
Malam ini Lili tidur tidak mengkonsumsi obat tidur, meski terbangun akibat mimpi buruk. Dia berusaha mengatasinya meski terasa berat baginya, Lili terbangun saat tangan Arata memeluk tubuhnya. Entah mengapa setiap Arata menyentuh tubuhnya, dia masih merasakan jijik tapi dia berusaha untuk tenang. Dia harus bisa mengendalikan semua rasa trauma akibat perbuatan Arata.
Diangkatnya tangan Arata secara perlahan, di letakannya tangan Arata disampingnya tubuhnya sehingga tidak memeluk tubuh Lili. Arata sadar dengan yang di perbuat Lili, dia menggodanya tangan Arata kembali memeluk Lili. Dia berpura-pura masih tidur, Lili yang tahu kalau Arata sengaja melakukan ini. Dengan sekuat tenaga Lili mendorong Arata sehingga dia terjatuh dari atas ranjang.
Brugggg!
"Apa yang kau lakukan hah! Kau berani mendorongku hingga terjatuh!" Arata berkata sembari mengelus pantatnya yang kesakitan.
Lili terkekeh yang melihat wajah Arata sembari mengelus pantatnya, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Arata tercenung melihat Lili tertawa, karena baru pertama kali semenjak kejadian itu Lili tertawa bebas.
Dilain sisi Lili bingung dengan apa yang baru saja terjadi, kenapa dia bisa terkekeh melihat wajah Arata yang kesakitan akibat terjatuh. Karena biasanya dia merasa muak melihatnya.
Selagi Lili di kamar mandi Arata memesan sarapan. Lili pun keluar dari kamar mandi, sekarang giliran Arata untuk membersihkan diri. Seorang pelayan mengantarkan beberapa menu sarapan, Lili pun segera bersiap untuk pulang ke rumah. Saat bersiap Lili menerima telepon dari Salma, dia mengatakan tentang hari pernikahan Salma.
Lili harus menghadiri pernikahan Salma dan Rio di Indonesia, Lili pun menutup teleponnya. Dia tidak menyadari bahwa Arata sudah ada di belakangnya dan mendengarkan semua percakapan mereka.
"Kapan sahabatku menikah?!" Arata bertanya sembari menyantap makanan yang sudah tersedia.
Lili menjawab singkat setiap pertanyaan Arata, dia melanjutkan membereskan apa yang akan dibawa pulang. Setelah samapai di rumah dia akan bersiap-siap untuk kepergiannya ke Indonesia. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu kedua sahabatnya itu.
Arata memerintahkan asisten Maru untuk menyiapkan untuk kepergiannya ke Indonesia. Arata menyuruh Lili untuk sarapan, namun Lili tidak mau. Terkadang Arata kesal dengan sikap Lili yang dingin, rasanya dia ingin memeranginya dan memberinya pelajaran.
"Cepat makan! Kalau kau tidak makan aku akan menyuapimu!" Arata berkata meski dihiraukan oleh Lili.
Arata benar-benar kesal, dia menghampiri Lili lalu menggendongnya. Didudukannya Lili diatas sofa, dia menyuruh Lili untuk makan. Lili yang tidak suka dia menggendongnya menutup mulut mengadakan tak mau makan.
"Makan! Apa kau ingin aku mencium bibirmu yang terasa manis bagiku!" Perkataan Arata yang tegas namun menyiratkan godaan terhadap Lili.
Lili tetap diam, dia berpikir jika Arata hendak menciumnya maka Arata harus bersiap-siap menerima pukulan darinya. Arata menyuruh sekali lagi, Lili masih menutup mulutnya.
"Aku tidak mau makan!" Lili berkata lalu berdiri, namun Arata menarik tangannya sehingga Lili kembali terduduk.
Arata mendekati Lili, dia berniat melakukan apa yang dia katakan. Jika tidak makan maka dia akan memakan bibir Lili yang manis baginya. Lili mulai menjaga jarak, dia mengepalkan tangan bersiap untuk meninj Arata. Saat hendak melancarkan tinjuannya, tangan Lili di pegang Arata sehingga Lili tak bisa melakukan serangan pada Arata. Bibir Arata semakin mendekati bibir Lili, dia mulai ketakutan ternyata Arata benar-benar akan melakukannya.
