itu.


{Lisa. Maaf kan mas malam ini tidak bisa pulang, kau tidurlah besok mas ingin bicara padamu}


Lisa menjatuhkan ponselnya begitu saja hingga tepat mengenai kakinya. Tapi sama sekali ia tidak merasakan sakit karena saat ini hatinya jauh lebih sakit dari pada kakinya .


"Jika memang kau masih mengharapkan wanita itu, tapi kenapa kau memberi harapan pada ku mas." Tapi kali ini Lisa enggan untuk mengeluarkan air matanya lagi, air matanya terlalu berharga untuk menangisi orang yang menyakitinya.


Lisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Sebelumnya ia kembali meraih ponselnya karena ada beberapa pesan perfoto masuk .


Lisa hanya tersenyum simpul melihat foto-foto yang masuk di ponselnya.


"Kau sangat menikmati sekali kebersamaan dengan kekasih mu mas."


Gumam Lisa sambil menatap foto-foto itu. Tanpa ada rasa sedih yang terlihat di wajahnya ia kembali merebahkan tubuhnya. Mungkin Lisa sudah terlalu lelah dan akhirnya meyerah.


*****


Pagi hari di rumah sakit.


Julia datang menjenguk Anggel, Julia nampak begitu senang karena Kaisar masih ada di sana menemani Anggel.


"Kai, bagaimana kondisi Anggel?" Tanya Julia.


"Nenek akhirnya kau datang juga, aku harus pulang ke Mansion sekarang nek." Kaisar bangkit dari duduknya dan hendak langsung pergi dari rumah sakit.

__ADS_1


Tapi Julia menahannya.


"Kai tunggu dulu, tunggu sebentar kita pastikan dulu kondisi Anggel."


"Dokter sedang memeriksanya nek. Kan sudah ada nenek yang menjaganya. Jadi urusan ku sudah selesai."


"Tunggu sebentar saja Kai."


"Maaf keluarga nona Anggel?" Suara dokter menghentikan perdebatan Kaisar dan Julia.


"Iya. Kami keluarganya dok, bagaimana dengan kondisi Anggel dok dia baik-baik saja kan?" Tanya Julia penuh khawatir.


"Begini Bu. Untuk saat ini Kondisi nona Anggel sudah membaik tapi nona Anggel harus tetap dalam pantauan karna beliau sepertinya sedang dalam suasana hati yang buruk, ini sangat menggangu kondisi nona Anggel yang sedang dalam pengobatan atas penyakitnya. Nona Anggel harus dalam suasana hati yang baik dan butuh seseorang untuk menguatkan nya. Jadi nona Anggel harus tetep di rawat di sini agar kami bisa memantau kesehatannya."


"Ya sudah kalau begitu Anggel tetep di rawat di sini sampai kondisinya benar-benar pulih." Kaisar angkat bicara. Karna sebenarnya ia sudah jenuh dan ingi segera pulang menemui Lisa hatinya tidak tenang karna sejak ia mengirimkan pesan semalam ponsel Lisa tidak aktif lagi.


"Tapi tuan!"


"Tapi apa dok?" Tanya Julia.


"Nona Anggel menolak untuk di rawat di rumah sakit. Ia ingin di rawat di rumah saja. Karna nona Anggel memiliki trauma di rumah sakit jadi beliau enggan berlama-lama di sini." Penjelasan dokter membuat Julia dan Kaisar bingung.


"Jadi bagaimana ini dok apa bisa Anggel di rawat di rumah saja?" Tanya Julia kembali.


"Tentu saja bisa Nyonya."


"Ya sudah kalau begitu Anggel di rawat di apartemennya saja."


"Tidak bisa Kai! Di apartemen Anggel hanya tinggal sendiri. Dokter bilang Anggel harus selalu dalam pengawasan."


"Kan ada nenek."


"Nenek tidak bisa terus-terusan menjaga Anggel Kai, kamu tau kan Kakek mu juga sedang sakit. Jadi nenek harus merawat kakek mu."


"Ya sudah pokonya terserah pada nenek saja. Sekarang aku harus pulang. " Kaisar langsung melangkahkan kakinya.


Tapi langkahnya kembali terhenti karena terkejut dengan usulan Julia.


"Kai bawa Anggel ke Mansion!"


*******


"Selamat pagi nona Lisa? apa anda baik-baik saja?" Tanya bi Lilis pada Lisa yang baru saja turun dari kamarnya.


"Aku baik bi, ada apa kenapa bibi terlihat sangat Khawatir?"


"Maafkan bibi Non. semalam bibi melihat non Lisa masuk kedalam kamar sambil menangis, bibi jadi khawatir."


"Terimakasih bi sudah mau mengkwatirkan saya." Lisa memeluk bi Lilis. ia merasa bahagia karena setidaknya masih ada yang peduli dengannya.


" Bibi senang melakukan nya non dan non Lisa tidak perlu berterimakasih pada bibi. Sekarang non Lisa sarapan dulu bibi sudah membuatkan nasi goreng pedas kesukaan non Lisa."


"Terimakasih bi saya sangat suka nasi goreng pedas."


Lisa sangat antusias mendengar nama nasi goreng pedas. tapi ketika Bi Lilis menyendokan nasi ke piring Lisa, tiba-tiba.


huek ..... hueek... uuueek....


Lisa menutup mulutnya dan langsung menuju wastafel.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


sampai sini dulu ya 🤗🤗🤗


__ADS_2