"Iya aku akan makan!" Lili berkata agar dia bisa bebas dari Arata.
__ADS_1
Arata tersenyum kemenangan akhirnya dia menuruti perintahnya, dilihatnya Lili memakan makanannya. Setelah semua beres mereka pun pergi meninggalkan hotel dan Kemabli ke rumah, Lili disambut hangat oleh ibu Rima. Sedangkan Arata tidak langsung pulang ke rumah, dia harus ke kantor terlebih dahulu. Karena ada urusan hanya dia yang bisa menyelesaikannya.
Setelah rebahan sejenak Lili memutuskan untuk bertemu dengan temannya. Dia pun meminta ijin pada ibu Rima untuk keluar sebentar, ibu pun mengijinkannya namun dia harus pulang sebelum makan malam. Lili pun pergi sebelum Arata kembali, kalau Arata sudah ada di rumah dia tidak bisa leluasa pergi.
Sampailah lili di sebuah gedung yang hanya terdiri dari 2 lantai, disana tertulis nama seorang dokter psikiater. Ternyata teman yang di temui Lili adalah seorang psikiater. Dia pun membicarakan semua kasus yang menimpanya, dia ingin sembuh dari semua mimpi buruknya. Dia pun ingin berusaha menjadi istri yang baik. Meski dia tahu kalau dia sangat membenci suaminya.
Karena yang Lili tahu jika dia sudah menikah, maka dia harus bisa melayani semua kebutuhan suaminya. Namun dia belum bisa menjalankan semuanya, karena dia masih belum bisa memaafkan atas perbuatannya pada Lili. Yang hanya bisa Lili lakukan adalah bersaing dengan dirinya sendiri, mulailah untuk memaafkan Arata. Itulah yang di katakan oleh temannya. Yang dikatakan memang mudah, namun untuk menjalankannya itu sulit.
Setelah berbincang dengan temannya, Lili pun segera kembali ke rumah. Karena ibu sudah memberikan pesan padanya untuk segera kembali. Ayah dan Arata sudah berada di rumah, itu sebabnya ibu menyuruh Lili untuk segera pulang. Lili pun segera kembali dengan cepat.
Pada saat makan malam Lili meminta ijin pada ayah dan ibu untuk pergi beberapa hari ke Indonesia. Dia menjelaskan akan menghadiri acara pernikahan sahabatnya Salma dan Rio. Ayah dan ibu mengijinkan Lili pergi ke Indonesia, mereka juga menyuruh Arata untuk menemani Lili ke Indonesia. Arata pun menyetujuinya, meski banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan.
****
Indonesia
Lili dan Arata sampai di Indonesia, mereka tinggal sementara di rumah Lili. Rumah yang penuh dengan kenangan baginya, kenangan semasa sekolah bersama kedua sahabatnya. Si mbok yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun masih setia menjaga rumah Lili.
Betapa senangnya si mbok melihat Lili yang tiba di rumah, dia heran dengan pria yang ada di samping Lili. Karena si mbok belum tahu bahwa Lili sudah menikah. Lili pun menjelaskan siapa Arata, setelah itu si mbok mengerti.
"Non ini tasnya!" Seorang satpam mengantarkan tas Lili dan Arata.
Arata yang kelelahan memilih rebahan diatas ranjang, dia tidak peduli jika perutnya merasa lapar. Yang dia ingin sekarang hanya tidur guna melepas lelahnya. Lili yang melihat Arata sudah terlelap membiarkannya untuk istirahat.
Dia keluar untuk melihat-lihat rumah yang sudah ditinggalkannya, benar-benar tidak ada yang berubah sama sekali. Semuanya masih terlihat sama, dia pun menuju dapur guna melihat si mbok memasak apa untuk nanti malam. Dia pun berbincang-bincang sambil menemani si mbok memasak.
Sudah puas berbincang-bincang Lili pun kembali ke kamarnya, dia masih melihat Arata yang tertidur pulas. Dia mendengar Arata mengigau memanggil seseorang.
"Fumiko!"
"Siapa dia? Yang selalu dipanggil dalam mimpi Arata? Apakah wanita yang dikatakan temannya kemarin di pesta!" gumam Lili.
Lili pun mendekati Arata, dia ingin mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Arata selanjutnya. Dia mendekatkan telinganya ke wajah Arata, yang dia dengar masih sama yaitu "Fumiko." Ternyata dia begitu mencintai wanita itu, Lili pun menjauhkan telinganya dari wajah Arata.
Sretttt!
__ADS_1
Arata menarik tubuh Lili, sehingga Lili terjatuh dalam pelukan Arata. Lili terkejut sehingga membuatnya tak bisa berpikir apa-apa. Arata memeluk Lili dengan erat, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah Fumiko.
"Kenapa kau melakukan ini padaku Fumiko?! Apakah aku masih belum bisa menjadi apa yang kau inginkan? Aku begitu mencintaimu! Tapi kau membuatku muak dengan semua kelakuanmu!" gumam Arata
Lili yang mendengar semua gumaman Arata tersadar, pelukannya mengingatkannya atas semua kejadian itu. Lili berusaha melepaskan diri dari dekapan Arata dengan sekuat tenaga, namun dia tidak bisa melepaskan dirinya.
"Lepaskan aku Arata! Aku bukan Fumiko! Jadi lepaskan aku!" Teriak Lili yang membangunkan Arata dari tidurnya.
Arata terkejut karena dia memeluk Lili yang sudah menangis, yang ada di dalam mimpinya dia sedang memeluk Fumiko. Arata melepaskan dekapannya, Lili pun segera bangun dari badan Arata.
"Jika kau begitu mencintai wanita itu! Kenapa kau menikahi ku? Lebih baik kau kejar wanita yang kau cintai! Dari pada menikah dengan wanita yang membencimu!" Lili berkata sembari pergi memasuki kamar mandi.
Dia hanya bisa menangis dengan semua yang sudah terjadi, di saat dia berusaha menyembuhkan traumanya. Dia melihat kenyataan bahwa Arata mencintai wanita lain. Kenapa hatinya merasakan sakit, mendengar Arata menyebut nama wanita lain.
"Tidak Lili! Untuk apa kau merasa sedih, lebih baik kau jalani hidupmu! Sembuhkan rasa trauma mu! Kamu kuat! Kamu pasti bisa Lili!" gumam Lili.
Arata hanya terdiam, kenapa bisa-bisanya dia mengingat wanita yang sudah membuatnya sakit hati dan terhina. Kenapa dia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya pada wanita itu. Dia sudah berusaha selama bertahun-tahun untuk menghilangkan rasa cintanya.
Setelah tenang Lili keluar dari kamar mandi, dia duduk di depan cermin guna memperbaiki riasan di wajahnya. Dia tidak ingin terlihat baru menangis, dia berusaha kuat untuk melawan semua kesedihan yang ada di dirinya.
Arata melihat Lili, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah membuatnya menangis dan ketakutan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan agar Lili bisa memaafkannya. Fumiko adalah masa lalunya, sedangkan Lili adalah masa kini juga masa depannya.
____________________________________________
Hai para pembaca setiaku, maaf kalau membingungkan ya, yang ingin tahu kelanjutan Alin dan Alex bisa lanjut baca di "Pembalasan si Kembar Wibowo" sudah bisa di baca ya selamat membaca 😊😉
__________________________________________
Jika ada yang ingin ditanyakan padaku tentang karya dan bisa langsung menghubungi ku via akun Instagram.
Klik search di Instagram dengan nama akun :
@macan_nurul
Sekali lagi terimakasih untuk kalian semua 💋💋 jangan lupa ya like dan komen ya juga vote ya 😉 jangan lupa juga jadikan favorit ya 😉 😉
__ADS_1